Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Chapter 2 (Part 3) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Chapter 2 : Raja Iblis, Pertemuan -3




Chapter 2 : Raja Iblis, Pertemuan.

"Ashiya-san, Suzuno, apa kalian.... dengar sesuatu mengenai Emi?"

Prediksi Ashiya sangat tepat.

Emi memang bilang kalau dia mengambil cuti karena ada sesuatu yang harus dia lakukan di Ente Isla, tapi harusnya dia hanya mengambil cuti selama seminggu dimulai dari saat dia pergi.

Hanya dari hal ini saja, bisa diketahui Emi sudah absen tanpa alasan selama dua minggu penuh.

"Dia sama sekali tidak menjawab telepon ataupun pesan dariku, dan meski aku datang ke rumahnya, aku juga tidak menemukannya, kalau pekerjaannya.... dia sudah absen selama beberapa waktu."

"Lalu apa Yusa dipec.... apakah semua ini tak berpengaruh untuk pekerjaannya?"

Bahkan Ashiya yang baru mengenal Rika belum lama ini, bisa tahu kalau gadis itu hanya memaksa dirinya untuk tetap terlihat energik, jadi setelah ragu untuk beberapa saat, Ashiya akhirnya mengajukan pertanyaannya dengan bijaksana.

"Sekarang sih masih baik-baik saja.... lagipula, sampai sekarang, jangankan absen tanpa alasan, dia bahkan tidak pernah telat sama sekali, pihak manajemen memiliki kesan yang bagus terhadap sikap kerja dan kemampuannya, jadi ketimbang marah, baik direktur ataupun manager, para atasan ini malah cemas dengan keadaannya."

"Begitu ya...."

"Tapi, bukankah Emi tinggal sendiri, sementara orang tuanya, ada di luar negeri?"

"Ye-yeah."

Tidak mengetahui latar belakang apa Emi yang ceritakan pada orang lain, Ashiya yang dimintai klarifikasi, sesaat merasa bingung.

"Selain teman kerjanya, Emi sepertinya tidak punya banyak teman, jadi semuanya sangat cemas jika dia sedang sakit atau mengalami kecelakaan serius, dan orang-orang tidak ada yang mengetahuinya...."

"Uh...."

Ashiya mengambil kesempatan ketika Rika sedang menunduk untuk melirik ke arah Suzuno dan Urushihara.

Tentu saja, putus komunikasi sampai segitunya, pasti membuat semua orang berpikir hal yang tidak-tidak. Setelah memastikan kalau pendapat yang optimis takkan bisa memecahkan situasi saat ini, Ashiya sekali lagi menatap ke arah Rika.

"Lalu, ngomong-ngomong soal teman Emi yang kukenal, yang ada hanyalah Maou-san dan kalian... aku tahu kalau berkunjung tiba-tiba itu akan merepotkan semuanya, tapi aku tidak bisa duduk dan tidak melakukan apa-apa..."

Ashiya dan Urushihara bukanlah tipe iblis yang tidak bisa membaca suasana di saat seperti ini dan membenarkan fakta mengenai 'teman' tersebut, tapi mereka yang ada di sana memang benar-benar tidak bisa memenuhi ekspektasi Rika.

"Aku minta maaf.... Semua yang kami ketahui juga sama seperti Suzuki-san."

Rika tidak terlihat begitu kaget.

Dia pasti sudah siap secara mental untuk hal ini. Tidak, mungkin sejak awal dia sudah tidak mempunyai banyak ekspektasi.

"Apa kau tahu kenapa Yusa mengambil cuti?"

"Hm, kudengar karena ada masalah di rumahnya... Tapi dia terlihat tidak begitu ingin membicarakannya, jadi aku tidak bertanya, bahkan aku juga tidak tahu kemana dia pergi..."

Jika itu adalah rekan Emi yang lain, Shimizu Maki, dia mungkin sudah bertanya pada Emi mengenai kampung halamannya.

Tapi bagi Rika, menggali fakta tentang kampung halaman orang lain itu sudah termasuk tabu.

Hal itu memang ada hubungannya dengan bencana besar yang melanda kampung halamannya, Kobe ketika dia masih kecil, tapi tanpa memikirkan hal tersebut, bagi orang-orang di usia tertentu, di balik alasan 'ada masalah di rumah', biasanya ada masalah rumit yang terlibat.

"Kami juga hanya tahu hal itu. Meski kami dengar kalau dia akan pulang ke rumahnya, jujur saja.... karena kami tidak tertarik dengan tujuannya......"

Untuk menghindari kecurigaan, Ashiya berusaha menjadi sejujur mungki.

"Suzuno juga?"

Dari nada Rika, bisa dirasakan kalau dia mengharapkan jawaban yang berbeda antara pria dan wanita...

"Maafkan aku.... aku juga tidak tahu lebih dari itu...."

Tapi Suzuno hanya bisa memberikan jawaban yang sama dengan Ashiya.

Meski mereka memberitahukan kebenarannya, Rika mungkin tidak akan mempercayainya, dan bahkan dia akan menjadi lebih bingung.

".... Itu benar... Aku sungguh minta maaf tiba-tiba datang ke sini menanyakan hal ini...."

".... Apa kau baik-baik saja?"

Bahkan dari sudut pandang orang luar, bisa dilihat kalau Rika sedang menenangkan ketegangannya.

Ashiya cemas jika Rika pingsan begitu saja, tapi untungnya, dia hanya sedikit menyantaikan posturnya.

"Yang benar saja.... Emi, apa yang terjadi padamu...."

Kalimat Rika benar-benar menyimpulkan apa yang dipikirkan orang-orang yang berhubungan dengan Emi, semua yang ada di sana, tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menjawabnya, dan kamar tersebut, dipenuhi dengan atmosfer yang begitu berat.

"Jadi sebaiknya memang membicarakan ini dengan polisi ya?"

"Tunggu, itu sedikit...."

Urushihara pun bereaksi terhadap pendapat Rika sebagai orang Jepang.

Ashiya dan Suzuno tahu kalau percuma saja menghubungi polisi, dan Rika terus menatap Urushihara yang tadi secara refleks bereaksi seperti itu, dan mengatakan,

"Bagaimanapun, orang biasa pasti akan bereaksi seperti itu. Meskipun aku ini teman, tapi Emi dan aku itu sama sekali tak ada hubungannya, jadi aku benar-benar tidak ingin memperparah keadaan ini dengan menghubungi polisi.... tapi, ketika aku berpikir kalau sesuatu yang tidak bisa diubah terjadi saat aku tidak melapor ke polisi........."

Untungnya, Rika salah memahami reaksi Urushihara sebelumnya, dan mengira kalau itu hanyalah perasaan warga biasa yang berpikir bahwa melapor ke polisi itu akan sangat merepotkan, namun, Rika masih terlihat depresi.

"Rika-dono...."

Suzuno yang juga merasa menderita melihat keadaan Rika, mengulurkan tangannya ke pundak Rika, mencoba menghiburnya....

"Tapi...."

Apa yang Rika katakan selanjutnya, merubah atmosfer yang ada di sana dalam sekali serang.

"... tanpa adanya kontak selama seminggu penuh itu benar-benar aneh kan? Tidak, jangankan menghubungi, dia bahkan tidak pulang ke rumahnya....."

"""Eeeeh????"""

Kalimat tak terduga yang diucapkan Rika, membuat Ashiya, Suzuno, dan Urushihara berseru serentak.

"Suzuki-san?"

"Hm?"

".... Apa yang kau katakan barusan?"

Tanya Ashiya dengan kaget.

"Barusan.... eh? Kubilang sangat aneh kalau dia tidak pulang."

"Tidaktidaktidak, sebelum itu!"

Sangkal Urushihara.

"Sejak kapan dia putus kontak?"

"Eh? Seperti yang kubilang, itu seminggu yang lalu...."

Jawab Rika dengan bingung.

Tapi kalimat tersebut, membuat ketiga orang itu panik.

"Tu-tunggu dulu Rika-dono, a-apa kau yakin?"

"Yakin, yakin soal apa?"

"Itu, terakhir kalinya Emilia.... Emi-dono menghubungimu..."

"Uh, itu sudah jum'at malam kemarin....?"

"""Jum'at malam kemarin?"""

Kali ini, Kastil Iblis benar-benar diselimuti dengan keterkejutan.

Jum'at malam kemarin adalah tepat seminggu setelah hari di mana Emi seharusnya pulang.

Maou, Suzuno, dan yang lainnya, tidak bisa menemukan lokasi Emi semenjak dua minggu yang lalu.

Kalau begitu, kenapa masih ada komunikasi dengan Emi seminggu setelahnya?

"A-apa yang membuat kalian begitu terkejut?"

