Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 9 - Chapter 2 (Part 3) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 9 - Chapter 2 : Pahlawan, Bingung Dengan Kampung Halamannya -3


Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 9 - Chapter 2 Bahasa Indonesia



Chapter 3 : Pahlawan, Bingung Dengan Kampung Halamannya.

"Hm? Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Eh, kau ingin keluar?"

Alas Ramus yang ada di dalam kepala Emi, tiba-tiba ingin menyampaikan sesuatu.

"A-aku mengerti, tu-tunggu sebentar.... Hah!"

Meski merasa bingung, Emi tetap menurutinya dan membiarkan Alas Ramus keluar.

Emi pada awalnya ingin menggendongnya....

"Mama, ke sini!"

Tapi tak disangka, Alas Ramus malah melewati tangan Emi, dan setelah mendarat, dia mulai berlari dengan kaki kecilnya.

"Tu-tunggu, Alas Ramus?"

"Mama, cepat! Lewat sini!"

Gadis kecil itu menoleh dengan cemas untuk menyuruh Emi buru-buru, namun Alas Ramus, berlari di jalan setapak, sama sekali tidak berhenti.

Meskipun Emi tidak perlu khawatir akan terpisah dengan Alas Ramus apapun yang terjadi, dia tetap saja merasa panik.

"Tunggu, Alas Ramus! Kau mau pergi ke mana? Pa-paling tidak pakai dulu semprotan pengusir serangga......"

Emi, memegang sebuah semprotan anti serangga untuk anak-anak, mulai mengejar Alas Ramus dengan seluruh kekuatannya.

Meskipun Alas Ramus sudah memakai baju lengan panjang dan celana, Emi tetap khawatir jika dia digigit oleh nyamuk, atau jika dia lecet oleh popoknya karena berlari terlalu cepat, ya, hal-hal sepele semacam itu.

Cara Alas Ramus berlari dan pandangannya tidak memiliki sedikitpun keraguan.

Seorang gadis kecil berlari di jalanan yang tidak nampak memiliki plang apapun sejauh apa yang bisa Emi lihat, dan mereka berdua berlari hampir selama 15 menit.

Pada akhirnya, Alas Ramus berhenti di bawah sebuah pohon besar yang ada di tepi jalan setapak.

"A-ada apa?"

Emi yang nyaris tidak bisa mengejarnya, mendongak menatap pohon besar yang ada di samping tempat Alas Ramus berdiri.

Meskipun itu adalah pohon yang besar, tapi selain jalan setapaknya, pegunungan ini memang tak jauh berbeda dengan hutan purba.

Karena itulah, pohon itu tidak nampak terlalu berbeda, dan juga tidak begitu besar, ataupun menjadi bagian dari spesies yang langka. Hanya ada satu perbedaan nyata antara pohon itu dan pohon sekitarnya....

"Dia sudah layu."

Saat dia mendongak, Emi pun tahu kalau tak ada satupun daun di cabang pohon tersebut, dan lumut serta tanaman merambat yang tumbuh di batangnya, pada dasarnya tidak akan tumbuh di pohon yang hidup.

"Ada apa dengan pohon ini, Alas Ramus?"

Alas Ramus, berdiri di samping Emi dan memandang pohon layu itu, mengangguk untuk menjawab pertanyaan ibunya.

"Lewat sini!"

Usai mengatakan hal tersebut, dia berjalan memasuki kulit pohon di hadapannya.

".....Eh?"

Emi membutuhkan waktu beberapa saat untuk memahami fenomena yang terjadi di hadapannya.

Tubuh kecil Alas Ramus, seperti sihir penembus, terhisap masuk ke dalam batang pohon itu bersamaan dengan sebuah sinar redup.

"A-Alas Ramus? Tu-tunggu sebentar, kembali!!"

Emi membatalkan wujud Alas Ramus dengan panik....

"..... Alas Ramus? Eh?"

Tapi gadis kecil itu tidak kembali.

Di tubuhnya, Emi tidak bisa merasakan Perak Surga yang menciptakan Pedang Suci.

Tidak peduli bagaimana dia berteriak, Emi tidak bisa mendengar jawaban Alas Ramus.

"I-ini tidak mungkin? Ada apa ini? Alas....."

Saat Emi menjadi agak bingung karena situasi yang tak terduga ini...

"Mama, apa kau belum selesai?"

Alas Ramus menjulurkan kepalanya dari dalam batang pohon layu itu dengan ekspresi santai di wajahnya.

Tubuh Alas Ramus dan batang pohon itu mengeluarkan kabut bagaikan sinar berwarna putih, sementara dahi Alas Ramus, memancarkan sebuah cahaya ungu yang redup.

"Alas Ramus!"

"Mama, sini! Mama juga bisa masuk, cepat!!"

Gadis itu langsung menarik kembali kepalanya masuk ke dalam batang pohon. 

"A-apa maksudnya bisa masuk ke dalam...."

Emi yang sudah memastikan keselamatan Alas Ramus, merasa sedikit terkejut, dan mencoba menyentuh pohon layu itu.

"I-ini hanya batang pohon biasa."

Sensasi sentuhan pada pohon itu sama dengan menyentuh pohon layu normal, dan bahkan jika dia sedikit menekannya, rasanya dia tidak akan bisa menembusnya seperti Alas Ramus.

"A-Alas Ramus, kembali! Aku tidak bisa masuk!"

Kali ini, berapa kali pun ia berteriak, gadis kecil itu tidak menunjukan tanda-tanda akan kembali.

"A-apa yang terjadi? Apa ini....."

Emi berjongkok di bagian bawah pohon layu tersebut, menyentuh tempat di mana Alas Ramus menghilang.

Seperti yang diduga, bagian itu juga terasa seperti pohon normal, dan kali ini, Emi tiba-tiba kepikiran sesuatu.

Ketika Alas Ramus menjulurkan kepalanya tadi, dahinya memancarkan sinar berwarna ungu.

Dengan kata lain, fragmen yang membentuk inti Alas Ramus sedang bersinar.

"Ji-jika seperti itu...."

Evolving Holy Sword, One Wing, dan Alas Ramus sudah memasuki pohon tersebut.

Kalau begitu, hanya ada dua fragmen lagi yang bisa Emi gunakan sekarang.

Itu adalah Armor Pengusir Kejahatan dan fragmen yang tertanam dalam sarung pedang yang dibawa oleh Menteri Iblis Camio.

