Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Chapter 3 (Part 4) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Chapter 3 : Raja Iblis, Terlambat Datang -4



Chapter 3 : Raja Iblis, Terlambat Datang.

"Apa yang sebenarnya.... Apa yang sebenarnya terjadi?"

Suara Rika terdengar dari sudut Sasazuka.

Hujan yang semakin lebat, membasahi bagian depan beranda Villa Rosa Sasazuka.

Orang-orang tak dikenal yang berpakaian aneh, muncul di hadapan Rika. Karena alasan yang tak diketahui, HP yang dia genggam di tangannya, tidak bisa menerima sinyal apapun.

Ditambah lagi....

"Ashiya-san!! Nord-san!!"

Rika bersimpuh di lumpur yang basah karena hujan, dan Ashiya serta Nord roboh di hadapannya, terluka.

"Apa yang terjadi? Siapa kalian?"

Di situasi kacau ini, Rika yang sedang panik, melempar HPnya yang tak berguna.

Setelah HP tersebut mengenai dada pria besar yang telah mengalahkan Ashiya dan Nord di hadapan Rika, HP itu jatuh ke genangan air.

"Sungguh sebuah kegagalan. Ketika aku menemukan Nord, kupikir aku mendapat keberuntungan."

Di dalam sekumpulan orang berpakaian aneh ini, seorang pria dengan tubuh besar yang menjadi satu-satunya orang yang berpakaian seperti patung Yunani kuno, mengangkat bahunya seolah benar-benar merasa gelisah.

"Aku tidak pernah menyangka kalau akan ada orang Jepang normal di sini.... Apa yang sebaiknya kulakukan?"

Kata pria itu dengan gelisah sambil mendekati Rika.

"A-ah...."

Namun, Rika begitu takut sampai tidak bisa bergerak.

Hal ini sangatlah normal.

Hanya menghadapi sekumpulan orang aneh berarmor lengkap dan memiliki perlengkapan lengkap saja sudah cukup menakutkan, Rika bahkan harus menyaksikan Ashiya dan Nord, dua pria dewasa yang sehat, dalam sekejap dikalahkan di depan matanya.

Rika yang sama sekali tidak memiliki kekebalan terhadap kekerasan, tidak bisa bergerak karena ketakutan.

"Huuh, aku tidak tertarik untuk menakuti para gadis... Erhm, kuharap kau bisa mengerti, kami sungguh-sungguh tidak bermaksud menyakitimu....."

"J-jangan mendekat, jangan mendekat!! Tolong, tolong, Ashiya-san!!"

".... Orang macam apa menurutmu aku ini..... Aku ini bukan perampok, ouch!!"

Batu di halaman, benda-benda lain, meskipun Rika melempar semua yang ada di dekatnya dengan kuat, hal itu sama sekali tak bisa memperbaiki keadaan.

"Huuh, situasi ini memang sulit dijelaskan. Maafkan aku, kau bisa menangis dan mengamuk sesukamu, tapi tolong bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Hey!!"

Tidak diketahui perintah apa yang pria besar itu berikan pada sekelompok orang di belakangnya, tapi empat kesatria berpakaian aneh tiba-tiba berjalan keluar dari kelompok tersebut.

"Tu.... Tunggu, apa yang kau lakukan??"

Para kesatria itu mengangkat Nord dan Ashiya yang tidak bergerak dari tanah.

"Kemana... kalian ingin membawa mereka....?"

"Membawa mereka? Tidak, kami hanya mengembalikan mereka ke tempat asal mereka."

"Tempat, asal?"

"Huuh, kau tidak perlu khawatir. Ah, percuma meskipun kau menghubungi polisi. Orang-orang itu takkan bisa menangkap kami. Hm, anggap saja kau baru melihat kecelakaan lalu lintas dan menyerah terhadapnya."

"Uh!!"

"Uh, eh?"

Rika yang tidak bisa bergerak sama sekali karena takut terhadap pria itu, tiba-tiba bangkit dan memegangi pria berpakaian aneh yang membawa Ashiya.

"???"

Kesatria itu juga merasa kaget karena Rika melakukan sesuatu yang tak terduga.

"Ke-kemana kalian mau membawa mereka?"

".....!!"

"Jangan mengatakan kata-kata aneh itu! Kembalikan Ashiya! Kembalikan dia padaku!!"

"Tu-tunggu nona!! Jangan menakuti orang seperti itu! Tolong hentikan!"

"Ah!!"

Kesatria itu mengayunkan tangannya untuk menyingkirkan Rika yang mencoba melawan.

Rika yang dengan mudah terdorong menjauh, wajahnya langsung mengenai genangan air.

"Ah, hey, tunggu dulu!"

Kali ini, pria besar itu tiba-tiba panik.

Kesatria yang mendorong Rika menjauh, mengeluarkan pedangnya untuk memaksa Rika melepaskan Ashiya.

"Hentikan, dasar bodoh!! Jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu!!"

Meski pria besar itu mencoba menghentikannya, dari jarak di antara mereka, pria itu tidak mungkin akan sampai tepat waktu.

Setelah Rika menolehkan wajahnya ketika masih tergeletak di tanah, dia melihat senjata, aura membunuh, dan momen di mana nyawanya akan menghilang, hal-hal yang tidak akan pernah dia lihat hanya dengan tinggal di Jepang.

"Uh!!"

Rika bahkan tidak punya waktu untuk merasa takut.

Jalur lintasan perak yang menghamburkan rintik hujan, anehnya terlihat sangat lambat, dan kemudian.....

"Minggir dari jalankuuuuuu!!!"

Diikuti oleh sebuah teriakan yang tiba-tiba, kesatria yang hendak mengayunkan pedangnya ke arah Rika terpental seperti sebuah penghapus.

"??"

"Eh?"

Kali ini, tidak hanya Rika, bahkan pria besar itu juga terkejut.

Si kesatria yang terpental ke samping secara horizontal, ketika dia membuat suara tubrukan yang keras....

"Ugh!!"

.... seluruh tubuhnya menghantam dinding yang mengelilingi Villa Rosa Sasazuka seperti seekor kodok, dan perlahan jatuh ke tanah.

"Wha...."

Hal pertama yang Rika lihat, adalah kaki yang mengenakan sandal karet.

Dan setelah mengikuti arah kaki tersebut, dia melihat jeans yang berada dalam posisi menendang.

Kaos hitam, kulit coklat karena sering terpapar sinar matahari, dan ponytail hitam.

".... Siapa kau? Bagaimana bisa kau memasuki tempat ini?"

Si pria yang awalnya memiliki sikap remeh, saat ini menunjukan ekspresi yang seperti campuran antara cemas dan kaget.

"Kau tanya bagaimana aku masuk?"

Orang itu datang dengan mengangkat kaki yang ia gunakan untuk menendang hingga mencapai atas kepalanya seperti yang ada di film kungfu, dan setelah dengan elegan menurunkannya, Rika tahu kalau itu bukanlah wanita yang dia kenal.

"Apakah izin orang luar diperlukan untuk memasuki wilayah sendiri??"

Wanita itu memperlihatkan sebuah senyum dingin, dan seolah dibuat jengkel oleh wanita itu, para kesatria berpakaian aneh langsung mengarahkan pedang mereka ke arah si wanita di saat yang bersamaan.

Kali ini, si pria bertubuh besar tidak menghentikan mereka. Namun, meskipun puluhan kesatria mengarahkan pedang mereka ke arahnya di saat yang sama, wanita berkulit coklat tersebut sama sekali tidak berniat mengambil tindakan.

"Benar-benar sembrono, kalian mungkin akan mati kau tahu? Bahkan kau, si pemuda aneh, juga bukan sebuah pengecualian."

"... Sombong sekali. Siapa kau sebenarnya??"

"Karena aku tidak kenal wanita ini dan paman itu, kalau di paksa membuat sebuah hubungan...."

Wanita itu melirik ke arah Ashiya yang dibawa oleh para Kesatria, dan berbicara dengan sebuah senyum kecut,

"Aku seharusnya adalah mantan bos Ashiya-kun."


XxxxX


Melalui pandangannya yang menjadi kabur karena darah, Suzuno menyaksikan saat-saat Chiho diserahkan pada Pasukan Surga dengan putus asa.

Meskipun dia ingin menghentikannya, tubuh Suzuno masih tidak bisa bergerak, dan dia hanya bisa mengerang karena rasa sakit yang berasal dari bahu dan kakinya.

Ketika tangan para Tentara Surga hendak menggenggam Chiho, sebuah sinar ungu yang melampaui sinar matahari meledak dari balik dinding badai.

"A-apa yang terjadi?"

"....?"

Tidak hanya Libicocco, bahkan mungkin Kamael juga menoleh ke asal cahaya tersebut.

Lokasinya berada di bagian luar gerbang utama SMA Sasahata.

"Uh!!"

Libicocco mengeluarkan suara gelisah.

Kekuatan dinding badai tiba-tiba melemah dengan sangat cepat.

Dinding angin berbentuk lingkaran yang mengurung sekolah, bagian tepinya mulai menjadi tidak jelas, dan tak lama setelahnya, dinding tersebut mulai membelok dan memutar, dan dengan memudarnya kekuatan angin dan hujan, dinding badai itu pun hancur.

Angin kuat yang dalam sekejap terproduksi untuk menyeimbangkan tekanan, membuat para Tentara Surga terlempar tak karuan.

Kali ini, sebuah sinar ungu bak bintang jatuh melesat melintasi halaman sekolah.

Seketika semua orang menyadari sinar tersebut, dan badai yang membentuk dinding hingga beberapa saat lalu, kini menjadi suara bising dan angin kuat yang mengikuti cahaya tersebut.

"Hm....??"

Libicocco sedikit bingung karena cahaya dan angin yang menyapu melewatinya, tapi segera setelahnya, dia mendapati lengannya yang menjadi lebih ringan. Tidak, lengannya tidak menjadi lebih ringan, tapi seluruh lengannya.....

"Gwaaaaahhhhh!!!"

