Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 10 - Chapter 1 (Part 2) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 10 - Chapter 1 : Raja Iblis, Kehilangan Pijakannya -2


Chapter 1 : Raja Iblis, Kehilangan Pijakannya.

Maou memperhatikan Suzuno dan Alberto pergi menunggangi kuda dari jendela, dia menggertakkan giginya dengan kekuatan yang cukup untuk merusak bingkai jendela di hadapannya.

Dia saat ini hanya akan menjadi beban bagi mereka, dan meninggalkan kelompok untuk sementara, adalah keputusan yang paling tepat.

Meskipun Maou dan Acies menunjukan kekuatan yang begitu hebat, kekuatan yang bukan sihir iblis maupun sihir suci selama pertarungan di Jepang, semenjak mereka datang ke Ente Isla, tidak hanya kekuatan misterius tersebut, Maou bahkan tidak bisa memulihkan sihir iblisnya. Dan ketika dia ingin menggunakan kekuatan Acies, tubuhnya langsung merasa tidak nyaman.

"Walau sekarang aku hanya bisa mundur, tetap berada di sini dan tidak melakukan apa-apa tentunya tak akan pernah menyelesaikan masalah."

Namun, Maou tidak bisa hanya diam beristirahat dan tidak peduli dengan keadaan saat ini. Jika mereka tidak bisa menemukan hal aneh yang terjadi pada tubuh Maou, itu tidak hanya akan berpengaruh pada operasi penyelamatan ini, tapi pasti juga akan membawa begitu banyak kekhawatiran ke depannya.

Jika masalah terjadi setelah mereka kembali ke Jepang nantinya, tak ada yang bisa menjamin kalau Maou bisa memulihkan kekuatan untuk menanganinya.

Tidak hanya kekuatan misterius yang sebelumnya digunakan untuk mengusir Kamael dan Libicocco, Maou bahkan tidak bisa memulihkan sihir iblisnya. Meski ini hanya sebuah deduksi, Maou sudah memikirkan beberapa alasannya.

Pertama adalah penggabungan dengan Acies. Itu adalah perbedaan yang paling jelas antara Maou yang dulu dan dia yang sekarang.

Dan perbedaan lainnya adalah tempat ini bukan Jepang (bumi).

Memang tak ada penyelesaian yang bisa diambil dengan mengetahui hal ini, tapi Maou terus berpikir.

"Kekuatan ini, kekuatan apa ini?"

Maou teringat kekuatan non-sihir iblis dan non-sihir suci yang dia gunakan dalam pertarungan di SMA Sasahata, dan gelombang kegelisahan serta penyesalan yang tak bisa dia hapus, membuat Maou sekali lagi memukul bingkai jendela di hadapannya.

Mungkin karena bereaksi terhadap suara itu, Acies yang tertidur tanpa rasa cemas seperti biasanya, menggumam dan mulai mengigau.

“... Onee-chan.... lihat..... itu Wagyu Hitam Jepang......”

“Aku tidak akan membiarkanmu memakan makanan semacam itu.”

Maou yang sedang berpikir dengan serius, setelah disela oleh igauan Acies yang penuh akan hasratnya, menghela napas dengan keras.

“Hey! Waktunya bangun, Acies?”

“Wahuh?”

Maou, dengan kekuatan penuh, memukul Acies dengan sebuah bantal untuk membangunkannya.

“Puahpua, menakutiku saja..... Ma-Maou, apa yang kau lakukan? Padahal aku sedang bermimpi indah memakan daging babi Iberian asap!”

“Apa kau benar-benar pernah memakan makanan itu sebelumnya? Aku tidak berpikir Nord akan membiarkanmu memakan makanan enak semacam itu!”

Maou mengabaikan perbedaan menu makanan antara Acies yang sedang tertidur dengan Acies yang sudah bangun, dan menariknya berdiri.

“Hey! Kita seharusnya pergi berlatih!”

“Eh? Berlatih.... bukankah kau sudah muntah cukup banyak?”

“Seorang gadis seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu dengan begitu gampangnya! Karena aku tidak ingin seperti itu lagi, kita akan berlatih untuk menemukan alasannya!”

Maou memang menunjukan sikap yang sangat proaktif terhadap Acies, tapi pada kenyataannya, selama dua hari sebelum sampai di penginapan ini, dia sudah berkali-kali muntah sehingga tidak aneh bagi Acies mengatakan hal seperti itu.

“Huuh~ Aku tak masalah jika kau ingin berlatih. Tapi seperti Maou, aku juga sangat lelah.”

“Hm?”

Usai melompat dari tempat tidurnya, Acies meregangkan tubuhnya dengan ekspresi tidak puas di wajahnya.

“Sama sepertimu, kondisi fisikku juga sedang tidak bagus. Terutama fakta bahwa aku sangat lapar. Mungkin karena kekuatan Maou bukan sihir suci, jadinya itu lebih sulit untuk diatur, aku benar-benar berharap kalau kau akan lebih perhatian terhadapku.”

Walaupun Maou merasa sulit mempercayai kenapa Acies, orang yang makan paling banyak, tidur paling banyak, dan paling menikmati perjalanan ini bisa berkata demikian, karena perubahan yang begitu besar telah terjadi padanya, maka tidaklah aneh sesuatu yang tidak normal juga terjadi pada Acies.

“.... Aku mengerti, maaf.”