"Kami kehilangan kontak dengan Emi di hari jum'at dua minggu yang lalu. Tidak, karena dia bilang kalau dia akan kembali di hari itu, jadi sebenarnya, ini sudah tiga minggu."

"Eh?"

Suzuno cemas, tapi dia tetap mewakili semua orang dan bertanya,

"Apa dia meneleponmu? Ataukah mengirimkan pesan?"

Jika itu pesan, maka orang lain bisa saja menggunakan nama Emi, tapi jawaban Rika, sekali lagi membantah ekspektasi semua orang.

"Dia menelepon, kau tahu."

"Ka-kau yakin orang itu Emi-dono?"

"Uh, erhm, tolong tunggu sebentar."

Meskipun Rika sedikit menyusut karena didesak oleh Suzuno dan kedua pria itu, dia tetap mengeluarkan HP lipatnya dari dalam tas yang dia bawa, dan menunjukan tampilan riwayat percakapan.

"Seingatku panggilan ini adalah panggilan yang kuterima dari Emi...."

Tapi layar yang Rika tunjukan, memperlihatkan kata 'Nomor tak dikenal' karena alasan yang tak diketahui.

"Apa dia tidak menampilkan nomornya?"

"Kau tidak mengaktifkan pengaturan untuk menolak panggilan dari nomor yang tak dikenal?"

"Tidak, karena panggilan dari rumah lamaku akan menyembunyikan nomornya secara otomatis karena alasan yang tak jelas, dan kakekku terkadang meneleponku."

"Tapi karena tidak ada nomornya, mungkin saja orang lain meniru Emi...."

Suzuno yang tidak bisa menerima bukti dan pernyataan yang ada di hadapannya, mengemukakan pendapat tersebut, tapi Rika menggelengkan kepala, dan menyangkalnya,

"Mustahil. Itu adalah suara Emi, dan sebelum aku membuka mulutku, dia sudah mengatakan namanya, isi percakapannya juga sama dengan Emi yang biasanya. Aku ini bekerja di perusahaan HP, jadi aku sangat waspada dengan telepon penipuan."

Urushihara menggumam pelan, 'tipe orang seperti ini yang berbahaya', namun, kata-katanya tidak sampai ke telinga Rika.

"Apa yang kalian berdua bicarakan?"

"Uh, seingatku itu sesuatu tentang jadwal kerja dan topik tidak penting lainnya. Ah, benar, aku ingat, bukankah kalian tadi menyebutkan jum'at dua minggu yang lalu? Di hari itu, Emi juga meneleponku kau tahu?"

Rika kembali mengoperasikan HPnya, dan memperlihatkan riwayat panggilan di hari itu kepada Ashiya dan yang lainnya.

Dan panggilan itu, juga tidak menunjukan nomor peneleponnya.

"Panggilan Emi di hari itu bertanya padaku apa aku bisa mengisi jadwal kerjanya minggu depan, yang artinya minggu lalu."

"Mengisi jadwal kerjanya minggu depan? Bukankah Yusa bekerja setiap hari?"

"Tidak, dia sepertinya hanya punya sedikit shift bulan ini. Minggu itu, dia hanya harus bekerja tiga hari."

Kali ini, Rika tanpa sadar menatap ke arah Ashiya, dan setelah tatapannya bertemu dengan tatapan Ashiya yang bingung, dia dengan panik langsung mengalihkan pandangannya.

"Er,erhm, dan kebetulan, aku tidak punya rencana, aku juga ingin tambahan shift, dan di minggu itu, aku punya waktu istirahat lebih, jadi aku setuju dengan permintaan yang menarik itu."

Ashiya dan Suzuno saling menatap satu sama lain.

Dari isinya, tidak ada yang mencurigakan dari kata-kata Rika.

Karena mereka berdua bisa mengobrol sampai segitunya, maka seharusnya tidak ada penipu, dan isi dari panggilan telepon itu juga tidak berisi kekhawatiran sama sekali.

Tapi, masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

"Apa benar-benar hanya itu saja? Apa tidak ada hal lain yang aneh?"

"Eh?"

Rika melipat tangannya di depan dada dan memikirkan pertanyaan Urushihara.

"Bahkan jika kau menanyakan hal ini, sejak awal Emi itu tidak akan berbicara terlalu lama di telepon, dan dari insiden ini, rasanya tidak ada yang aneh."

"Dua panggilan itu, apa keduanya hanya tentang jadwal kerja?"

"Eh? Yeah, hanya itu. Telepon setelahnya hanya berterima kasih padaku karena sudah mengisi shiftnya."

Rika tidak begitu curiga, tapi bagi Suzuno dan yang lainnya, ini adalah pertanyaan yang penting.

Situasi apa yang Emi alami dan motif apa yang membuatnya harus melakukan panggilan normal seperti itu dengan Rika, keduanya sangat penting.

Menghilang selama seminggu penuh tanpa ada komunikasi apapun, Emi harusnya tahu kalau hal ini akan membuat Chiho dan Suzuno khawatir, namun, panggilan yang dia buat dengan Rika, malah hanya meminta bantuan mengisi shift dan berterima kasih.

Meski begitu, terkait dengan hilangnya Emi, kata-kata Rika tetaplah sebuah potongan informasi yang tak terduga.

Semuanya tahu kalau mereka tidak bisa membiarkan petunjuk ini lepas begitu saja.

"Selain jadwal kerja, apa kalian membicarakan hal yang lain? Seperti cuaca di hari itu, atau perubahan dari biasanya, meski hanya sesuatu yang sepele, tak masalah."

Suzuno terus mencoba memeras ingatan Rika. Dengan interogasi serius Suzuno, Rika pun menurut dan mencari-cari ke dalam memorinya, berusaha keras untuk mengingat sesuatu.

"Meski aku sering mendengar hal seperti ini di TV, tapi aku tak pernah menyangka kalau seseorang benar-benar akan mengatakan hal itu padaku suatu hari nanti."

Sambil mengatakan hal tersebut, Rika mengerang, menyandarkan kepalanya di atas tangannya dan menjawab,

"Hmm~~, jika aku merunutnya dan mulai dari awal panggilan, aku memang menerima panggilan tak diketahui yang kupikir dari rumah lamaku, tapi ternyata itu adalah Emi. Lalu, oh iya, aku merasa nadanya agak cemas dan suaranya terdengar sangat jauh, karena aku ingat kalau orang tua Emi tinggal di luar negeri, kupikir dia khawatir dengan tagihan teleponnya, lagipula, telepon gratis ataupun biaya layanan telepon khusus tidak berlaku di luar negeri."

Ketika Rika menjawab sambil mencari-cari ke dalam ingatannya, kalimatnya sesaat berhenti.

"Rasanya seolah suaranya ringan dan mengambang. Mungkin itu karena sinyalnya terlalu jauh atau terlalu lemah, jadi kupikir dia sedang berada di basemen atau semacamnya."

Karena dia berada di dunia lain, tentu saja jaraknya jauh. Tapi agar tidak mencampuri ingatan Rika, mereka bertiga hanya menatap wajah Rika sambil mengangguk diam.

"Ah, benar juga, suara keras seperti sebuah pengumuman terdengar dari sana. Menurutku itu pasti ada di luar negeri."

"Pengumuman?"

"Yeah, aku tidak tahu bahasa negara mana itu, tapi untuk menari selama festival musim panas, bukankah mereka juga memutar musik yang sangat keras? Seperti itulah suaranya. Hm, lalu kami mulai membicarakan soal shift, kemudian, ah, benar juga!"

Rika perlahan mengeluarkan catatan dari dalam tasnya dan mulai membalik halamannya.

"Ah, ketemu. Aku ingat, di antara tanggal yang Emi minta, ada satu tanggal yang keadaannya lebih merepotkan, jadi aku menyarankan Maki.... ah, Maki adalah rekan kami, karena dia sedang luang di hari itu, jadi aku memberi saran pada Emi untuk meminta tukar shift dengan dia. Jika aku benar-benar harus menyebutkan sesuatu yang aneh, kupikir hanya saat itulah Emi mengatakan sesuatu yang aneh."

Terkait saran Rika, Emi menjawab begini,

"Dia bilang 'Aku tidak bisa menelepon Maki'. Seingatku mereka sudah pernah bertukar nomor HP, tapi aku biasanya juga hanya mengirim pesan dan tidak pernah menelepon Maki, dan pada akhirnya, aku tidak tahu siapa yang mengisi shiftnya, setelah itu, Emi langsung menutup teleponnya..... sementara untuk telepon minggu lalu, Emi hanya berterima kasih padaku karena sudah mengisi shiftnya, oh iya, saat itu, suara seperti pengumuman itu juga terdengar. Tapi pada waktu itu, kami hanya membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan jadwal kerja."