Emi mengambil botol kecil berisi fragmen yang dia buat menggunakan bahan dari Tokyu Hands, dan dengan setengah yakin, setengah ragu, dia menuangkan sihir suci ke dalamnya.

Dan kemudian....

"Wah!!"

Emi yang khawatir jikalau faksi Surga mendeteksi kekuatan fragmen tersebut, hanya melepaskan sedikit kekuatannya, fragmen yang ada di botol kaca itu pun menembakkan sinar ungu ke arah pusat batang pohon itu.

"A-apa ini cukup?"

Emi menelan ludahnya dan menekankan tangannya pada tempat yang disinari oleh cahaya itu.

"Waahh!!!"

Kali ini, tangan yang seharusnya menyentuh permukaan pohon layu, benar-benar masuk ke dalam batang tanpa perlawanan apapun. Di saat yang sama, Emi juga merasa ditarik oleh kekuatan yang begitu kuat dan terhisap masuk ke dalam pohon layu tersebut, menghilang tanpa jejak.

"Sakiiiittttt....."

Meski dia sedang membawa barang bawaan, Emi tak merasa sedikitpun perlawanan, dan karena ia begitu terkejut, ia jatuh dengan cara yang sangat tidak pantas bagi orang terkuat di dunia, Sang Pahlawan.

Emi yang merasakan bau tanah setelah dia jatuh, perlahan bangkit dengan kerut di wajahnya.

Lalu dia menarik napasnya setelah melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Ada sebuah jalan di depan sinar dari pohon layu tadi.

Itu adalah sebuah jalan setapak. 

Tapi pepohonan yang tumbuh di samping jalan setapak itu, yang mana terlihat seperti pohon di pinggir jalan yang ada di jalanan Jepang, berbaris dengan rapi mengikuti jalur tersebut.

Mereka jelas-jelas tidak tumbuh secara alami.

"Mama, cepat ke sini!!?"

Alas Ramus yang melambaikan tangannya pada Emi, berada tak jauh di depannya.

Emi menghela napas lega setelah memastikan keselamatan Alas Ramus, dia kemudian segera mengendalikan ekspresinya dan mulai mengikuti di belakang Alas Ramus.

Usai memastikan kalau Emi mengikutinya, Alas Ramus pun memandu jalan, berjalan lurus mengikuti jalan setapak.

Jalan ini pasti petunjuk yang menghubungkan ayah dan ibunya.

Fakta bahwa hal ini harus dipandu oleh Alas Ramus dan fragmen Yesod, memastikan hal tersebut.

Waktu di jalan itu seakan berlalu seperti sinar dari pohon layu tadi, Emi mengangkat fragmen Yesod di depannya, menggunakannya sebagai pengganti lampu untuk menerangi kegelapan dan bergerak maju.

Emi berjalan lurus di jalanan sepi itu, di mana tak ada suara serangga ataupun burung yang terdengar dan tak ada satupun keberadaan binatang liar yang bisa dirasakan selama lima menit.

Di hadapannya, saat bidang pandangannya tiba-tiba meluas, sebuah pondok kecil pun terlihat.

Lahan di sebelah pondok itu menunjukan tanda-tanda telah dibajak. Tidak ada hutan di sekelilingnya, dan hanya ditanami beberapa pohon yang dapat menghasilkan buah yang bisa dimakan.

Keberadaan manusia tak bisa dirasakan di sini, dan meski tempat ini terlihat tak terurus selama beberapa waktu, semenjak dia datang ke Ente Isla, ini adalah pertama kalinya jantung Emi berdetak dengan begitu cepat.

Matahari saat ini telah lenyap di sisi cakrawala nan jauh.

Apa yang menggantikannya adalah dua cahaya bulan dan cahaya bintang terang yang mulai muncul di langit senja. Mengobarkan cahaya yang sama seperti di luar, dari posisi benda-benda langit ini, Emi bisa memastikan kalau ini berada di lereng sebelah selatan yang ada di dokumen milik ayahnya.

"Mama!!"

Alas Ramus menunggu Emi di depan pondok.

Emi menyimpan fragmen Yesod ke dalam sakunya dan berjalan menuju Alas Ramus.

"Alas Ramus.... di mana ini?"

Saat ia tersadar, Emi rupanya sudah menanyakan pertanyaan tersebut.

Saat Alas Ramus berlari di jalanan pegunungan di luar pohon layu tadi, dia jelas-jelas memang menuju tempat ini.

Namun, Alas Ramus memberikan jawaban yang tak terduga.

"Bukankah ini rumah mama?"

Gadis kecil itu balik bertanya.

".... Kenapa, kau berpikir seperti itu?"

Emi merasa jijik dengan keadaan mentalnya yang lemah yang mana membuatnya tidak bisa bertanya dengan benar.

Dia selalu memikirkan masalah ini.

Alasan kenapa Alas Ramus memanggilnya 'mama'.

Alas Ramus yang disimpulkan lahir di Kastil Iblis yang Maou bangun di Benua Utama, memanggil Emi, yang logikanya tidak ada hubungan apapun dengannya selain fakta bahwa Emi adalah pemegang fragmen Yesod, dengan sebutan mama.

Emi tidak pernah mengira kalau dia tiba-tiba akan dipaksa menghadapi jawaban ini.

"Karena tempat ini memiliki bau mama."

Jawaban Alas Ramus sangatlah kejam bagi Emi yang sekarang.

"Bau, ibu....."

Langit sangat cerah, dan pemandangan yang terlihat dari lereng sangatlah luas.

Namun,

Hati Emi saat ini, seperti hari di mana dia dipisahkan dari ayah tercintanya, terasa begitu terhimpit.

".... Hei, Alas Ramus."

"Ada apa?"

"Mama.... Alas Ramus, siapa namanya?"

"Nama mama?"

Alas Ramus membuka mulutnya setelah sesaat merasa bingung.

"Lailah."

Alas Ramus yang tiba-tiba muncul di Villa Rosa Sasazuka, dulu pernah bilang bahwa 'Papa adalah Satan'.

Namun, ketika dia bertanya siapa mamanya, Alas Ramus menggunakan jarinya untuk menunjuk ke arah Emi.

Emi memikirkan kembali beberapa bulan yang ia habiskan bersama Alas Ramus.

Meskipun Alas Ramus memanggil Emi dengan sebutan mama, tapi dia tidak pernah memanggil nama Emi.

