Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Final Chapter Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Final Chapter : Pahlawan, Air Mata



Final Chapter : Pahlawan, Air Mata.

Hari ini, sudah dua minggu semenjak dia dibawa ke sangkar yang dikenal dengan nama ruang VIP ini.

Emi memandang lautan luas yang terhampar di luar jendela dan mendesah pelan.

Memang tak ada bahaya, tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?

“Mama.”

“.... Alas Ramus, kalau kau terlalu semangat bermain, kau bisa jatuh dari ranjang.”

Emi menenangkan Alas Ramus yang menganggap ranjangnya seperti sebuah trampolin.

Tidak peduli bagaimanapun orang melihatnya, tangan dan kaki Emi sama sekali tidak ditahan, Alas Ramus dan dirinya juga tidak nampak seperti dilukai oleh seseorang.

Apalagi, bahkan jendela yang ada di hadapannya, hanyalah jendela kaca biasa (meskipun di tempat ini, kaca sudah termasuk sebuah komoditas mahal), bahkan jika dia tidak mengeluarkan pedang sucinya, Emi bisa saja memecahkannya dengan meja yang ada di kamar, selain itu, bahkan kunci pintu kamar pun ada di tangan Emi.

“.... Semuanya, pasti sangat khawatir.”

Emi memandang sebuah pelabuhan militer bernama Fangan.

Tempat ini adalah markas angkatan laut yang berada di ujung selatan Benua Timur, dan sebagian dari pelabuhan ini juga digunakan sebagai pelabuhan perdagangan, selain itu, ada pula sebuah kota besar di belakang markas.

Pelabuhan ini adalah pelabuhan yang paling dekat dengan ibu kota Afashan, 'City of Air', meskipun pada awalnya tempat ini hanya sebuah desa nelayan, karena ini merupakan tempat kelahiran pemimpin Afashan, yaitu Unifying Azure Emperor, desa ini pun menjadi sebuah kota besar setelah pembangunan beberapa generasi.

Emi sebelumnya pernah datang ke tempat ini saat perjalanannya memerangi Raja Iblis, jadi dia lumayan mengerti tentang geografi kota.

Benua Timur adalah wilayah terakhir yang masih ditaklukan oleh Empat Raja dari Pasukan Raja Iblis, dan ditambah fakta bahwa Afashan awalnya menerapkan kebijakan hirearki, dibandingkan kota-kota besar yang ada di Benua Barat ataupun kota berbagai bangsa yang ada di Benua Selatan, Benua timur terlihat sedikit kekurangan kegiatan jika dilihat dari skalanya saja.

Mungkin karena efek psikologi, pemandangan jalan yang terlihat dari sini, terlihat lebih suram dibandingkan saat terakhir kali Emi datang.

“Chiho, Bell.... maafkan aku.... aku tidak bisa menepati janjiku.”

Emi menggumam pelan ke arah langit Ente Isla, dalam dua minggu ini, Emi sudah berulang kali berbicara pada dirinya sendiri seperti ini.

Jika dia bisa mengatakannya langsung pada mereka, bukankah itu akan lebih baik?

Semenjak hari pertama dia kembali ke Ente Isla, Emi tahu kalau sihir suci yang memenuhi tubuhnya sudah jauh melebihi tingkatan saat dia berada di Jepang.

Jika itu Emi yang sekarang, mungkin dia bisa seperti Chiho dan menggunakan mantra Idea Link tanpa bergantung pada penguat.

Akan tetapi....

“....”

Emi dengan kesal menutup telinganya, dan setelah Alas Ramus mendengar suara itu, dia juga menunjukan ekspresi tidak senang.

“Prajurit Afashan yang berani dan setia! Mengumumkan hasil pertempuran laut yang terjadi di pulau barat daya.....”

Emi yakin kalau itu pasti pengumuman untuk meningkatkan moral para prajurit, saat menggunakan pelabuhan militer Fangan untuk pertempuran laut.

Dunia ini memang tidak memiliki alat penyiaran elektronik seperti di bumi, jadi pasti ada suatu prinsip sihir di baliknya, tapi dari hasilnya, efeknya sudah sama seperti loudspeaker.

Tempat ini tidak hanya menggunakan alat-alat sihir skala besar, lagipula ini masihlah fasilitas militer, jadi pasti ada sonar yang terpasang di berbagai tempat untuk mengukur penggunaan sihir suci di dalam pelabuhan.

Jika Emi menggunakan Idea Link ke dunia lain tanpa penguat, mungkin kebebasan kecil yang dimilikinya ini bahkan akan ikut terenggut.