Ada apa ini?

Mereka tidak tahu pengumuman apa itu, tapi jika Emi memang menghubungi Rika dari suatu tempat di Ente Isla, lalu kenapa dia hanya menelepon Rika?

Selain itu, jika dia terlibat ke dalam suatu masalah, dia seharusnya memberitahu Rika dengan nada mendesak, kenapa dia masih bisa dengan santai membicarakan masalah pekerjaan dengan Rika?

Tidak, intinya adalah....

".... Kenapa harus Rika-dono?"

"Eh?"

"Ah, bukan apa-apa...."

Suzuno yang menggumam sendiri, dengan cemas mencoba mengesampingkan hal tersebut.

Mengatakan hal ini tentang Rika memang tidak pantas, tapi jika Emi benar menemui bahaya, dia seharusnya tahu kalau menelepon Rika tidak akan banyak membantu.

Apa yang sudah bisa dipastikan adalah, saat ini, situasi yang tak terduga telah terjadi, lalu apa mungkin Emi benar-benar tidak menemui bahaya, dan karena dia tidak bisa kembali lebih awal, dia terpaksa meminta Rika untuk mengisi jadwal kerjanya?

"Tidak, seharusnya bukan seperti itu."

Meski Emi memiliki waktu luang untuk meminta orang lain mengisi jadwalnya, dan hanya menghubungi Rika, pastinya ada alasan yang sesuai.

"Ah, permisi, maaf mengganggu."

Ashiya pun memecah suasana tegang yang tercipta karena informasi tak terduga tersebut.

"Hey, Urushihara, hujan, sana tutup jendelanya."

"Eh? Ah, benar."

"Hm, padadal prakiraan cuaca mengatakan kalau hujan hanya akan turun saat siang hari. Oh tidak, jendela di kamarku masih terbuka."

Kalau dilihat baik-baik, saat Rika memasuki apartemen, matahari masih bersinar, tapi saat ini langit telah dipenuhi dengan kumpulan awan tipis tanpa disadari siapapun dan mulai hujan ringan.

Karena tadi Suzuno membuka jendela untuk menghilangkan asap yang berasal dari mantra ledakan di dalam kamarnya, dia pun dengan cepat bergegas menuju kamarya untuk menutup jendela.

"Ah, Ashiya-san, baju-baju itu...."

Ketika Rika sadar kalau baju yang tadi digantung untuk menghindari asap yang berasal dari kamar Suzuno, telah sedikit basah karena hujan, dia pun langsung berdiri.

"Oh, oh tidak, aku minta maaf soal ini...."

Ashiya meminta maaf pada Rika mengenai baju-baju yang masih digantung.

Selain handuk dan kaos kaki, di antara baju-baju tersebut juga terdapat pakaian dalam, ketika tamu wanita datang, sangatlah tidak pantas menggantung mereka dengan terang-terangan.

"Jangan khawatir, aku bukanlah anak kecil yang akan malu karena hal-hal semacam ini. Tapi..."

Setelah Rika mengucapkan hal tersebut dengan sebuah senyum kecut kepada Ashiya yang berusaha menutupi baju-baju tadi, dia pun menengok ke arah luar jendela dan memasang ekspresi suram yang sangat sesuai dengan langit saat ini.

"Uwah, tapi lihat langit di luar sana. Apa ada laporan khusus mengenai hujan deras seperti ini?"

Ashiya yang memeluk rak pengering baju dengan kedua tangannya, memandang ke arah langit yang sama karena suara Rika.

"Sepertinya akan hujan deras. Aku minta maaf karena menahanmu di sini untuk waktu yang lama, apa Suzuki-san bawa payung?"

"Aku bawa sebuah payung lipat.... tapi bisakah aku tinggal di sini lebih lama? Aku ingin mengkonfirmasi fakta-fakta yang kita ketahui tentang Emi, hal-hal lain yang berbeda, dan melihat situasi ini...."

Kalau diperhatikan baik-baik, bisa terlihat kalau hujan deras layaknya air terjun sedang mendekat dari tempat yang tidak jauh dari Villa Rosa.

"Menggunakan payung saja, tidak akan cukup."

Sebelum Ashiya mengangguk, suara guntur terdengar dari kejauhan, dan selayaknya sebuah sinyal, langit tiba-tiba menjadi gelap.

Diikuti oleh langkah-langkah bimbang, Suzuno terburu-buru datang dari kamar sebelah.

Dari cahaya yang berasal dari HP di tangan Suzuno, seseorang sepertinya telah meneleponnya tadi.

"Gawat!"

"A-ada apa?"

Rika dengan heran menatap Suzuno yang terlihat mengintimidasi, tapi Suzuno tidak menjawab dan hanya memandang ke arah Ashiya dan Urushihara secara bergantian.

"Lucifer!"

Suzuno memanggil Urushihara demikian di depan Rika, dan melempar sesuatu ke arah Urushihara dengan tangan yang tidak membawa HP.

"Bu-bukankah ini botolmu...."

Botol itu adalah botol Holy Vitamin Beta.

Minuman nutrisi yang bisa mengisi ulang sihir suci, memungkinkan Emi dan Suzuno untuk mempertahankan kekuatan supranatural mereka di Jepang, bisa dikatakan sebagai garis hidup mereka berdua.

"Chiho-dono mengirim sinyal bahaya!"

"Eh?"

"Kau bilang Sasaki-san?"

"Chiho? Eh, maksudmu Chiho yang itu?"

Suzuno, bersikap seolah tidak bisa membuang-buang waktu, menunjukan layar HPnya pada Ashiya dan Urushihara.

Kata 'Nomor tak dikenal' terpampang di sana.

Ashiya dan Urushihara bertukar pandang satu sama lain.

Ini bukan sinyal bahaya biasa. Jika dia menggunakan Idea Link, artinya ini benar-benar darurat.

"Lucifer, kita hanya bisa bergantung padamu sekarang, cepat terbang ke sana! Lokasinya ada di sekolah Chiho-dono!"

"Sekolah Sasaki Chiho.... apa itu SMA Sasahata?"

Ngomong-ngomong, Suzuno berencana membawa Urushihara ikut bersamanya sebagai backup jika ada sesuatu yang tidak beres.

Jika itu adalah Urushihara yang biasanya, meski Chiho berada dalam bahaya, dia pasti malas untuk bertindak, tapi kali ini, dia berdiri dengan ekspresi tegas di wajahnya.

Dan apa yang membuat Ashiya terkejut adalah....

Urushihara menerima permintaan Suzuno, yang merupakan seorang musuh, dan bersedia pergi keluar saat hujan begini demi Chiho?

"H-hey, Kamazuki, tenang, apa yang sebenarnya terjadi?"

Ashiya mencoba mengingatkan Suzuno kalau Rika masih ada di sini, tapi Suzuno, menggelengkan kepalanya dan menjawab,

"Ini tidak bisa ditunda. Jika apa yang Chiho-dono katakan itu benar, maka tidak hanya dia, seluruh bangunan sekolah dan sekitarnya pasti akan terpengaruh. Maafkan aku, Rika-dono, jika masih ada yang lain, kita bicarakan lagi nanti."

Setelah Suzuno dan Urushihara menatap satu sama lain dan mengangguk, mereka langsung meminum Holy Vitamin Beta seperti apa yang ada di iklan-iklan.

Lalu.....


XxxxX


"Hey, apa-apaan ini?"

Maou, di dalam ruang pusat ujian, mengernyit ketika menatap keluar jendela.

Dari jamnya, sekarang harusnya sudah lebih jam 11 siang. Meski prakiraan cuaca mengatakan kalau siang ini akan hujan, tapi mereka tidak menyebutkan kalau akan selebat ini, dan waktunya seharusnya masih nanti.

"Meski aku sudah merasakannya.... tapi prakiraan cuaca memang kurang bisa diandalkan ketika berhubungan dengan hujan."

Mengeluh pada badan prakiraan cuaca tentang alam memang tidak berguna, tapi sebagai Raja Iblis yang bisa mengendalikan cuaca sampai ke tingkat tertentu ketika kekuatannya penuh, dia amat berharap kalau si reporter prakiraan cuaca bisa bekerja lebih keras di area lain selain berusaha menjadi muda dan cantik.

".... Waktu seperti ini memang sangat membosankan sampai bisa membuat seseorang menjadi gelisah."

Maou menatap rintik hujan yang ada di jendela dan menggumam.

Meskipun masih sulit untuk berkonsentrasi di ujian tadi, tapi menurut sensasi yang dia dapat setelah menjawab, Maou cukup percaya diri kalau dia tidak akan gagal.

