Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 3 - Chapter 2 (Part 1) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 3 - Chapter 2 : Kehidupan Sehari-Hari Sang Raja Iblis Mulai Berubah -1


Baca LN Hataraku Maou-Sama Volume 3 Chapter 2 Bahasa Indonesia


Chapter 2 : Kehidupan Sehari-Hari Sang Raja Iblis Mulai Berubah.

Keesokan siangnya setelah kastil raja iblis dilanda kekacauan.

Setelah mengintip ke dalam, Chiho perlahan mengetuk pintu apartemen nomor 201 Villa Rose Sasazuka.

Dia bisa mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati pintu.

" A-Ashiya san?"

Setelah Chiho memanggil dari luar, suara dari pintu yang terbuka terdengar dan Ashiya dengan kantung matanya yang besar menampakkan wajahnya.

"... Hello, terima kasih sudah datang, Sasaki-san..."

Suara nya terdengar sangat lelah, tidak ada tanda-tanda semangat dan ambisi yang biasa ditunjukkannya.

"Apakah semuanya baik-baik saja?"

"... Dia baru saja tertidur beberapa saat lalu.. Ngomong-ngamong, masuklah.."

"Yaa.. Permisi!!"

Mereka berdua mengecilkan suaranya dan menutup pintu apartemen dengan sangat pelan agar tidak membuat banyak suara.

Setelah Chiho melepas sepatunya dan masuk ke dalam apartemen, dia menaruh apa yang dia bawa sesaat setelah dia masuk.

Suara dari tas kresek yang saling bergesekan membuat suara seperti sebuah ledakan. Ketika Ashiya memisahkan tas-tas itu untuk menghentikan suaranya, suara motor terdengar keras dari luar apartemen.

Ashiya dan Chiho menahan nafasnya, lalu menoleh ke sekeliling untuk melihat Alas Ramus yang sedang tertidur di bawah bayangan sekat bambu.

Mereka berdua bernapas lega ketika melihat Alas Ramus masih tertidur tanpa terganggu sama sekali. Namun, ekspresi mereka dalam sekejap menjadi serius kembali.

"Ini.... Semua benda yang kupikir akan berguna, sudah kubeli!"

Chiho mengeluarkan isi tas tersebut, perlahan agar tidak menimbulkan suara ribut.

"Susu bayi, Yoghurt bebas gula, dan beberapa makanan bayi yang bisa kau coba... Lalu apa yang Ashiya-san berikan padanya untuk makan malam kemarin?"

"Kami mengambil beberapa Udon yang kami terima dari Crestia, dan merebusnya dengan telur dan ikan hingga menjadi lunak. Dia memakannya dengan lahap. Dia sudah bisa mengunyah, dia juga bisa minum air. Sepertinya tidak apa-apa memberinya makanan manusia."

Chiho mengangguk dan mengeluarkan beberapa benda lagi dari dalam tasnya.

"Ini tisu basah bayi untuknya jikalau dia poop, dan ini sikat gigi untuk anak-anak. Jangan gunakan pasta gigi apapun sampai dia bisa menggunakannya dengan benar. Dan ini ada beberapa botol air mineral."

"Sikat gigi?? Benar dia tidak menyikat giginya tadi malam.. Dan botol air kecil apa ini? Apa mereka berbeda dengan air mineral yang biasanya?"

"Ini disebut larutan penyegar untuk anak-anak." (Lol)

Ashiya mengedip-ngedipkan matanya setelah mendengar kata asing yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.

"Sekarang ini sedang panas-panasnya kan? Jika dia mengalami dehidrasi dia bisa meminum ini untuk mengembalikan kadar sodium dan gula bersamaan dengan air ini. Sebut saja seperti minuman olahraga untuk anak-anak."

"Apa bedanya dengan versi yang biasa?"

"Ini dibuat agar tidak menyebabkan tubuh bayi menjadi stress. Kau juga bisa membuatnya dengan keran air, tapi kau tidak punya penyaring air kan?"

Chiho mengalihkan pandangannya ke arah bak cuci piring kastil Raja Iblis yang mempunyai keran berwarna perak.

"Air di Tokyo kualitasnya sudah ditingkatkan daripada sebelumya, tapi itu tidak akan berarti apa-apa jika pipa air rumah atau apartemen sudah tua... Kupikir lebih baik menggunakan pembersih air untuknya kapan saja jika diperlukan, terutama karena dia muncul dari sebuah apel. Juga, ini hanya untuk keadaan darurat saja, jadi pastikan ini bukanlah satu-satunya yang kau berikan padanya untuk diminum."

