Hataraku Maou-Sama Volume 12 - Chapter 3 (Part 2) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 12 - Chapter 3 : Raja Iblis, Menjelaskan Tentang Konsep Pemeliharaan -2


Chapter 3 : Raja Iblis, Menjelaskan Tentang Konsep Pemeliharaan.

"Aku tidak ingin pulang~~"

Pekerjaan Maou selesai saat tengah malam, dan kini ia sedang berjalan pulang sambil mendorong Dullahan 2.

Setelah menerima pesan dari Suzuno, Maou terus membuat kesalahan kecil saat ia sedang bekerja, hal itu membuatnya menjadi semakin depresi.

Maou membuka HPnya dan kembali membaca pesan dari Suzuno, lantas menghentikan langkahnya setelah menghela napas pendek.

"Mungkinkah... dia masih menunggu di jam selarut ini?"

Sekalipun dia menganggap emoticon hati itu sebagai sifat kikuk yang sering ditunjukan oleh Suzuno, tapi kenapa Emi menunggunya di rumah?

Dari keadaan mental Emi ketika dia berada di stasiun Shinjuku Sanchome, Maou tidak berpikir Emi akan bisa dengan tenang berbicara pada Lailah ataupun Amane. Malahan, dia beranggapan bahwa Emi sudah pulang ke Eifuku bersama dengan Emerada.

Jika orang yang menunggunya adalah Chiho, dia masih bisa paham.

Sebab, rumah Chiho tidaklah aman sekarang.

Berdasarkan norma sosial di masyarakat, karena Chiho tinggal bersama orang tuanya, ia tentunya harus pulang ketika malam tiba. Tapi sebagai seseorang yang bukan merupakan ahli sihir, bukan seorang iblis, dan tidak memiliki sihir pertahanan sama sekali, kembali ke tempat yang sangat jauh dari Villa Rosa Sasazuka di situasi seperti ini, itu adalah pilihan yang sangat berani.

Maou sempat mendengar kalau Shiba dan Amane juga mau memberikan bantuan, tapi dengan jarak yang cukup jauh, bahkan seorang Amane pun juga akan butuh waktu untuk sampai ke lokasi.

Jikalau mereka khawatir dengan orang tua Chiho, lantas membuat Chiho menginap di tempat di mana Maou, Suzuno ataupun Shiba bisa melindunginya, maka Maou masih bisa paham.

Tapi, orang yang menunggunya adalah Emi.

Emi yang dipercaya tidak akan terluka meskipun diserang dari belakang oleh sebuah tank, kenapa dia berada di apartemen dan menunggu Maou pulang?

Dan lagi, berdasarkan waktu Suzuno mengirimkan pesan tersebut, orang yang mengizinkan Emi untuk menunggu di apartemen pastinya adalah Nord atau Ashiya.

"Aku benar-benar tidak ingin melihat mereka bertengkar ketika aku pulang nanti.... huft."

Maou sama sekali tidak menghiraukan Lailah ketika mereka berada di kamar rumah sakit Urushihara, setelah itu pun dia juga tidak berinteraksi dengannya, jadi dia tidak tahu di mana Lailah tinggal. Akan tetapi, jika suatu hari nanti Emi dan Lailah terlibat pertengkaran ibu dan anak di Villa Rosa Sasazuka, Jepang mungkin akan hancur.

"Haaah, tapi malam ini sangat sunyi seperti biasanya, jadi hal seperti itu mungkin tidak akan terjadi, kan?"

Maou menghentikan langkahnya, ia kemudian menurunkan penyangga Dullahan 2, dan berbalik,

"Jadi selanjutnya giliranmu untuk menghabiskan waktu denganku?"

"Ah, aku ketahuan ya."

"Kenapa kau berpikir kau tidak akan ketahuan?"

Begitu Maou berbalik, dia melihat seorang Malaikat Agung yang memakai sebuah jubah dan T-shirt... Itu adalah Gabriel.

Karena Gabriel memiliki perawakan yang besar dan kepribadian yang sangat menjengkelkan, di jam seperti ini ketika tidak ada pejalan kaki lewat, menyadari keberadaannya adalah hal yang sangat mudah.

"Mi-chan mengirimku ke sini. Tadi sore, Emilia yang sebenarnya merupakan target paling tak terduga, telah diserang, kan? Jadi dia memintaku untuk menjadi bodyguard bagi penghuni apartemen yang bergerak sendirian."

"Aku tidak butuh bodyguard."

"Semua orang juga berpikir kalau Emilia tidak butuh bodyguard, tapi dia tetap diserang, kan?"

"Terserahlah, aku hanya tidak ingin kau jadi bodyguard-ku."

"Jangan begitu. Aku hanya mengikuti perintah atasanku."

"Siapa yang kau sebut atasan?"

"Ah, kau tak perlu khawatir soal Sasaki Chiho. Aku sudah mengantarnya pulang dan memasang keamanan ketat di sekitar rumahnya, jadi kita bisa segera bertindak meskipun terjadi sesuatu."

"Tak ada yang bertanya padamu, tak penting apakah kau sudah mengantar Chi-chan ataupun melakukan sesuatu pada rumahnya, ketika aku mendengar apa yang kau katakan tadi, aku hanya terpikir hal-hal yang busuk, dasar bajingan."

"Mana mungkin seorang malaikat melakukan hal-hal yang busuk?"

"Apa kau lupa apa yang kau katakan pada Chi-chan ketika kita pertama kali bertemu?"

"Ahaha~"

Kali ini, Maou merasa begitu lelah dan seketika terduduk di tempat.

"Apa kau terlalu lelah karena baru saja selesai bekerja?"

"Yang membuatku begini kan kau..... Hey, apa Emi benar-benar menungguku di apartemen?"

"Eh? Ah, benar juga, tadi dia ada di sana. Padahal Sasaki Chiho sudah pulang sekitar jam 10, tapi dia masih ada di sana tadi. Yah tapi setelah itu aku tidak yakin apa yang terjadi."