Berdasarkan jadwalnya, ketika ujian berakhir, layar elektronik yang ada di pusat ujian akan menampilkan nomor-nomor peserta yang lulus, lalu pembelajaran prakteknya akan dilakukan di lapangan training yang ada di luar.

"Kalau melihat ini, pasti tidak akan mungkin ya."

Cuaca di luar cukup untuk membuat orang berpikir kalau itu adalah badai angin topan.

Mengingat alasan kenapa Maou ingin mendapatkan surat izin, dia sebenarnya sangat ingin melakukan latihan di lapangan training di hari seperti ini, tapi melihat hujan deras ini, bahkan polisi pun tidak akan bisa melakukan pelatihan mereka.

Saat ini, tak ada seorangpun yang mengumumkan kalau ujiannya dihentikan, dan masih ada waktu satu jam sebelum peserta yang lulus diumumkan.

Tidak ada yang tahu apakah hujan bisa reda dalam waktu satu jam kemudian, tapi untuk hujan deras di siang hari pada pertengahan bulan Agustus, biasanya akan butuh waktu lebih dari satu jam untuk mereda, penyelenggara utamanya pasti mempertimbangkan hal ini.

Apapun yang terjadi, sekarang, Maou hanya bisa terus berada di pusat ujian sambil membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana menunggu waktu untuk berlalu.

Orang di sekitarnya yang juga merupakan peserta seperti Maou, menjadi sangat bosan sampai-sampai membuat mereka merasa gelisah, dan setelah memilih tempat, mereka pun mulai bermain dengan HP mereka, membaca ataupun mendengarkan musik.

Maou yang juga tidak punya sesuatu yang harus dilakukan, terduduk di bangku area tunggu.

HP Maou adalah HP yang tidak memiliki banyak fitur, itu adalah model HP lama di mana fitur pesan dan telepon saja sudah cukup.

Meskipun bukan begitu adanya, Maou juga tidak memiliki kebiasan untuk bermain dengan HPnya ketika dia sedang tidak melakukan apa-apa, apalagi membeli barang-barang mewah seperti Bunkobon hanya untuk mengisi waktu.

Buku-buku yang ada di Kastil Iblis biasanya adalah buku yang dipinjam dari perusahaan, ataupun buku memasak Ashiya yang berasal dari toko barang bekas.

"Aku memang menjalani hidup yang sehat, tapi aku masih kurang dalam hal budaya ya."

Sejak datang ke Jepang, Maou memang selalu bekerja keras sepanjang waktu, mungkin ini sudah waktu baginya untuk memperluas perspektifnya dan mengamati negara Jepang ini.

Kursus MgRonald Barista dan ujian SIM kali ini membuat Maou menyadari satu hal.

Di Jepang, selama seseorang punya hati, mereka pasti bisa mempelajari apapun yang mereka inginkan.

Tentunya, jika seseorang ingin memoles pengetahuan mereka melalui sekolah, mereka harus membayar biaya sekolah, tapi seperti biaya pendaftaran dan ujian SIM kali ini, Maou akhirnya tahu, meski dia tidak punya uang, selama dia memenuhi suatu kondisi tertentu, dia pasti bisa memperoleh bantuan dari beberapa badan hukum.

Rasanya ini adalah sesuatu yang patut disyukuri.

".... Aku ingin menelusuri toko buku saat pulang nanti. Bagaimanapun, aku juga sudah menabung uang sakuku."

Setiap kali Maou pergi bekerja, Ashiya akan memberinya 300 yen untuk 'Uang Makan', selama dia tidak menggunakannya di hari itu, Maou pasti menyimpannya sebagai tabungan pribadi.

Tentunya selain itu, Ashiya juga menyisihkan beberapa bagian dari gaji Maou untuk Maou habiskan sesukanya, tapi Maou ingin menggunakan uang itu untuk asuransi ketika peristiwa darurat terjadi.

Pokoknya, kalau dia berhasil mendapatkan SIMnya, jumlah hal-hal yang bisa Maou lakukan di Jepang akan bertambah satu.

Bisa meningkatkan lingkup pergerakannya tanpa bergantung pada angkutan umum, adalah sesuatu yang bisa dianggap perubahan revolusioner.

Tentu saja, meski dia berhasil mendapatkan SIMnya, semuanya akan sama saja jika dia tidak memiliki mopednya sendiri, tapi selama dia tidak terlalu pilih-pilih, Maou rasa dia bisa membelinya dalam waktu dekat ini.

"Mimpiku semakin luas ya."

Maou yang membuat rencana tersebut di dalam pikirannya, menunjukan ekspresi ceria yang amat berbeda dengan cuaca di luar, tapi kali ini, sebuah bayangan menutupi wajah Maou.

"Yo! Maou!"

".... Yeah."

Meski Maou tidak mendongak, dia tahu kalau itu adalah Satou Tsubasa.

Karena mereka juga ikut ambil bagian dalam ujian ini, bahkan jika mereka bertiga bertemu di gedung pusat ujian, hal itu bukanlah hal yang mengejutkan.

Di bawah lampu pijar yang bersinar di bawah langit-langit, Maou mendongak dan melihat seorang gadis yang memakai topi pengantar koran serta ayahnya yang berdiri di belakangnya, Satou Hiroshi.

".... Bagaimana?"

Mengesampingkan sang ayah Hiroshi, meski Maou tidak tahu apakah Tsubasa ikut ujiannya atau tidak, Maou tetap mencoba bertanya, dan Hiroshi, berdiri di belakang gadis itu, menghela napas berat yang sangat cocok dengan aura dan perawakannya.

"Sepertinya.... mungkin aku akan gagal."

"Hey, itu tidak baik!!"

"Pertanyaan itu.... aku bahkan tidak mengerti separuhnya."

"Kubilang ya.... bukankah ini seperti menyia-nyiakan biaya pendaftaran, kenapa kau tidak mempertimbangkan untuk istrirahat dulu?"

Setelah mendengar pengakuan Hiroshi yang menyedihkan, Maou pun memberi sebuah peringatan.

Meskipun Maou tidak menganggap serius apa yang Tsubasa katakan di bus tadi, tapi jika benar ini adalah kesepuluh kalinya Hiroshi mengikuti ujian, artinya dia sudah membayar biaya pendaftarannya sebanyak sepuluh kali.

Lupakan soal moped, jika itu adalah SIM mobil, itu pastilah biaya pengeluaran yang sangat besar.

"Satou-san, apa kau tidak memiliki SIM di negara asalmu? Kalau kau punya, kau bisa mengajukan SIM internasional kan?"

"Aku tidak punya."

"..... Begitu ya."

Di posisi Maou, dia benar-benar merasa kalau pasangan ayah anak ini bisa berpikir bagaimana cara membuat percakapan terus mengalir saat sedang menjawab.

"Sebenarnya, di kampung halaman ayah tidak ada mobil sama sekali."

"Hm?"

"Tsubasa!"

"Ah, maaf maaf, salahku."

Untuk beberapa saat, Maou merasa curiga, tapi ketika dia melihat Hiroshi memarahi Tsubasa karena alasan yang tak diketahui, dan Tsubasa yang jelas-jelas tidak menunjukan sedikitpun penyesalan, dia langsung merasa kalau semuanya sudah tak penting lagi.

"Tapi, aku bisa paham apa maksud Maou. Lagipula, hal seperti ini memang membuang-buang uang."

"Ye-yeah, tapi tentunya ini bukan berarti aku meremehkan Satou-san..."

"Itulah kenapa kubilang aku ingin berdiri di sampingmu dan membantumu membaca soalnya!"

Maou memberikan sebuah senyum kecut karena komentar blak-blakan gadis itu, dan menjawab,

"Aku tidak tahu kenapa kau bisa membaca tulisan Jepang yang bahkan tidak bisa dibaca ayahmu, tapi ujian itu hanya boleh dikerjakan oleh satu orang. Jika seseorang membacakannya di sampingmu, itu termasuk curang, skenario terburuknya, orang itu bisa dipulangkan."

"Curang? Apa itu artinya berbuat licik?"

"... Aku lebih terkejut bagaimana kau bisa menyimpulkan makna seperti itu."

"Kalau begitu, dengan berbagai hal yang seperti sekarang ini, sebenarnya takkan masalah meski kau tidak memiliki SIM kan?"

Meski kalimat itu terdengar sedikit terang-terangan, dibandingkan mengikuti ujian tanpa rencana dan menghabiskan uang, Maou juga merasa sebaiknya Hiroshi menyerah terhadap ujian itu dulu untuk sementara.

"Yeah, memiliki SIM memang lebih enak, tapi jika terus seperti ini, hal ini hanya akan menghabiskan uang saja."

"Itu benar ayah, jangan habiskan uang lagi, kenapa kau tidak mengemudi saja tanpa surat izin, uuuu!!"