Libicocco yang menyadari kalau lengan yang ia gunakan untuk membawa manusia tadi telah lenyap mulai dari bahu ke bawah, menjerit.

Dia menekan lukanya yang menyemburkan darah di saat yang sama ketika dia menyadari rasa sakitnya, dan berlutut di lantai.

Lalu dia mendapati manusia lain yang seharusnya berbaring di sebelah kakinya, juga ikut menghilang.

Kelima ranseur berbahan logam hitam yang sebelumnya digunakan untuk memaku manusia tersebut, kini berserakan di lantai seperti sayuran yang dipotong kasar, dan kehilangan bentuk senjatanya.

Para Pasukan Surga di udara yang sebelumnya mengawasi Suzuno, hanya bisa menoleh dan memeriksa jalur lintasan peluru itu mulai dari ujung ke ujung karena mereka tak bisa memahami situasi ini.

Seolah melindungi Urushihara yang terlempar oleh peluru api Kamael, makhluk berwujud tak biasa itu berdiri di depannya.

Makhluk itu memiliki wajah dan tubuh manusia, sementara keempat anggota gerak dan tanduknya adalah tubuh iblis, salah satu tanduknya bahkan telah terpotong.

"Ah...... Ah......"

Meskipun dia tahu kalau tangan yang membawanya kini adalah tangan iblis berbentuk aneh yang sama seperti tadi, sebuah rasa aman bisa terasa dari sosok tersebut, dan membuat Chiho menangis.

Pahlawan yang akan selalu datang dan menyelamatkan Chiho kapanpun.

Maou Sadao, membawa Chiho dan Suzuno, berdiri di sana.

Sosok ini berbeda dengan wujud Raja Iblis yang biasanya.

Tingginya tidak hanya sama dengan Maou normal, bahkan jika seseorang berada di dekatnya tanpa pelindung apapun, orang itu tidak akan sedikitpun kesulitan bernapas.

Tapi tanduk dan keempat anggota gerak yang terlihat dari lengan baju dan keliman UNIXLOnya, jelas-jelas adalah tubuh iblis.

Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Chapter 3 Bahasa Indonesia


"Ma.... Maou.... San...."

"Maaf, karena jaraknya lumayan jauh, aku jadi terlambat."

Maou masih menatap ke arah Libicocco dan para Tentara Surga, tapi dia tetap menjawab Chiho dengan suara yang mantap.

"Yeah.... Uu....."

Chiho mengangguk, dan wajahnya yang awalnya basah karena air hujan, kini kembali dipenuhi air mata.

"Kau tidak terluka kan?"

"Ya.... Karena Urushihara-san dan Suzuno-san, melindungiku...."

"Begitu ya."

Usai mengangguk dengan hangat, Maou mengalihkan perhatiannya pada Suzuno, tapi sebelum dia bisa membuka mulutnya....

"Raja Iblis, kau benar-benar.... sangat lamban...."

Suzuno, diangkat oleh lengan Maou yang lain, ketika melihat Maou dari sudut pandangannya yang memburam karena kesakitan, langsung mengomelinya.

Maou, membawa Chiho di tangan kirinya dan Suzuno di tangan kanannya, perlahan meletakkan bereka berdua di lantai atap.

"Meski begitu, aku sudah buru-buru datang ke sini."

Maou tersenyum hangat karena komplain Suzuno yang tak kenal ampun.

"Karena aku berhasil datang ke sini tepat waktu, maafkan aku ya. Bagaimanapun, karakter utama itu memang seharusnya muncul dengan cara yang keren di saat terdesak."

Benar, hingga beberapa saat yang lalu, mereka memang berada di situasi di mana Urushihara dan Suzuno jatuh satu persatu, Chiho dalam bahaya, dan tidak diuntungkan karena kalah jumlah.

Ketika memikirkan hal ini, Suzuno tanpa sadar tersenyum.

".... Hal-hal seperti ini, seharusnya diserahkan pada Pahlawan. Dan Raja Iblis, ikut bergabung dalam kesenangannya..... haha.... ugah!!"

Namun, baru berbicara separuh jalan, Suzuno langsung mengernyit karena rasa sakit yang berasal dari lukanya.

Bahkan jika mereka dipenuhi luka dan darah, baik mereka berdua ataupun Urushihara, sepertinya semuanya berhasil bertahan.

"Kau tidak akan mati begitu saja kan?"

Tanya Maou pada orang di belakangnya bahkan tanpa menoleh, dan Suzuno, mengangguk menanggapinya.

Saat dia merasa lega.... Saat dia merasa lega karena Maou segera datang ke sini, luka-luka Suzuno mulai bergejolak dengan rasa sakit yang begitu parah.

"Karena ini sangat sakit, jadi kau tidak perlu khawatir."

Maou, terus memandang ke depan, mengangguk dan menjawab,

"Baik, bertahanlah sedikit lagi, terima kasih atas semua usaha kalian. Serahkan sisanya padaku."

Seorang Malaikat Agung di udara, di hadapannya ada kepala suku Malebranche dan lima Tentara Surga.

Bahkan dengan Suzuno yang terluka parah, Urushihara, dan Chiho yang tidak bisa bertarung di belakangnya, ketenangan Maou sama sekali tidak goyah.

Dari penampilannya, Maou saat ini tidak hanya bertangan kosong, bahkan perubahan Raja Iblisnya tidak sempurna, dan selain itu, tidak ada sedikitpun sihir iblis yang terasa.

Akan tetapi....

"Hm.."

Suzuno, di belakangnya, tidak merasakan kegelisahan apapun.

Semuanya bisa dipercayakan pada punggung itu, Suzuno mempercayai hal ini dari dalam lubuk hatinya.

"Oke... Meskipun aku tidak yakin dengan situasinya, tapi kalian memang luar biasa. Terakhir kali tiga Jenderal Besar di kalahkan, adalah saat melawan Emi."

"Ka-kau...."

Bertangan kosong, Maou dengan santai berjalan menuju Libicocco yang kehilangan lengannya dan berlutut di lantai.

"Berani melakukan ini pada tanganku!"

Mungkin karena meremehkan Maou dalam wujud setengah iblis setengah manusianya, dan tidak merasakan sihir iblis apapun, Libicocco berteriak dengan gelisah.

Namun, usai Maou membentangkan tangan kanannya di depan Libicocco, dia memperlihatkan senyum tak kenal takut.

"Seorang kepala suku Malebranche rendahan berani berbicara seperti itu di hadapanku, hm???"

Di telapak tangan Maou yang ia rentangkan sambil tersenyum, sebuah cahaya ungu mulai bersinar.

"Hm...."

Meski tak ada yang mendengarnya, Kamael mengeluarkan suara dari balik topeng logamnya untuk yang pertama kalinya.

Sinar ungu menyebar dari telapak tangan menuju lengannya, dan tak lama setelahnya, sinar itu menutupi seluruh tubuh Maou.

Ucap Suzuno dengan kaget saat melihat fenoemena ini.

"Ini bukan..... sihir iblis....?"

Meskipun tidak sempurna, dari Maou yang memperlihatkan wujud Raja Iblisnya dan menggunakan suatu kekuatan supranatural, sihir iblis sama sekali tidak bisa dirasakan.

Suzuno tidak merasakan sihir suci sama sekali, tapi berada di dekat Maou saja, tekanan besar yang disebabkan oleh kekuatan itu,  justru menstimulasi sihir sucinya.

Suzuno pernah melihat kekuatan itu sebelumnya.

"Maou-san??"

Kali ini, Chiho juga mengeluarkan sebuah suara yang lemah namun jelas. Sepertinya Chiho juga menyadari kalau fenomena yang disebabkan oleh Maou ini, berbeda dari biasanya.

Setelah Suzuno mengalihkan pandangannya dan melirik ke arah Chiho, dia akhirnya ingat.

Meskipun hanya sekali, Suzuno pernah melihat kekuatan itu bersama dengan Chiho.

Sebuah daratan di timur nan jauh dari Sasazuka.... Kota Choshi yang terletak di Chiba, sebuah tempat suci yang menerima berkat sinar matahari paling awal di Jepang... Inubosaki.

"Baiklah, siapa di antara kalian yang seperti Emi, yang mana punya tekad untuk bertarung melawanku dengan nyawa sebagai taruhanya??"

Usai memadatkan kekuatan yang meluap-luap di tangan kanannya, Maou  mengayunkannya dengan kuat.

"Pedang suci..... Evolving Holy Sword, One Wing....??"

Libicocco, Tentara Surga, Kamael, dan Suzuno menerikkan nama pedang itu di saat yang bersamaan.

Pedang yang muncul di tangan kanan Maou, memiliki wujud yang sangat mirip dengan pedang suci milik pahlawan Emilia, Evolving Holy Sword, One Wing.


XxxxX


"Terkait tindakan kasar yang kalian lakukan terhadap wanita ini, aku sudah membuat orang yang berbaring di sana itu mendapatkan ganjarannya, selama kalian bersedia mundur, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Tapi...."

Wanita berkulit coklat itu mengabaikan pria berbadan besar dan mengeluarkan aura yang berbahaya, dan dengan nafsu membunuh yang ditujukan kepada para kesatria berbaju aneh, dia pun melangkah maju.

".... Apa itu?"

Tanpa ada yang menyadarinya, sesuatu menyembul keluar dari area di sebelah kaki wanita tersebut.

Jalanan Sasazuka yang sudah buram karena hujan lebat, bahkan menjadi semakin berkabut, benda yang seperti berniat mengisolasi dunia....

"Itu kabut.....??"

"Jika para pengacau datang dan berbuat liar di sini, maka dari sudut pandangku, aku tidak bisa hanya berdiri dan menonton saja."

"Uh!!"

Itu adalah sebuah tekanan murni.

Wanita itu lalu menatap tajam pria berbadan besar. Hanya dengan gerakan ini, sebuah kekuatan, bukan sihir iblis maupun sihir suci, bergerak menembus pria tersebut.