Tentunya bagi Alas Ramus sekarang, mama yang dia cintai pastinya adalah Emi.

Namun sejak tiba di Jepang, Alas Ramus selalu melihat Lailah di belakang Emi.

Dan jika Alas Ramus berpikir bahwa ayahnya adalah Maou, Raja Iblis Satan, sementara ibunya adalah ibu Emi, Lailah, maka...

"Jadi ibu.... yang menyelamatkan orang itu ketika dia masih muda....."

Di kincir ria Big Egg Town, Emi mendengar masa lalu dari seorang Maou Sadao.

Emi sudah curiga pada waktu itu, namun ketika kenyataan terhampar di hadapannya seperti ini, kedua kakinya tetap terasa gemetar sampai-sampai dia nyaris tak sanggup berdiri.

"Si.... Raja Iblis bodoh itu... apa maksudnya dengan 'seseorang yang tidak kukenal'....."

Emi memarahi Maou yang tak ada di sana dengan suara bergetar.

Ketika Emi bertanya siapa malaikat yang menyelamatkan Maou kecil, Maou menjawab 'dia bukan seseorang yang kau kenal'.

Memang benar kalau Emi tidak memahami ibunya, dia pun tidak tahu malaikat yang dikenal sebagai Lailah.

Tapi walau begitu, dia setidaknya tahu bahwa 'malaikat bernama Lailah adalah ibunya'.

"Bagiku..... merasa seterguncang ini, bukankah ini artinya aku seperti sudah bisa ditebak dan membuat pria itu khawatir....."

Tak peduli sebanyak apapun dia marah, semua yang Emi lihat sejauh ini, hanya mengarah pada satu kebenaran.

Ibunya telah menyelamatkan nyawa Raja Iblis Satan muda, dan begitu Satan itu tumbuh, dia menyerang Ente Isla dan menghancurkan kehidupan Emi bersama ayahnya, sekaligus kemakmuran dan nyawa banyak manusia.

"Aku....."

Emi tidak sebegitu bodohnya sampai dia ingin bertanggung jawab atas tindakan ibunya yang tidak berkaitan dengan dirinya.

Baik Emi yang sekarang, ataupun Maou yang ada di bumi, mereka tidak tahu tujuan di balik tindakan Lailah, namun mereka juga tidak berpikir kalau Lailah bertindak tanpa berpikir.

Lalu, motif apa yang ibunya miliki ketika menyelamatkan Satan muda?

"......"

"Mama, ada apa?"

Emi menatap ke arah Alas Ramus.

Alas Ramus terlahir dari fragmen Yesod yang Lailah percayakan pada Maou.

Dari poin ini, bisa saja dia beranggapan bahwa tujuan Lailah membantu Maou adalah agar Alas Ramus bisa terlahir ke dunia ini, namun, Maou baru mengetahui eksistensi Alas Ramus belakangan ini, dan bahkan lupa soal fragmen tersebut.

"Tapi...."

Emi memikirkan kembali saat dia menyerang Kastil Iblis di Benua Utama bersama dengan Emerada, Alberto, dan Olba.

Dulu, Emi sangat yakin kalau cahaya ungu yang dipancarkan pedang suci adalah cahaya pemandu yang mengarah pada lokasi Raja Iblis.

Legenda cahaya yang memandu Pahlawan menuju lokasi Raja Iblis telah diturunkan dari generasi ke generasi bersama dengan Perak Surga yang menjadi inti Pedang Suci dan Armor Pengusir Kejahatan, tapi saat ini, Emi tahu bahwa itu adalah berkat pedang suci dan fragmen Yesod yang nantinya menjadi Alas Ramus, saling menarik satu sama lain.

"Eh......?"

Berpikir sampai ke sini, Emi tiba-tiba menyadari sesuatu.

Cahaya pemandu dalam legenda Gereja, hanyalah efek dari fragmen Yesod yang saling tarik menarik.

Kalau begitu, jika pada waktu itu Emi mengalahkan Raja Iblis Satan, bagaimana keadaan ini akan berkembang?

"Akankah aku bertemu denganmu?"

"Uuu??"

Emi menatap dahi Alas Ramus.

Jika cahaya pemandu itu tidak menghilang setelah Raja Iblis Satan dikalahkan, Emi pada waktu itu mungkin akan berpikir ada sesuatu yang lain. Jika dia terus maju bersama cahaya pembimbing itu, dan menemukan fragmen Yesod sebelum Alas Ramus mendapatkan wujud ini.....

"Akankah aku bergabung denganmu..... seperti sekarang?"

Emi beranggapan bahwa Evolving Holy Sword One Wing yang bergabung dengan Alas Ramus, adalah sesuatu yang kebetulan terjadi ketika dia menghadapi Gabriel di bumi.

Tapi pada waktu itu, bukankah Alas Ramus menggulung pedang suci dan memakannya atas kemauannya sendiri?

Fragmen akan saling menarik satu sama lain.

Dengan kata lain, mereka ingin kembali ke wujud awal mereka, iya kan?

Tepat seperti pedang suci Emi, Armor Pengusir Kejahatan, dan Alas Ramus.

"Meskipun ibu... Lailah sengaja menghancurkan fragmen Yesod dan menyebarkannya ke berbagai tempat.... dia berencana membiarkan fragmen itu kembali wujud aslinya?"

Apa sebenarnya alasannya?

Dipikir baik-baik, Emi sama sekali tidak tahu wujud dan ukuran asli Yesod Sephirah, dan karena hal itu, dia tidak tahu berapa jumlah total fragmen tersebut.

Selain itu, karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada Sephirah sehingga bisa menjadi fragmen, otomatis Emi juga tidak tahu siapa dan bagaimana menghancurkannya.

Apapun itu, Sephirah tetaplah permata yang menciptakan dunia, dan seharusnya tidak bisa dengan mudah dihancurkan layaknya gelas kaca.

Mungkin seseorang menggunakan kekuatan super yang berada di luar imajimasi Emi untuk menghancurkannya?

Tapi rantai aksi yang telah Lailah terapkan pada mereka sejak awal, rasanya terlalu dipaksakan.

Bagaimanapun, hanya satu fragmen saja sudah cukup untuk membuat malaikat penjaga Gabriel dan malaikat agung Sariel untuk mencarinya secara pribadi dengan nyawa sebagai taruhannya, jadi pasti ada kaki tangan lain.

Jika itu benar, maka orang yang punya hubungan dekat dengan Lailah itu seharusnya paling tidak adalah penghuni Surga.