Maou meminta maaf karena telah membangunkan Acies dengan didorong oleh rasa kekhawatirannya, dan dia berbicara dengan ekspresi rumit di wajahnya,

“Meski begitu, aku tidak bisa melakukan apa yang diminta Suzuno dan Alberto, dan diam di sini. Bolehkah aku bertanya padamu beberapa pertanyaan ketika kita sedang makan?”

“Hm? Ke mana Suzuno dan Alberto pergi?”

Acies yang baru menyadari kalau keduanya sudah tidak ada, melihat sekeliling.

“Mereka pergi lebih dulu dan meninggalkan kita. Tapi jika ini terus berlanjut, operasi ini pasti akan menjadi pertarungan yang berlarut-larut. Kau ingin cepat bertemu Alas Ramus, kan? Pinjamkan aku kekuatan dan kebijaksanaanmu. Jika tidak, meskipun kita ikut bergabung dalam pertarungan nanti, kita tidak akan bisa menjamin keselamatan satu sama lain, terutama karena aku akan dipecat dari tempat kerjaku.”

Maou hanya bisa berada di Ente Isla selama satu minggu.

Dan itu adalah jumlah cuti yang dia ajukan ke pekerjaannya.

Begitu waktu satu minggu itu terlampaui, maka cuti sementara akan menjadi absen tanpa alasan, dan jika sudah begitu, dia pasti akan kehilangan pekerjaannya di Jepang.

Bagi Maou, ini adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi.

“Eh? Jadi kita ditinggalkan dan diabaikan? Jahat sekali!”

“...... Huuh, pokoknya ayo kita makan dulu.”

Maou tidak mau repot-repot membantah Acies yang sedang marah, menarik tangannya, dan pergi menuju restoran di dekat penginapan.

“Dan lagi, aku ingin kau menjelaskan semuanya dari awal, kenapa kau dan Alas Ramus ingin bergabung dengan kami?”

“Siapa yang tahu? Ah, Maou, bantu aku membawa piring sayuran rebus itu!”

“Ugh....”

Maou ingin menanyakan sebuah pertanyaan penting, namun Acies mengabaikan pertanyaan tersebut dengan sikap yang lebih santai daripada saat ia menerima piring sayuran rebus.

“......Hey.”

Maou memperhatikan area di sekitar mulut Acies yang sedikit demi sedikit mulai kotor karena memakan hidangan sayuran rebus yang menyerupai labu dengan tampang kaku di wajahnya. Mungkin karena merasakan hal ini melalui sudut matanya, Acies juga mengernyit.

“Maou, jika kau pikir jawaban untuk semua hal bisa dengan mudah didapatkan, maka kau salah besar.”

“Huuuh?”

“Aku juga tidak tahu, alasan kenapa aku bisa bergabung dengan ayah dan Maou, alasan kenapa bergabung itu perlu, ataupun alasan kenapa aku bisa melakukan semua itu setelah bergabung. Aku sama sekali tidak mengetahuinya.”

Sambil memakan sebuah hidangan yang terbuat dari sayuran umbi rebus, dalam momen yang sangat langka, Acies mengatakan sesuatu dengan begitu jelas.

“Tapi, bukankah kau menyebutkan soal 'Dependency' (Yadorigi).....?”

Meski sudah sedikit terlambat, Maou mencoba memastikan makna di balik istilah yang Acies gunakan saat berada di depan gerbang SMA Sasahata.

“Maou, kapan kau tahu bahwa perilaku 'makan' disebut dengan 'makan'?”

“Hah?”

“Apa menurutmu anak kecil akan makan dengan pikiran 'aku ingin makan' di kepala mereka?”

“Hm? Hmm?”

Maou, tidak bisa memahami apa yang ingin Acies katakan, memasang ekspresi bingung.

Tapi walau dia kebingungan, Maou tidak melewatkan perilaku Acies yang sedang menarik mangkok salad dan piring besar yang penuh dengan roti manis ke arahnya, sembari menunjukan wajah serius.

“Dari mulai melakukan tindakan tersebut, hingga melakukan tindakan itu atas kehendakmu sendiri, mengetahui bahwa tindakan itu disebut 'makan', dan tahu apa yang terjadi ketika kau 'makan', itu semua membutuhkan waktu yang sangat lama. Meski aku tahu aku bisa bergabung dengan ayah dan Maou, tahu bahwa hal ini mungkin penting bagi keberlangsungan hidupku, dan tahu bahwa ini disebut 'Yadogiri', aku tetap tidak tahu apa yang akan terjadi dengan melakukan semua itu. Aku takut teman-temanku juga tidak akan tahu.”

“Teman-teman?”

Maou yang merasa arah percakapan ini sedikit keluar jalur, membungkukan tubuhnya.

“Bukankah kau sudah pernah dengar Onee-chan menyebutkannya sebelumnya? Hal-hal mengenai Malkuth dan Geburah?”

“Ohh... jadi Sephirah lain juga memiliki wujud manusia sepertimu, Alas ramus, dan Iron?”

“Kau kenal Iron? Mengejutkan sekali.”

Acies yang terus memakan rotinya meski nampak terkejut, berbicara,

“Malkuth adalah yang paling cerdas di antara kami semua. Malkuth tidak hanya memiliki hubungan yang baik dengan Onee-chan, dia juga mengajariku banyak hal. Bahkan istilah 'Yadogiri', aku juga mendengarnya dari Malkuth.”