"Aku penasaran apa dia sudah pulang atau belum..... ayolah jangan libatkan aku ke dalam pertengkaran ibu dan anak ini....."

"Yah, meski kau bilang begitu, kau hanya punya satu rumah untuk dituju! Ayo berdiri, kau itu kan Raja para Iblis! Ceria dan ayo maju! Semangat lalu pulang, makanan Alsiel menunggumu!"

"Ahhhh, yang benar saja, padahal aku sudah bekerja keras, tidak bisakah kalian memberikan kehidupan di mana aku bisa bekerja seperti biasanya, sialan!"

Kata-kata tidak penting dari Gabriel yang hanya bisa disebut menjengkelkan, benar-benar membuat Maou sangat lelah, sampai-sampai dia mulai ingin terus berjongkok di sini.

Tapi meskipun dia berjongkok di sini, itu tidak akan ada gunanya, jadi tanpa adanya pilihan lain, Maou hanya bisa terus mendorong sepedanya dengan Gabriel yang mengikutinya dari samping.

"Hey, boleh aku tanya sesuatu?"

"Apa?"

Jawab Maou tanpa menoleh.

"Kenapa kau tidak mau mendengarkan Lailah?"

"Karena aku tidak punya alasan untuk mendengarkannya."

"Kenapa?"

"Tidak ada apa-apa, jika kau ingin mendengarkan sebuah alasan yang rumit, kau pasti akan kecewa. Aku benar-benar tidak punya alasan untuk mendengar ceritanya."

Ucap Maou dengan datar.

"Aku memang berterima kasih dulu dia sudah menyelamatkan nyawaku. Tapi meski aku berterima kasih, aku juga dimanipulasi olehnya untuk waktu yang cukup lama. Dan aku bahkan sudah menyelamatkan nyawanya hari ini. Bahkan dengan bunga pun, seharusnya aku sudah tidak punya hutang dengannya."

"Hm begitu ya. Tapi biarpun aku bilang 'begitu ya', aku masih tidak mengerti. Sebelum ini, banyak sekali kekacauan yang terjadi di Jepang, dan setiap kali itu pula kau mengatasinya dengan begitu luwes, jadi reaksi ini benar-benar tidak seperti dirimu. Kau tidak akan kehilangan apapun meski kau berbicara dengan Lailah, kan?"

"Kehilangan apa yang kau maksud di sini?"

"Kau tahu kan kalau anak-anak perwujudan Yesod itu punya hubungan erat dengan Lailah? Kau tidak akan kehilangan apa-apa hanya karena mendengar apa yang akan terjadi nanti."

"Gabriel, apa kau pernah merawat seorang anak sebelumnya?”

“Huh?”

Maou tiba-tiba balik bertanya, membuat Gabriel berkedip heran.

“Ketika dulu aku tinggal bersama Alas Ramus, pada saat itulah aku mulai mempertimbangkan untuk membeli jasa asuransi.”

“Asuransi? Seperti asuransi jiwa atau kecelakaan, gitu? Apa seorang Raja Iblis sebegitu pedulinya dengan rencana jangka panjang semacam ini?”

Gabriel mulai berpikir asuransi macam apa yang akan dibeli seorang Raja Iblis, tapi jika dia mendengarkannya dengan seksama, dia pasti tahu kalau Maou pada akhirnya tidak membeli asuransi apapun.

“Biaya asuransi tidaklah kecil, dan aku masih harus mengurusi hal-hal lain seperti pemeriksaan kesehatan, jadi pada akhirnya aku tidak membeli asuransi apapun. Adapun alasan kenapa aku memikirkan hal seperti itu, adalah karena aku sadar aku bisa saja mati karenamu, meskipun kemungkinannya kecil.”

“Ah, apa itu salahku?”

Gabriel tiba-tiba menepuk tangannya.

Dia ingat pada waktu itu dia pernah berpikiran untuk membunuh Raja Iblis.

“Akan tetapi, alasan kenapa orang ingin membeli asuransi adalah karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti, untuk berjaga-jaga menghadapi hal buruk yang akan terjadi nantinya, mereka pun menggunakan asuransi.”

“Hm, benar.”

Keduanya terus berjalan dan sampai di tempat di mana mereka bisa melihat lampu Villa Rosa Sasazuka dari kejauhan.

“Sebaliknya, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, itulah kenapa perusahaan asuransi ada.”

“Yeah, benar sekali.”

“Aku tidak ingin tahu apa yang akan terjadi pada Alas Ramus nantinya.”

“Bagi seorang ayah, apakah itu keputusan yang tepat? Karena kau bisa memprediksi kalau hal buruk akan terjadi nantinya, bukankah akan lebih baik jika kau mengetahuinya sejak awal?”

“Bagaimana jika hal buruk yang bisa kau prediksi itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindari?”

Tukas Maou dengan tajam.

“Kau memang tidak ada di sana pada waktu itu, tapi si pemilik kontrakan pernah bilang kalau Alas Ramus dan Acies harus kembali ke Surga tempat kalian berada, itulah yang diketahui pemilik kontrakan. Si pemilik kontrakan sudah berhubungan dengan Lailah sejak dulu sekali. Jadi kalau aku mendengarkan Lailah, Alas Ramus dan Acies pasti akan dikembalikan ke Surga. Tapi Emi dan aku tidak berencana melakukan hal tersebut. Kami tidak ingin Alas Ramus pergi ke tempat yang jauh. Alas Ramus pun juga tidak ingin berpisah dengan kami. Jika sudah begitu, akan lebih baik kalau semuanya tetap seperti sekarang”

“.... Aku memang tidak punya hak untuk bilang begini, tapi banyak hal jadi tak bisa dihindari jika kau tidak mengetahuinya, kan?”