Tapi siapa itu?

Dalam insiden dengan Tokyo Tower sebagai pusatnya, Raguel pernah bilang kalau Lailah saat ini sedang diburu oleh Surga, dan hal yang mengganggunya adalah, berbicara mengenai orang dengan situasi yang mirip seperti Lailah, selain Urushihara Hanzo alias Fallen Angel Lucifer, Emi tidak bisa memikirkan orang lain lagi.

"Itu..... tidak mungkin."

Emi langsung menolak pemikiran tersebut.

Itu bukan karena kehidupan Urushihara yang buruk, dan sangat tidak seperti malaikat.

Itu karena, jika Urushihara memang ada hubungannya dengan fragmen Yesod dan merupakan kaki tangan Lailah, maka sikapnya terhadap pedang suci Emi dan Alas Ramus seharusnya sedikit berbeda.

Ketika Emi berhadapan dengan Lucifer di Benua Barat dan di Sasazuka, meskipun dia menggunakan Evolving Holy Sword One Wing, dalam kedua pertarungan ini, Urushihara hanya memperlakukan pedang suci Emi dengan sikap 'senjata kuat yang digunakan oleh manusia'.

Ketika Alas Ramus muncul di Sasazuka, dia juga terlihat bingung dengan urusan balita layaknya Maou dan Ashiya.

"Karena itulah, itu mungkin seseorang yang tidak kukenal."

Pemikiran Emi juga semakin menyempit karena dia tidak punya cukup petunjuk, dia pun menghela napas.

Tapi setidaknya, dia tahu beberapa hal.

Jika orang yang menyelamatkan Satan muda, Maou, memang benar Lailah, itu artinya jangkauan aksi Lailah juga termasuk Dunia Iblis, yang mana berarti, fragmen lain mungkin juga berada di Dunia Iblis.

Meskipun alasannya tidak diketahui, jika tujuan Lailah memang menyatukan fragmen itu sekali lagi, maka legenda yang diceritakan turun temurun dalam Gereja mengenai pedang suci dan armor pengusir kejahatan, adalah cerita palsu yang sengaja dirubah oleh malaikat abadi Lailah, lalu diceritakan pada manusia.

Lebih penting lagi....

"Ayah tahu segalanya!"

Apa yang ibunya percayakan pada Chiho, ingatan tentang ayahnya dan pedang suci lain.

Dan apa yang ayahnya katakan ketika dia menyerahkan Emi pada Gereja yang datang untuk menjemputnya sebelum penyerangan Pasukan Raja Iblis.

"Ibumu masih hidup di suatu tempat di luar sana.", dan bukti paling nyatanya adalah lokasi yang tidak bisa dimasuki tanpa fragmen Yesod ini. Ini artinya ayahnya sudah tahu semuanya mengenai Lailah. Alasan kenapa dia mengajukan akta dan hak milik tempat ini, adalah agar ia memiliki alasan untuk membawa peralatan dan bahan yang dibutuhkan ke pegunungan untuk mengatur tempat ini.

Ditambah lagi, asalkan Nord membayar pajaknya dengan benar, maka kepala desa dan raja tidak akan memperhatikan apakah dia menggunakan pondok dan lahan ini atau tidak, mereka juga tidak akan mau repot-repot melakukan inspeksi lahan kecil seperti ini setiap tahun.

Pada kenyataannya, bahkan jika seseorang datang untuk memeriksa tempat ini, orang normal pasti hanya akan melihat sebuah pohon layu dan lahan yang tak digarap. Paling banyak, mereka mungkin akan berpikir kalau reklamasinya telah gagal.

"Selain itu.... ada satu hal lagi yang sudah diketahui."

Emi berbalik dan menatap jalanan dari pohon layu itu hingga menuju ke sini.

"Orang yang menciptakan tempat ini pasti ibu."

Ayahnya bukanlah seorang penyihir yang kuat, fakta itu sudah sangat pasti.

Meskipun dia tahu soal sihir, menciptakan sebuah ruang di mana kuncinya adalah fragmen Yesod, bahkan Emerada pun pasti akan kesulitan melakukannya.

Bagaimanapun....

"Selama aku menyelidiki tempat ini dengan benar, aku pasti bisa menemukan rahasia ibu dan ayah."

Meskipun Emi bisa menemukan jawabannya, dia tidak yakin apakah dia bisa mengklarifikasi fakta rumit nan aneh ini atau tidak.

Tapi dia tidak bisa menyerah di sini.

Bagaimanapun, sudah ada banyak petunjuk muncul di hadapannya.

Karena itulah, dia hanya bisa berdoa sekarang.

"'Seseorang yang tidak kukenal' ya....?"

Emi sadar kalau rasa gemetarnya karena merasa begitu terguncang telah berhenti ketika dia mulai berpikir.

"Aku tidak tahu apapun saat ini.... Dan aku juga tidak tahu kebenarannya."

Jika dia ingin merasa putus asa, maka belum akan terlambat untuk melakukannya setelah memperoleh jawaban dari semua ini.

"Pertama aku harus mencari di seluruh pondok ini! Ayo Alas.... eh, Alas Ramus?"

Emi yang memaksa dirinya untuk kembali ceria dengan sikap setengah mendendam, berteriak untuk menyemangati dirinya sendiri, namun setelah menyadari bahwa Alas Ramus menghilang, dia dengan panik langsung memanggil-manggil nama gadis itu.

"Alas Ramus? Di mana kau?"

Tidak peduli bagaimanapun dia memanggilnya, tak ada seorangpun yang menjawab.

"Ja-jangan-jangan??"

Tanah datar ini berada di lereng gunung.

Dan mustahil di sini ada pagar yang terpasang di batas antara lahan dan lereng untuk mencegah agar seseorang tidak jatuh, Emi yang khawatir jikalau gadis itu jatuh terperosok saat ia tidak berada dalam pengawasan, sesaat terlihat pucat.

Dia memang tidak perlu khawatir jika Alas Ramus tersesat, dan dia juga bisa terbang sendiri, namun, apakah gadis itu bisa membuat penilaian dengan benar berdasarkan situasinya untuk menggunakan kekuatannya atau tidak, adalah masalah yang beda lagi.

Emi yang khawatir kalau Alas Ramus terluka karena jatuh dari lereng, pergi ke belakang pondok untuk mencari gadis itu.

"Oh, jadi kau di sini."