“.... Di mana mereka sekarang?”

Bagi Maou, ini juga merupakan poin yang perlu diperhatikan.

Tidak hanya Alas Ramus, Acies Ara, dan Iron yang telah muncul di hadapannya, Alas Ramus juga sering menyebut Malkuth.

Jika banyak Sephirah selain Yesod, Geburah, dan Malkuth memiliki wujud manusia, maka mungkinkah mereka juga tersebar ke seluruh dunia?

Ataukah hanya Yesod yang telah hancur saja yang tersebar ke seluruh dunia, sementara Sephirah yang lain tetap berada di satu lokasi?

“.... Aku tidak tahu. Terakhir kali aku berbicara dengan mereka itu sudah lama sekali....”

“Meski kau terlihat sedih, aku masih tidak bisa mengasihani kelakuanmu yang seperti tupai sedang memenuhi mulut dengan makanan.”

Acies memegang dua buah roti dengan isian yang berbeda di masing-masing tangannya, dan memakan mereka secara bergantian dengan wajah muram.

Apapun yang terjadi, karena Acies tidak tahu lokasi keberadaan Sephirah, maka tak ada gunanya bagaimanapun kerasnya Maou memikirkan hal ini.

“Tapi, hei.”

“Hm?”

Maou mendengus, dan seperti bagaimana dia biasanya memperlakukan Alas Ramus, dia mengulurkan tangannya melewati meja dan menyentuh kepala Acies beberapa kali.

“Kita sudah berada di tempat di mana kita bisa segera bertemu Alas Ramus, jadi kita harus bekerja keras.”

“Hmmph.... menggunakan cara ini!!”

Ucap Acies dengan sedikit kurang senang, dia kemudian memasukkan roti di kedua tangannya dalam sekali suapan.

“Apa boleh buat, meski aku bisa menemanimu latihan, tapi aku benar-benar lapar. Aku masih ingin makan sepuluh roti lagi! Kalau tidak, aku tidak akan bisa mengeluarkan energi apapun!”

“Oh.... apa, sepuluh?”

Maou menatap piringnya dengan kaget.

Isian di dalam roti yang barusan Acies makan terbuat dari irisan daging, sayuran, mie kacang hijau, serta bahan lain yang dibumbui dengan kaldu, dan itu sudah termasuk roti yang sangat besar.

Maou sendiri juga mengakui kalau roti itu sangat lezat, dan roti tersebut sebenarnya sudah mengandung karbohidrat yang setara dengan dua mangkuk nasi.

Jujur saja, Acies bisa memakan dua roti di saat yang sama itu sudah sangat mengejutkan.

Ketika Maou memakan roti tersebut bersama dengan salad dan soup, paling banyak dia hanya bisa memakan satu setengah roti.

Dan karena ukuran dan rasanya, tentunya ini tidak murah.

“..... Huuh, biarpun ada cukup uang....”

Begitu Maou berpikir mengenai biaya perjalanan yang ada di kantong kulit yang tersembunyi di balik hoodienya, dia seketika menjadi murung.

Tanpa memikirkan berapa banyak yang harus dia bayar, sebenarnya uang ini adalah milik Suzuno.

Tentunya ketika perjalanan di Ente Isla ini selesai, setelah Emi dan Nord selamat, seharusnya tak masalah meminta mereka untuk ikut membayar nanti.

Tapi harga diri Maou tidak mengizinkannya untuk melakukan sesuatu seperti makan dan minum tanpa membantu menyelesaikan masalah apapun dan kemudian mengklaimnya.

“Tak ada sesuatu seperti makanan gratis di dunia ini.”

Itu adalah pasak yang sudah mengakar dalam di hati Maou.

Tidak bekerja sama sekali, makan dengan leluasa, dan menikmati diri menggunakan uang milik seorang wanita, entah sebagai Raja Iblis, ataupun sebagai seorang pria, dia tidak akan membiarkan dirinya melakukan hal semacam itu.

“.... Latihanku akan sangat berat lo.”

Ucap Maou dengan suara dalam yang nampak seperti berasal dari dalam perutnya, Acies pun mengangguk...

“Hey! Tuan! Sepuluh roti lagi!”

… dan mengatakan hal tersebut kepada si pemilik yang kebetulan lewat.

“Percuma kau mengatakannya dalam bahasa Jepang. Uh..... Tuan, tolong sepuluh roti lagi seperti ini.'

Maou tidak menggunakan Idea Link, dia menggunakan bahasa Akou yang sudah dia pelajari sebelumnya dengan kikuk, tapi nampaknya orang itu bisa memahaminya.

'….. Sepuluh? Apa itu semua untukmu?'

Si pemilik menatap Maou dengan syok.

'Meski sulit dipercaya, tapi anak inilah yang ingin memakannya. Nampaknya dia sangat menyukai hidangan ini. Tak masalah kok bahkan jika kami harus menunggu, terima kasih atas bantuannya.'

Si Pemilik menatap Acies dengan takjub, tapi ketika dia melihat ekspresi santai Acies, dia mengangguk dengan kaku dan menjawab,

'Bahkan putraku yang memiliki nafsu makan yang sangat besar pun tidak bisa makan sebanyak ini sekaligus. Baiklah, tolong tunggu sebentar.'