“Memang benar aku tidak ingin mendengarmu bilang begitu. Tapi sebaiknya kau berhati-hati, meskipun sekarang dia sedang tertidur, setiap kali Acies melihatmu, dia selalu bilang kalau dia ingin membunuhmu. Jika dia memanfaatkan kesempatan ketika kau sedang tidur dan si pemilik kontrakan tidak menyadarinya, aku tak mau tahu ya.”

“Ah~ sebenarnya, aku sudah beberapa kali diserang saat malam.”

“Lalu kenapa kau tidak mati juga?”

“Jahatnya~ sungguh sangat jahat~”

Sembari berbicara, keduanya terus berjalan, dan ketika mereka sampai di Villa Rosa Sasazuka, jam sudah menunjukan hampir jam 1 pagi.

Maou menurunkan penyangga Dullahan 2 dan menoleh ke arah Gabriel.

“Terima kasih atas kawalannya, kau bisa pulang sekarang.”

“Paling tidak izinkan aku mendengarkannya sampai selesai. Itu sangat mengangguku, kau tahu.”

“Mendengarkan semuanya sampai selesai? Selesai itu sampai mana......”

Maou menghela napas dan merasa kalau itu adalah hal yang sangat merepotkan.

“.....Ini adalah hal yang paling tidak kusukai.”

“Eh?”

“Banyak hal jadi tak bisa dihindari jika kau tidak mengetahuinya. Jika memang benar begitu, mungkin sebaiknya kita mencoba memahami dulu apa yang kau dan Lailah lakukan di masa lalu, tapi......”

Maou menunjuk dadanya sendiri dan melanjutkan,

“Kenapa kami harus mencoba mengetahuinya dan bekerja keras demi hal tersebut? Kami tidak punya tanggung jawab untuk memikul beban itu.”

“Meskipun dunia akan hancur?”

“Aku tidak peduli.”

“Masa depan generasi selanjutnya bisa terputus, kau tahu?”

“Jika keturunan manusia punah, maka itu adalah hal yang bagus bagi kami para iblis, adapun untuk keturunan para iblis, aku pasti sudah mati saat itu tiba, jadi biarkan orang-orang di masa depan nanti yang berusaha memecahkannya.”

“Kau punya kekuatan, dan itu adalah kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, jika kekuatan itu bisa memecahkan masalah, apa kau tetap tidak akan mengambil tindakan?”

Sang Raja para Iblis kemudian menyeringai dan mengatakan, “... jadi akhirnya kau mengatakan apa yang sebenarnya kau rasakan ya?”

“Eh?”

“Kalau begitu izinkan aku bertanya. 'Kenapa kami secara sepihak diminta memikul sebuah tanggung jawab yang aneh hanya karena kami punya kekuatan?'”

“Oh... ohhh??”

Sesaat tidak bisa memahami logika Maou, Gabriel tak tahu harus menjawab apa.

“Intinya, kalian hanya ingin membuat drama lain tentang 'Pahlawan Emilia, hanya kaulah yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Raja Iblis Satan, tolong kalahkan dia', iya kan?”

Kini, ekspresi Maou menjadi datar.

“Apa untungnya hal itu bagi Emi, hm?”

“Uh....”

“Emi punya banyak alasan untuk membunuhku. Aku juga sudah melakukan banyak hal yang jahat kepadanya, dia ingin balas dendam padaku atas keinginannya sendiri. Akan tetapi, orang-orang Ente Isla memanfaatkan perasaannya dan menyerahkan tanggung jawab yang seharusnya mereka pikul bersama kepada Emi seorang. Hanya karena dia punya kekuatan.”

Itu adalah dosa semua manusia yang hidup di Ente Isla, dosa yang begitu disesalkan oleh Emereda.

Dosa itu bahkan membuat Emi ditahan di Afashan, dengan hati yang terkekang.

"Dia hampir mengalahkanku, dan karena aku lari, dia pun mengejarku, lalu ketika dia punya kesempatan untuk mengalahkanku, dia malah dikhianati oleh rekannya. Sebelum aku, Emerada, Alberto, dan Suzuno mencoba untuk ikut campur, manusia-manusia itu semuanya dimanipulasi oleh Surga, lantas kenapa Emi harus menyelamatkan masa depan mereka? Kalau aku, jelas. Aku tidak punya alasan menyelamatkan mereka."

".... Karena kau tidak suka dengan orang-orang Ente Isla yang sudah melakukan dosa besar?"

"Kau masih belum paham ya?"

Sudut bibir Maou terangkat seolah mengejek Gabriel.

"Kenapa aku dan Emi harus meninggalkan kehidupan kami saat ini yang stabil hanya untuk membantu rencana kuno kalian? Jangan bercanda."

"Eehhh? Ba-bagaimana bisa kalian membuat keputusan seenaknya begitu....."

"Siapa yang membuat keputusan seenaknya?" Gumam Maou.

"Biar kutanya padamu, apakah itu artinya orang-orang kaya di dunia ini punya kwajiban untuk memberikan uang mereka kepada semua orang miskin yang ada, dan malah mereka yang jadi miskin?"

"Uh...."

"Atau apakah orang-orang miskin hanya perlu membuka mulut mereka seperti bayi burung dan menunggu amal dari orang lain?"

Gabriel, hanya terdiam, tidak bisa membantah.

"Hanya karena aku dan Emi punya kekuatan lebih dari orang lain, kami jadi punya kwajiban untuk meninggalkan kehidupan kami dan menolong seluruh umat manusia di dunia, gitu? Oh, siapa yang menginginkan kami untuk memikul tanggung jawab seperti itu?"

Suara Maou penuh dengan amarah dan frustasi.

"Sikap kalian inilah yang paling tidak kusukai. 'Kalian punya kekuatan, jadi kalian pasti mau membantu, kan?' Dengan bersikap seperti itu, itu artinya kalian berpikir kami akan bilang 'ya itu benar, karena kami punya tanggung jawab, makanya kami harus berusaha'."