Begitu dia menemukan sesosok figur kecil berdiri di belakang pondok, Emi pun bernapas lega.

"Alas Ramus, kita akan memasuki rumah ini, ayo sini!"

Emi memanggil sosok tersebut, namun....

"......"

"Alas Ramus, ada apa?"

Alas Ramus sama sekali tak bereaksi.

Emi berjalan ke samping gadis itu dan menatap ke arah yang sedang ditatapnya.

"Sepertinya sesuatu pernah ditanam di sini sebelumnya?"

Meskipun rumput liar sudah tumbuh seiring berjalannya waktu, di tanah tempat Alas Ramus memandang, nampaknya terdapat sebuah lubang di mana sesuatu yang besar pernah dikubur di dalamnya.

"..... Acies."

"Hm? Ada apa?"

"..... Acies..... Acies!!"

"Eh?"

"Mama, di mana Acies?"

"A-Acies?"

"Acies, di mana Acies?"

Alas Ramus memandang ke arah lubang tersebut dan berteriak.

"Mama, Acies ada di sini! Acies dulunya ada di sini! Tapi sekarang dia hilang! Kenapa?"

"Te-tenanglah, Alas Ramus, siapa itu Acies.....?"

Perubahan tiba-tiba terhadap sikap Alas Ramus membuat Emi kesulitan menyembunyikan kecemasannya, tapi dia tahu sesuatu yang penting akan segera terjadi.

Setiap kali Alas Ramus menjadi banyak bicara, mulai berulang kali menyebutkan istilah yang tidak Emi pahami, dan menjadi orang yang benar-benar berbeda, itu adalah saat di mana terjadi sesuatu terhadap Sephirah.

Emi mencari-cari ke dalam ingatannya, mencari nama yang Alas Ramus teriakkan dengan tidak jelas.

"Alas Ramus, Acies yang kau sebutkan..... apa itu maksudnya Acies Ara?"

Apa yang Lailah serahkan pada Chiho, dan apa yang Chiho serahkan pada Emi, ingatan mengenai ayahnya yang ada di ladang gandum.

Pada waktu itu, ayahnya menyebutkan Acies Ara.

Emi merasa kalau nama yang berarti 'Pedang Bersayap' dalam bahasa Pusat Perdagangan itu, adalah nama pedang suci lain selain Evolving Holy Sword, One Wing.

Namun....

Alas Ramus mengatakan hal ini.

"Acies ada di sini."

Emi pernah melihat eksistensi yang sama seperti Alas Ramus dengan mata kepalanya sendiri.

Dia adalah anak yang nampaknya terlahir dari Geburah Sephirah, Iron.

Jika demikian, maka Acies Ara yang memiliki kata 'Sayap' di namanya seperti Alas Ramus....

"Apa itu nama anak yang terlahir dari Yesod Sephirah?"

"Acies! Aku datang! Acies! Di mana kau?"

Alas Ramus berteriak memanggil seseorang yang sudah menghilang.

Jika apa yang Maou katakan benar, seharusnya Alas Ramus terlahir dari fragmen Yesod yang terkubur dalam tanah. Dari hal ini, bisa disimpulkan bahwa fragmen Yesod yang merupakan wujud awal Acies Ara, juga dikubur di dalam lubang tempat Alas Ramus merasakan sesuatu.

Dan mempertimbangkan bahwa dalam kurun waktu yang sangat lama tidak ada seorangpun yang mengunjungi tempat buatan ayah dan ibunya ini .....

"Alas Ramus..... sayangnya, Acies tidak ada di sini lagi...."

"Tidak! Mama juga harus mencari Acies! Bau Acies ada di sini!!"

"Tenang sedikit Alas Ramus, Acies, sep-seperti Iron, dia juga pergi ke tempat lain."

Emi mencoba membuat Alas Ramus tenang, tapi gadis kecil itu masih tidak menyerah.

Ketika mereka pertama kali bertemu Iron, Alas Ramus dengan gigih menentang kehendak Emi dan membatalkan wujud Evolving Holy Sword, One Wing, dan kali ini, ekspresi cemas Alas Ramus saat mencari Acies Ara, bahkan lebih parah dibandingkan pada waktu itu.

"Mama, kumohon, Acies....."

"Alas Ramus....."

Meskipun Alas Ramus tidak bisa dibandingkan dengan anak normal, setidaknya sampai sekarang, jarang baginya tidak mematuhi Emi hingga sejauh ini.

Emi yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan, memutuskan menggendong Alas Ramus dan menghiburnya supaya dia bisa tenang, namun, ketika Emi mengulurkan tangannya.....

"Mama!!"

Alas Ramus terlihat kepikiran sesuatu, dan menggunakan tangan kecilnya untuk menggenggam jari di kedua tangan Emi dengan erat.

"Ayo kita cari bersama!"

"Eh? Bersama maksudnya.... eh? Tu-tunggu, Alas Ramus...."

Situasinya berkembang ke titik di mana Emi tidak bisa menghentikannya.

Dahi Alas Ramus berangsur-angsur mulai bersinar, sebuah tanda berbentuk bulan ungu pun muncul.

"Aci~es!!"

Pandangan Emi sesaat ditutupi dengan warna ungu dan putih saat Alas Ramus berteriak.

"Ke-kenapa malah jadi seperti ini?"

Emi berteriak saat ia berlari menuruni gunung dengan seluruh kekuatannya.

Bagaimanapun, dia harus meninggalkan tempat ini secepat mungkin.

Sambil merasa kebingungan apakah dia harus meninggalkan barang bawaan di punggungnya atau tidak, Emi terus bersikap waspada terhadap langit di sekitarnya sambil terus berlari menuruni pegunungan.

Tindakan Alas Ramus memang terlalu ceroboh.

Alas Ramus yang terlalu bergantung pada Acies Ara, tanpa seizin Emi, mengaktifkan Evolving Holy Sword, One Wing, yang berevolusi hingga ke tahap akhir karena kembali ke Ente Isla.

Pedang suci melepaskan sihir suci dalam jumlah besar yang tidak pernah Emi alami sebelumnya, dan tembakan sinar Yesod yang membelah langit Ente Isla, bisa dengan mudah dilihat bahkan dari jarak puluhan kilometer.

Sekarang bukanlah saatnya untuk mengkhawatirkan soal barang bawaan, ataupun janjinya dengan Emerada.