Usai mengatakan hal tersebut, si pemilik memasuki dapur dan kembali kurang dari lima menit kemudian.

Maou sangat terkejut, tapi setelah mengamati bagian dapur dengan seksama, dia bisa melihat banyak bambu pengukus besar dengan uap yang mengundang selera makan, menumpuk di dalamnya. Sejumlah persediaan pasti sudah disiapkan sebelumnya.

'Jika ini semua tidak habis, aku akan membantumu membukusnya nanti.'

Sepuluh roti di atas piring besar menumpuk seperti sebuah rumah di negari bersalju.

“Maou, apa yang tuan ini katakan?”

“Mungkin jika kita tidak bisa menghabiskannya, dia akan membantu kita membungkus roti-roti ini atau semacamnya.”

“.... Heh heh.”

Setelah Maou menyampaikan kata-kata si pemilik restoran, Acies menunjukan senyum tak kenal takut.

“Aku akan membuatnya menyesal karena sudah meremehkanku!”

Di momen berikutnya, Acies menunjukan tatapan bak serigala lapar dan mulai menyerang roti rumah salju tersebut.

"Ugpuh, aku tidak bisa makan lagi."

"Kau benar-benar orang yang menyusahkan!"

Setelah memakan tujuh roti, Acies pun menyatakan kekalahannya.

Karena Acies biasanya memang banyak makan, Maou awalnya berpikiran kalau gadis itu akan mirip seperti karakter dengan nafsu makan besar yang ada di manga dan bisa dengan mudah memakan jumlah roti yang begitu mengerikan, tapi ternyata, ketika dia memakan roti keempatnya, kecepatannya pun mulai menurun secara signifikan.

Dan pada akhirnya, dia hanya bisa memakan 7 dari 10 roti.

Mengingat tubuh kecil Acies, makan sebanyak ini sebenarnya sudah bisa dianggap banyak, tapi karena sebelum makan dia sudah membual ini dan itu, sulit menyangkal kalau hasil ini itu sangat disesalkan.

Dan apa yang membuat Maou menderita adalah Acies tidak main-main ketika memesan minuman dingin.

Afashan adalah wilayah dengan sumber air melimpah, tapi air minum yang disediakan di restoran, tidaklah gratis seperti yang ada di Jepang.

Dibandingkan roti, apa yang membebani hati Maou adalah frekuensi pemesanan air minum.

Maou sudah mengkonfirmasi hal ini berkali-kali, kalau biaya makannya dan Acies, semuanya dibayar oleh Suzuno.

'.... Permisi, kami ingin membawa sisanya untuk dimakan di penginapan, bisakah kau membantuku membungkusnya?'

Ucap Maou kepada si pemilik dengan nada merasa tak enak, si pemilik kemudian merilekskan ekspresi tegangnya, mengangguk, dan menjawab,

'Baik. Tubuh sekecil itu bisa makan sebanyak anakku itu sudah luar biasa. Sungguh gaya makan yang berani.'

Meskipun Maou merasa bersalah terhadap orang yang memuji hal itu, dia sama sekali tidak senang mendengar pujian tersebut.

Jika Acies berlatih setelah makan sebanyak itu, mengabaikan masalah sihir suci, pedang suci, sihir iblis, Ente Isla, dan misteri dari Yadorigi, berdasarkan hukum biologi, dia pasti akan muntah.

Mengingat fakta bahwa Acies harus beristirahat sementara setelah makan, membuat Maou yang sudah khawatir apakah ada cukup waktu, menjadi sangat frustasi.

Kali ini....

"????"

Maou mengangkat kepalanya karena mendengar suara seperti ledakan yang terdengar dari luar restoran.

"Ugya....?"

Acies mengeluarkan suara yang menyerupai monyet besar di pegunungan bersalju dan memandang ke arah yang sama dengan Maou.

'Oh, itu petasan untuk mengusir para iblis.'

Mungkin karena menyadari reaksi keduanya, si pemilik yang juga memandang ke luar jendela, menjelaskannya pada Maou dan Acies.

'Sebelumnya orang-orang mengira kalau itu adalah akibat sang Kaisar baru saja menyatakan perang terhadap dunia, tapi ternyata, tidak hanya para iblis kembali menyusup ke Azure Sky Canopy, bahkan organisasi yang bernama Milita pun juga muncul di Fangan. Negari yang berhasil mendapatkan kedamaiannya dengan susah payah kini telah runtuh sekali lagi dan membuat semua orang merasa gelisah. Petasan-petasan itu seharusnya dinyalakan di awal tahun untuk berdoa demi kedamaian di sisa tahun tersebut.'

'.... Oh.'

Tentara dikumpulkan di kota pelabuhan Fangan dan diberi nama 'Fangan Milita', mereka sepertinya bergerak untuk membebaskan Azure Sky Canopy. Setelah menggabungkan apa yang mereka dengar dari Gabriel dan informasi yang mereka kumpulkan sejauh ini, Maou dan yang lainnya juga mendapatkan informasi terkait.

Dan, informasi bahwa Pahlawan Emilia telah bergabung dengan Fangan Milita, juga sudah mencapai telinga Maou dan Suzuno.

Tapi seperti apa yang dikatakan bos pemilik restoran di desa Honfa, sebuah pesimisme aneh saat ini sudah sangat populer di Afashan, terlepas dari apakah pemimpinnya Unifying Azure Emperor ataupun Malebranche, kehidupan para rakyat biasa tidak akan berubah banyak.