Meski tak diketahui seberapa seriusnya gadis itu, apapun alasannya, mengatakan hal ini di kantor polisi itu terlalu berbahaya.

Hal ini memang tak ada hubungannya dengan Maou, tapi dia dengan panik tetap menutup mulut Tsubasa yang berbicara omong kosong dengan santainya.

Untungnya, ada dinding di sebelah Maou, dan seorang pria di sisi lainnya, sedang asyik mendengarkan musik dari earphone-nya dengan beberapa kebocoran suara akustik.

"Uuuu?"

"Apa kau tahu kalau ini masih di kantor polisi?"

"...."

Maou menggerakkan tangannya menutupi mulut Tsubasa, dan setelah menoleh kesana kemari, dia dengan pelan mengingatkan Tsubasa.

"Pokoknya, kau tidak boleh membantu orang lain membaca soal, dan jika kau berbicara omong kosong lagi, mereka mungkin tidak akan mengizinkanmu mengikuti ujian. Berhati-hatilah."

"Aku mengerti. Tapi selama tidak ada yang tahu, uuuu!!"

"Bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak mengatakan hal itu lagi?"

Tsubasa, tanpa membaca suasana, dengan keras meneriakkan kata-kata berbahaya tersebut, jadi Maou hanya bisa kembali menutup mulutnya.

".... Tsubasa, kupikir juga begitu."

"Kau sebaiknya memikirkan cara untuk mengurus bahasa Jepang putrimu!"

Maou dengan kesal memarahi Hiroshi yang menegur anaknya dengan santai.

"Uuu."

Mungkin akhirnya Tsubasa paham dengan situasi ini, dia menggerakkan tangannya dengan kencang, dan Maou pun melepaskannya.

Karena cara bicara Tsubasa yang berlebihan dan sikap akrabnya, Maou tidak punya pilihan lain selain menggunakan taktik menutup mulutnya dengan paksa, tapi kalau dipikir-pikir, melakukan hal seperti ini pada gadis yang baru ditemuinya, adalah sebuah pelecehan seksual.

Untungnya Chiho dan Emi tidak ada di sini. Kembali ke sikap normalnya, Maou merenungkan hal tersebut.

"...."

Ketika sebuah rasa jengkel yang tak bisa dijelaskan tumbuh di hati Maou dan saat ia hendak kembali ke bangkunya....

".... Hey."

Karena Tsubasa memegang tangan Maou yang sebelumnya digunakan untuk menutup mulutnya, Maou yang hendak duduk, juga menghentikan gerakannya.

*Sniff* *Sniff*

Dia melakukannya lagi. Kenapa Tsubasa terus mendengus bau di tangan Maou?

".... Seperti yang kuduga, di balik bau kentang.... *sniff* *sniff*"

"Hey, apa yang kau cium....."

"Aku menjilatnya."

"Ughee??"

Kali ini, bahkan pemuda yang berdiri di samping mereka yang sedang mendengarkan musik pun melirik ke arah Maou dengan sebuah kernyitan.

Tapi tidaklah aneh jika Maou membuat suara aneh seperti itu.

Lagipula, seseorang menjilat telapak tangannya.

"A-ap-apa yang kau lakukan?"

Semenjak dia datang ke Jepang, ini adalah pertama kalinya Maou menghadapi situasi yang sepenuhnya menentang etika, hal ini membuat wajahnya memerah karena malu.

"K-kau, kau barusan...."

Maou menyembunyikan tangannya yang baru saja diendus dan dijilat ke belakang punggungnya, sambil memprotes dengan syok,

"Hmm...."

Tsubasa, yang menarik topi pengantar koran di atas matanya, dengan acuh tak acuh memiringkan kepalanya dan mulai berpikir untuk beberapa saat,

Lalu, dia menganggukan kepalanya seolah memantapkan pikirannya dan mengatakan,

"Ayah, sepertinya orang ini memang orang yang kukira."

"Hm?"

Gadis itu tiba-tiba melempar topiknya ke arah Hiroshi, dan membuat Hiroshi membuka lebar matanya merasa kaget,

"Ayah, apa aku boleh melepas topiku?"

".... Jangan terlalu menarik perhatian, okay?"

Meskipun ketiga orang itu sudah cukup mencolok dalam artian negatif, tapi Tsubasa tetap mengangguk setelah mendapatkan izin Hiroshi dan perlahan menggerakan tangannya ke arah pinggir topinya...

"......!!"

Wajah yang ditunjukan gadis itu setelah melepas topinya membuat Maou menahan napasnya kaget,

Tidak, tidak hanya wajahnya.

Baik rambut yang terselip di dalam topinya ataupun mata yang menatap Maou dengan tatapan malas, semuanya membuat Maou terkejut.

Bagaimanapun juga, gadis ini memang memiliki wajah proporsional yang langka, tapi disepadankan dengan ekspresi malasnya, atau lebih tepatnya ekspresi yang terlihat seolah tidak memikirkan apa-apa, entah kenapa semuanya terasa sedikit percuma.

Usianya mungkin sedikit lebih muda dibanding Chiho.

Tapi permasalahannya bukan ada di sana.

Warna mata Tsubasa, adalah ungu.

Rambut yang ditata ke belakang selain rambut yang memanjang di samping kedua pipinya, di bawah lampu pijar, merefleksikan kemilau perak yang begitu jelas.

Dan lebih penting lagi....

".... Ra-rambutmu, mungkinkah....."

"Yeah."

Tsubasa memutar-mutar rambut yang ada di sebelah pipinya dengan jarinya.

Dan sedikit bagian rambut yang Maou tatap, berwarna ungu.

Mendengar suara seperti sebuah erangan yang dihasilkan oleh Maou, Tsubasa pun tersenyum seolah masih tidak memikirkan apa-apa dan berkata,

Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Chapter 2 Bahasa Indonesia


"Saat aku mendeteksi baunya, kupikir memang kaulah orangnya."

"Bau...."

Maou ingat bagaimana Tsubasa beruang kali mencium tangannya.

"Meskipun aku tidak tahu siapa kau, tapi hidungku tidak mungkin salah."

Tsubasa menggunakan jarinya untuk menggosok area di bawah hidungnya dengan bangga sambil tersenyum.

Lalu, apa yang gadis itu katakan berikutnya, semakin memperparah kebingungan Maou.

"Maou, kau kenal kakakku Alas Ramus, kan?"

"..... Hmmm????"

Meskipun situasi tak terduga ini sudah sangat mengguncang Maou, tapi di dalam kalimat tersebut, terdapat satu bagian yang terdengar sangat aneh.

"Kakak??"

"Yeah."

"Apa maksudmu?"

"Kakakku, Alas Ramus."

"....Hmm?"

Maou merasa kalau sebaiknya dia mengatakan sesuatu pada kedua orang yang ada di hadapannya ini.

Dan dia harus mengatakannya.

Contohnya, apa-apaan warna rambut itu; apa kalian benar-benar ayah dan anak, sebenarnya, jangankan Jepang, kalian berdua itu tidak berasal dari bumi kan; dan dari penampilan itu dan fakta bahwa kau tahu nama Alas Ramus, kau seharusnya juga lahir dari Sephirah kan; sebenarnya siapa orang di sekitarku yang berkaitan denganmu; pokoknya Maou harus bertanya pada mereka berdua bagaimana mereka hidup di Jepang, menanyakan nama mereka, alamat, nomor HP, nomor identitas mereka dan lain sebagainya.

Bahkan jika Maou melempar hal-hal yang harus dia pastikan ini ke belakang pikirannya, Maou masih punya pertanyaan yang harus dia tanyakan.

"Saat kau mengatakan kakak.... apakah itu dalam artian normal?"

"Yeah, jika Alas Ramus yang Maou maksud adalah orang yang sama dengan Alas Ramus yang kukenal, maka Alas Ramus itu adalah kakakku."

Akan sangat buruk jika kau bisa menemukan orang lain yang mengetahui nama rumit Alas Ramus dengan mudah.

Terkait Tsubasa yang mengetahui nama Alas Ramus, Maou sudah tidak ingin menyangkalnya lagi.... dan tak ada gunanya dia melakukan itu.

Tapi, dia masih tidak bisa mengerti.

"Alasan kenapa kau memanggilnya kakak, apakah karena bagimu dia itu eksistensi layaknya 'kakak' yang pantas dihormati?"

"Ek-sis-ten-si layaknya kakak..... apa maksudnya itu?"

"....Hey!"

Kali ini, Hiroshi ---tidak, dengan situasi sekarang ini, sangat meragukan kalau itu benar nama aslinya--- pria yang sementara dikenal dengan nama Hiroshi itu, menepuk pelan bahu Maou dengan telapak tangan besarnya dan mengatakan,

"Ini adalah sesuatu..... seperti yang kau pikirkan."