"Ti-tidak separah itu.... dan lagi, ini sudah malam, jangan keras-keras...."

"Apa aku salah? Kalau iya, katakan padaku apa sebenarnya maksud kalian?"

"Ta-tanpa memikirkan apa yang kurasakan, setidaknya Lailah bukan orang seperti itu, dia benar-benar mempertaruhkan nyawanya dan berusaha keras mencegah terjadinya kehancuran, dia juga berusaha keras mengembalikan Ente Isla ke kondisinya yang benar sambil melindungi Emilia dan Nord....."

"Ohh, begitu ya, jadi itu alasannya dia bersikap seperti itu, aku paham sekarang."

Jarang sekali, Gabriel berbicara demi seseorang, tapi Maou sama sekali tidak menghiraukannya. 

"Jadi begitu ya, ternyata kalian tipe orang yang berpikir kalau logam tidak akan hancur meskipun terkena hantaman."

"Eh? Lo-logam?"

Maou tiba-tiba merubah topik pembicaraan, membuat Gabriel bingung.

"Logam itu sangat kuat, kan? Logam tidak akan hancur jika hanya menerima hantaman kecil, dan bahkan mampu mempertahankan sifat kerasnya tak peduli seberapa parah kerusakannya."

"Ye-yeah. Itu benar...."

"Tapi apa mereka boleh dipukuli?"

"Eh?"

"Aku tanya, apa kau diperbolehkan memukulinya hanya karena mereka tidak akan rusak?"

Nada bicara Maou kini sepenuhnya dipenuhi amarah.

Seolah menanggapi suara Maou, gonggongan anjing dapat terdengar dari suatu tempat di kota.

"Selama itu adalah benda yang kuat, artinya kau bisa melemparnya, menendangnya, dan memukulinya, gitu? Selama itu adalah benda yang tidak mudah rusak, maka menggunakannya dengan kasar adalah cara yang tepat, gitu? Selama seseorang punya kekuatan, apapun perlakuan yang mereka dapatkan, semuanya tak masalah, gitu? Aku, Emi, Ashiya, Urushihara, dan Suzuno, jika nantinya kami mengikuti cara kalian, apakah kalian bisa menjamin kehidupan kami? Ataukah kalian ingin bilang, dibandingkan masalah yang lebih besar seperti masa depan dunia ataupun masa depan manusia, kehidupan kami hanyalah masalah kecil, gitu?"

".... Ah, yeah, begitu ya."

Gabriel yang akhirnya mengerti maksud Maou, menganggukkan kepalanya perlahan.

"'Begitu ya' kali ini artinya aku sudah mengerti, lo."

".... Apa kau benar-benar mengerti?"

"Aku mengerti. Ini seperti ketika kau pergi ke rumah seseorang yang berbicara masalah lingkungan sampai kau bosan, lalu kau sadar kalau lampu di kamarnya selalu menyala, dengan AC yang berada di settingan tertinggi. Kalau sudah begini, kau pasti akan merasa kalau orang itu sangat aneh."

".... Dari contoh yang kau berikan, sepertinya kau sudah sangat terbiasa dengan dunia ini."

Ini adalah pertama kalinya Maou menenangkan ekspresinya malam ini.

"Pokoknya begitulah. Meskipun Lailah berharap kami bisa membantunya melakukan sesuatu, kami tak punya alasan, tanggung jawab, ataupun kwajiban untuk mendengarkannya. Mendengar ceritanya pun juga tidak ada untungnya. Saat ini, situasi politik di Ente Isla sudah stabil, kedamaian juga sudah kembali ke Dunia Iblis, dan bahkan Surga sudah memutus kontak dengan Bumi. Satu-satunya masalah yang tersisa adalah mengusir orang yang menyerang Chi-chan dan Emi... dan juga memikirkan cara untuk membereskan hubungan antara diriku dan Emi. Ketika semuanya sudah beres, kami akan melanjutkan kehidupan kami sesuai keinginan kami sendiri. Kami tidak akan membiarkan kalian ikut campur seenaknya."

"Meskipun ada banyak hal yang bisa dibantah...."

Gabriel tersenyum kecut.

"Tapi hidup yang ingin kau jalani, sederhananya, itu adalah rencana untuk menaklukan Ente Isla sekali lagi, kan? Kami mungkin akan bergerak menghentikanmu, kau tahu?"

"Tak masalah, sejak awal ambisiku memang bisa saja menemui kehancuran, dan menyingkirkan orang-orang yang menghalangiku adalah keinginanku sendiri. Akan tetapi, dilempar ke sebuah panggung yang disiapkan oleh orang lain dan dikendalikan oleh rantai yang terbentuk dari kebaikan seseorang, bukanlah keinginanku. Tadi kau bilang kalau aku menyelesaikan banyak masalah kan, tapi alasan kenapa aku melakukannya adalah karena jika aku tidak menyingkirkan masalah-masalah itu, mereka pasti akan membahayakanku dan orang-orang di sekitarku. Aku tidak pernah sekalipun terpikir melakukan sesuatu demi dunia."

"Aku paham aku paham, sepertinya Lailah sudah salah menilaimu, dia salah menilai keinginan kuatmu untuk menyatukan Dunia Iblis dan juga kepedulianmu terhadap teman-temanmu. Jika ini terus berlanjut, tak peduli berapa ratus tahun berlalu, kalian tetap tidak akan mau mendengarkannya, kan?"

"Yah, asalkan kau mengerti. Sudah saatnya bagiku untuk pulang. Sebaiknya kau juga cepat pulang."

"Yeah, baiklah."

Maou mengucapkan selamat tinggal pada Gabriel di bawah tangga, dan setelah ia berjalan menaiki tangga, Gabriel tiba-tiba berteriak ke arahnya, "Tapi, memberitahuku hal-hal ini mungkin akan jadi langkah yang buruk buatmu."

"Apa katamu?"