"Tidak peduli kesimpulan apa yang duniamu buat pada akhirnya, itu adalah masalahmu. Tapi masalah di sini sudah selesai. Jika kau berani ikut campur....."

Wanita tersebut menghembuskan napas tajam seolah menyiapkan mental dan melangkah maju, membuat air di genangan air yang ada di hadapannya, terciprat ke atas.

"Kami tidak akan tinggal diam dan tidak melakukan apa-apa!!"

Hanya dengan auranya, wanita itu menekan para kesatria berbaju aneh, dan membuat mereka jatuh tiba-tiba.

"....?"

Di mata Rika yang tubuhnya dipenuhi dengan kotoran, ia tidak bisa mengerti kenapa para kesatria itu mundur ketakutan meski tidak ada yang terjadi.

Memang bisa dipastikan kalau wanita itu datang untuk menyelamatkannya, tapi Rika merasa tidak mungkin wanita itu bisa menangani musuh sebanyak ini.

Namun, situasinya berkembang menjadi tidak terduga.

"Ok, kami akan pergi sekarang. Sepertinya melawanmu bukan ide yang bagus."

Pria itu menunjukan sikap menyerah.

"Tapi di 'sisi kami', kami juga punya sesuatu yang harus kami lakukan. Kedua orang ini, bisakah kami membawa mereka kembali?"

"Tu-tunggu dulu!!"

Rika berteriak dengan panik.

Dua orang yang pria itu maksud, pasti adalah Ashiya dan ayah Emi, Nord.

"Meskipun aku menggunakan kekuatan penuhku, aku seharusnya bukanlah tandinganmu, tapi jika kau tidak bersedia menerima syarat ini, maka dari sudut pandangku, aku hanya bisa melawanmu dengan seluruh kekuatanku."

"Meskipun kau harus mempertaruhkan nyawamu?"

Pria itu mengangguk tanpa ragu untuk mengiyakan kata-kata wanita tersebut.

"Apapun alasannya, jika kami melewatkan kesempatan ini tanpa melakukan apa-apa, hal itu hanya akan membawa kami pada kematian."

"Jangan mengatakan hal-hal bodoh!! Kau ingin membawa Ashiya-san dan ayah Emi kemana?"

Rika yang mendapatkan kembali sedikit semangatnya karena ada wanita tersebut di sampingnya, berteriak dengan keras, tapi kali ini giliran pria besar itu yang menjawab dengan bingung.

"Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Aku tidak membawa mereka, tapi mengembalikan mereka. Onee-san, jika identitasmu sama seperti yang kupikirkan, kau mungkin tidak akan menghentikan kami membawa kedua orang ini kan?"

"H-hey, tolong selamatkan Ashiya-san dan ayah Emi!!"

Bahkan jika hal ini dianggap merendahkan diri sendiri, Rika sadar kalau satu-satunya orang yang bisa dia andalkan saat ini adalah wanita tersebut. Namun, Rika sama sekali tidak bisa menyela obrolan mereka, dan sepenuhnya dikendalikan oleh pria dan wanita yang tak dikenalnya itu.

"Harusnya kau sudah tahu, tapi paman ini adalah 'manusia dari sisi kami', sedangkan pemuda ini adalah 'iblis dari sisi kami', mereka sejak awal tidak seharusnya berada di bumi. Jadi tak masalah kan?"

Harapan Rika buyar, wanita berponytail itu mengangguk tanpa ragu.

Dan kali ini, aura wanita yang cukup kuat untuk menguapkan hujan itu, tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

"Baiklah. Dari sudut pandangku, berdasarkan prinsip, aku memang tidak bisa menghalangimu. Jadi berhentilah menyebabkan masalah di 'sisi ini'."

"Terima kasih."

"Ti-tidak mungkin, hey!!"

Dengan satu perintah dari pria besar itu, para kesatria berpakaian aneh mulai mengangkat Nord dan Ashiya sekali lagi, sekaligus rekan mereka yang menghantam tembok dengan cara yang begitu parah.

Rika hanya bisa menatap mereka.

"Hey, siapa namamu?"

".... Gabriel. Ditambah lagi, aku juga punya gelar Malaikat Agung yang merepotkan."

"Itu memang sedikit merepotkan."

Meskipun ada dua pria diculik oleh sekelompok orang aneh, wanita itu tetap tersenyum gembira di bawah guyuran hujan.

"Hey, Gabby!!"

"Kenapa kau tiba-tiba memberiku nama panggilan?"

Ucap pria bernama Gabriel dengan kesal.

"Kupikir kau seharusnya sudah tahu hal ini, meskipun aku tidak akan menghalangimu, tapi aku tidak bisa berbicara mewakili orang lain."

"Tentu saja. Itu adalah masalah kami, kami juga tidak akan menyebabkan masalah lagi untukmu."

"Sulit untuk mengatakannya. Tapi tidak ada hal yang lebih tidak bisa dipercayai daripada seorang anak yang mengatakan 'aku tidak akan melakukannya lagi', atau 'aku sudah menyesal'."

"Aku akan menepatinya untukmu kali ini. Bagiku, kupikir aku sudah cukup tua, tapi di matamu, aku hanya anak-anak ya."

Gabriel terlihat tersenyum senang.

"Jika kau tidak keberatan, boleh ku tahu namamu, nyonya?"

".... Ugh!"

Ashiya, dibawa oleh salah satu kesatria di belakang Gabriel, sedikit bergerak.

"Ashiya-san!!"

Rika, menyadarinya, berteriak memanggil Ashiya.

"Ya ampun, karena tubuhnya adalah tubuh manusia, aku terlalu menahan diri."

Gabriel terlihat tidak memikirkannya sama sekali.

"Ini, ini.... Ugh, lepas-lepaskan aku!!"

Bahkan jika Ashiya menggeliat dengan seluruh tenaganya, dia sama sekali tidak memiliki kekuatan yang cukup, dia juga ditahan oleh para kesatria yang mengelilinginya.

"Ugh... Suzu, Suzuki-san, apa kau baik-baik saja...."

Ashiya yang telah menyerah memberontak, usai mendongak untuk memastikan apakah Rika sudah aman, melihat seorang wanita yang berdiri di samping Rika yang berlumuran lumpur.

Ashiya kenal orang itu.

Setelah melihat sosok wanita tersebut, otak Ashiya mulai bekerja dengan cepat.

Gabriel dan para kesatria Afashan mengambil kesempatan saat Emilia tidak ada di Jepang untuk datang ke Sasazuka, dan menangkap dirinya serta Nord.

"Amane-san!!"

Ashiya berteriak.

Benar, orang yang menyelamatkan Rika adalah manager sementara rumah pantai 'Ooguro-ya' di Choshi, Ooguro Amane.

Ashiya tidak tahu kenapa Amane, yang seharusnya mengurusi tempat suci bagi orang-orang yang sudah mati, datang ke Sasazuka, akan tetapi, satu-satunya orang yang bisa dia andalkan saat ini adalah Amane.

"Tolong sampaikan pesan untuk Maou, katakan padanya kalau aku menunggunya di Museum Nasional Seni Barat."

"Hey, tutup mulutnya!!"

Di bawah perintah Gabriel, mulut Ashiya langsung disegel.

Tapi hal yang seharusnya disampaikan sudah disampaikan.

Tidak peduli apa yang terjadi nanti, Maou pasti bisa menanganinya.

"Jadi, Amane-san ya, oh...."

"Itu benar, Ooguro Amane. Meskipun aku ini bukan 'hitam'. Ah, Ashiya-kun, aku mengerti. Tak masalah selama aku menyampaikannya pada Maou-kun, kan?"

Amane terlihat ceria dari kepala sampai kaki.

"'Hitam' ya?? Lupakan, bisa menghindari bertarung denganmu saja sudah membuatku sangat lega. Sepertinya kali ini keberuntungan kita cukup bagus."

"Begitukah? Anak itu sangat keras kepala kau tahu?"

"Aku tahu. Tapi kali ini, mungkin orang yang pria ini andalkan juga takkan bisa kembali tanpa terluka... Bagaimanapun, lawannya...."

Gabriel mendongak ke arah langit.

".... adalah pria yang mengendalikan seluruh 'merah' di dunia kami. Bagi Raja Iblis Satan yang sekarang, itu seharusnya sedikit terlalu sulit untuk ditangani."

"Mengendalikan seluruh 'merah' ya?"

 Amane mengangkat bahunya.

"Aku tidak pernah mendengar seseorang yang bisa melakukan hal itu, tapi mereka tetaplah masalah dari sisimu, jadi aku tidak peduli sedikitpun. Hey, jika kau ingin pergi, cepat pergi sana!!"

"Tunggu.... Tunggu dulu!!"

"Aku mengerti. Kalah kau bertemu dengan masternya, tolong sampaikan salamku. Secara pribadi, aku ini sangat menyambutnya."

Setelah mengatakan hal tersebut, pria itu dan kawanannya menghilang.

Layaknya mematikan sebuah televisi, puluhan pria yang membawa Nord dan Ashiya, menghilang di hadapan Rika begitu saja.

"....tidak mungkin...."

Saat Rika jatuh dengan lemas di genangan air....

"Ya ampun...."

Kekacauan, ketakutan, keterkejutan, dan ketegangan yang dihadapi Rika, akhirnya mencapai batas, dia pun pingsan setelah tak berapa lama jatuh. Usai dengan lembut memapah tubuh Rika, Amane pun menggendong Rika di punggungnya dengan gerakan yang sudah terlatih, dan mengamati sekelilingnya.

"Serius ini... Sepertinya rumah mereka adalah dunia dari 'Pohon Kehidupan' yang sangat sibuk."

Setelah membenarkan posisi Rika, dengan langkah yang stabil, Amane berjalan menaiki tangga Villa Rosa.

Untungnya, pintu kamar 201 masih terbuka.

Ashiya dan yang lainnya mungkin sibuk melarikan diri dari Gabriel, jadi mereka tidak sempat mengunci pintunya.