"Bisakah kau menjelaskannya dengan lebih jelas bagian mana dari kata-kataku yang kau setujui?"

Meski di permukaan dia hanya bertanya apa yang Tsubasa maksud dengan 'kakak', tapi di pikiran Maou, otaknya sudah dipenuhi dengan begitu banyak pertanyaan tentang misteri bumi dan legenda Ente Isla.

".... Kakak?"

"Berbicara dengan kalian itu memang sangat melelahkan!"

Dalam momen yang sangat langka, entah kenapa Maou benar-benar ingin menggunakan kekerasan.

"Okay, akan kujelaskan dengan cara yang berbeda! Untuk si ayah, tolong diam dulu. Hey, Tsubasa!"

"Hm?"

Tanya Maou agar bisa menyelesaikan pertanyaan yang dia miliki sejak awal.

".... Apa kau adik Alas Ramus?"

"Yeah!"

Gadis itu mengkonfirmasinya dengan riang.

".... Kenapa?"

Karakteristik Tsubasa, rambut berwarna perak dengan sedikit rambut berwarna ungunya, adalah karakteristik yang sama yang dimiliki oleh Alas Ramus dan Iron, anak-anak yang lahir dari Sephirah.

Hal ini bisa saja hanya pandangan sekilas, tapi karena Tsubasa dapat menyebutkan nama Alas Ramus, kemungkinan ini sama sekali tak bisa diabaikan.

Tapi....

"Ya ampun, jangan terus menatapku hanya karena menurutmu aku ini cantik!"

Maou menatap Tsubasa dari kepala sampai kaki, tapi Tsubasa, karena alasan yang tak diketahui, memukul pundak Maou dengan riang.

"... Aku benar-benar ingin memukul seseorang."

Kata 'kesetaraan gender' yang bisa digunakan dengan berbagai cara, terlintas di pikiran Maou, tapi dia tetap menekan amarahnya.

Penampilan Tsubasa sama dengan kesan yang dia beri pada orang lain, sedikit lebih muda dari Chiho, atau bahkan lebih muda dari itu.

Tapi di sisi lain, perawakannya tetap memberikan kesan kalau dia sudah mendekati usia seorang anak SMA.

Akan tetapi, Alas Ramus yang dipanggil 'kakak', tetap terlihat seperti anak kecil tak peduli bagaimana kau melihatnya.

Tentu saja bukan hanya Alas Ramus, Tsubasa mungkin juga bukan manusia biasa, jadi wajar kalau pertumbuhannya tidak bisa dinilai menggunakan sudut pandang manusia.

Mungkin beberapa alasan yang tidak Maou ketahui, menyebabkan perbedaan tingkat pertumbuhan di antara mereka berdua, tapi meski begitu, perbedaan ini terlalu berlebihan.

Saat ini, satu-satunya hal yang bisa dipastikan adalah, ayah dan anak Satou ini merupakan orang yang terkait dengan Ente Isla.

Usai memperhatikan sekelilingnya, Maou diam-diam berbisik di telinga Hiroshi.

"Apa kau orang Ente Isla?"

"!!"

Ketika Hiroshi mendengar hal tersebut, dia membelalakkan matanya kaget karena alasan yang tak diketahui.

".... Bagaimana kau tahu? Siapa.....?"

"Kau sudah punya orang yang begitu berbahaya di sisimu, dan tidak mengerti apa yang kami katakan tadi?"

Dibandingkan Hiroshi yang terlihat sangat terkejut, Maou yang tidak mau repot-repot untuk membantah lagi, hanya diam berdiri dari bangku yang dia dapatkan dengan susah payah, dan membuat isyarat dengan tangannya agar mereka berdua mengikutinya.

Memang takkan ada banyak hal yang terjadi jika mereka didengar oleh orang lain di sekitarnya, tapi rasanya tetap merepotkan jika mereka dilihat sebagai orang aneh (meskipun itu sudah terlambat).

Maou berjalan menuju ke depan tempat pendaftaran ujian yang jendela logamnya telah ditutup karena pendaftaran untuk hari ini telah berakhir.

Memang ada banyak orang lewat di sini, tapi kalau ada orang yang berhenti untuk mendengarkan pembicaraan mereka bertiga, Maou dan yang lainnya pasti akan segera tahu.

Di sisi lain dari beranda depan, terdapat sebuah jendela yang dikhususkan untuk pembaharuan SIM, dan pelayanannya sampai sekarang masih buka.

"Baiklah, pertama aku ingin tahu nama asli kalian."

""....""

Tsubasa dan Hiroshi saling menatap satu sama lain.

Mereka mungkin mencoba menebak identitas Maou yang sebenarnya.

'Meskipun mengatakan hal ini sekarang itu rasanya agak aneh...'

Hiroshi tiba-tiba merubah nadanya.

Tidak, dia mengubah bahasa yang dia gunakan.

'.... tapi tak ada yang bisa menjamin kalau kau bukan musuh kami. Kau yang tahu kalau kami berasal dari Ente Isla, sebuah dunia yang benar-benar berbeda, siapa kau sebenarnya?'

Hiroshi, berbeda dengan kesan orang baik-baik yang dia beri pada orang lain, mata dan nadanya sesaat dipenuhi dengan kekuatan.

Meskipun kekuatan special seperti sihir suci tidak bisa dirasakan dari Hiroshi, tapi dari kekuatan di mata dan nadanya, bisa dilihat kalau dia bukanlah pria paruh baya biasa.

'Bahasa Deweiss, bahasa yang digunakan di bagian timur Benua Barat.'

Maou, menyesuaikan diri dengan Hiroshi, juga mengganti bahasanya.

Selain tidak bisa sepenuhnya menguasai bahasa Holy Weiss yang digunakan di Benua Barat, jika hanya untuk berbicara, meski dia tidak menggunakan sihir iblisnya, Maou juga bisa menggunakan bahasa penduduk asli Ente Isla.

'Aku minta maaf, tapi saat ini akulah yang harus bertanya karena aku tahu semua orang yang datang datang kesini dari Ente Isla. Aku ingin tahu kau ini ada dipihak mana, dan dalam suatu keadaan tertentu, kaulah petunjuk pertama yang muncul.'

'Petunjuk?'

Maou mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah Tsubasa.

'Aku memang lupa memastikannya karena aku terlalu kaget, tapi biar kutanyakan hal ini padamu. Apa kau lahir dari fragmen Yesod?'

Dibandingkan 'kakak', rasanya inilah yang sebaiknya dipastikan dulu.

Dibandingkan dengan Maou yang tidak bisa tenang karena petunjuk dari Ente Isla yang tiba-tiba muncul, Tsubasa menjawab dengan santai.

"Benar sekali!"

Dan dia benar-benar mengabaikan atmosfer saat ini dan menggunakan bahasa Jepang.

"Ayah, bolehkah aku mengungkap semuanya?"

"...."

Hiroshi tetap diam karena dia masih mewaspadai Maou. Tapi tak diketahui apakah Tsubasa menggunakan reaksi itu sebagai bentuk persetujuan, ataukah dia sejak awal memang tidak butuh persetujuan Hiroshi, Tsubasa langsung melanjutkan kata-katanya.

"Tenang ayah. Maou itu bukan malaikat. Aku juga bisa menentukan hal-hal seperti ini."

Tsubasa dengan pelan mengusap lengan Hiroshi untuk membuatnya tenang, dia kemudian menggunakan mata besarnya untuk menatap lurus ke arah Maou,

"Namaku Acies Ara, Tsubasa adalah nama samaranku."

Acies Ara.

Maou menghirup napas dalam seolah ingin membuat udara bersirkulasi di tubuhnya, dan mengukir nama itu ke dalam otaknya.

'Ara... Jadi itu alasannya kenapa kau panggil Tsubasa?'

"Yeah! Nama Tsubasa terdengar bagus kan?"

Maou mengangguk menanggapinya.

'.... Dengan kata lain, Acies dan kau bukanlah ayah dan anak kandung. Dan Satou, tentu saja juga nama samaran kan?'

Karena mereka sudah berbicara sejauh ini, maka Satou Hiroshi pasti bukan nama aslinya.

Seperti bagaimana Maou Sadao yang sebenarnya adalah Raja Iblis Satan, pria ini pasti juga punya nama asli.

'Nama belakang Satou.....diambil dari seorang pria yang kutemui tak lama setelah aku datang ke Jepang.'

'Orang itu pasti orang Jepang biasa kan? Kemungkinan kau belum mengungkap identitas aslimu....'

Sementara ini, Hiroshi menggelengkan kepala, menyangkalnya.