Menanggapi Maou yang terlihat bingung, Gabriel tersenyum senang.

"Hei, aku ini lebih paham cara kerja dunia dibandingkan denganmu."

"Terserah apa katamu. Aku tak peduli bagaimana kau dan Lailah bekerja sama di belakangku. Malahan, dibandingkan dengan Lailah, aku lebih tidak mau mendengarkanmu."

"Baik baik, kita sudahi dulu untuk hari ini. Selamat malam."

"Oh."

"Dan juga..."

"Hm?"

"Berhati-hatilah dalam perjalanmu pulang."

"Huh?"

"Aku tidak tahu apa kau sadar atau tidak, tapi kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau katakan."

Setelah mengatakan kalimat penuh makna tersebut, dengan memakai sandal di cuaca yang sangat dingin seperti ini, Gabriel berjalan menuju rumah Shiba.

Maou sudah sampai di tempat di mana dia bisa melihat pintu kamar 201 setelah membuka pintu di lorong utama, dia benar-benar tidak mengerti apa yang harus dia waspadai.....

"Huh, jam 1 ya. Ashiya dan Urushihara pasti sudah tidur."

Maou yang merasa waktunya terbuang percuma karena berbicara dengan Gabriel pun membuka pintu lorong utama dengan sebuah kernyitan....

"Ugoh!!"

Tapi seketika dia langsung kembali mundur dan berseru kaget.

"A-apa yang kau lakukan? Kau belum pulang?"

Emi berdiri di sana.

Karena lampu pijar yang menerangi lorong utama ada di belakangnya, ekspresi Emi tak bisa terlihat dengan jelas, tapi melihat baju yang ia kenakan masih sama seperti saat ia berada di stasiun Shinjuku Sanchome, sepertinya dia memang belum pulang sama sekali.

Seperti yang Maou prediksi, lampu kamar 201 dan 202 sudah padam, jadi Ashiya, Urushihara dan Suzuno seharusnya juga sudah tidur.

Dari situasi ini, Maou berkesimpulan kalau malam ini Emi akan menginap di kamar Suzuno, tapi ketika yang lain sudah tertidur, kenapa hanya dia yang masih terjaga dan berdiri di sini layaknya hantu penasaran?

"Ah.... mungkinkah aku membangunkanmu? Ma-maaf."

Dengan situasi yang ada saat ini, Maou mencoba membuat alasan.

Karena dia hampir bertengkar dengan Gabriel di luar, suaranya pasti sangat keras.

Emi bisa saja terbangun ketika dia hendak tidur, jadi dia datang ke sini untuk menunggu Maou dengan niat ingin mengeluh.

“E-erhm, tadi kau dan Chi-chan menemui masalah, kan? Pemilik kontrakan sepertinya terlalu khawatir dan mengirim Gabriel untuk jadi bodyguard-ku. Karena dia mengatakan banyak hal tidak penting, aku pun meneriakinya...... Mengirim seorang Malaikat Agung untuk menjadi pengawal Raja Iblis itu benar-benar lucu ya. Haha, hahaha.... Emi?”

Berbicara sampai ke poin ini, Maou pun sadar kalau Emi sama sekali tidak bereaksi. Hal itu membuatnya merasa sedikit canggung.

“Emi? A-ada apa? Hey.....”

Maou mencoba melambaikan tangannya di depan mata Emi, tapi tak ada reaksi.

“....Kau telat pulang, Alas Ramus menunggumu sampai ketiduran....”

“O-oh? Ta-tapi kau harusnya tahu kan, jadwal kerjaku hari ini sampai........”

Pada akhirnya, Maou tidak bisa mengatakan kata 'tutup'.

Dia merasakan sebuah hembusan angin.

Tanpa ia sadari, Emi sudah memeluknya.

“Ughhh?”

Dia akan dibunuh.

Pemikiran itu terlintas di kepala Maou. Dia tidak tahu kenapa Emi merasa kesal, mungkinkah terbangun saat ia hendak tidur membuatnya sekesal ini?

Dia merasakan lengan Emi melingkar di lehernya, Maou hanya bisa terdiam begitu terpikir kalau kepalanya akan terpenggal.

Walaupun dia ingin mengendalikan sihir iblis yang berada di lemari kamar 201, semuanya sudah terlambat.

Semenjak sampai di Jepang setelah pertarungan terakhir di Ente Isla, Emi sudah berulang kali menyerang Maou, tapi ini adalah pertama kalinya dia menggunakan cara paksa yang begitu blak-blakan.

Apakah ini akhirnya?

Akan tetapi, meskipun Maou sudah menyiapkan mentalnya, hal itu tak kunjung terjadi.

“Oh?”

Maou yang sadar kalau dia masih hidup bahkan setelah lima detik berlalu, membuka matanya yang ia tutup secara refleks.

“.....”

“E-erhm...?”

Kepala Emi terlihat di bidang pandangannya.

Bahu dan lehernya bisa sedikit merasakan berat Emi.

Emi menekankan wajahnya ke dada Maou.

Situasi apa ini? Sepertinya tidak mungkin dia akan langsung menerima kuncian leher, tapi bagaimana situasinya bisa jadi seperti ini, Maou sama sekali tidak mengerti.

“Tak apa.”

“Huh?”

Sebuah suara yang begitu jelas terdengar dari area di sekitar dadanya.

“Tak apa.”

Ucap Emi sekali lagi, membuat Maou semakin bingung. Dia tidak tahu apanya yang baik-baik saja, dan dia juga tak merasakan sedikitpun amarah dari suara Emi, tapi dia tahu kalau saat ini Emi tidak sedang marah.

Dia tahu, dan otaknya yang perlahan kembali menenang pun mulai berpikir bagaimana situasi ini terlihat di mata orang lain, yang mana juga membuat tekanan darahnya terus menurun.