"Aku akan sedikit mengganggu mereka. Jika aku tidak cepat mengganti pakaian wanita ini, dia pasti akan terserang flu."

Setelah memasuki kamar, Amane langsung menempatkan Rika di lantai yang berada di depan dapur dan mulai mencari handuk tanpa izin siapapun.

"Oh, ternyata mereka lumayan rapi."

Usai dengan kagum melihat baju yang Ashiya tata, Amane mengambil dua buah handuk dari dalamnya, satu untuk dirinya dan satu untuk Rika.

"Oh?"

Dia lalu menemukan kertas gambar yang mirip seperti peta di sebelah baju yang telah selesai dicuci.

Sambil mengeringkan rambutnya, Amane melihat-lihat isi kertas tersebut.

"Oh~ jadi begitu ya. Oh tidak, aku harus membantu nona ini berganti baju."

Amane mengulurkan tangannya pada baju Rika yang dipenuhi lumpur karena tindakan kasar yang dilakukan oleh para kesatria tadi.

"Baiklah, Maou-kun, kau sebaiknya tidak pulang sekarang."

Meskipun dia baru saja mengalami peristiwa kacau beberapa saat yang lalu, nada Amane terdengar sedikit bahagia.


XxxxX


"Ah... aku punya perasaan tidak enak soal ini."

Pedang yang muncul di tangan Maou, terasa begitu ringan seringan bulu, dan seolah memastikan kondisi bilahnya, Maou membalik pedang itu di tangannya dan mengayunkannya beberapa kali.

"Ini bukan sihir iblis. Meski aku tidak yakin apa yang akan terjadi, rasanya timbal balik yang aneh akan aku dapatkan nanti."

Maou terus mengeluh.

Meskipun dia merasa curiga dengan kekuatannya sendiri, Maou yang masih menggumam, menyerang kelima Tentara Surga ke arah lantai dengan kekuatannya hanya dalam hitungan beberapa detik.

Kekuatan Tentara Surga memang jauh lebih lemah dibandingkan Malaikat Agung yang mereka layani, tapi dibandingkan Tentara Surga milik Gabriel, bawahan Kamael ini bisa dianggap memiliki perbedaan yang mencolok dalam segi perlengkapan dan latihan yang mereka jalani.

Jika Suzuno tidak membawa Chiho, ini bukan seperti dia tidak bisa bertarung melawan mereka, tapi meski begitu, tidak sulit membayangkan kalau pertarungan mereka akan menjadi lebih ketat daripada saat melawan Tentara Surga Gabriel.

Namun, semua yang terjadi barusan, benar-benar terjadi dalam sekejap.

Setiap kali Maou mulai bergerak, suara dan udara yang ada di sekitar Maou, sama sekali tidak bisa mengikuti kecepatannya, ledakan keras pun terdengar di atas atap di tengah-tengah badai.

Para Tentara Surga, layakya ngengat yang pingsan ketakutan karena suara itu, langsung jatuh satu persatu di lantai dalam hitungan kurang dari satu detik.

Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang bisa melihat apa yang terjadi.

"Uuu... jika bukan karena mantra Urushihara-san, kaca jendela di sekolah pasti sudah pecah...."

Chiho mendapatkan kembali ketenangannya karena kemunculan Maou, tapi adegan yang ada di hadapannya saat ini, benar-benar sangat hebat, sampai-sampai dia tidak bisa berhenti mengeluh dengan air mata di matanya.

Dibandingkan Kamael yang memang memilih mengamati situasi dari atas, bahkan jika para Tentara Surga dikalahkan oleh Maou di depan matanya sendiri, Libicocco hanya bisa diam di tempatnya berada, terperangah.

"Me-mereka masih hidup kan?"

"Entahlah."

Meskipun itu adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Chiho, Maou tetap menjawabnya dengan kasar.

Tidak diketahui serangan apa yang Maou gunakan, tapi armor milik para Tentara Surga, kini terlihat mirip seperti biskuit crackers, yang seolah bisa hancur kapan saja.

"Hey, Malebranche yang di sana."

"Ya."

Maou bahkan tidak menatap ke arah Libicocco.

Meskipun Maou tidak menatapnya secara langsung, hanya dengan satu panggilan ini saja, sudah cukup membuat Libicocco yang awalnya hanya diam menyaksikan Maou bertarung dengan para Tentara Surga, menjadi berlutut di lantai.

Dari sikap patuh Libicocco saat ini, sulit membayangkan kalau beberapa saat yang lalu dia terlihat begitu panik karena lengannnya telah terpotong. Kini, Malebranche itu sudah tidak lagi menekan lukanya dan dibiarkan mengucurkan darah begitu saja di bawah guyuran hujan, hanya untuk menunjukan kepatuhannya.

"Dengan semuanya yang sudah seperti sekarang ini, kau sebaiknya tidak bertanya siapa aku. Aku sedang berada dalam mood yang buruk sekarang. Meskipun keadaanmu mungkin membuatmu kerepotan, tapi aku benar-benar tidak peduli. Jika kau berani bertindak sembrono, aku pasti akan menghukummu secara langsung."

"Ya."

Meski kekuatan yang Maou gunakan bukan sihir iblis, Libicocco yang kejam pun juga bisa tahu kalau Maou yang sekarang adalah Satan, jadi tidak peduli bagaimana dia melawan, dia bukanlah tandingan bagi Maou.

"Bagus, yosh....."

Setelah mengangguk, Maou menapak di atas lantai, dan hanya dengan satu langkah saja, dia melompat ke samping Urushihara.

"Oh, kau masih hidup?"

".... Aku mungkin terlihat seperti ini, tapi aku sudah hampir mencapai batasku."

Meskipun Urushihara yang berbaring di lantai terlihat seperti tidak bisa menggerakkan satupun jarinya, setelah kaki Maou memasuki bidang pandangannya, dia tetap saja protes.

"Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Setelah semuanya selesai, aku pasti akan membawamu ke rumah sakit."

".... Oh, jarang sekali kau jadi sebaik ini."

"Apa yang ada di langit itu bos mereka?"

Maou mendongak ke arah langit, dan pria berarmor merah, tetap tidak bergeming.

"Sulit membayangkan dia akan menyerang orang tak punya motivasi seperti dirimu sejak awal, kau pasti melakukan ini untuk melindungi Chi-chan dan Suzuno kan? Lumayan."

".... Bahkan jika kau memujiku, hal-hal bagus tak mungkin akan terjadi."

"Kenapa kau selalu salah paham dengan sudut pandangmu? Maksudku, aku ingin memberimu semacam hadiah."

Andai itu perubahan normal, Maou bisa saja menyembuhkan luka Urushihara dengan mentransfer sihir iblis, tapi saat ini, kekuatan yang Maou miliki bukanlah sihir iblis ataupun sihir suci.

"Hey, malaikat yang ada di sana, sudah berapa kali kau menyebabkan masalah untuk Jepang?"

Maou menatap Kamael dan berbicara,

Meski mustahil dia tidak mendengarnya, Kamael tetap tidak bergeming.

"Huuh, jika kau mencoba menyebabkan masalah untuk kami, maka lupakan saja, bukankah ibumu sudah mengajarimu kalau apapun yang terjadi kau harus berhati-hati agar tidak menyebabkan masalah untuk orang lain? Hm?"

Seorang iblis menceramahi seorang malaikat pasti akan jadi adegan yang bisa membuat orang menyemburkan nasi dari mulutnya, tapi mengingat perbuatan malaikat ini, diceramahi seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

"Di negara ini, baik membujuk seseorang atau meminta orang lain untuk memberikan sesuatu padamu, harusnya ada metode seperti sapaan, permintaan, menawarkan uang, atau bahkan terkadang menggunakan hukum, kau tahu? Bagaimana bisa kau langsung memutuskan untuk merampas sesuatu saat pertemuan pertamamu tanpa penjelasan apapun, apa kau tidak malu dengan sikap barbarmu?"

“....Raja Iblis.”

Suara yang datang dari Kamael setelah susah payah, adalah sebuah suara yang terdengar kaku.

“Raja Iblis, Satan.”

“Huh??”

“Raja Iblis.... Raja Iblis, Satan.”

“A-ada apa ini?”

Dengan Libicocco yang tunduk kepada Maou, kekuatan angin dan hujan pun menurun secara drastis.

Karena itulah, Maou bisa melihat kalau tangan Kamael yang sedang memegang ranseur, bergetar tanpa henti.

“Raja Iblis.... Raja Iblis.... Raja Iblis, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan, Satan,Satan, Satan, Satan, Satan, Satan!”

“A-apa-apaan ini, orang itu terlihat aneh.”

Seperti sebuah ramalan yang memberikan perasaan gelisah, Kamael tiba-tiba meneriakkan nama Maou terus menerus.

Maou pun mengambil satu langkah mundur.

“Orang dengan nama ini, ingin menghalangi kami lagi?”

“A-apa katamu? Orang yang terus menghalangi kami kan kalian!”

“Satan, Satan!!”

“Owahh!!”

Itu adalah kecepatan layaknya dewa yang menyamai Maou, saat dia membereskan para Tentara Surga.

Ketika ujung ranseur yang Kamael pegang saat berada di tengah udara berayun sekali, dia pun langsung turun dengan kecepatan yang begitu luar biasa, seolah bermaksud mencabik-cabik Maou.

“Uh!”

“Ugoh!!”

Dengan refleks yang begitu cepat, Maou menggunakan pinggiran pedangnya untuk menangkis tombak Kamael.

“Hah!”

Maou memutar tubuhnya memanfaatkan kekuatan yang dia gunakan untuk menahan serangan tadi, dan dengan gerakan backhand, dia menyabetkan pedangnya ke arah tubuh Kamael yang terlindung armor.

Bahkan jika pusat gravitasinya menjadi tidak stabil karena serangannya berhasil dipatahkan, Kamael tetap bisa bereaksi dengan sangat cantik.