'.... Kau ingin negeri ini menjadi seperti apa?'

'Soal itu, asalkan negari ini tidak masuk ke dalam situasi di mana tidak ada makanan untuk dimakan.'

'Hanya itu?'

'Tak ada hal bagus yang bisa diharapkan dari area lain. Itulah bagaimana rupa negeri ini. Meskipun para kesatria Hakin menyebarkan informasi bahwa pasukan asing di area timur benua berencana memanfaatkan keadaan kacau ini untuk membuat perubahan politik, tapi tak ada yang tahu seberapa kredibel informasi itu.'

Si pemilik mengangkat bahunya, dan mengambil piring roti yang Acies sisakan.

'Tolong tunggu sebentar, aku akan membantumu membungkus ini.'

Si pemilik mengakhiri topik suram tersebut dan kembali ke dapur.

Maou memperhatikan punggung pemilik restoran tersebut, kemudian menghela napas, dan mengatakan,

"Memerintah suatu negeri itu benar-benar sulit ya."

Semenjak apartemen mereka memiliki Televisi, dalam progam berita yang terkadang Maou tonton, topik tentang negara lain selain Jepang memang cukup sering diberitakan.

Setiap kali Maou melihat banyak masalah besar dan kecil di sekitarnya, dia selalu berpikir tentang tujuannya... tentang akan jadi seperti apa 'dunia setelah dia taklukan'.

Jika Maou benar-benar membangun sebuah negeri seperti apa yang dia akui pada Suzuno, akankah dia bisa memastikan bahwa para iblis di bawah pemerintahannya dan manusia yang berada di bawah para iblis, bisa memperoleh makanan ke depannya?

'Ini, silakan. Oh iya, karena aku sangat kagum dia bisa makan sebanyak itu, akan kuberi sedikit potongan harga.'

Ketika si pemilik kembali, dia membawa sebuah kantong kertas, dan rangkaian benda silinder berwarna merah di tangannya.

'Ini adalah petasan yang tadi membuat suara berisik di luar. Kalian ini pasti petualang yang menginap di penginapan pojok jalan bersama nona pendeta dari Gereja itu kan? Meski ini sedikit berbahaya sebagai suvenir, tapi ini adalah benda keberuntungan di negara ini. Jika kau tidak keberatan, silakan ambil ini.'

"Suvenir.... Ah."

Setelah mengucapkan kata-kata itu dalam bahasa Jepang, Maou sedikit membungkuk dan menerima kantong serta petasan tersebut.

"Hey, Acies."

"Hm? Ada apa? Aku belum bisa mulai latihan sekarang...."

"Aku tahu. Tapi jalan-jalan sebentar tak masalah, kan? Anggap saja ini seperti membantu proses pencernaan. Ayo kita keluar dan jalan-jalan!"

"Aku sih tak masalah.... pwaahh, kita akan pergi ke mana?"

Maou memandang kantong kertas dan petasan di tangannya dengan ekspresi rumit dan mengatakan,

"Kita akan pergi berbelanja."


XxxxX


“Eh? Kau benar-benar ingin berbelanja ya... pwuah.”

Acies, memegangi perut kembungnya sambil mengikuti di belakang Maou, terkejut ketika dia melihat Maou memasuki sebuah toko di pinggir jalan.

“Yah, tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Jadi aku tidak ingin membuang-buang waktu.”

“Huuuh, aku tidak keberatan sih... di mana ini?”

Apa yang Maou pilih kelihatannya adalah sebuah toko yang menjual kain dan kerajinan tradisional.

Karena toko ini disebut toko suvenir, toko ini memiliki dekorasi yang sederhana, dan barang yang dijual di dalamnya pun sebagian besar terdiri dari barang-barang praktis.

Meski begitu, toko ini tetap dipenuhi dengan kain, baju, peralatan makan, patung-patung dan produk lainnya, toko ini terlihat seperti salah satu area di sebuah departemen store.

“Maou, kau mau membeli barang seperti ini? Rasanya itu tidak cocok dengan image mu.”

Acies mengambil sebuah kotak hiasan kayu kecil dengan dekorasi burung.

Akan tetapi, ukuran kotak tersebut pasti akan membuat orang-orang kebingungan dengan apa yang bisa muat di dalamnya.

“Bagaimana kalau kita gunakan ini untuk menyimpan bahan bakar?”

“Akan sangat bagus kalau benda itu bisa melakukannya!”

Acies kemudian menunjuk sebuah botol air dengan dekorasi burung.

“Oh, ini terlihat cukup bagus. Hey, Acies, bantu aku membawa benda ini sebentar.”

“Hm.... hmmm.... geh.”

Usai mengambil roti dan petasan dari Maou, Acies sekilas melihat benda yang ada di tangan Maou dan berbicara dengan sedikit bingung,

“Meskipun aku terlahir belum lama ini, tapi aku tidak yakin kalau benda itu akan digunakan para gadis, ya kan?”

Apa yang Maou pegang adalah kantong pink cerah dengan gambar bunga dan burung di atasnya.

Dua burung kecil dengan bulu yang cantik bertengger di atas cabang pohon berbunga, dan di permukaannya, terdapat kata-kata penuh harapan yang tertulis dalam bahasa bahasa Akou.