Tak masalah kalau hanya dia sendiri, tapi bagaimana bisa dia membiarkan Alas Ramus mengalami sesuatu seperti dilempar ke dalam penjara bawah tanah?

Tentunya, sebelum itu, ada masalah lain, yaitu HP Emi telah disita.

Dengan alasan ini, Emi tidak bisa bertindak gegabah.

Emi memang merasa menyesal ketika dia memikirkan hal-hal yang telah terjadi usai dia sampai ke Fangan, tapi bagi orang-orang di sini, menyita sebuah Slimphone yang sama sekali tidak terlihat seperti senjata itu, seharusnya tak ada artinya.

Karena Emi bukan seorang ahli sihir, jika dia tidak memiliki HP yang akan berfungsi sebagai penguat, Emi tidak percaya diri bisa menggunakan Idea Link pada seseorang tertentu di Jepang.

Kecuali untuk satu pengecualian.

“.... Aku penasaran... apa Rika baik-baik saja?”

Emi teringat wajah temannya yang ada di Jepang, satu-satunya orang yang bisa dia hubungi di situasi ini.

Bagi Chiho, meskipun dia tidak memegang apa-apa, dia masih bisa mengunci tempat transmisi Idea Link melalui nomor HP orang tersebut.

Emi yang pernah melihat hal ini sebelumnya, hanya mengingat nomor HP milik satu orang di Jepang, jadi pada akhirnya, dia hanya bisa mengunci transmisi secara akurat pada nomor HP orang itu ---pada nomor HP Rika untuk menggunakan Idea Link.

Alasan kenapa Emi mengingat nomor HP Rika, adalah karena saat dia baru membeli HP dan tidak tahu cara menggunakan fitur buku telepon, dia harus mengetik nomor Rika sambil melihat buku telepon para karyawan.

Karena dia harus waspada terhadap sonar pengukur sihir suci, Emi hanya bisa melakukan transmisi ketika pelabuhan militer memulai pengumumannya.

Isi dari pengumuman militer tersebut sangatlah beragam, selain hasil pertempuran laut, mereka juga melaporkan cuaca di laut dan pergerakan orang-orang terkenal di ibukota, meskipun Emi punya lebih banyak waktu untuk berbicara selama pengumuman itu masih ada....

“.... Rika....”

Tapi sekarang, Emi sangat menyesali kenyataan bahwa dia sudah menghubungi Rika.

Rika tidak tahu apapun soal Emi dan yang lainnya.

Karena tanggal terakhir Emi menghubungi Maou dan yang lainnya berbeda dengan tanggal saat dia menghubungi Rika, saat kedua pihak berkomunikasi, Maou dan Suzuno mungkin akan menyadari perbedaan kondisi ini.

Tergantung pada situasinya, hal ini bisa saja menyeret Rika masuk ke dalam masalah Ente Isla, hanya sampai Emi menyelesaikan panggilan keduanyalah dia baru memikirkan kemungkinan ini.

Jika Rika benar-benar menemui bahaya karena hal ini, bagaimana caranya Emi harus meminta maaf pada Rika?

“Aku selalu berbohong padanya, ini pasti balasan....”

“Mama.... apa kau baik-baik saja?”

Tanpa disadarinya, Alas Ramus sudah ada di sebelah kaki Emi dan menatapnya dengan cemas.

“Alas Ramus.”

“Orh.”

“.... Jangan berbohong pada temanmu saat besar nanti ya.”

“Bohong?”

Sepertinya di pikiran Alas Ramus, tidak ada konsep berbohong.

Meskipun gadis kecil itu memiringkan kepalanya dengan bingung, Emi tetap tidak menjelaskannya lebih jauh dan memilih mengalihkan pandangannya kembali ke laut berbadai yang ada jauh di luar sana.

“....Terus, meski Rika dan Raja Iblis serta kawanannya berkomunikasi... apa yang mungkin bisa terjadi?”

Urushihara mungkin tidak akan tertarik, sementara Ashiya, tidak akan aneh bahkan jika dia berteriak banzai.

Mengingat Alas Ramus ada bersama dengan Emi,  Maou mungkin akan merasa cemas sampai ke titik tertentu, tapi pada dasarnya dia takkan khawatir dengan Emi.

Lebih tepatnya, Emi tidak ingin Maou mengkhawatirkannya.

“Aku tidak ingin dia.....”

Kalau begitu, kenapa dia menggunakan Idea Link pada Rika dengan membawa ekspektasi tersebut?

“Uh!!”

Emi menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, menundukan kepala, dan menggertakkan giginya.