Meskipun Kamael sudah mengayunkan pegangan tombaknya untuk menghalangi serangan Maou, armor milik para Tentara Surga tetap ikut retak, dari hal ini saja bisa dilihat bahwa ketajaman pedang itu, tidak hanya cukup membuat Libicocco tidak bisa langsung sadar ketika lengannya terpotong, bahkan ternyata jauh melebihi ekspektasi Maou dan Kamael.

“Eh?”

“Hm?”

Kemungkinan besar, Maou mengira kalau gerakan ini pasti bisa dihentikan, begitu pula Kamael, dia pasti yakin kalau dia bisa menahan serangan Maou.

Akan tetapi, benturan hanya terjadi pada saat kedua senjata itu bertabrakan. Ketika mereka tersadar, pedang Maou ternyata sudah menebas lurus melewati tombak Kamael.

“Ugh!!”

Kamael mengerang pelan, dan Maou yang terkejut, juga tak bisa berkata apa-apa karena dia tidak pernah menyangka kalau pedang yang ia tebaskan, bisa mematahkan tombak Kamael dan langsung memotong armor merahnya seperti kertas.

Bilah pedang itu memang tidak melukai bagian tubuh Kamael yang berada di bawah armornya, tapi bahkan Kamael yang seketika memilih mundur ketika senjatanya terpotong menjadi dua, terlihat tidak bisa percaya kalau dia bisa terkena serangan Maou.

“.... Jika aku bisa menggunakan benda seperti ini, maka aku tak perlu lagi ikut bersaing.”

Meski memperoleh kekuatan yang begitu besar, saat Maou memikirkan kembali pertarungan-pertarungannya yang telah lama berlalu, dia tetap saja menunjukan ekspresi pahit.

Walau begitu, Maou tetap mengarahkan ujung pedangnya ke arah mata Kamael dan bersiaga terhadap setiap pergerakannya.

Kamael membuang pegangan tombaknya yang tak lagi berguna setelah terpotong menjadi dua, dia lalu menekankan tangannya pada bagian rusuknya yang sedikit tergores, dan mulai menggumamkan kata-kata yang tak jelas.

“Satan.... Satan, Satan.”

“Huh??”

Maou yang berdiri berhadapan dengan Kamael, bisa melihat dengan jelas kalau napas malaikat ini, menjadi tidak teratur.

“Sataaaaaaaann!!'

“Ada apa sih denganmu, menjijikkan!”

Maou pikir Kamael merasa terguncang karena armornya telah terpotong, tapi tak disangka, ia tiba-tiba malah mengambil separuh tombaknya yang hanya menyisakan bagian ujungnya dan melompat maju, dalam sekejap, dia berhasil memperpendek jarak di antara mereka.

Bahkan jika jarak di antara mereka menjadi begitu dekat sampai Maou bisa melihat warna mata Kamael melalui celah yang ada pada topeng logamnya, Maou masih bisa dengan mudah menahan serangan ujung tombak pendek yang Kamael lancarkan.

Maou tidak terkejut dengan serangan tiba-tiba Kamael, lebih tepatnya, Maou lebih takut dengan sikap anehnya yang menakutkan serta kata-kata dan tindakannya.

“Uwahh!!”

Akan tetapi, daripada hal itu, sebuah masalah yang lebih serius, terjadi,

“H-hey, coba lihat!!”

Bilah pedang yang Maou gunakan untuk menahan ujung tombak Kamael, mulai memamerkan ketajamannya dan perlahan memotong ujung tombak tersebut.

Ini adalah bukti perbedaan kualitas senjata mereka, dan karena Kamael menggunakan lengkungan bagian depan ranseurnya untuk menahan pedang Maou, jika Maou terus memotong senjata lawan, pedangnya pasti akan mengenai tubuh Kamael.

"P-punya senjata yang terlalu bagus juga bisa jadi masalah!”

Pada saat-saat krusial, Maou dengan panik berteriak.

“Acies! Cepat Lepaskan!”

“Baik, Maou!”

Ketika Maou berteriak, dua macam hal langsung terjadi sekaligus.

Pedang yang Maou pegang, seketika berubah menjadi bola-bola cahaya dan kehliangan bentuknya, dan setelah bola-bola itu berkumpul di bawah titik temu antara pedang dan tombak tersebut, cahaya-cahaya itu pun berubah menjadi sesosok manusia.

Bola-bola cahaya itu memadat dengan kecepatan cahaya, menyebabkan seseorang juga muncul dengan kecepatan cahaya.

Acies Ara.

Sebuah eksistensi yang sama seperti Alas Ramus, seorang gadis yang terlahir dari fragmen Yesod.

Saat ujung tombak tersebut mendapatkan kembali momentumnya setelah kehilangan perlawanan dari pedang dan hendak menusuk Maou, Acies dengan tinju kecilnya langsung memukul tombak itu, membuatnya terbang ke atas.

“Uh!!”

Lengan gadis yang terlihat kecil dan lemah tersebut, meledak dengan suara dan kekuatan yang tak terduga, membuat tombak pendek yang ditusukkan oleh Kamael memantul ke atas.

Kamael, terpengaruh oleh senjatanya, kehilangan keseimbangan, dan sebuah celah pun terlihat.....

“Hah!”

Memanfaatkan seluruh berat badannya, gadis tersebut menggunakan tangan kecilnya untuk melancarkan serangan sikut yang kuat sekali lagi.

“Ugah!!”

Mengingat perbedaan tubuh dan perlengkapan di antara mereka berdua, sepertinya sikut Acies, si penyeranglah yang akan hancur terlebih dahulu, tapi pada kenyataannya, malah bagian dada armor Kamael yang dipenuhi dengan retakan layaknya kaca, dan tubuh besar Kamael, terbalik sekali sebelum menghantam lantai atap.

Di saat yang sama, Maou, berdiri di samping Acies, juga jatuh dengan punggungnya terlebih dahulu karena alasan yang tak diketahui.

“Maou! Kenapa kau juga ikut jatuh?”

“Aku jatuh karena aku ingin menghindari tombak itu!”

Maou bangkit dan membantah teguran memalukan gadis tersebut.....

“Itu karena tidak pernah berlatih tarian limbo!”

Tapi gadis itu malah mulai menegurnya dengan lebih memalukan lagi.

“Raja Iblis mana yang akan belajar tarian limbo?”

“.... Kalian, bertarunglah lebih serius......”

Urushihara, tergeletak di lantai, menegur Maou dan Acies. Tapi seperti biasanya, tak ada yang menghiraukannya.

“Aku serius! Ayo cepat singkirkan mereka! Dibandingkan Maou, orang-orang itulah musuhku!”

Acies memperlihatkan kekuatan hebat yang tak sesuai dengan penampilannya, dia juga menunjukan postur bertarung yang aneh saat memutar tubuhnya untuk menggertak Kamael.

“Huuuh, selama kau bersedia membantu, apapun tak masalah....”

Maou meletakkan tangan di dahinya dan mulai berpikir.

Alas Ramus menunjukan perilaku yang sama saat menghadapi Gabriel, meski sifatnya tidak sebaik itu, kebencian Acies terhadap Kamael seharusnya benar-benar nyata.

Jika tidak, tidak mungkin dia  akan menggunakan serangan tanpa ampun seperti itu pada Kamael.

Di sisi lain, Iron yang mendengarkan perintah Farfarello, nampak tidak begitu membenci iblis.

Apakah itu murni hanya karena perbedaan sifat diantara mereka?

“Kupikir tidak seperti itu....”

“Ugh....”

“Lupakan, kurasa serangan semacam ini takkan bisa mengalahkannya.”

Kamael bangkit dan menginterupsi Maou yang sedang berpikir.

“Satan!!!”

“Aku lagi.... Ada apa sih dengan pria ini....”

Maou yakin kalau inilah pertama kalinya dia bertemu Kamael. Pada dasarnya, sebelum datang ke Jepang, Maou hanya kenal satu malaikat.

“Meski begitu, aku tidak boleh sembarangan menggunakan Acies untuk melawanmu.”

“Aku sama sekali tidak keberatan.”

“Huuh, tenanglah sedikit!”

Saat Maou sedang menenangkan Acies yang semangat bertarungnya tidak mengendur sedikitpun sambil berpikir bagaimana harus mengatasi situasi ini....

“Yeah, lebih baik kalian tenang dulu. Baik Kamael, maupun kau.”

Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar, membuat Maou dan Acies mundur secara refleks.

Ruang di antara Maou dan yang lainnya dengan Kamael mulai berputar, lalu seorang pria besar perlahan berjalan keluar.

“Ga.....”

“Gabriel!”

Sebelum Maou bisa meneriakkan nama orang itu, Acies sudah meneriakkan nama Gabriel dengan level kebencian yang jauh melebihi saat dia bertarung melawan Kamael.

“Apa ini, apa ini?”

Gabriel juga terlihat sangat terkejut, dia menatap Acies dengan mata terbuka lebar.

“Tu-tunggu Acies!”

Acies, di depan Maou, sama sekali tidak peduli dengan Gabriel yang terkejut dan terlihat ingin menyerang maju, tapi Maou dengan cepat melangkah ke depan untuk menghentikannya.

“Apa, Maou? Biarkan aku membunuhnya!”

“Kubilang tunggu! Seseorang yang bisa kita ajak bicara akhirnya muncul! Jangan tiba-tiba membunuhnya!”

Maou memegang tangan Acies dan menatap Gabriel.

Meski Maou bilang mereka bisa berkomunikasi, pada akhirnya dia mungkin akan tetap disesatkan, tapi meski begitu, setidaknya Gabriel, tidak seperti Libicocco dan Kamael, dia bisa menggunakan bahasa Jepang untuk berkomunikasi.

“Acies....?”

Di sisi lain, setelah Gabriel melihat gadis berambut perak yang mencacinya dengan penuh emosi, dia menghela napas dengan ekspresi rumit,

“Yang benar saja, kenapa keanehan terus muncul satu persatu.....”

“Jadi lagi-lagi kau dalang yang menyebabkan semua masalah ini.”