"Aku paham..."

Ashiya mengangguk, terkesan dengan penjelasan Chiho.

"Dan gunakan ini ketika memberinya minum."

Berikutnya yang muncul dari dalam tas adalah botol plastik dengan tutup, yang mempunyai semacam sedotan di tengahnya.

"Ada pelapis di dalam sedotannya, jadi tidak akan tumpah meskipun kau menjatuhkannya. Karena dia sudah bisa berbicara, kekuatan menyedotnya seharusnya sudah sangat bagus, jadi ini tidak akan apa-apa untuknya... Ohh apakah ada sedotan di Ente Isla?"

"Ada... Mungkin, karena mereka adalah penemuan manusia, harusnya Emilia atau Crestia tahu."

"Jika Alas Ramus-chan tidak tahu cara menggunakannya, gunakan saja ini."

Selanjutnya, Chiho mengeluarkan kotak minuman yang bertuliskan "Barley Tea untuk anak-anak"

"Apa benar-benar penting apakah Barley Tea itu untuk anak-anak atau tidak?"

"Ya.. Barley Tea yang biasanya, mau panas ataupun dingin akan terasa pahit jika kau tidak membuatnya dengan benar. Tapi ngomong-ngomong, isi dari kotak-kotak ini tidak terlalu penting. Kotaknya sendiri sangat bagus untuk digunakan sebagai latihan."

"Latihan menggunakan sedotan?"

"Ya benar, untuk membantu agar bayi mengerti jika mereka menyedotnya minuman akan keluar, orang dewasa bisa menekan kotaknya dengan lembut untuk mengeluarkan isinya. Lalu bayinya akan berhenti menolak menggunakan sedotan dan mulai menyedot dengan keinginannya sendiri."

"...."

Ashiya terharu ketika mendengarkan penjelasan Chiho.

"Dan ini semua popoknya."

Chiho menyerahkan berbagai popok dengan berbagai bentuk dan ukuran. Jenis yang dapat dipakaikan seperti celana. Jenis tradisional yang bisa diikatkan dengan pita. Satu persatu jenis popok dikeluarkan dari dalam tas.

"Cobalah satu persatu, dan lihat mana yang paling cocok untuknya."

Ketika Ashiya menerima popok yang diserahkan padanya, dia tidak bisa lagi menahan perasaanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Kau... Kau telah banyak membantu kami selama ini.. Dengan berbagai cara.. Aku, Ashiya tidak bisa menemukan kata-kata lagi untuk berterima kasih...."

"Ayolah, kau terlalu berlebihan Ashiya-san!"

"Tidak.... Jika kau mau Sasaki-san, aku akan bilang kepada Maou-sama ketika sudah menguasai Jepang dan membentuk pasukan iblis yang baru. Aku akan senang jika kau mau menjadi jenderal besar."

"Aku harus menolaknya, terima kasih."

Chiho memikirkannya untuk sesaat, apa memang tidak apa kalau pasukan iblis yang berencana menguasai dunia akan mengangkat seseorang menjadi jenderal hanya karena memberikan saran dan barang-barang kebutuhan bayi.

Meskipun Chiho tidak ada hubungannya dengan hal itu, dia masih saja merasa sedikit khawatir dengan mereka.

"Di samping itu, Maou-san lah yang memberiku uang untuk membeli semua ini, dan yang aku lakukan tidak lebih tidak kurang hanyalah memberikan pesanan ini untukmu. Oh.. Dan ini kembalian dan tanda terimanya, tolong berikan kepada Maou-san."

"Yaa.. Yaa.. Aku, Ashiya akan menyerahkan mereka meskipun nyawa taruhannya."

Chiho tersenyum dengan canggung karena tidak tahu bagaimana harus bereaksi ketika ada seseorang yang akan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk kembalian dan tanda terima, dan lalu dia menambahkan...

"Di samping itu, ini juga sangat menyenangkan bagiku!"

Chiho melihat ke arah Alas Ramus yang tertidur dengan pulas tanpa terganggu sedikitpun semenjak Chiho masuk.

"Sepupu dari ayahku baru-baru ini menikah, dan mereka sudah punya anak. Kapanpun aku mengunjungi mereka, aku selalu bermain dan menjaga anak mereka, jadi aku belajar banyak dari istrinya bagaimana cara merawat bayi."