Apapun itu, desain ini sama sekali tidak terlihat seperti sesuatu yang akan digunakan oleh Maou.

“Ini bukan untukku. Ini adalah suvenir.”

“Suvenir, suvenir.... oh, jadi mereka itu suvenir.”

“Ini untuk Chi-chan.”

“Memberi Chiho suvenir...? Maou, meski aku tidak punya hak untuk mengatakannya, tapi apa sekarang waktunya untuk melakukan hal semacam ini?”

“Memang benar kalau aku paling tidak ingin mendengar hal itu darimu.”

Maou berbalik dan memberikan senyum kaku pada Acies, kemudian dia meletakkan kantong tadi kembali ke rak.

“Jepit rambut sepertinya lebih cocok dengan image Suzuno, dan ini sedikit mahal! Chi-chan nampaknya juga akan menyukai sisir semacam ini.... hm, ini juga mahal.”

Maou menggumam pelan sembari melihat-lihat rak lain.

“Kita masih harus mengadakan pesta ulang tahun setelah nanti kembali.”

“Pesta ulang tahun?”

“Ulang tahun Chi-chan dan Emi.”

“Begitu ya? Emi itu orang yang bergabung dengan Onee-chan kan?”

Walau Acies tidak pernah bertemu dengan Emi, begitu dia bertemu Maou dan selama perjalanan ini, dia pasti sering mendengar nama itu muncul dalam berbagai percakapan, jadi dia tahu siapa Emi.

Sebaliknya, sebelum bertemu dengan Maou, Nord pasti jarang menyebutkan nama putrinya pada Acies. Terkadang Acies merasa kalau setelah mereka berhasil menyelamatkan Nord, pasangan ayah dan anak itu akan terlibat ke dalam konflik mengenai masalah tersebut.

“Hm, itu seharusnya diadakan beberapa hari sebelum aku bertemu denganmu dan Nord. Karena si bodoh Emi itu membiarkan hal ini terjadi padanya, pesta itu jadinya ditunda. Karena ada hal lain yang harus kuurus, pada akhirnya aku tidak menyiapkan apapun.”

Kalau dipikir-pikir, ternyata sudah cukup lama semenjak tanggal pesta ulang tahun itu ditentukan.

Di hari ulang tahun Chiho, Maou bahkan tidak memberinya ucapan ulang tahun. Pertama, itu adalah sesuatu yang tidak benar-benar ada dalam pikirannya. Kedua, suasananya tidak tepat.

Tidak hanya itu, selain jatuh ke dalam perangkap Suzuno, Maou juga menyakiti Chiho yang begitu khawatir dengan Emi, di hari ketika pesta itu seharusnya diadakan.

Bahkan Maou sendiri juga merasa sangat menyesal mengenai hal itu.

Semenjak mendapatkan informasi mengenai keberadaan Emi, Maou langsung mulai membuat persiapan dengan Suzuno untuk menuju Ente Isla, dan di hari keberangkatannya, dia bahkam mengaku di depan Chiho kalau dia lupa menyiapkan hadiah untuk ulang tahun Chiho dan Emi.

Kalau sudah begini, bahkan jika Suzuno menyebutnya sebagai 'orang jahat', Maou takkan bisa membantahnya.

Tidak, daripada menyebutnya sebagai orang jahat, dia itu lebih seperti pria yang tak berguna.

“Cukup Chi-chan saja, aku tidak ingin membuatnya sedih.”

Chiho yang saat ini berada di Jepang, walau dia selalu menderita karena rasa gelisah, dia akan terus bersemangat setiap harinya.

Karena itulah, setelah nanti mereka kembali ke Jepang, Maou sungguh-sungguh berharap dia bisa menebus apa yang terjadi beberapa minggu terakhir sehingga Chiho bisa kembali tersenyum.

“....Hm?”

Maou nampak memilih suvenir untuk Chiho dengan ceria, sementara Acies yang memperhatikannya, tiba-tiba merasa kurang nyaman dan menekankan tangan pada dahinya.

Dia tidak terserang demam karena terlalu banyak makan, tapi ketika tadi Maou menyebutkan tentang Chiho, Acies merasakan sebuah sensasi hangat dari dalam dahinya karena alasan yang tak diketahui.

Acies menggunakan jarinya untuk menyodok kepalanya beberapa kali, tapi karena masih tidak bisa menyingkirkan perasaan aneh tersebut, dia kemudian menyerah sambil mengangkat bahunya.

“Jadi Maou hendak memakai uang Suzuno untuk membeli hadiah untuk Ch..... ow!”

Seperti biasa, Acies dengan jujur menusuk luka Maou tanpa niat jahat apapun, membuat Maou memukulnya secara refleks.

“Uang ini, aku pasti akan menggantinya dengan uang Yen Jepang dari dompetku sendiri nanti!”

“Uuuuu~ Akan sangat bagus kalau Maou tidak melakukan ini dengan begitu gampangnya.... kau pasti akan jadi pria yang kasar..... eh?”

Acies yang berkaca-kaca karena rasa sakit yang ia rasakan di atas kepalanya, menatap Maou seolah tiba-tiba memikirkan sesuatu.

“Apa kau juga akan memberi hadiah pada orang yang bernama Emi itu? Emi itu seorang gadis, kan?”

“Hm?”