Daripada kaget, hal pertama yang Maou rasakan adalah kejengkelan.

Karena mereka selalu bertemu setiap kali ada masalah, bagi Maou, Gabriel sudah termasuk wajah yang sangat familiar.

“Yeah, huuh, benar sekali, lebih tepatnya, jika semua aksi itu adalah aksi yang jelas telihat di permukaan, maka kali ini adalah aksi yang dilakukan sembunyi-sembunyi, kau sebaiknya jangan memanggilku mata-mata okay?”

Gabriel mengangkat bahunya seperti sedang mengejek dirinya sendiri, dan berbicara pada Kamael,

“Kamael, kita kembali. Jika kita serakah, rasanya banyak hal akan jadi semakin merepotkan. Ada 'Dependency' saja sudah cukup merepotkan, dan tadi, seseorang yang jauh lebih menakutkan dari orang-orang ini juga muncul.”

“Huff--- huff---”

“Ya ampun, kenapa kau sangat bersemangat....”

Ucap Maou saat menatap kedua malaikat yang ada di hadapannya dengan tidak senang.

“Hey, Gabriel, orang itu terlihat sedikit aneh.”

Kamael sepertinya tidak mendengar pernyataan Gabriel untuk mundur, dan hanya fokus terengah-engah.

“Yeah, mungkin dia kehilangan ketenangannya setelah melihat Raja Iblis Satan.”

“Aku tidak ingat punya masalah dengannya, sejujurnya aku bahkan tidak pernah melihatnya.”

“Huuh, jika kau mau mengeluh, maka mengeluhlah pada orang tua yang sudah menamakanmu Satan. Jika namamu Raja Iblis Taro, semuanya mungkin akan sedikit berbeda.”

“Apa kau meremehkan semua Taro-san yang ada di Jepang?”

“Jika seseorang menjadi marah karena hal ini, maka bantu aku untuk meminta maaf pada mereka. Baiklah, Kamael, waktunya pergi. Pokoknya, apapun alasannya, kita tidak boleh menggunakan kekuatan penuh di 'sisi ini'. Dan ada orang yang sangat menakutkan di sini.”

“Hey, mencoba kabur tanpa meminta maaf ya.”

Ucap Maou untuk menghentikan mereka dengan nada suara rendah.

Maou memang berencana membiarkan mereka pergi, tapi dia tidak cukup baik untuk membiarkan orang-orang yang sudah bertindak jahat ini pergi tanpa menjawab apa-apa.

“Ah, yeah, karena aku punya pengalaman mengerikan yang membuatku ingin melakukan hal itu.”

“Huh?”

“Hm... benar juga. Hey, NEET tingkat pertama yang sedang tidur siang di sana!”

“Kau.... mengambil kesempatan saat aku tidak bisa bergerak.....”

Mungkin karena memiliki dendam setelah sebelumnya kalah berdebat, Gabriel berteriak ke arah Urushihara seperti sedang mengejek.

“Kartu nama yang sebelumnya kuberikan padamu, kau tidak membuangnya kan?”

“Kartu nama?”

Kata-kata yang terdengar agak rendahan ketika digunakan oleh malaikat agung ini, membuat Maou terkejut.

“.... Meski sudah ada banyak debu di atasnya, tapi aku menemukannya di bawah laci beberapa waktu lalu.”

“Jaga baik-baik benda itu! Membuat benda itu membutuhkan uang! Kalau kau membuangnya, aku pasti akan sangat sedih.”

Gabriel dengan sengaja memalsukan suara sedih, lalu dia mengangguk dan mengatakan,

“Orang tingkat pertama yang di sana itu tahu nomorku, hubungi saja dia. Ah, dan anggap ini sebagai ganti rugi.”

Gabriel menepukkan tangannya.

Maou dan Acies langsung meningkatkan kewaspadaan mereka, tapi di saat yang sama, sebuah sinar redup membentang dari bawah kaki Gabriel hingga mencapai lantai atap, dan ketika menyelimuti seluruh gedung sekolah, cahaya tersebut seketika menghilang.

“Karena akan sangat tidak biasa jika aku menghilangkan dampak yang disebabkan oleh badai ini, maka bagian itu akan aku biarkan, tapi aku sudah menghapus ingatan satu jam ke belakang milik semua orang yang terkunci di sekolah ini, jadi biarkan aku pergi kali ini.”

“.....”

Maou memandang area di sebelah kakinya, dan juga ke arah Chiho dan Suzuno yang ada di belakangnya.

“Kau bilang kali ini..... Itu artinya akan ada pertempuran balasan nanti?”

“Ya, selama kau bersedia.”

“Jika memungkinkan, aku ingin terbebas dari pertempuran itu.”

“Meskipun aku bilang kalau Pahlawan Emilia sekarang ada di tangan kami?”

“.....”

Dalam beberapa artian, hal itu sudah diperkirakan.

Gabriel dan kawanannya yang selalu bertindak di balik bayangan hingga saat ini, hanya ada satu alasan kenapa mereka menggunakan strategi yang sudah mendekati tindakan barbar ini, yaitu, mereka tahu kalau Pahlawan Emilia yang mereka anggap sebagai ancaman, sekarang tidak ada di Jepang.

Tapi mendengar Gabriel mengatakannya sendiri, Maou secara refleks menunjukan wajah dingin.

“Ekspresi yang bagus. Itu tidak terlihat seperti ekspresi yang akan ditunjukan oleh seorang Raja Iblis.”

Kali ini, Gabriel menunjukan senyum bahagia yang tak terduga untuk pertama kalinya.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Raja Iblis Satan, sang Bencana baru.”


XxxxX


Usai meninggalkan pernyataan kalau Emi ada di tangan mereka, Gabriel pun kembali bersama Kamael, Tentara Surga, dan Libicocco yang sudah menyebabkan banyak masalah di SMA Sasahata.

Mereka mungkin tidak kembali ke Surga, melainkan ke Ente Isla.

"Bangsat!!"

Maou memukul ke arah langit di mana angin dan hujan sudah berhenti.

Sekarang sudah hampir jam 2 siang. Harusnya, sekarang adalah saat-saat di mana Maou mendapatkan SIMnya dan pulang menaiki bus dengan semangat tinggi.

"Bagaimana kalian akan membayar biaya ujian ulangku??"

Setelah mengangkat tinjunya ke udara dan memprotes, Maou tiba-tiba menyadari satu hal.

Tubuhnya kembali ke wujud normal.

Kembali ke wujud Maou Sadao.

Maou memandang ke arah Acies dengan kaget, dan Acies, sama seperti dirinya, saat ini juga sedang berteriak ke arah langit tempat Gabriel menghilang.

".... Yang benar saja, apa yang sebenarnya terjadi??"

Terlepas dari semua itu, mereka harus lebih dulu merawat Urushihara dan Suzuno.

"Chi-chan, apa kau baik-baik saja?"

"Ah....."

Ketika di tanyai oleh Maou, Chiho pun mulai memeriksa tubuhnya,

Tidak hanya seragam, bahkan noda darah gelap juga ada di wajah dan tangannya, membuatnya terlihat mengesankan.

"... Aku baik-baik saja."

Chiho mengangguk tegas, tapi segera setelahnya, dia langsung berkaca-kaca dan mengatakan,

".... Ini semua... darah Suzuno-san. Untuk melindungiku...."

".... Begitu ya."

"Uh.... Ah."

Mungkin karena kesadarannya menjadi kabur, Suzuno merintih saat dia berbaring di lantai.

"A-aku akan kembali ke kelas untuk mengambil Holy Vitamin Beta! Selama ada sihir suci, itu pasti bisa memulihkan Suzuno-san!"

"Tu-tunggu Chi-chan! Jangan kembali ke kelas dengan penampilan seperti itu!!"

Maou dengan panik menghentikan Chiho, yang ingin kembali ke kelas dengan berlumuran darah.

".... Pokoknya, ayo kita kembali ke apartemen lebih dulu. Acies!"

"Jangan lari! Kembali!! Bertarunglah denganku, dasar bodoh!!"

"Acies!!"

"Malaikat sialan! Di hari ketika kita bertemu selanjutnya, akan jadi hari kematianmu! Bersihkan lehermu dan tunggulah!! Bangsat!!"

"Acies!!"

"Eh?"

Setelah berhasil mendapatkan perhatian dari Acies yang tanpa lelah terus berteriak, Maou dengan letih bertanya,

"Bisakah kau membawa semua orang ini dan kembali ke apartemen yang tadi?"

"Satu, dua, tiga... Yeah tidak masalah."

Tidak diketahui apa memang perlu menghitung mereka satu persatu, tapi Acies mengangguk menanggapinya,

"Maou-san.... Orang ini...."

Chiho yang menyadari keberadaan Acies untuk yang pertama kalinya, bertanya,

"Tunggu Chi-chan!! Kita harus membawa Suzuno dan Urushihara pulang lebih dulu. Chi-chan juga bisa ikut. Kita bisa bicara soal rinciannya nanti. Dan masih ada masalah mengenai Emi."

"Uh!"

Chiho menahan napasnya.

Chiho seharusnya sudah mendengar apa yang Gabriel katakan sebelumnya, tapi dia mungkin baru mengingatnya sekarang.

"Lalu Maou-san, apa kau berencana menyelamatkan Yusa-san...."

"Termasuk masalah ini, pokoknya, kita bicarakan setelah kita pulang. Acies!!"

"Kau benar-benar merepotkan!! Kalau begitu, akan kuantar kau ke sana!!"

Acies yang menjawab instruksi Maou dengan sebuah acungan jempol, menepukkan tangannya pelan,

"Wah!!"

"Uu....."

"Ugh!"

Chiho, Suzuno, dan Urushihara, masing-masing mengeluarkan suara tekejut saat mereka melayang,

Akhirnya ketika Maou dan Acies juga melayang di udara....

"Berusahalah untuk tidak terlalu menarik perhatian, dan terbanglah pelan-pelan!!"

"Kau benar-benar punya banyak permintaan. Tapi akan kulakukan yang terbaik, bagaimanapun, kau itu pria yang kulayani sebelumnya."