"Begitu yaa!!"

"Selain itu, selain itu.. Ummm.."

Chih membuat ekspresi seperti merasa begitu terkenang, lalu mengepalkan tangan kirinya dan dengan pipi yang merona, dia berkata..

"Jika suatu hari nanti.... Dengan Maou-san.... Akankah...."

"Sa-Sasaki san??"

"Huh? Um anu, bukan apa-apa, bukan apa-apa!!"

Chiho menggelengkan wajahnya yang merah merona dan melambaikan tangannya bersamaan. Dia lalu menyadari sesuatu dan bertanya kepada Ashiya.

"Kemana perginya Urushihara-san?"

Urushihara si Ultra-NEET, penghasil hutang, dan penghancur keuangan kastil raja iblis yang kehilangan gelarnya sebagai malaikat dan rasa kepedulian terhadap orang lain, tidak terlihat dimanapun.

Bahkan, Laptop yang selalu berada di meja di mana dia duduk di depannya juga ikut menghilang.

"Apakah dia melarikan diri?"

Melihat karakter Urushihara, alasan positif seperti pergi bekerja atau berbelanja kebutuhan sehari-hari jelas tidak mungkin. Tepatnya, dia tidak mungkin berada di tempat di mana dia harus berjalan di tempat umum.

".... Hummpphh.. Jika dia punya sedikit rasa tangung jawab, aku tidak akan menjadi selelah ini."

Ashiya mengerutkan dahinya dan mengkritik Urushihara, dan lalu menghembuskan napas berat.

"... Seperti yang kau kira, tangisan dan energi Alas Ramus tadi malam benar-benar melebihi apa yang kami kira."

Tidak seperti tangisan bayi yang baru lahir, bayi yang sudah belajar berbicara dan menyadari keadaan di sekitarnya, biasanya menangis karena ingin bertemu seseorang.

Chiho punya urusan keluarga dan harus pulang di sore harinya, jadi dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Dia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi sebelum dia pergi.


XxxxX


Perkembangan kata-kata yang diucapkan Alas Ramus, ternyata melebihi usianya yang seharusnya.

Alas Ramus berkata "Daddy adalah Satan" lalu menunjuk Emi dan memanggilnya "Mommy".

Bagaimanapun, seperti Maou yang menyangkalnya, Emi juga menyangkal semuanya setelah pulih dari keterkejutan yang menyerangnya.

Tentu saja, keempat orang lainnya merasa terkejut pada awalnya, tapi tidak satupun dari mereka benar-benar berpikir telah terjadi sebuah "KESALAHAN" di antara Maou dan Emi. Raja Iblis dan Sang pahlawan sudah seperti air dan minyak, mereka saling menolak satu sama lain melebihi dua kutub magnet yang sama.

Namun, seperti yang diperkirakan, menyangkal posisi mereka sebagai orang tua, tentu membuat Alas Ramus menangis seolah ditempatkan di atas api.

"Hey hey hey.. Alas Ramus,, kau memang punya orang tua, tapi dia dan aku bukanlah ora-"

"WAAAAAAA!!! TIDAAAAK!! SAZAN ADALAH DAZZY KU!!"

Dia menangis dan berteriak dengan seluruh udara di paru-parunya melalui mulut kecilnya, kata-katanya hampir tak bisa dipahami.

"Man, apa yang harus kita lakukan??"

"..."

"Hey, Emi..."

"...."

"Hah??"

"Kyah!"

Maou menepukkan tangannya tepat di depan wajah Emi yang berdiri dengan ekpresi kosong, benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Karena terkejut, Emi jatuh terduduk, dan Suzuno mendekat untuk membantunya berdiri, tapi-

"MOMMYYYYYYY!!"

Dia langsung diterjang oleh Alas Ramus, yang wajahnya dipenuhi oleh air mata dan ingus. Suara Alas Ramus mereda tapi dia masih saja meneriakkan "MOMMYY" ketika dia menenggalamkan wajahnya ke Emi.

Tidak ada kesempatan untuk menghindar, Emi tidak punya pilihan lain selain menangkap Alas Ramus dengan tangannya!!

"BIEEEEEEE!!"

"Um, uh,umm!!"

Beban yang diterima Emi secara mengejutkannya terasa berat.

Bayi yang menangis. Sesuatu yang harus dia lindungi dengan seluruh kekuatannya sebagai seorang pahlawan.