'Tapi, dia itu sangat ceria dan berhati kuat, pria yang memperlakukan seseorang yang sama sekali tidak mengerti soal Jepang, seperti diriku dengan sangat baik. Tidak peduli berapa kali dia gagal, pria itu pasti akan selalu menjunjung mimpinya lagi dan bersedia menjalani pekerjaan apapun, dia menjalani hidupnya dengan sangat bahagia.'

Maou tidak tanya apakah Hiroshi mengalami hidup yang keras di Jepang atau tidak.

Karena dia tidak sebegitu bodohnya sampai tidak tahu alasannya.

'Dari bagaimana kau naik di Tenmondai-mae, apa kau selama ini tinggal di Mikata?'

'Tidak, kami awalnya tinggal di dekat Shinjuku, alasan kenapa kami pindah ke Mikata adalah karena Tsubasa.... keinginan Acies, kami tinggal di sana juga dikenalkan oleh Satou.'

Maou hanya bisa mengerang.

Kalau seperti ini, tidaklah aneh jika mereka pernah berpapasan sebelumnya.

Tidak, dari banyak insiden yang disebabkan oleh Maou dan Emi, mereka berdua pasti sudah memiliki pemahamannya sendiri.

'... Hey, meski aku tidak tahu nama aslimu, aku mungkin tahu nama orang yang kau kenal.'

"Berbelit-belit ya."

Tsubasa, tidak, Acies Ara masih tidak merubah sikap santainya. Tapi kali ini, Maou tiba-tiba merasakan keanehan dari Acies Ara.

'Jangan-jangan kau tidak bisa bicara bahasa Deweiss?'

"Yeah, tapi aku bisa paham kok. Menggunakan ini, begini."

Acies menunjuk pelipisnya dan dahi Maou secara bergantian.

'Idea Link ya. Dan sebaliknya, kau tidak tahu bagaimana cara menggunakannya?'

'Sangat disayangkan aku tidak punya pengetahuan ataupun bakat dalam mantra. Jadi menjalani kehidupan sehari-hari di sini itu benar-benar sulit bagiku.'

Jadi bahasa Jepang kaku yang tidak bisa mengikuti atmosfer itu berasal dari sini.

'Kalau begitu, terkait dengan kemungkinan kau tahu orang yang kukenal itu maksudnya....'

'Yeah....'

Maou mengangguk pelan, dan kembali menatap tajam ke arah Hiroshi.

'Tapi, setelah mendengar nama ini, kau harus membantuku dengan menggunakan seluruh kemampuanmu. Dengan begitu, aku juga akan berusaha yang terbaik untuk membantumu dan Acies. Jangan tiba-tiba lari dariku okay?"

Jawab Hiroshi tidak senang dengan sebuah kernyitan.

'Aku juga bukan anak kecil lagi. Semenjak aku mengunakan bahasa Deweiss di Jepang, aku sudah menyiapkan diri secara mental untuk ini. Karena kita sudah mendiskusikannya sampai ke titik ini, kau sebaiknya tidak mengatakan kalau kau adalah musuhku okay? Meskipun aku tidak tahu mantra apapun, itu bukan berarti aku tidak percaya diri dengan kekuatanku.'

Di poin ini, Hiroshi melirik ke arah Acies karena alasan yang tak diketahui, meski Maou megetahuinya, dia dengan sengaja membiarkannya.

'Itu katamu lo ya. Kau sebaiknya tidak berubah menjadi jelly nanti.'

Maou tersenyum jahat, lalu ia pun berbicara setelah memantapkan pikirannya,

'Aku dan teman-temanku saat ini sedang mencari Emilia Justina. Hingga beberapa waktu lalu, Emilia sudah tinggal di Jepang, tapi setelah kembali ke Ente Isla beberapa minggu yang lalu, kami kehilangan kontak dengannya, apa kau tahu apa.....'

"Emilia?"

Reaksi Hiroshi begitu keras.

Hiroshi yang awalnya mewaspadai Maou, memandangnya dengan tajam, kini atmosfer tegas tersebut memudar.

Emilia.

Ketika dia mendengar nama ini, ekspresinya seketika berubah seolah darah terpompa ke kepalanya.

Hiroshi menggunakan tangan besar dan kuatnya untuk mencengkeram bahu Maou, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Maou dengan napas tidak teratur.

"A-apa kau kenal Emilia? A-apa kau tahu di mana dia? Ke-ke-kenapa dia ada di Jepang?"

Suara kasar terdengar di ruangan tersebut.

Meski beberapa orang yang sedang melintas berhenti dan melihat ke arah mereka dengan kaget, tapi Hiroshi tidak punya waktu untuk memperhatikan mereka.

'Tenanglah, jangan keras-keras! Kau terlalu mencolok!'

'Ba-bagaimana aku bisa tenang? Di mana, di mana Emilia sekarang?'

"Bukankah sudah kubilang untuk tenang dulu?"

Maou dengan panik kembali menggunakan bahasa Jepang, dan mendorong tangan Hiroshi dengan paksa.

'Hey!!'

'.... Dengar baik-baik. Sebelumnya Emi memang tinggal di Jepang. Tapi karena ada suatu hal yang harus dia lakukan beberapa minggu yang lalu, dia kembali ke Ente Isla!'

'Ap-apa katamu?'

'Tapi, ini sudah dua minggu semenjak hari di mana dia bilang akan kembali. Karena berbagai keadaan kami, kami tidak bisa pergi ke Ente Isla untuk mencarinya. Jadi bagi kami, kau itu seperti petunjuk yang jatuh dari langit.'

"......."

"Bukannya kasar menyebut kami jatuh dari langit?"

Hiroshi mengabaikan Acies, dan jatuh bersandar di konter dengan jendela logamnya yang tertutup, seolah bisa pingsan kapan saja.

"Hey, jangan membuat masalah untukku!"

Jika Hiroshi terus membiarkan emosinya lepas dan bertindak ceroboh, akan sangat merepotkan jika mereka dipergoki oleh karyawan di sana, jadi Maou pun dengan panik langsung menopang lengan Hiroshi.

'Emilia.... Emilia adalah...'

"... Jadi kau memang ada hubungannya dengan Emi... Huuh, aku tahu pasti akan seperti ini."

Karena Acies merupakan eksistensi yang sama dengan Alas Ramus, maka dia pasti ada keterlibatannya dengan fragmen Yesod, dan hal itu tidak mungkin sepenuhnya tidak berkaitan dengan Emi dan inti pedang suci.

Tapi di sisi lain, Hiroshi nampak seperti tidak tahu apa yang Emi dan Maou lakukan tahun ini.

Dalam hal ini, Acies seharusnya sama.

Setelah Maou memikirkan kembali situasi tidak normal yang terjadi di antara dirinya dan Emi, alias di antara Raja Iblis dan Pahlawan dengan semua informasi yang ada, dia akhirnya sampai pada satu kesimpulan.

'Mungkinkah kau itu .....'

'Emilia.... Emilia adalah putriku yang amat berharga.'

'.... Begitu ya.'

"Nama asli ayah adalah Nord. Nord Jus.... Jus apa tadi?"

Dari kata-kata yang Acies katakan saat ia menginterupsi dari samping, Maou memperoleh informasi yang amat penting.

Ayah Emi, Nord Justina.

Dan anak dari Yesod Sephirah, Acies Ara.

Hal ini merupakan keberuntungan yang jatuh dari langit.

Dia tidak bisa membiarkan kedua orang ini pergi.

Ketika dia memikirkan hal tersebut....

"Hm?"

HP di sakunya berbunyi.

Maou tidak pernah menyangka akan ada orang yang meneleponnya di saat seperti ini, tapi itu mungkin Ashiya yang khawatir dengan hasil ujiannya, dia mungkin menggunakan komputer Urushihara untuk meneleponnya.

Saat ini, dibandingkan dengan hal itu, orang yang ada di depannya ini jelas-jelas lebih penting. Saat Maou hendak mengabaikan telepon itu dan melanjutkan interogasinya terhadap pria di depannya....

"Cepat angat Raja Iblis bodoh!!"

"Woah!"

"Kya?"

Seolah-olah dihantam oleh palu besar, sebuah teriakan marah terdengar di pikiran Maou.

Meskipun sisi pandangannya sedikit buram, Maou masih bisa mengeluarkan HP dari dalam sakunya sebelum hal itu terjadi.

Kata 'Nomor tak dikenal' terlihat di layar.

Meski Maou tidak mengangkatnya, sebuah teriakan marah kembali terdengar di otaknya.

"Raja Iblis! Aku tahu kau bisa mendengarku! Cepat jawab!!"