"..... Oi!!"

Setelah Maou tahu kalau Chiho sedang memperhatikan kondisi Suzuno di belakangnya, dia diam-diam menghela napas lega.

Meskipun gadis itu benar, dalam situasi normal, kata-kata itu mungkin bisa menyebabkan kesalahpahaman yang tidak bisa diluruskan dan menjadikan Maou korban pedang suci Emi.

"Ahahaha, ekspresimu sangat menarik. Kalau begitu, kita berangkat!!"

Dengan komando dari Acies, kelima orang itu perlahan meninggalkan atap SMA Sasahata dan terbang menuju langit yang mana hujannya sudah mereda.

Dalam perjalanan pulang, Chiho terus membantu Suzuno dan Urushihara untuk membersihkan air hujan dari wajah mereka, dan mengajak mereka berbicara.

"Kita akan segera sampai, bertahanlah sedikit lagi. Saat kita sampai di apartemen, kita bisa masuk ke kamar Suzuno-san dan mendapatkan Holy Vitamin Beta."

Ketika Chiho menjalani latihan, Maou pernah melihat botol kecil berisi minuman nutrisi itu berkali-kali sebelumnya.

Katanya ada banyak persediaan di kamar Suzuno.

Selama mereka punya benda itu, mereka pasti bisa memulihkan kekuatan fisik Suzuno dan Urushihara, karena itulah saat ini, mereka setidaknya harus bisa memastikan kalau Suzuno dan Urushihara tidak sedang menghadapi bahaya yang mengancam nyawa.

Maou melirik ke arah Chiho dan yang lainnya, dan memikirkan petunjuknya yang lain,

Ketika mereka sampai di apartemen, dia harus bisa memperoleh informasi sebanyak mungkin dari Acies dan Nord, serta mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi sekarang.

Namun, tidak peduli berapa banyak informasi yang dia dapatkan, pada akhirnya, mereka tetap harus....

"Kembali.... Ke dunia itu ya??"

Benua Basilica, dulu, Maou tinggal satu langkah lagi sebelum berhasil sepenuhnya menaklukan dunia manusia, Ente Isla.

"Rasanya, segala sesuatu pasti selalu berubah-ubah ya."

Maou menggumam pelan saat melihat kemacetan jalan raya nasional, ini adalah penyesalan yang tidak pernah dia katakan pada Ashiya sebelumnya.

Maou selalu punya suatu pemikiran dalam otaknya, sebagai penakluk dunia manusia dan pemimpin para iblis, apa tidak masalah baginya untuk hidup santai di Jepang dengan kekalahan sebagai alasannya meski dia belum memenuhi semua tanggung jawabnya sebagai Raja Iblis?

Mempelajari semua yang bisa dia pelajari di dunia ini dan membawanya kembali ke Dunia Iblis, ambisi Maou ini bukanlah sebuah kepalsuan.

Tapi sebelum bergerak menuju tujuan itu, masih ada hal lain yang bisa dan harus dia selesaikan.

"Apapun alasannya, aku harus memikirkan cara untuk menambah jadwal kerja.... Karena aku tidak pernah menyangka kalau aku akan mengikuti ujian itu untuk yang ketiga kalinya, jadi aku tidak punya hari libur bulan ini, aku penasaran, apa ada orang yang mau bertukar shift denganku ya...."

Ini juga merupakan salah satu hal yang harus dia pikirkan.

Mungkin karena mereka kebetulan melintasi langit di atas stasiun Hatagaya, pikiran Maou pun tanpa sadar teralih dari tujuan awalnya, lantas, Maou pun kembali menata pikirannya,

"Dengan kekuatanku sendiri, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Aku yang sekarang...."

Termasuk Chiho, Suzuno, dan Urushihara.

".....butuh kekuatan semua orang."


XxxxX


"Ah, kalian pulang. Hey~"

Sebuah suara yang familiar, terdengar dari bawah.

Maou dan Chiho yang melihat ke bawah, terkejut setelah melihat orang yang menjulurkan kepalanya dari Kastil Iblis dan melambai ke arah mereka.

"Amane-san?"

"Eh?"

Itu adalah orang yang menjadi bos mereka di rumah pantai yang ada di Choshi.

Karena dia adalah keponakan pemilik Villa Rosa Sasazuka, Shiba Miki, sama sekali tidak aneh kalau dia tahu alamat apartemen ini.

Tapi masalahnya adalah, sebelum ini, seperti yang dilakukan oleh Gabriel dan kawanannya tadi, wanita ini pernah menyebabkan sebuah kejadian supranatural di pantai Choshi, dan menghilang tanpa jejak.

"Sepertinya petunjuk tak terduga lain juga ikut muncul?"

Maou berbicara pada dirinya sendiri, tapi kebenaran yang memperlihatkan wujudnya pada Maou beberapa menit kemudian, membuatnya mengerti betapa naif pemikirannya saat ini.

"Gah...."

Maou tiba-tiba merasa lemas, membuat Urushihara kehilangan penyangganya, dan meluncur jatuh di koridor.

Namun, entah itu Maou ataupun Chiho yang menopang Suzuno di bahunya, tak ada seorangpun yang punya sisa energi untuk membantu Urushihara.

Keberadaan Ashiya dan Nord tidak bisa ditemukan di Kastil Iblis, dan yang menggantikan mereka, adalah Rika yang dipenuhi luka gores dan memakai baju Maou yang diambil tanpa seizinnya, dia saat ini tertidur pulas seperti sedang pingsan.

"Amane, san...."

Maou tahu kalau suaranya terdengar gemetar.

"Yeah."

"Ashiya.... dan paman yang ada di sini....."

"Mereka ditangkap oleh sekumpulan orang aneh di depanku."

Amane dengan tenang membantu Urushihara yang berbaring di koridor, dia kemudian bangkit dan langsung menjawabnya.

"Di-ditangkap?? A-ashiya-san??"

Chiho hanya bisa mengulangi kata-kata Amane dan tidak bisa berpikir jernih.

"Aku hanya bisa melindungi wanita ini."

Amane, dengan nada yang bahkan lebih dingin, menunjuk Rika yang ada di lantai, dan mencari tempat untuk Urushihara berbaring.

"Yang menculik mereka adalah sekumpulan prajurit beramor aneh dan pria besar bernama Gabriel."

"....!!"

Maou dan Chiho tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Sepertinya kalian tahu mengenai hal ini."

Meskipun mereka tahu, mereka sama sekali tidak mengerti.

Karena Gabriel selalu mencari fragmen Yesod dan pedang suci, memang bisa dipahami kenapa dia menculik anggota keluarga Emi.

Tapi kenapa dia juga menangkap Ashiya?

Maou yang tidak bisa memahami situasi, dan Chiho yang tidak tahu apa yang terjadi di Pusat Ujian, menjadi semakin bingung karena masalah ini.

Setelah melihat reaksi mereka berdua, Amane mengangguk dan perlahan bangkit, dia lalu memberikan sebuah dokumen yang diletakkan di sebelah baju yang sudah ditata rapi oleh Ashiya, kepada Maou.

"Ini....."

"Aku memang tidak bisa membaca tulisan yang ada di sana, tapi sepertinya itu peta dari suatu tempat."

"Ini tulisan tangan Ashiya.... dan ini ditulis dengan menggunakan bahasa Pusat Perdagangan...."

"Dan Chiho-chan, kupikir sebaiknya kau merawat Suzuno-chan dulu. Kau juga basah kuyup, jika terus begini, kau bisa mati terserang flu, kau tahu?"

Amane memberi saran pada Chiho yang awalnya mencoba melihat dokumen yang ada di tangan Maou dari samping.

"B-benar juga, Suzuno-san, aku akan masuk ke kamarmu!"

Usai kembali tersadar, Chiho sepertinya memutuskan untuk mulai melakukan apa yang bisa dia lakukan lebih dulu.

Chiho yang memperlihatkan ekspresi lebih bersemangat, membawa Suzuno ke kamarnya yang tak terkunci.

"Wah!! Ke-kenapa sangat berantakan.... Suzu, Suzuno-san, tolong duduk di sini sebentar."

Maou mendengarkan suara panik Chiho di kamar 202, sambil perlahan mencoba memahami dokumen yang Ashiya tinggalkan, sekaligus isi yang tercatat di dalamnya.

".... Ini adalah peta Benua Timur. Kota, fasilitas transportasi, wilayah di mana benua lain memiliki pengaruh besar, pergerakan berbagai negara di pegunungan utama di mana Afashan memulai perang sipil, dan bahkan markas militer rahasia.... kenapa dia menulis semua ini...."

Maou tahu kalau Ashiya menulis banyak hal belakangan ini, tapi dia tidak pernah menyangka kalau Ashiya ternyata mencatat semua informasi ini.

Sebelum Maou bisa mengira-ngira apa yang Ashiya pikirkan ketika meninggalkan dokumen-dokumen ini....

"Dan juga, Ashiya-kun memintaku untuk menyampaikan sebuah pesan padamu."

"Pesan?"

Amane membuka mulutnya dan berbicara,

"Dia hanya memintaku untuk memberitahumu kalau 'dia menunggumu di Museum Nasional Seni Barat'. Meskipun aku tidak paham apa maksudnya."

"Museum Nasional Seni Barat.... Tempat itu ada di Ueno, tempat di mana Ashiya terkadang melakukan penyelidikan...."

Maou ingat ketika mereka pertama kali datang ke Jepang, mereka pernah pergi ke museum di Ueno untuk mencari informasi tentang sihir di bumi, dan melihat-lihat artefak yang berasal dari berbagai tempat di seluruh dunia.

"Apa itu peta dari duniamu?"

"Uh, itu....."

Ditambah lagi, Amane bukan hanya orang misterius biasa, ketika mereka pertama kali bertemu di Choshi, karena alasan yang tak diketahui, dia sepertinya sudah tahu dari awal kalau Maou dan Suzuno bukanlah manusia dari bumi.