Jika hal ini terlihat oleh orang lain, tak peduli siapapun itu, mereka mungkin akan punya kesimpulan yang sama seperti yang dibuat Suzuno dan Rika tadi sore. Adapun istilah 'menjadi satu' yang Acies dengar dari Suzuno dan Rika, Maou tidak bisa memikirkan arti lain selain kontak fisik, dan sayangnya, apa yang Maou dan Emi lakukan sekarang adalah kontak fisik.

Maou sadar kalau dia harus segera lepas dari situasi ini dengan tenang.

Acies dengan tajam bisa merasakan kegoyahan di hati Maou ataupun keadaan mentalnya. Ini memang tidak berdasar pada telepati ataupun Idea Link, tapi karena mereka berdua bergabung, maka hal itu tak bisa dielakkan.

Namun, jika Acies terbangun sekarang, mulai besok, pandangan yang tertuju ke arah Maou pasti akan sedingin perjalanan menuju dimensi lain.

“Aku......”

“O-oh.”

Dia sama sekali tidak tahu apa yang Emi pikirkan, tapi dari suaranya yang sangat tenang, Maou tahu kalau Emi pasti melakukan hal ini karena suatu alasan yang jelas.

Meski begitu, mengganggunya dan memperburuk situasi bukanlah langkah yang tepat. Maou sadar kalau terus diam dan mendengarkan Emi berbicara adalah langkah terbaik untuk saat ini.

“....tidak pernah terpikir akan ada orang yang datang menyelamatkanku. Itu karena, semenjak aku mulai tumbuh dewasa, aku sudah bisa menangani hampir semuanya sendirian.”

“Be-begitukah? Haah, kau kan Pahlawan, manusia terkuat.”

“Ditambah lagi, meski aku tidak pernah mengatakannya, di saat butuh, Em, Alber dan Olba selalu saja membantuku. Mungkin itulah yang dimaksud bisa membaca pikiran satu sama lain. Jadi di tengah perjalanan untuk membunuhmu, meski aku merasa itu sangat sulit, aku tidak pernah terpikir untuk menyerah.”

“.... Begitu ya. Cukup bagus.”

Itu adalah kata-kata yang sangat tidak cocok dengan situasi saat ini, tapi Maou memutuskan untuk lebih dulu mengangguk.

“Tapi saat di Afashan......”

“Oh, waktu itu ya.”

Maou, tidak tahu apa yang ingin Emi sampaikan, hanya bisa mengulangi apa yang dia ucapkan. Namun, apa yang Emi katakan selanjutnya adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia duga.

“Itu adalah kali pertama ada seseorang bilang kalau dia akan 'melindungiku'.”

“.....Huh?”

Ada dua alasan kenapa Maou merasa bingung.

Yang pertama adalah karena dia memang tidak bisa memahami makna tersembunyi di balik kata-kata Emi.

Yang kedua adalah karena tubuh Emi mulai gemetar.

“.... Kenapa, kenapa harus kau...”

“A-apa....”

“Kenapa satu-satunya orang yang bersedia melindungiku adalah kau yang sudah mengacaukan hidupku....?”

“.....”

Maou bukanlah tipe orang yang tidak bisa membaca suasana dan mengatakan kalau dia bukanlah satu-satunya orang yang bersedia melindungi Emi.

Sederhananya, Emi sedang mengeluh.

Emi tidak mungkin akan melupakan persahabatan dan kontribusi yang diberikan Emerada, Alberto, Chiho, Rika, dan Suzuno.

Hanya saja, hatinya sangat lelah sampai-sampai dia tidak bisa menyokong ingatan tersebut.

Ketika hati Emi masih trauma karena insiden Afashan, kemunculan Lailah membuat hatinya semakin goyah. Kalau sudah begitu, langkah terbaik adalah membiarkan dia mengeluarkan semuanya sekaligus.

Jika Maou bisa menghindari kematian dengan cara ini, maka langkah terbaik saat ini adalah menjadi samsak tinju.

“Dulu, ayah lah yang selalu melindungiku.”

“Yeah.”

“Tapi karena dirimu, dia menghilang.”

“Aku tak bisa membantahnya.”

“Lalu aku harus melindungi orang lain. Karena aku..... punya kekuatan yang paling kuat.”

“Benar sekali.”

“Bahkan sampai sekarang pun masih sama, aku lebih kuat dari siapapun..... jadi.....”

Bahu Emi sedikit bergetar.

“Ayah tidak melindungiku lagi.”

Maou tahu betul kalau pikiran gelap Emi semuanya teringkas ke dalam satu kalimat tersebut.

Nord yang akhirnya bertemu lagi dengan Emi, malah menjadi eksistensi yang harus Emi lindungi.

Meski begitu, Emi masih berharap keberadaan ayahnya bisa menjadi dukungan mental untuknya.

Namun, saat berada di kamar rumah sakit Urushihara, ayahnya justru melindungi ibunya.

Menghadapi kekuatan anaknya yang dulu dia lindungi, daripada perasaan anaknya, Nord lebih memilih melindungi keselamatan istrinya dengan mempertaruhkan nyawanya.

Sejak Lailah muncul di tempat itu, apapun yang mereka lakukan, mereka tidak akan bisa membangun kembali keluarga mereka tanpa halangan.

“Hanya kau.”

“Huh?”

“Hanya kau yang mau melindungiku, melindungiku yang menjadi lebih kuat dari siapapun. Hanya kau, yang seharusnya sudah mengacaukan hidupku, hanya kau.”

“....Apa kau sedang mengigau?”

“Aku tidak mengigau, aku juga tidak sedang mabuk.”

“Tentu saja, kau kan masih di bawah umur.”

“Di KTP umurku sudah 20 tahun. Meskipun aku minum-minum, aku takkan ditahan oleh kepolisian Jepang.”

“Itu tidak terdengar seperti kalimat yang akan dikatakan seorang Pahlawan.”

“Sejak awal aku memang bukan Pahlawan. Orang-orang di sekitarku lah yang memanggilku begitu. Di dunia ini, tak ada pekerjaan seperti itu.”