Karena jika dia tidak melakukan ini, rasanya pemikiran-pemikiran yang Emi anggap tak dapat dipercaya, malah akan terbentuk dan merembes keluar dari dalam dirinya.

Ini bukan lelucon. Bagaimana bisa dia membiarkan hal seperti itu terjadi?

“Aku tidak ingin.... dia menyelamatkanku....”

Bagaimana bisa dia membiarkan Raja Iblis, orang seperti itu, datang dan menyelamatkannya?

Lebih tepatnya, meskipun Maou pernah menyelamatkan Emi beberapa kali sebelumnya, pada dasarnya, dia bertindak karena alasan lain, dan menyelamatkan Emi hanyalah sebuah hasil tambahan.

“Mama, jangan khawatir.”

“Alas Ramus....”

“Papa, pasti akan datang.”

“.....”

Emi tidak menjelaskan situasinya pada Alas Ramus secara detail.

Emi tidak yakin kalau gadis kecil ini bisa mengerti, dan pada kenyataannya, Alas Ramus nampak menganggap ini sebagai semacam wisata dan bermain dengan gembira.

Meski begitu, Alas Ramus tetap menunjuk titik paling lemah di hati Emi.

“.... Dengarkan aku, Alas Ramus. Papa itu.... sangat sibuk bekerja. Jadi, masalah mama, mama harus menanganinya sendiri. Bagaimanapun, aku ini Pahlawan.”

“Pahlawan?”

“Ya, jadi....”

“Apa seseorang bilang, kau tidak bisa melakukan ini?”

“....”

Anak-anak terkadang memang sangat menakutkan.

“Itu.... benar, tapi.... yeah.”

Emi menghindari pertanyaan polos dari gadis kecil yang mengaggap dia seperti ibunya ini.

“Tapi bahkan jika seseorang datang, aku harap orang yang datang itu adalah Suzuno onee-chan atau Emerada onee-chan.”

“Aku ingin bertemu, Suzu nee-chan. Juga Chi nee-chan, Alsiel, dan Lucifer.”

“.... Yeah, benar.... kau merindukan mereka kan?”

“Pwah!”

Emi mengangkat Alas Ramus, dan dengan kekuatan yang cukup untuk membuat Alas Ramus memberontak, Emi memeluk tubuh kecil itu dengan erat.

Angin laut Ente Isla yang sangat ingin dia datangi, kini malah menyiksa hati Emi.

Kali ini, karena mendengar suara ketukan pintu, Emi pun dengan panik meletakkan Alas Ramus di atas ranjang.

“Ini tidak akan lama, maafkan aku.”

Emi melepaskan wujud manusia Alas Ramus, dan membuatnya kembali bergabung dengan dirinya.

Emi tidak ingin gadis kecil ini melihat sikapnya ketika berhadapan dengan orang yang akan memasuki kamarnya setelah ini.

Dia yang tidak sesuai dengan nama Pahlawan Pedang Suci, adalah orang yang telah dirusak oleh emosi negatif.

Usai mengusap sudut matanya dan menghembuskan napas, Emi memperlihatkan sebuah tatapan tajam seperti ingin membunuh musuh yang ada di balik pintu ini.

“Masuk.”

“Permisi.”

Itu adalah suara yang mengundang rasa nostalgia.

Bagi Emi, dulu itu adalah simbol ketentraman.

Tapi sekarang, yang tersisa hanyalah kebencian.

“.... Olba, ada apa?”

Orang yang masuk ke kamar Emi adalah salah satu dari enam uskup agung Gereja, rekan lama Emi dalam memerangi Raja Iblis, Olba Meyers.

Olba yang menggunakan Urushihara untuk menyebabkan masalah di Sasazuka Jepang, telah dikalahkan oleh Maou yang mendapatkan kembali wujud iblisnya, dan setelah itu, Emi tahu dari iblis bernama Camio yang datang ke Choshi, kalau Olba telah menggunakan suatu metode yang tak diketahui untuk kembali ke Ente Isla beberapa waktu kemudian.

Tapi ketika Emi sampai di Fangan dan melihat wajah Olba secara langsung, kebencian yang dia rasakan pada rekan lamanya ini begitu kuat, sampai-sampai bahkan Emi sendiri merasa kaget karena hatinya menyembunyikan emosi negatif sebesar ini.

“Aku datang ke sini untuk memberimu sesuatu. Jangan marah, aku akan segera pergi.”

“Benda yang kau berikan padaku, aku akan menyerahkannya pada pelayan yang bertanggung jawab mengurusku.”