Itu artinya, bibinya alias pemilik apartemen ini, Shiba Miki, juga sama.

Mungkin karena merasakan kecurigaan Maou, Amane menggelengkan kepalanya dan mengatakan,

"Sudah kubilang sebelumnya kan? Hal-hal yang tidak dikatakan oleh bibi Mi-chan kepadamu, aku juga tidak bisa mengatakannya. Itulah aturannya."

"Ugh..."

Saat Maou merasa depresi dengan sikap dingin Amane, Rika yang sedang berbaring, tiba-tiba mengerang dan menggerakkan tubuhnya.

Maou pikir Rika akan segera bangun, tapi segera setelahnya, Rika kembali tenang.

Dari hal itu, setidaknya sekarang Rika terlihat lebih seperti tidur daripada sedang pingsan, hal ini sedikit membuat Maou lega, tapi....

".... Ashiya.... San..."

"Apa dia mengigau?"

"...... Tolong.... Ashiya-san.... Tolong aku."

"Sepertinya dia mengalami trauma yang serius, bagaimanapun, dia adalah gadis normal. Meskipun Ashiya-kun dan yang lainnya sudah berusaha sebaik mungkin untuk melindunginya."

Benar, saat ini Emi dan Alas Ramus ada di Ente Isla.

Begitupun Ashiya dan ayah Emi.

Ente Isla, tempat di mana Maou dan yang lainnya seharusnya berada.

Tapi saat ini, tempat itu adalah kawasan musuh. Meski begitu, siapa yang sebaiknya bertanggung jawab menyelamatkan mereka??

Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka?

Apa yang bisa dilakukan untuk pergi ke Ente Isla?

Maou tidak bisa menggunakan kekuatannya sendiri, sementara kekuatan Acies masih belum diketahui. Mantra pembuka 'gate' milik Maou, adalah mantra yang menggunakan sihir iblis, meskipun tipe kekuatan lain bisa digunakan sebagai sumber untuk mengaktifkan mantra, kestabilan aktivasi mantranya sama sekali tidak bisa dijamin.

Lalu, sekarang, siapa yang bisa membuka 'gate'?

Suzuno pernah bilang, selama dia punya penguat yang sesuai, dia pasti bisa menggunakan mantra pembuka 'gate'.

Ashiya bilang kalau dia ingin Maou menunggu di Museum Nasional Seni Barat.

"Gate.... Benar, itu gatenya!! Hey, Suzuno!!"

Maou tiba-tiba mendongak, berlari keluar dari Kastil Iblis dan menggedor-gedor pintu kamar Suzuno.

"Tu-tunggu, Maou-san.... Ja-jangan sekarang!!"

Meski suara panik Chiho terdengar dari dalam, Maou tetap mengabaikannya dan membuka pintu....

"Kau...."

"Ah...."

"Maou-san!!"

Ketika dia melangkah masuk ke dalam kamar, wajah Maou tiba-tiba diserang oleh sepotong kain berpola aneh.

"Bukankah sudah kubilang tidak??"

Chiho berteriak protes.

Sebelum pandangannya dihalangi oleh kain tersebut, di bawah cahaya yang redup, Maou bisa melihat Chiho yang sedang membantu membersihkan darah pada luka Suzuno dan memberinya Holy Vitamin Beta....

"Raja.... Iblis.... K-kau....."

Sementara Suzuno, dia membuka bagian atas kimononya sehingga Chiho bisa membersihkan bahunya.

"Oh, ah, ma-maaf!! Tapi dengarkan aku, ini penting, uwah!!"

"Baiklah, Maou-san, cepat keluar!!"

"Geh!!"

Kali ini, sebuah benda berat menghantam dahi Maou di atas kain tadi, dan membuat kepalanya miring ke belakang.

Maou pun terjatuh, tapi untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan barusan, Maou tetap bangkit bahkan tanpa menyingkirkan kain yang menutupi wajahnya.

"Maou-san!! Aku benar-benar akan marah ini!!"

"Sepertinya kau.... benar-benar.... ingin mati... Ugh!!"

Melalui kain tersebut, Maou bisa mendengar suara Chiho dan Suzuno yang penuh dengan aura membunuh meskipun dia sedang terluka.

"Ah, hey Maou! Meski tubuh dan pikiran kita sudah terhubung, kau masih berani melihat tubuh telanjang wanita lain?"

Meskipun melalui kain yang tebal, Maou masih bisa merasakan aura membunuh dari Chiho dan Suzuno yang menjadi semakin kuat, karena kalimat yang Acies katakan tanpa membaca suasana.

"Uh, aku harus menelepon polisi.... Eh, Urushihara-kun, apa kau tidak punya telepon di kamar ini?"

"Aku mungkin terlihat seperti ini, tapi aku ini benar-benar terluka cukup parah...."

Setelah mendengar obrolan menyedihkan antara Amane dan Urushihara, Maou yang akhirnya sadar kalau dia sudah bertindak sembrono, menarik Acies keluar dari kamar dan memulai obrolan dengan Suzuno melewati pintu yang tertutup.

Hal pertama yang Maou lihat setelah menyingkirkan kain tadi, adalah sebuah kamus yang barusan dilempar ke arahnya.

"He-hey, Suzuno!!"

".....huh??"

Karena alasan yang tak diketahui, meski suara Suzuno terdengar pelan dan lemah, suara itu masih mengandung aura membunuh yang cukup kuat membuat Maou, si Raja Iblis merinding.

"K-kau bisa memukulku sesukamu nanti, tapi dengarkan aku dulu."

"Eh, jadi Maou punya hobi seperti itu??"

"Acies, berisik!! Po-pokoknya, Suzuno! Sebelumnya kau pernah bilang selama kau punya penguat, kau bisa membuka 'gate' kan?"

".... Yeah."

Setelah mendengar suara rendah Suzuno, mata Maou seketika berbinar, dan dia langsung mengatakan,

"Aku menemukannya!! Di Museum Nasional Seni Barat di Ueno, ada sebuah penguat yang bisa kau gunakan."

".... Ueno? Penguat mantra??"

Suara Chiho yang terdengar seperti tidak paham apa yang Maou katakan,  terdengar dari dalam kamar.

Sementara Suzuno, dia akhirnya mendapatkan kembali ketenangannya, mengernyit, dan menjawab,

"B-biar kukatakan hal ini lebih dulu.... ugh....."

"Suzuno-san!!"

"A-aku baik-baik saja.... Raja Iblis, 'Tangga Surga' yang telah mengumpulkan kepercayaan dari masyarakat selama bertahun-tahun, dan patung-patung kuil yang berasal dari Kitab Suci sebagai dasarnya, adalah bangunan di mana makna mantra diimplementasikan pada mereka sebanyak mungkin, bahkan di antara banyak penguat mantra, mereka bisa dibilang sebagai objek yang memiliki skala mantra terbesar. Meski aku merasa tidak enak mengatakan hal ini, tapi menurutku tidak ada benda di sini yang memiliki latar belakang sejarah tingkat tinggi dalam segi ritual mantra dan kepercayaan seperti itu...."

"Ada, ada satu!! Dan itu adalah tempat yang bisa dimasuki tanpa membayar biaya apapun."

Ucap Maou sambil menekankan sebuah ciri-ciri yang terasa aneh.

"Itu adalah 'Gates of Hell'."

Bahkan di saat seperti ini, Suzuno dan Chiho masih sempat saling menatap satu sama lain karena sangat jarang mereka mendengar Maou mengatakan sesuatu yang terasa seperti Raja Iblis betulan.

Dan kali ini, dengan penuh percaya diri, Maou terus berbicara,

"Bukankah kau sudah pernah melihatnya, Chi-chan? Itu adalah patung perunggu besar yang diletakkan di luar area lobi Museum Nasional Seni Barat Ueno!"

Chiho memeras handuk basahnya sambil mencoba untuk mengingat-ingat.

".... Kurasa, aku memang pernah melihatnya saat darmawisata sekolah.... Apa itu tempat yang ada patung 'The Thinker' duduk di pintunya....?"

"Benar, yang itu!!"

(T/N : 'Tangga Surga' suatu tempat di Ente Isla. Gates of Hell, The Thinker, ini benar-benar ada di musuem Ueno.)

Maou menepuk tangannya dengan puas.

'Inferno' dari 'Divine Comedy'.

Ini adalah sebuah syair yang bercerita tentang karakter utama Dante, yang juga merupakan si pengarang, saat dia berjalan mengelilingi Neraka dipandu oleh seorang penyair abad pertengahan. Neraka disitu bukanlah lautan penderitaan di mana para pendosa masuk ke dalamnya karena dosa yang sudah mereka lakukan ketika mereka hidup, melainkan dilihat sebagai sebuah dunia yang diciptakan oleh dewa-dewa suci.

'Gates of Hell' yang berada di Museum Nasional Seni Barat, adalah karya yang diciptakan oleh Auguste Rodin, orang yang dikenal sebagai leluhur pemahat era baru.

Termasuk 'Gates of Hell' di Museum Nasional Seni Barat, ada tujuh patung yang sama di seluruh dunia, dan masing-masing dari mereka memiliki kisah-kisah yang cukup untuk mewariskan pemikiran, kepercayaan, dan sejarah orang-orang.

"Pintu masuk ke dunia lain, secara global dikenal dalam syair tua 'Divine Comedy', itu adalah simbol 'Gates of Hell'!"

"La-lalu......."

"Mungkin.... Itu pantas untuk dicoba."

"Yeah, 'gate' pasti bisa dibuka menggunakan benda itu!! Hey, Suzuno, Urushihara, cepat sembuhkan luka-lukamu!!"

Maou mengucapkan sesuatu yang tak bertanggung jawab dan berdiri setelah menyingkirkan kain dari kepalanya.


"Kita akan pergi menyelamatkan Ashiya, Nord, dan Alas Ramus..... sekaligus Emi!!!"


---End---





Translator : Zhi End Translation..

Previous
Next Post »
0 Komentar