Evolving Holy Sword One Wing dan fragmen Yesod yang ada di dahi Alas Ramus sudah aktif sampai ke tingkat ini, dan Emi tidak sebegitu optimisnya berpikir kalau dia tidak akan ditemukan oleh siapapun.

Tanpa mendapat kesempatan untuk memeriksa tempat ini, pondok pertanian, tanah datar yang miring ini, Emi berlari dengan sekuat tenaganya.

Musuh-musuh yang menentang Emi sehubungan dengan fragmen Yesod, sudah tahu semua tentang identitas asli Emi dan kampung halamannya. Sekarang, dia tidak bisa lagi kembali ke Sloan.

"..... Tidak ada di sini, Acies tidak ada di sini, kenapa.....?"

Alas Ramus menangis dalam tubuh Emi.

Karena kekuatan sekuat itu telah dilepaskan, tidak peduli di benua Ente Isla mana fragmen Yesod berada, seharusnya ada beberapa reaksi. Namun, saat ini tak ada satupun reaksi dari Acies Ara.

"Mama, maaf..... maaf!"

Mungkin karena ia mengerti konsekuensi apa yang disebabkan tindakan gegabahnya, sambil menangis karena tidak bisa menemukan Acies Ara, Alas Ramus terus meminta maaf pada Emi.

"Tidak apa-apa, mama tidak marah! Alas Ramus tidak melakukan sesuatu yang nakal!"

Emi mengabaikan perbedaan ketinggian yang ia hadapi dan melompat dengan seluruh kekuatannya, wajah dan tubuhnya menabrak beberapa cabang pohon, dia pun menggunakan aura dan kekuatan yang sama untuk mematahkan cabang-cabang tersebut agar bisa bergegas menuruni gunung.

"Bagi Alas Ramus, Acies Ara itu adalah eksistensi penting seperti Iron dan Malkuth kan?

"..... Un."

"Kau selalu, selalu ingin bertemu dengan mereka, kan? Karena kau selalu sendiri! Semenjak meninggalkan Pohon Kehidupan, kau selalu saja sendiri!"

"..... Un."

"..... Kalau begitu kita sama! Mama juga sama!"

"Mama..... juga sama?"

"Yeah.... ah, serius ini, benar-benar mengganggu!"

Emi akhirnya melempar semua barang bawaan di punggungnya yang malah menghalangi dia saat sedang berlari.

Emi yang meninggalkan seluruh peralatan berkemah, makanan, dan produk bayi untuk Alas Ramus dari Jepang modern, merasa lebih ringan, dia pun berlari menuruni gunung sekuat yang dia bisa.

Saat ini, apa yang tersisa pada Emi yang bisa dianggap sebagai barang bawaan hanyalah slimphone di sakunya yang ia gunakan untuk berkomunikasi via Idea Link dengan Suzuno dan Chiho yang ada di Jepang.

"Aku selalu sendiri..... dan selalu saja mencari, jadi, bahkan jika itu musuh.... bahkan jika itu musuh yang sangat kubenci sampai aku ingin membunuhnya..... aku tetap ingin menemui orang itu!"

Emi berteriak saat dia menuruni gunung dengan kecepatan yang tidak normal.

Jalan setapak menjadi semakin lebar dan kecuraman lereng menjadi semakin berkurang.

Mereka berdua hampir mencapai tempat berisitirahat bagi para pemburu.

Begitu mencapai tempat itu, memeriksa situasi dan mengaktifkan Heavenly Light Boots nya, entah di udara ataupun di darat, Emi harus kabur ke tempat yang tidak ada hubungannya dengan masa lalunya.

Sekarang dia tidak bisa bertemu dengan Emerada.

Dan tidak bisa menepati janjinya dengan Chiho.

Dia bahkan tidak bisa kembali ke Jepang.

Meski begitu, Emi masih tidak bisa menyalahkan Alas Ramus, dan tidak berniat melakukannya.

Itu karena dia juga selalu ingin bertemu seseorang yang membuatnya tidak perlu menyembunyikan wujud aslinya, sekaligus kenal dirinya yang sesungguhnya.

Selain berhubungan dengan Pohon Kehidupan, Alas Ramus itu tidak ada bedanya dengan anak normal lainnya secara mental. Berpikir bagaimana dia sudah berada di inti fragmen Yesod sendirian semenjak Raja Iblis Satan masih muda, bagaimana bisa Emi menyalahkannya?

Pokoknnya, prioritas saat ini adalah lari sebelum ditemukan oleh musuh.

Tidak peduli musuh apa yang datang nanti, Emi seharusnya bisa melawannya, dan menang.

Tapi jika medan pertarungannya ada di Ente Isla, maka tidak sulit membayangkan jikalau musuhnya akan seperti Emi, dan memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dibandingkan saat berada di Jepang.

Berdasarkan formasi musuh, mungkin saja dia tidak bisa menahan kekuatannya, dan jika sudah begitu, fakta bahwa Emi, Pahlawan Emilia ternyata masih hidup akan secara resmi tersebar ke seluruh Ente Isla.

Tak bisa dihindari, banyak kelompok yang bertentangan di sekitar Emi dan Evolving Holy Sword One Wing, akan mulai merencanakan, meningkatkan, dan menyalakan perselisihan yang sengit.

Emerada dan Alberto pasti akan terseret, dan pihak Gereja juga pasti tak akan tinggal diam.

Jika markas pusat Gereja tahu kalau Emilia telah kembali ke kampung halamannya, itu mungkin akan membahayakan Suzuno yang ada di Jepang.

Jika Suzuno terlibat, itu akan meningkatkan kemungkinan Jepang, Chiho, dan Rika terpengaruh oleh bahaya tersebut.

Jika dia membuat kontak dengan musuhnya, lupakan soal Jepang, pada akhirnya mungkin tidak ada tempat yang aman bagi Emi dan Alas Ramus di Ente Isla.

Lupakan soal janji dan kebenaran dunia.

Saat ini, Emi harus menyembunyikan pergerakannnya.

Emi terus berlari, meskipun musuhnya mengetahui bahwa dia ada di Ente Isla, dia tidak bisa membiarkan masalah ini menjadi konsumsi publik.

"..... Ugh?"

Namun...

"I-ini......"

Saat dia hampir melewati pusat plaza di area istirahat, Emi dengan panik menghentikan langkahnya.

"Mama....."

Emi tidak bisa menjawab suara gelisah Alas Ramus.