Kali ini terdapat tanda ia sedang gemetar dibarengi sebuah senyum. Emi tersenyum saat ia sedang menangis.

Kekuatan yang Emi gunakan untuk memeluk Maou menjadi sedikit lebih kuat.

“Ini benar-benar godaan iblis. Kaulah satu-satunya orang yang mengatakan apa yang paling ingin kudengar. Bahkan tadi.....”

Wajah Maou menjadi pucat.

Mungkinkah Gabriel mengatakan hal-hal itu karena dia tahu kalau Emi ada di sini?

Meskipun dia tak punya pilihan lain, dari apa yang dia katakan tadi, Maou memang menyebutkan kalau Emi dan Suzuno adalah termasuk orang-orang di sekitarnya yang harus dia lindungi.

“Da-dari bagian mana kau mulai mendengarnya?”

Mendengar suara serak Maou, Emi berbicara seolah sedang menabur garam di atas luka.

“Sejak tadi aku menunggumu pulang bersama Alas Ramus. Jadi apa yang kau katakan setelah sampai ke apartemen, aku mendengar semuanya.”

“....konyol sekali, bagaimana bisa hal yang memalukan ini terjadi, Dewa mana yang sih sedang berbuat jahil, sialan.”

Maou mencoba mengingat percakapan yang ia lakukan dengan Gabriel dan tersenyum kecut.

“Aku juga merasa kalau sudah saatnya aku hidup demi diriku sendiri. Tapi di suatu tempat di hatiku, aku masih berpikir kalau aku tidak seharusnya melakukan hal itu. Em, Bell, Chiho-chan, semuanya menghormati keputusanku. Tapi aku masih tidak bisa mengabaikan rasa tanggung jawab kalau aku harus menggunakan kekuatanku demi teman-temanku. Ini tidak seperti aku tidak ingin melindungi Chiho-chan ataupun orang-orang di sekitarku, tapi pada akhirnya aku tetap tidak bisa menyelesaikan apapun sendirian. Kenapa semua orang memanggilku Pahlawan sementara aku adalah orang seperti ini? Meski aku punya kekuatan, lupakan soal teman-temanku, aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri. Ditambah lagi, dengan diselamatkan oleh orang seperti Lailah, aku benar-benar sudah tidak sanggup menahan beban ini. Aku tidak bisa..... uu!”

Suara Emi mulai bergetar, air mata dan pikirannya yang kacau juga mulai meluap, namun Maou tidak membalas pelukan Emi.

Dia hanya membiarkan Emi mengomel.

Ini hanyalah sekedar omelan. Mengajarkan logika pada orang yang sedang mengomel takkan memberikan untung pada siapapun.

“Aku jelas-jelas tidak bisa meraih apapun. Tapi semua orang menyebutku Pahlawan. 'Karena kau punya kekuatan, maka bertarunglah demi kami, pinjamkan kami kekuatanmu'.... tapi sekarang aku bahkan sudah tidak bisa melindungi diriku sendiri, lalu apa yang mereka ingin untuk aku lakukan......”

“Aku harap kau cepat menyelesaikan pelatihanmu dan menjadi karyawan tetap.”

“.....”

Seolah menerima sebuah syok, Emi pun berhenti menangis.

“....Belakangan ini, aku jadi tidak membenci fakta bahwa kau tidak bimbang sedikitpun.”

“Itu karena aku selalu mengungkapkan apa yang kupikirkan dengan jujur.”

“Sebaliknya, kau juga menyembunyikan banyak hal dari orang lain.”

“Jika seseorang menjalani hidupnya dengan dek kartu terbuka, maka berapapun kartu as yang kau miliki, itu takkan cukup, kan?”

Maou menghela napas, dan untuk pertama kalinya dia mengambil inisiatif untuk menyentuh bahu Emi.

“Dengar, aku tidak mengatakan semua itu pada Gabriel untuk mendapat pujian darimu. Sebaiknya kau pahami hal itu.”

“Aku tahu. Itulah kenapa..... itu membuat orang lain senang, iya kan?”

“Huh?”

“Karena itu adalah sesuatu berasal dari dalam lubuk hatimu, hal tersebut jadi menyenangkan untuk didengar. Kau mungkin akan menyangkalnya, tapi ketika kau bersikap dingin padaku, di saat yang sama kau tetap memperlakukanku sebagai rekan.... tidak, memperlakukanku sebagai sesama dan melindungiku.”

“Itu karena aku harus.....”

“Meskipun kau dipaksa oleh keadaan, memang tidak ada banyak orang yang mau melindungiku kok.”

“....Sepertinya kau menerima pukulan mental yang sangat besar.”

“Itu benar. Sangat besar sampai-sampai aku mengatakan hal-hal semacam ini pada Raja Iblis.”

Menjauh dari dada Maou dan menatapnya dengan senyum penuh air mata, sudut mata Emi yang bengkak masih nampak sedikit basah.

“Terima kasih, Raja Iblis. Aku ini kuat, jadi dengan sedikit perawatan saja, aku pasti akan pulih.”

“Aku tahu kalau akhir-akhir ini keadaanmu sedang tidak baik. Tapi asalkan sistem di dalam dirimu tidak rusak karena terlalu banyak bekerja, itu tak masalah.”

“Hm, tapi hari ini aku mengalami kerusakan yang sangat parah. Ini benar-benar tidak normal.”

Emi menghela napas pelan, dan mundur satu langkah dari Maou.....

“.... Emi?”

Tapi kali ini dia memegang tangan Maou.

“Boleh aku bertanya sesuatu....?”

“Huh?”

“Jika aku menjadi semakin lemah, seperti sekarang ini.... apa kau masih mau melindungiku?”

“Hey, apa kau masih rusak? Apa sih yang kau katakan?”

“Bukankah tadi kubilang kalau keadaanku hari ini sedang tidak normal?”