Namun, bayi ini menganggapnya sebagai ibu. Dengan sikunya  yang membengkok dengan sudut yang aneh, Emi tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan situasi yang berada di luar imajinasinya ini, dan tidak bisa memutuskan apa tindakan selanjutnya.

"A-aku tidak tahu, apa yang harus aku....."

Emi melihat ke yang lainnya ketika merasa benar-benar bingung....

"Berhenti melihatku seperti itu!!"

Semua orang di ruangan itu menatapnya untuk melihat apa yang akan dilakukannya.

"Uurggghhh... Kalian semua tidak lupa kan? Bayi ini menghentikan pedang suciku hanya dengan tangannya. Tidak mungkin dia hanya bayi biasa."

"Tapi Emilia, tidak ada yang bisa dilakukan dengan masalah tangannya, mengingat emosi dari gadis kecil ini yang berpikir kau adalah ibunya."

"Bell, kau mengatakan itu karena ini tidak ada hubungannya denganmu kan?"

"BIEEEEEEE!!"

"Apa buruknya hal ini Yusa-san? Aku akan dengan senang hati berganti posisi denganmu!"

"Chiho-chan, kau mengatakan itu karena ada maksud tersembunyi kan?"

"MOMMMYYYYY!!"

"Sudah kubilang, aku bukan ibumu, gezzz!!"

Seolah sudah menyerah, meski dengan malu-malu, Emi meletakkan tangannya di bawah Alas Ramus.

Kemudian dia mulai menggendongnya untuk menenangkannya.

"..."

Kali ini, Emi terkejut, menyadari betapa ringannya dia. Tidak ada tanda-tanda beban berat dari Alas Ramus seperti saat dia menerjang Emi.

Kulit dan tubuhnya begitu lembut, seakam kekuatan sedikit saja bisa mematahkannya. Kata-kata Emi, "menghentikan pedang suci dengan tangan kosong" terlintas di pikirannya. Ketika Emi mengangkat Alas Ramus perlahan dan dengan hati-hati, Alas Ramus yang membenamkan wajahnya ke perut Emi, mengangkat wajahnya.

"...."

Emi menatapnya dengan sedikit mengerutkan dahi, saat melihat ingus yang bersinar keperakan keluar dari hidung Alas Ramus dan mengenai baju Emi.

"Hiks.... *Sniff*... Mommy..."

Bahkan ketika dia menangis dengan seluruh jiwa dan kekuatannya,  pupil besarnya memandang Emi dengan kepercayaan seorang gadis kecil.

"Ti-tidak apa... Okay..."

Emi menggendong Alas Ramus seolah mengisyaratkan kalau dia telah menyerah.

Dagu Alas Ramus bersandar pada pundak Emi, dan tangan bayi gemuknya memeluk leher dan bahu Emi dengan erat.

"Hikss.... Mommy... Fweehh!!"

Alas Ramus mengganti tangisannya dari yang menangis dengan seluruh udara di paru-parunya, menjadi sebuah isakan kecil, sepertinya dia sudah mulai tenang.

-Manis sekaliii, tapi apa yang harus ku lakukan dengan hal ini? Tapi dia sangat manis, apa yang harus ku lakukan?- Pikir Emi.

Emi memegangi bagian belakang baju warna kuning milik Alas Ramus untuk mendudukkannya dan bertanya kepada Maou.

"Jadi... Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?? Apa yang seharusnya kita lakukan?"

"Aku yang bertanya padamu!"

"Aku tidak tahu, tapi kau terlihat begitu alami melakukannya."

"... Apa kau tidak sadar kalau mengatakan kata-kata itu sama  saja seperti menaruh penjerat di lehermu?"

"Hey, kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa anak ini tahu kalau Maou adalah Satan?" Urushihara bertanya ketika melihat Alas Ramus dan Maou.

"Tidak seperti aku, wujud iblis Maou dan wujud manusianya sangat berbeda kan?"

"Bagaimana aku bisa tahu? Dia mencium tanganku sebelumnya, mungkin dari situ dia mengetahuinya."

"Maou, bau tanganmu itu dipenuhi bau MgRonald."

"Itu bau yang sangat enak."

Maou menjawabnya ke arah yang salah.

".... Tapi apa yang bisa kita lakukan?"

Pikir Maou setelah menjawab Urushihara, lalu melihat ke arah Alas Ramus dengan ekspresi bingung.