Ruang yang meliputi seluruh area istirahat mulai berputar.

Layaknya lubang yang terbuka di langit, membelah tanah, serta menghancurkan jalanan, pemandangan dan ruang yang ada di depan Emi mulai retak seolah mengepungnya.

"Itu gate..."

Emi menggertakkan giginya.

Semuanya sudah terlambat.

Pihak musuh memiliki keuntungan.

Emi tidak menyangka kalau mereka akan membawa pasukan dalam jumlah besar seperti ini dan menggunakan gate untuk mengejar fragmen Yesod.

Yang pertama muncul dari retakan di tanah adalah sekumpulan orang dari kekaisaran yang menguasai Benua Timur.... Kesatria dari Afashan.

Melihat tiap-tiap dari mereka memiliki bandana berwarna hijau giok dengan pinggiran berwarna putih terikat di sekitar lengan mereka, mereka pasti adalah pasukan dari Kesatria Josouikin.

Seolah mengepung seekor binatang buas, para Kesatria Josouikin mengarahkan tombak mereka ke arah Emi begitu mereka muncul dan mengepungnya dari segala sisi.

"Ugh....."

Tak mempedulikan Alas Ramus yang sedang dalam keadaan bergabung, masih terus menangis, Emi mengangkat tangannya, bersiap mematerialisasi Evolving Holy Sword, One Wing.

"Akan lebih baik kalau kau menurut, Emilia."

Namun, setelah mendengar suara yang datang dari dalam gerombolan Kesatria Josouikin, Emi sesaat menahan napasnya.

"Dengan kekuatanmu yang sekarang, kau memang bisa mengalahkan semua kesatria ini, termasuk aku, tapi...."

"Jika kau melakukan hal seperti itu, kau pasti akan menyesalinya."

Dua pria dengan perbedaan penampilan yang begitu jauh, muncul dari dalam pasukan tersebut.

Satunya adalah pria tua dengan kepala botak yang memakai jubah pendeta terhormat.

Dan yang lainnya adalah pemuda dengan gaya rambut afro yang memakai jaket kulit dengan tulisan di atasnya mirip anak punk, yang mana tidak mungkin bisa ditemukan di Ente Isla.

"Olba.... Raguel...."

Emi meneriakkan nama kedua orang itu dengan penuh kebencian.

"Jangan menunjukan ekspresi mengerikan seperti itu."

Raguel mengangkat bahunya.

"Kami baru saja mendeteksi reaksi yang begitu gila, jadi rasanya kami tidak bisa dengan santai berjalan saat kami menyerang, tentu saja kami akan menggunakan gate."

"Akan sangat merepotkan jika orang lain datang ke sini lebih dulu.

Ucap Olba dengan sebuah senyum, ekspresi itu, mirip saat dia bepergian dengan Emi dan saat dia berdiri di hadapan Emi sebagai setelah mengkhianatinya di Sasazuka, sebuah ekspresi yang sulit dibaca.

"..... Urusan macam apa yang dimiliki seorang pendeta kafir dan malaikat pengadil sambil membawa banyak tentara Afashan seperti ini? Aku benar-benar tidak paham maksud dari kombinasi ini!"

Ucap Emi sambil menatap tajam ke arah kepala botak dan afro tersebut.

"Menurutmu untuk apa kami ke sini?"

Raguel mengabaikan tatapan Emi dan bertanya balik dengan sikap meremehkan.

"Soal itu, jika pihak Gereja dan Surga datang meminta bantuanku untuk menyelamatkan Afashan yang dikendalikan oleh Barbariccia, rasanya aku tidak bisa membicarakannya dengan kalian."

Kata Emi dengan sikap kurang ajar sambil mengamati reaksi mereka berdua.

Lalu, setelah Olba dan Raguel saling menatap satu sama lain dengan kaget karena alasan yang tak diketahui....

"Bisa kubilang kau tidak terlalu jauh dari sasaran."

".... Apa maksudnya itu?"

 Emi merasa curiga dengan nada bicara tersebut, seolah Olba sedang menyiratkan sesuatu dengan kata-katanya.....

"Ngomong-ngomong, meski ini tergantung pada sikapmu, tujuan kami kali ini bukanlah merebut fragmen Yesod seperti saat di Jepang dulu. Karena situasinya sudah sedikit berubah."

Namun, Raguel memotong obrolan mereka.

"Pahlawan Emilia Justina, ikutlah dengan kami ke Afashan."

"Ditolak!"

Emi langsung menjawabnya.

Olba dan Raguel nampaknya sudah menduga kalau semuanya akan jadi seperti ini, dan bahkan tidak mengernyit.

"Untuk saat ini, boleh aku tanya kenapa?"

"Sentuh hati nuranimu dan pikirkan apa yang sudah kalian lakukan di Jepang! Orang-orang seperti kalian yang dengan santainya melakukan hal-hal buruk dan melukai orang tak berdosa demi tujuan kalian, bagaimana bisa aku membenarkan kalian?"

"Begitu ya, masuk akal."

"Yeah, memang tidak perlu dibantah kalau soal itu. Meski begitu, kau tetap harus ikut dengan kami. Kau tidak punya hak untuk menolak."

"Terserah apa katamu. Lagipula janjiku bulan ini sudah penuh. Jika itu supremasi murahan untuk bermain beberapa permainan rumah, maka carilah Raja Iblis dan mainkan permainan itu!"

Usai mengucapkan hal tersebut dengan tekad yang kukuh, Emi menatap Olba dan Raguel, mematerialisasi Evolving Holy Sword, One Wing.

"Olba, kau benar, aku memang bisa menyingkirkan kalian semua dengan mudah asalkan aku serius. Dan aku tidak punya alasan untuk ragu. Mundurlah, dengan begitu...."

Saat Emi hendak menarik pedangnya dan bertarung,

"Tadi itu......?"

Sebuah getaran terasa di udara sekitar.

Mungkin sebuah ledakan terjadi di suatu tempat yang jauh.

Tidak, tidak ada kehancuran besar yang terjadi dalam bidang pandangannya.

Tapi Emi merasakannya.

Getaran itu berasal dari sisi sebelah barat, yang mana merupakan kampung halaman Emi, Sloan.

"Sihir iblis.... ini sihir iblis?"

Bukan malaikat dan bukan kekuatan manusia, sebuah kekuatan milik iblis yang berasal dari Dunia Iblis.

Sensasi ledakan energi ini datang dari arah Sloan.