Ucap Emi dengan sedikit rona merah.

Maou melihat ke arah jam yang ada di tangan kirinya yang kini dipegang oleh Emi. Mendapati kalau sekarang sudah hampir jam 01:30 pagi, dia pun menghela napas.

“Tak peduli sebanyak apa dunia berubah, kebenaran tetap tidak akan berubah.”

“Eh?”

“Kau yang bangga dengan gelar Pahlawanmu itu, sebelumnya memang pernah ada, kan?”

“....Huh.”

Apa yang Maou bicarakan adalah insiden yang terjadi di masa lalu.

Bertemu dengan Maou di Jepang, Chiho pun tahu kebenaran soal Ente Isla, yang Maou bicarakan adalah insiden yang terjadi di Sasazuka pada hari itu.

“Aku bukan orang sebaik itu, jadi meskipun aku melindungimu, itu pasti karena kau yang begitu kuat, menemui situasi yang tidak bisa kau pecahkan. Aku tidak tertarik dengan kau yang lemah.”

“.... Meskipun saat ini aku sedang mengalami kerusakan, kau tetap mengatakan hal itu ya.”

“Tak ada salahnya jadi orang lemah, tapi aku benci dengan orang yang menggunakan kelemahannya sebagai senjata.” Ucap Maou dengan acuh tak acuh. “Kau yang kuakui adalah kau yang memproklamirkan diri sebagai Pahlawan dan berusaha sekuat tenaga untuk menolong teman-temanmu. Tak masalah kalau itu hanya sesekali rusak, tapi Pasukan Raja Iblisku tidak butuh orang yang lemah bahkan ketika dalam keadaan normal. Gelar 'Jenderal Iblis' itu hanya diberikan kepada orang kuat yang tidak akan kalah dari siapapun dalam hal semangat, teknik dan kekuatan fisik.”

“.....Begitu ya.”

Emi mengangguk dan akhirnya melepaskan tangan Maou.

“Mengabaikan masalah teknik dan kekuatan fisik, aku tidak ingin orang lain berpikir kalau aku kalah dari Lucifer dalam hal semangat.”

“Uwah, jahatnya.”

“Memang seperti itu adanya, kan?”

“Huh, kita lupakan soal Pasukan Raja Iblis sejenak, jika kau kalah dari Urushihara dalam hal kehidupan, pasti ada sesuatu yang tidak beres.”

“Ahahahaha.”

Emi akhirnya tertawa ceria.

Entah kenapa, senyum itu terasa sangat berharga bagi Maou.

“Kau itu musuhku, aku tidak sabar menunggumu bilang kalau kata-kata manis tadi adalah sebuah kesalahan.”

“Itu memang kesalahan besar, bahkan sampai ke titik di mana orang akan berpikir 'kau itu ngomong apa sih?'. Dan meski kau bukan musuhku, kau itu tidak punya hak.”

“Benar, aku juga berpikir begitu, entah kenapa kau benar-benar tak berguna hari ini.”

“Sebagai manusia, sesekali sedih memang tak masalah. Tapi karena akan ada reaksi yang aneh dari orang-orang di sekitar kita, setidaknya ingatlah untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuat orang lain salah paham.”

“Ya ampun.”

Emi tersenyum dengan wajah memerah.

“Jika seseorang melihat kita berpelukan, aku penasaran kesalahpahaman macam apa yang akan terjadi?”

“Jaga omonganmu, kita tidak berpelukan. Yang benar, begitu melihatku, kau langsung menerjang ke arahku.”

“Bisakah kau tidak mengatakannya seolah itu adalah kecelakaan lalu lintas?”

“Bagiku, ini adalah insiden tabrakan yang paling parah.”

Keluh Maou dengan sangat serius. Tapi anehnya, suasana hati Emi nampak tidak semakin memburuk.

“Uh, hatiku sakit.”

“Terserah apa katamu. Aku ingin tidur, aku masih harus bekerja besok.”

Maou berjalan melewati Emi dan meraih pintu kamar 201.

“Yeah, terima kasih. Maaf sudah mengganggumu sampai selarut ini.”

“....Oh.”

Meskipun terdengar sebuah suara di belakangnya, Maou sama sekali tidak menoleh.

Dia pun membuka pintu dan memasuki kamar, lantas menutup kembali pintu di belakangnya tanpa sedikitpun melihat ke arah Emi.

Cahaya rembulan menyinari kamar melalui celah yang terdapat pada tirai, Ashiya dan Urushihara sudah tidur di atas tatami. Sang Pahlawan menunggu Raja Iblis pulang, sementara kedua Jenderal Iblisnya tertidur lelap, kelengahan pun harusnya ada batasnya juga.

Rice cooker sudah dalam keadaan mati, di atas kotatsu, terdapat tiga buah onigiri berbumbu yang dibungkus dengan plastik.

Bentuk setiap onigiri itu terlihat aneh dan sedikit berbeda dari onigiri yang biasa Maou makan.

“Ada apa ini.....”

Ucap Maou dengan pelan, yang mana seharusnya tidak bisa didengar oleh Emi yang berada di kamar sebelah.

“Ini dibuat dengan sangat payah.”

Mengatakan hal itu dengan penuh cemooh, Maou pun mengambil onigiri yang agak aneh tersebut.

---End---





Translator : Zhi End Translation...

Previous
Next Post »
12 Komentar
avatar

versi englishnya dapat darimana min

Balas
avatar

semangat lanjutin translate ini novel min, maaf cuma bisa ngasih dukungan gabisa bantu :'v

Balas
avatar

Ditunggu nih lanjutannya gan :3

Balas
avatar

ga nyangka si emilia bikin serangan tiba" :v wkwkw
BTW

masih di lanjut kan min?

Balas
avatar

Yg raw dpt dr mana ya? Susah amat nyarinya

Balas
avatar

Masih menunggu lanjutannya 😂😂

Balas