Alas Ramus seperti akan lepas dari gendongan Emi, bergoyang-goyang perlahan dan kembali memeluk leher Emi dengan erat. Emi juga memberikannya dukungan dengan memegangi tubuh bagian bawah Alas Ramus.

"Oh mungkinkah ini apa yang mereka sebut salah kira? Mungkin ketika dia melihat Maou-san dan Yusa-san, dia salah menganggap kalian sebagai orang tuanya."

Chiho memberikan pendapatnya sambil mengangkat tangannya, tapi Maou menggelengkan kepalanya.

"Itu mungkin saja, tapi jika itu benar, dia tidak akan mengatakan kalau "Daddy adalah Satan". Alas Ramus tidak bilang Maou, ataupun Raja Iblis, tapi Satan. Mungkinkah dia mendengar seseorang memanggilku Satan?"

"Oh, kau benar..."

"Well, nama Satan memang umum seperti batu di dunia iblis sana, tapi dia datang ke Jepang dan memanggilku Satan. Aku pikir ketika dia meemanggilku Satan, yang dia maksud bukan orang lain, tapi aku."

"La-lalu Maou-san, apa kau akan menerima Alas Ramus-chan?"

"Chii-chan, Chii-chan, kau salah paham."

Maou dengan letih menjawab Chiho, yang terlihat putus asa karena beberapa alasan.

"Kau membuatku penasaran ketika kau bilang "Satan adalah nama yang umum seperti batu", tapi apa maksud perkataanmu yang tadi?"

Suzuno mengembalikan percakapan ke jalurnya, Maou pun mengangguk.

"Penjelasan paling sederhana itu begini, kan? Seseorang menyamarkan Alas Ramus menjadi apel dan mengirimkannya kepadaku, dan...."

".... Kita tidak tahu apakah mereka teman atau musuh, tapi pasti mereka akan segera ke sini, kan?"

Emi yang menggendong Alas Ramus menyelesaikan pemikirannya dengan ekspresi serius.

"Tepat sekali, aku seharusnya tidak bilang begini, tapi sepertinya akan ada hubungannya denganmu lagi. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, dia iti tidak terlihat punya hubungan dengan seseorang dari dunia iblis."

".... Berisik.... Aku benar-benar merasa tidak enak dengan Chiho-chan yang terbawa ke dalam masalah ini karena diriku."

"Bagaimana dengan kami? Kami ini apa? Daging cincang?"

"Ba-bagaimana kau tahu kalau hal ini adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan Yusa-san?"

Emi melihat tangan kanannya yang menggendong Alas Ramus untuk sejenak, lalu menjawab pertanyaan Chiho.

"Gadis kecil ini menghentikan pedang suciku hanya dengan tangan kosongnya dan bereaksi terhadapku, si pengguna pedang suci. Itu adalah bukti yang lebih dari cukup. Chiho-chan, kau masih ingat bagaimana Sariel menginginkan pedang suciku kan?"

Ketika malaikat Sariel menyerang beberapa hari sebelumnya, Chiho dan Emi keduanya diculik. Dia punya kesempatan untuk mengambil secara paksa pedang suci dari Emi menggunakan kekuatan spesialnya, "Wicked Light of The Fallen".

"Sariel tidak pernah bilang kenapa dia menginginkan pedang suci. Enak saja aku membiarkan dia mengambil pedang ini sebelum menghabisi Raja Iblis yang miskin ini. Kita masih tidak tahu alasan di balik semua ini, dan sekarang, gadis kecil yang mampu menghentikan tebasan pedang suci muncul. Mustahil untuk mengatakan kalau ini tidak ada hubungannya kan?"

"Jangan berpura-pura berpikir logis hanya supaya kau bisa mencampurkannya dengan hinaan terhadap diriku!"

Emi menjawab Chiho, mengabaikan sindiran Maou.

"Coba pikir, apa yang terjadi dengan Sariel dan apa yang dilakukannya sekarang?"

Chiho menjawab dengan pendek, kasar dan blak-blakan.

"Dia menjadi gemuk."

"Huh?"

"Dia makan di McRonald setiap hari hanya untuk menemui Kisaki-san, dan dia selalu memesan yang ukuran jumbo. Dia tahu kalau Kisaki-san menyukai siapapun yang berkontribusi untuk keuntungannya. Oleh karena itu, dia menjadi gemuk hanya dalam seminggu lebih."