Mungkin karena ia sadar kalau Emi merasakan gelombang sihir iblis tersebut, Raguel menunjukan senyum menjijikkan, yang sulit dipercayai kalau itu berasal dari seorang malaikat.

"Seorang Malebranche, Draghi apalah itu, dengan nama yang bisa membuatmu dengan mudah menggigit lidahmu sendiri, sekarang ada di sana!"

Ucap Raguel seraya dengan sengaja menatap ke arah Sloan.

"Begitu aku memberitahunya kalau kampung halaman milik musuh Jenderal Iblis Maracoda ada di dekat sini, dia bersikeras untuk ikut dan tidak mendengar siapapun lagi."

"..... Jangan-jangan....."

Wajah Emi memucat.

"Bagaimanapun, ini kan Benua Barat, untuk menghindari agar tidak bentrok dengan Kesatria Saint Aire yang tidak tahu apa-apa, aku mengingatkannya untuk tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Tapi jika kau tidak bersedia mendengarkan kami, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi nanti."

Untuk menghentikan kekuatan super macam Pahlawan Emilia, cara Raguel dengan mengatakan ancaman tersebut, bisa dibilang terlalu kasar.

"Malebranche itu juga iblis. Mereka memang tidak bisa memperoleh sihir iblis di Benua Barat yang sedang menjalani perbaikan dengan lancar. Namun, menghancurkan sebuah desa tak berpenghuni itu masih sangat mudah bagi mereka."

Emi tidak akan pernah bisa melupakan jiwa jahat yang tidak mungkin milik seorang manusia yang mana saat ini bersembunyi di balik wajah datar Olba.

"Emilia, seingatku mimpimu adalah membangun kembali ladang milik ayahmu, benar?"

"O.... Olba, a-apa yang kau.....?"

"Sebenarnya aku tadi mengambil jalan memutar untuk melihat-lihat, ladang gandum milik ayahmu, masih bertahan kan?"

Bilah pedang suci mulai terkulai seolah kehilangan kekuatannya.

"Jadi?"

Emi tidak mampu menjawab pertanyaan Raguel.

Meskipun dia berpikir dengan seluruh kemampuannya, dia tetap saja dalam keadaan rugi.

Bahkan jika dia menyingkirkan Raguel dan Olba sekarang dan terbang menuju Sloan, bagi seorang iblis, menghancurkan ladang dan rumah lama Emi itu akan sangat mudah.

Ketika mereka mampir ke Sloan saat perjalanan mereka memerangi Raja Iblis Satan dulu, Olba tahu mengenai rumah lama Emi.

Meskipun beberapa gandum masih bertahan pada waktu itu, tapi ayahnya sudah tidak lagi ada. Emi yang merasa ladang itu sudah tidak bisa diperbaiki, kehilangan harapannya.

Saat terdampar di Jepang, Emi pernah menangis karena memimpikan pemandangan itu.... pemandangan saat dia menjalani hidup yang damai nan tenteram bersama ayahnya di kampung halamannya, di tengah-tengah aroma gandum dan kepala gandum yang berwarna keemasan.

Setitik air mata muncul di sudut mata Emi.

"A-aku...."

Gelar Pahlawan adalah simbol harapan, bukti keadilan.

Di masa lalu, di antara banyak pertarungan berdarah yang dilaluinya, Emi terus mengatakan hal itu pada dirinya.

Namun, rekan-rekannya di masa lalu, Emerada, Alberto, dan Olba, telah mengetahui bahwa motif Emi memerangi Pasukan Raja Iblis hanyalah untuk mengalahkan musuh ayahnya.

Emi lalu melihatnya bersama dengan matahari pagi, dia melihat waktu yang telah berhenti sejak dia masih muda dulu dikarenakan Pasukan Raja Iblis, kembali berputar, begitupun harapan jikalau ayahnya mungkin masih hidup, dan harapan jikalau gandum yang dia tanam bersama ayahnya masih bisa bertahan. 

Namun, harapan yang mampu menggerakkan waktu yang telah terpotong sejak saat dia merasakan perpisahan menyedihkan dengan ayahnya, sekali lagi akan dihancurkan di depan matanya.

Memang tidak sulit untuk membalasnya.

Bahkan jika rumah dan ladangnya benar-benar dihancurkan, Emi, di bawah kendali amarah dan kebencian, sebenarnya masih bisa tanpa ampun membuat tumbal darah dari Olba, Raguel, Kesatria Josouikin, dan Malebranche yang ada di desa Sloan, hal itu sangat mudah baginya.

Tapi kalau seperti itu, semuanya akan berakhir.

Meskipun itu hanya ladang dan gandum.

Namun bagi Emi, itu adalah harapan yang sangat ingin dia wujudkan sejak saat ia masih muda, sambil terus mempertaruhkan seluruh hidupnya.

"Apa... yang harus kulakukan?"

Hati Emi dengan mudah dikalahkan.

Apa ini benar hati milik Pahlawan yang menyelamatkan dunia dari keputusasaan?

Seolah mematerialisasi kelemahan hati Emi, Evolving Holy Sword, One Wing di tangannya pun menjadi semakin kecil dan semakin pendek dibandingkan wujudnya ketika berada di Jepang, dan kemudian menghilang.

"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Kau hanya perlu mengikuti kami dengan patuh."

".... Kalau aku mengikutimu, kau tidak akan menyerang desa itu kan?"

"Tentu saja. Dan aku sudah mengatakannya di awal tadi, kami sejak awal tidak berencana melukaimu. Tapi agar kau tidak melawan ataupun melakukan sesuatu yang bodoh seperti lari ke Jepang....."

"..... Aku tidak berniat melakukannya."

"Begitu ya, baguslah."

Setelah mengangguk dengan puas, Olba dan Raguel mengangkat tangan mereka agar para Kesatria menurunkan kewaspadaannya.

"Kalau begitu, ayo pergi."

Ucap Raguel dengan pelan, memerintah Emi.

Emi mematuhinya dan mulai berjalan menuju gate yang dibuka oleh Raguel dan gerombolannya.

Begitu ia berdiri di samping gate tersebut, Emi menengok ke arah gunung yang baru saja dia turuni.

"...... Maafkan aku."

Usai dengan pelan menggumamkan kata tersebut, di bawah perintah Raguel, Emi pun menghilang di dalam cahaya gate.

---End---





Translator : Zhi End Translation..
Previous
Next Post »
0 Komentar