“Hahaha, meski aku bisa mengerti kebencianmu terhadapku, tapi benda ini tidak bisa diserahkan begitu saja. Lagipula, bisa dikatakan kalau kau datang ke sini karena benda ini."

Kepala pelontos Olba nampak memiliki beberapa bekas luka yang berasal dari pertarungannya saat di Sasazuka.

Usai merogoh ke dalam jubah gerejanya, Olba mengambil sebuah kantong yang terlihat biasa.

“Agar kau bisa paham kalau kami juga akan menepati perjanjian kami, kupikir kau akan merasa lebih baik setelah melihat benda aslinya, jadi aku secara khusus membawakan sebuah sampel.”

Di tangan keriput Olba, dia memegang sebuah kantong yang terlihat cukup berat.

Ketika Emi melihat tali jerami yang digunakan untuk mengikat penutupnya, dan daun yang ada di dalam kantong kecil di sudut tas tersebut, Emi seketika membelalakkan matanya kaget.

Baik tali maupun daunnya, kedua benda itu telah melalui proses khusus, mereka adalah item yang digunakan untuk melindungi biji dari kelembaban, dan dipakai sebagai alat penghilang kelembaban saat menyimpan biji-bijian.

“Dari ekspresimu, sepertinya kau sudah tahu apa yang ada di dalamnya.”

Saat Emi melihat Olba tersenyum jahat dan bersiap mengendurkan tali tersebut, Emi pun berteriak keras,

“Tunggu! Jika kau membukanya di sini....!”

Pandangan Emi berulang kali beralih antara tas tersebut dan pemandangan di luar.

“Maafkan aku, jika aku menyerahkannya padamu dan membiarkanmu merawatnya dengan baik, maka semua ini akan percuma.”

Olba dengan cepat membuka tas tersebut dan memasukkan isinya ke dalam botol air yang ada di atas meja di depan pintu.

“Hentikan!”

Mengabaikan teriakan Emi, benda yang ada di dalam kantong, diikuti oleh suara gesekan yang kasar, mengambang di permukaan air berkadar garam tinggi yang hanya bisa ditemukan di area sekitar laut, dan setelah menyerap cukup air, benda itu tenggelam ke dasar botol

Benda-benda itu adalah biji gandum.

Emi menyaksikan biji-biji tersebut tenggelam ke dasar air dengan putus asa.

“Tenang, bukankah sudah kubilang kalau ini hanya sampel? Kami masih punya banyak persediaan. Dengan begini, kau pasti akan paham kalau kami sangat menghargai perjanjian di pihak kami kan?”

Olba dengan acuh tak acuh melempar kantong tersebut ke sebelah botol air dan berbicara pada Emi yang terdiam,

“Sudah kubilang sebelumnya, Emilia, selama kau patuh, aku pasti akan menyerahkan 'sandera' kepada para professional di Benua Barat. Tapi, kalau kau berani mencoba melakukan sesuatu, maka inilah akibatnya."

Olba melirik ke arah biji yang tenggelam di dasar botol air.

“Tahapnya sudah hampir selesai. Sebelum itu, kau sebaiknya mau berbicara dan mengumpulkan kekuatanmu.”

Tanpa menunggu jawaban dari Emi yang sedang putus asa, Olba langsung meninggalkan kamar.

Ketika dia tidak bisa lagi mendengar langkah kaki Olba, Emi pun berlutut di atas ranjang dengan lemas.

Biji gandum tenggelam di dasar botol air.

Meski itu adalah air minum, setelah berada di tanah yang berbeda atau terendam di dalam air berkadar garam tinggi, biji-biji gandum itu pasti takkan bisa digunakan lagi.

Inilah alasan terbesar kenapa Emi menyerah pada musuh dan ditahan di sini oleh kunci yang tak terlihat.

“Mama....”

Suara cemas Alas Ramus menggema di dalam kepala Emi.

Tapi Emi sudah tidak punya energi untuk menjawab gadis itu.

Pahlawan macam apa dia ini?

Dia hanyalah manusia lemah yang tidak bisa melawan balik meskipun diperlakukan seperti ini oleh orang lain.

“.... Seseorang.... selamatkan aku....”


Sebuah isak tangis lemah, seketika tertelan oleh suara ombak yang memasuki pelabuhan, dan tidak bisa didengar oleh siapapun kecuali Emi dan Alas Ramus.

Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 8 - Final Chapter Bahasa Indonesia


---End---





Translator : Zhi End Translation..

Previous
Next Post »
1 Komentar
avatar

Keren buanget bosss....lanjut

Balas