“Uh, pesta ulang tahun itu, seharusnya diadakan untuk seseorang yang penting buatmu kan? Aku tahu kalau Chiho dan Suzuno itu adalah teman yang penting, tapi apa orang yang dipanggil Emi itu juga sama?”

“Mengabaikan apakah Suzuno itu penting atau tidak.... kata-kata aneh tadi.. apa Nord memberitahumu?”

Maou tidak mengira kalau Acies sudah tahu tentang kebudayaan di Jepang mengenai ulang tahun. Jika demikian, dia mungkin mendengarnya dari orang-orang di sekitarnya, atau seseorang secara tak sengaja memberitahunya di tempat yang tidak Maou ketahui dalam beberapa hari ini.

“Aku mendengar itu dari orang bernama Satou yang merawatku dan ayah. Nama palsu kami juga meminjam nama orang itu.”

“Ya ya ya, kau benar.”

Usai menghela napas, Maou kembali menaruh kayu penindih kertas yang dia pegang.

“Chi-chan juga akan hadir pada waktu itu, jadi untuk hadiah Emi, itu lebih seperti aku dipaksa menentang kehendakku. Jika aku tidak menyiapkan hadiah Emi, Chi-chan pasti akan sangat marah..... tidak, salah, dia mungkin akan sedih.”

“Oh? Jadi kau harus memberi hadiah pada Emi untuk membuat Chiho bahagia? Aneh sekali.”

“Itu karena Chi-chan dan Emi memiliki hubungan yang sangat baik. Atau lebih tepatnya, Chi-chan akan selalu mencari cara untuk memperbaiki hubungan antara kami para iblis dengan Emi dan Suzuno. Setidaknya selama di Jepang, tak ada untungnya membuat Emi dan Suzuno marah, jadi ini seperti tak ada pilihan lain selain menjaga Emi demi Chi-chan.”

“Hmph... hati wanita memang sulit dipahami.”

Acies melipat tangannya dengan ceria, kemudian dia menarik tangan Maou seolah kepikiran sesuatu.

“Intinya, bagi Maou, Emi itu orang seperti apa?”

“Soal itu... meski sedikit rumit karena Alas Ramus ada di antara kami, tapi bagiku....”

Maou mengangguk pelan.

“Lebih akurat kalau menyebutnya sebagai sainganku.”

“Saingan?”

Acies mengernyit.

Dia mungkin mengerti maksud kalimat tersebut, tapi ia tidak bisa melihat maksud Maou yang sebenarnya.

Maou menatap Acies yang terlihat bingung dengan sebuah senyum kecut, kemudian ia berjalan di depan barisan rak peralatan makan.

“Emi itu setara, atau bahkan lebih kuat dariku, dia adalah satu-satunya orang yang masih bisa menganggapku setara, atau bahkan meremehkanku setelah tahu identitas asliku. Selain itu, meski aku tidak tahu apakah dia sadar atau tidak, dia itu memiliki semua yang tidak kumiliki, membuatku berkali-kali merasa iri. Aku tidak ingin kalah darinya, jadi menggunakan kata saingan untuk mendeskripsikan dia itu adalah cara yang paling akurat. Dia bahkan memanggil kami musuh.”

“Hm~ tapi biarpun begitu, kau masih ingin mengadakan pesta ulang tahun dan membelikannya hadiah~ aku benar-benar tidak mengerti.”

Acies terlihat benar-benar bingung dan mulai mengoyang-goyangkan tangannya yang masih terlipat di sekitar dadanya, karena Acies belum pernah bertemu dengan Emi, tak ada gunanya melanjutkan topik ini.

Maou mengakhiri topik pembicaraan tersebut, mengalihkan pandangannya pada rak yang menampilkan berbagai produk, dan membuka lebar matanya setelah melihat suatu barang.

“Oh, ini terlihat cukup bagus?”

Maou mengambil barang tersebut dari pojok area peralatan makan dan mengamatinya dari dekat, kemudian ia menyadari kalau barang itu ternyata tidak terbatas hanya pada satu tipe.

“Kudengar memberikan benda semacam ini pada orang lain itu cukup menguntungkan.”

Produk kayu itu sepertinya adalah kerajinan tangan, selain desain burung dan sayap yang sudah ada banyak di toko ini, ada juga barang dengan desain gelas anggur, sepatu kuda, bunga ataupun bintang.

“Hey, Acies, benda ini lumayan bagus, iya kan? Praktis untuk digunakan, memiliki desain lucu, dan meski tidak digunakan, tidaklah sulit untuk menyimpan mereka.”

“Aku tidak yakin, tapi seharusnya sih tak masalah.... hm.”

Kesetujuan samar-samar dari Acies membuat Maou memantapkan pikirannya dan mulai memilih.

Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 10 - Chapter 1 Bahasa Indonesia


"Desain untuk Chi-chan memang sebaiknya bunga. Sementara untuk Emi... ini tidak terlalu mahal, sebaiknya aku juga membelikannya untuk Alas Ramus.... Seingatku Alas Ramus sangat menyukai burung.. jadi ayo kita pilih yang desain burung."

Maou yang lebih perhatian terhadap Alas Ramus ketimbang Emi, mengambil tiga buah barang.

'Tolong bungkus ini, dan yang dua itu bungkus secara terpisah.'

Meski sedikit kurang pantas, Maou tetap merasa seperti meraih sebuah prestasi karena akhirnya dia bisa menghadapi Chiho dengan benar.