"A-apa Suzuno? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"

Tak diragukan lagi, itu adalah suara Suzuno. Dan itu adalah Idea Link yang dihubungkan melalui HP.

"Kau layak mendapatkannya karena tidak menjawab telepon! Keadaan darurat telah terjadi! Cepat kembali ke Sasazuka!"

"Huh? Apa yang kau katakan?"

Maou tanpa sadar menatap kedua orang yang ada di hadapannya secara bergantian.

Hiroshi alias Nord berdiri depresi dengan tatapan linglung di matanya, sementara Acies, matanya terbuka lebar karena alasan yang tak diketahui dan menatap Maou dengan kaget.

"Aku sedang sibuk di sini. Dan aku belum mendapatkan surat izinku, meskipun kau memintaku segera kembali...."

Meskipun sebenarnya tidak perlu dilakukan, tapi Maou tetap menekankan HP yang menerima telepon dari nomor tak dikenal itu ke telinganya, untuk mengindari kecurigaan dan protes orang lain.

Tapi Suzuno tidak menghiraukannya.

Karena dia memiliki alasan yang tepat.

"Chiho-dono mengirim sinyal bahaya!"

"Apa katamu?"

"Raja Iblis, apa di sana hujan?"

"Y-yeah, dan sangat lebat..."

"Pusat dari hujan ini ada di Sasazuka! Topan bertekanan rendah tiba-tiba muncul di Tokyo dan menyebarkan badai besar ke sekitarnya. Pusat dari fenomena aneh ini ada di Sasazuka.... Tepatnya di sekolah Chiho-dono!"

"Apa.... Apa yang terjadi?"

Maou sama sekali tidak paham dengan penjelasan Suzuno yang kacau.

Tapi, dia tidak punya alasan untuk berbohong.

Seolah membuktikan kata-kata Suzuno, sebuah pengumuman tiba-tiba terdengar di pusat ujian.

"Uuu~ terima kasih karena sudah menggunakan pusat ujian kami hari ini, hasil ujian teori SIM moped akan segera diumumkan, tapi karena cuacanya tidak mendukung, waktu dimulai ujian prakteknya akan ditunda. Untuk lebih lengkapnya, silakan konfirmasi dengan staff yang ada di konter.... selain itu, bagi pengunjung yang ingin melakukan pengajuan ulang untuk SIM mereka...."

"Topan.... Bagaimana bisa?"

"Aku tidak tahu mereka itu malaikat, iblis, atau manusia, tapi seseorang telah memanfaatkan cuaca yang tidak stabil tadi untuk mengeksekusi mantra berskala besar! Cepatlah kembali! Hanya dengan aku dan Lucifer, kami tidak tahu berapa lama kami bisa bertahan! Lokasinya berada di sekolah Chiho!"

Setelah mengatakan hal itu, Suzuno memutus sambungan idea link tersebut secara sepihak.

"A-apa yang sebenarnya terjadi? Ba-bahkan jika kau memintaku kembali, a-apa yang seharusnya kulakukan dengan orang-orang ini?"

Maou memegangi kepalanya, merasa sangat bingung.

Dibandingkan bahaya yang Chiho hadapi, hasil ujian ini tidaklah penting.

Bahkan jika dia berlari keluar dari pusat ujian sekarang, Maou masih harus menaiki bus dan kereta untuk bisa kembali ke Sasazuka, dan itu membutuhkan waktu minimal satu jam.

Meskipun dia menyewa taksi, kecil kemungkinan si sopir nanti bersedia mengemudi dengan cepat di hujan lebat seperti ini.

Selain itu, Maou akhirnya menemukan orang-orang yang membawa berbagai petunjuk, jadi dia tidak bisa meninggalkan mereka di sini.

Jika saja dia menyisakan sedikit sihir iblis sebagai cadangan sebelum mengembalikannya pada Farfarello. Tapi sudah hampir satu bulan lewat semenjak insiden itu, tidak ada gunanya menyesali hal itu sekarang.

Lagipula, pada waktu itu, dia tidak pernah menyangka akan kehilangan kekuatan tempur terkuatnya, Emi.

".... Sepertinya aku hanya bisa naik taksi."

Tidak ada cara lain selain membawa mereka berdua kembali ke Sasazuka bersama dengannya. Meskipun biayanya akan sangat mahal, mungkin dia masih bisa membayarnya jika dia bergantung pada kartu kredit.

"Hey, Maou!"

"Huh?"

"Apa ada sesuatu yang harus segera kau hadiri?"

Tanya Acies dengan gugup.

"Meskipun ini sangat darurat, tapi saat ini aku sangat bingung karena tidak tahu apa yang harus kulakukan."

"Suara wanita tadi itu, Idea Link kan?"

Mata Maou membelalak kaget.

"Apa kau mendengar obrolan barusan?"

"Yeah, kurang lebih."

Maou tidak tahu seberapa banyak yang sudah Acies dengar, tapi ketika Suzuno berteriak marah tadi, Acies juga terlihat melompat kaget.

"Ada apa? Kalau Maou menghilang sekarang, kami akan sedikit kerepotan!"

"Soal itu, aku juga sama! Jika memungkinkan, aku harap kalian berdua bisa ikut denganku ke Sasazuka!"

"Sasazuka?"

"Itu tempat tinggalku! Ah, sial!! Kalau aku bisa terbang, aku pasti bisa mengambil jarak yang paling dekat!"

Karena Maou tidak tahu seberapa lama waktu yang dibutuhkan jika ia terbang lurus, dia hanya mengatakan hal itu begitu saja, pada kenyataannya, jika dia kembali ke wujud Raja Iblis Satan-nya, dan terbang dengan sekuat tenaga, dia mungkin bisa kembali ke Sasazuka dalam waktu singkat, dan meski dia lupa karena sedang panik, Raja Iblis Satan harusnya tahu bagaimana cara menggunakan mantra pembuka 'Gate'.

"Takkan masalah jika tiga orang bisa terbang kan?"

"Sayangnya cara itu tidak bisa dilakukan."

"Tiga orang itu maksudnya aku, Maou, dan ayah kan?"

"Benar sekali! Ah~ ini bukan saatnya mengatakan hal seperti itu, aku harus segera mencari taksi... Hey, berhentilah depresi!! Sepertinya kali ini kita harus menyerah terhadap ujian SIM ini!"

Ketika Maou mencoba menarik Nord yang masih murung....

"Aku mengerti. Maou, beritahu arahnya!"

Setelah Acies mengatakan hal tersebut dengan santai....

"Hah!"

Di dalam gedung pusat ujian, tubuh Acies tiba-tiba melayang.

"Eh, heyyyyy!!"

Maou dengan panik mencoba mengentikannya, tapi sebelum itu...

"Maou, ayah, ayo pergi!"

Hanya dengan melihat mereka berdua saja, Acies bisa menggunakan kemampuan psikis yang sama dengan Ashiya ketika dalam wujud iblisnya, yaitu membuat orang lain melayang di udara.

"A-Acies, ini akan menarik banyak perhatian!! Ini terlalu mencolok!"

Di dalam gedung pusat ujian, mereka bertiga melayang.

Tidak hanya melayang di udara, mereka bertiga juga melayang di depan semua orang.

Mengabaikan keributan yang ada di sekitarnya, Acies menggunakan kemampuan psikisnya untuk menarik Maou dan Nord ke arah hujan lebat di luar gedung dan dengan cepat terbang menuju langit yang diselimuti awan tebal.

"Owaaaaahh???"

Kecepatan yang begitu luar biasa membuat Maou berteriak keras, tapi Acies tidak membiarkan hal itu mengganggunya.

Acies jelas-jelas menggunakan semacam kemampuan psikis untuk mengangkat Maou dan Nord, tapi sepertinya dia tidak menciptakan barrier apapun, sehingga Maou dan Nord langsung terkena air hujan.

"Maou, ke arah mana?"

"Arah mana? Uh, aku masih tidak yakin kemana arahnya...."

"Kakak tadi bilang seseorang meggunakan sihir cuaca! Kalau begitu, itu pasti ke arah sini!"

"Hhheeeyyyyy!!!!!"

Sebelum Maou bisa memahami arah mata angin, Acies sudah mulai terbang lurus ke arah langit timur bahkan tanpa mengatur posisi Maou dan Nord.

"Kau sedang terburu-buru kan? Aku akan terbang sekarang!"

"Tu-tunggu dulu! Setidaknya biarkan aku mengatur posisiku.... ugaahhh!!"

"Kita berangkat........!!"

"......"


Menyeret teriakan Maou dan rintihan Nord, mereka bertiga seketika terbang dari Pusat Ujian SIM Fuchu menuju ke arah langit timur.


---End---





Translator : Zhi End Translation..
Previous
Next Post »
0 Komentar