"Kalau begitu, hey, Acies. Perutmu seharusnya suda..... Eh?"

Ketika Maou menoleh, dia mendapati wajah Acies yang memucat.

Pandangannya tidak hanya menjadi kabur, bahkan napasnya pun mulai menjadi tidak teratur.

Begitu Maou melihat hal tersebut, dia langsung memiliki perasaan tak enak.

Maou mengambil produk yang tadi sudah dibungkus dengan sederhana, menyimpannya ke dalam saku kaosnya, dan berlari membawa Acies keluar toko.

"Hey! Tahan sedikit lagi! Jangan melakukan hal semacam itu di jalan!"

Namun, dengan cara yang begitu kejam, harapan Maou jatuh seketika.

"Aughhh......."

"Uwaahh!!"

Dua hal terjadi secara bersamaan, membuat Maou berteriak.

Karena hal itu tidak terjadi di dalam toko tadi, rasanya sudah bisa dianggap sebagai sebuah keberuntungan.

Pertama, Acies muntah di atas bahu Maou.

Acies beberapa saat lalu memakan makanan yang jelas-jelas melebihi kapasitas perutnya, jadi tubuhnya pasti mengalami reaksi penolakan setelah beberapa saat. Porsi yang melebihi batas, tentu akan dikeluarkan dari tubuh, hal ini masih bisa diterima.

Namun, hal yang lebih serius adalah dahi Acies terlihat menembakan sebuah sinar ungu ke tanah di saat yang sama.

"Ooohhh???"

Meskipun sudah diaspal, permukaan jalan di sini tentunya tidak akan diaspal dengan beton komposit layaknya di Jepang, jalanan dengan tanah di bawahnya ini, kini telah ditembus oleh sinar yang berasal dari dahi Acies, dan menciptakan sebuah lubang yang cukup besar untuk menampung tubuh gadis itu.

Maou memegangi tali bahu yang ada di baju Acies dengan panik, menghentikannya agar ia tak jatuh, namun sinar ungu di dahi Acies nampaknya memiliki daya dorong yang cukup kuat, dan seperti sebuah roket, sinar itu mengangkat Acies dan Maou yang memegangi tali bahu Acies, ke udara.

"Bagaimana mungkin.... Wa?"

Maou berteriak panik, tapi itu sudah terlambat.

Di antara orang-orang yang berlari keluar untuk memastikan situasi setelah mendengar suara ledakan, terdapat pula si pemilik restoran tadi. Dia kini menatap gadis misterius yang terbang ke langit seperti roket, mematung.

Namun, karena induk roket tersebut kini mengeluarkan isi perutnya yang dipenuhi berbagai makanan sembari melayang di udara, suasana pun tiba-tiba menjadi kacau.

"Hey! Acies! Ada apa? Apa yang terjadi?"

Memegangi tali bahu Acies, Maou meneriaki gadis itu sambil terus tertahan di udara, namun, Acies hanya mengerang tak bisa berkata apa-apa.

Ketika mereka melayang, area di bawah mereka telah berubah menjadi kacau, petasan-petasan yang digunakan untuk mengusir iblis mulai berbunyi, para tentara Jokokin yang biasanya berada di jalanan mulai berkumpul dengan cepat, dan bahkan ada beberapa orang yang mengangkat telapak tangan mereka dan mulai berdoa pada Maou dan Acies.

"Ap-apa, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?"

Mengabaikan fenomena muntahnya, sinar ungu itu jelas-jelas adalah reaksi dari fragmen Yesod.

Dari situasi yang sangat aneh ini, bisa dipastikan kalau fragmen milik Acies juga terletak di dahinya seperti Alas Ramus, Maou tidak melakukan apa-apa, tapi jika fragmen Yesod menunjukan reaksi kuat seperti ini, maka,

"Sialan.... Suzuno dan Alberto, jangan-jangan mereka gagal?"

Tak peduli bagaimanapun ia memikirkannya, hal ini pasti adalah pengaruh dari Alas Ramus yang berada di ibukota kerajaan ataupun area di dekat sini.

Karena Acies menunjukan reaksi yang begitu kuat, itu artinya Acies menemui situasi di mana dia harus menggunakan kekuatan yang cukup besar.

Satu-satunya kemungkinan yang bisa Maou pikirkan adalah, Emi sedang menggunakan pedang sucinya dan bertarung melawan musuh kuat yang setingkat dengan seorang Malaikat Agung.

"Hey, Acies!! Bertahanlah! Ayo kita turun dulu..."

"Ugpwah!"

"Ah, hey?"

Kali ini, Acies yang melayang di udara, tiba-tiba menggunakan tangannya untuk menutupi mulutnya.

"He-hentikan! Jika kau melakukannya di ketinggian ini...."

Meski Maou sempat khawatir dengan martabat Acies sebagai seorang gadis, dan ledakan kekacauan yang akan dia sebabkan di bawah, Acies ternyata masih mampu menahannya.

Dan yang menggantikannya.....

"Uwaaahhhhhhhh........."

Sinar yang berasal dari dahi Acies seketika menjadi semakin kuat, Maou tidak bisa melepaskannya, dan mereka berdua, seperti roket yang kehilangan kendali, berputar-putar di langit kota dan mendarat di parit pertahanan yang ada di pinggir kota.

---End of Part 2---





Translator : Zhi End Translation..

Previous
Next Post »
1 Komentar