Rencana Sariel gagal karena Maou membangkitkan kembali kekuatan Iblis nya, dan malaikat itu sekarang menyatu dengan identitas palsunya yaitu Mitsuki Sarue, manager dari Sentucky Fried Chicken cabang Stasiun Hatagaya.

Jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Mayumi Kisaki, manager dari McRonald dan Supervisor Maou, Sariel kini meninggalkan surga dan semua misinya, hanya agar bisa datang ke McRonald setiap hari tanpa gangguan.

Karena Kisaki tidak selalu berada di tempat, dia beberapa kali bertatap muka dengan Maou si manager pengganti sementara. Bagaimanapun dia pernah menyatakan kalau keinginannya untuk mejadi malaikat jatuh adalah untuk Kisaki.

Dia terlihat waspada kalau saja Kisaki tahu tujuannya datang ke McRonald, dan sikap sopannya terhadap Maou dan Chiho sangatlah mengganggu. Itu seperti dia mencoba untuk berpura-pura kalau tindakannya yang kejam itu tidak pernah terjadi.

"... Well, aku tidak tahu apakah malaikat bodoh itu ada hubungannya dengan ini, tapi aku harap dia tidak terlibat jika kita mendapatkan masalah. Dia akan mengganggu urusan kita dengan semua kebodohannya."

"Sariel... dalang dari insiden pedang suci, aku tidak yakin dia ada hubungannya dengan Alas Ramus." Suzuno menambahkan.

"Dia tidak lari karena kehabisan sihir suci di pertempuran kita yang sebelumnya, tapi seperti memilih sendiri untuk tidak kembali. Jika dia ada hubunganya dengan Alas Ramus, seharusnya dia segera datang ke sini tepat saat Alas Ramus muncul."

Setelah mendengar kata-kata itu, Urushihara langsung memeriksa kamera CCTV nya, Chiho mengintip dari jendela dapur dan Ashiya melihat keluar melalui pintu.

"Di samping itu, nama Alas Ramus tidak terdengar seperti bahasa surga. Itu seperti bahasa manusia yang digunakan secara luas di Ente Isla."

"Apa!?"

"Arti dari "Alas" adalah sayap, dan "Ramus" adalah cabang. Apalagi, kata-kata tersebut secara spesifik berasal dari bahasa pusat perdangangan, "Centrumian". Itu secara eksklusif digunakan di Isla Centrum."

Bahasa tersebut, sesuai namanya berasal dari bahasa yang digunakan sebagai bahasa umum untuk ukuran baku standarisasi dan negosiasi perjanjian di Isla Centrum, yang menjadi pusat perdagangan karena letaknya yang berada di antara benua Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Orang-orang yang berbicara menggunakan bahasa pusat perdagangan kebanyakan adalah orang-orang pemerintahan, pendeta yang posisinya tinggi, ataupun pedagang, tapi bahasa tersebut adalah bahasa yang dapat dimengerti di seluruh Ente Isla.

"Dengan kata lain, di suatu tempat di Ente Isla, dia mempunyai orang tua yang telah memberinya nama. Kita masih belum tahu apakah mereka itu manusia ataukah malaikat, tapi kemungkinan mereka bukanlah iblis..."

Sayangnya, mereka masih belum tau siapa yang memberinya nama dan apa tujuannya.

"Jadi satu-satunya cara, kita hanya bisa tanggap dengan apa yang akan menimpa kita selanjutnya. Kita harus menunggu seseorang yang bahkan kita tidak tahu dia itu kawan ataupun lawan, sambil membawa Alas Ramus yang misterius ini di tangan kita."

Maou menyimpulkan hal tersebut dengan ekspresi yang serius, sementara Emi dan Suzuno hanya mendengarkan perkataan Maou.

"Apapun yang kau katakan, pada akhirnya semua kembali pada siapa yang akan mengurusnya kan?"

Kata-kata Urushihara mengalihkan alur pembicaraannya kembali. Pada saat itu seluruh kastil Raja Iblis menjadi hening seketika.

"Aku rasa dia sudah mulai tenang. Oh.. jadi dia sudah tidur ya?"

Maou melihat ke arah Alas Ramus yang tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Emi.

".. Aku tidak ingin gadis kecil sepertinya terlibat dalam sebuah rencana jahat."

Emi menghembuskan nafasnya sambil mengelus-elus punggung Alas Ramus.

"Di samping asal usulnya yang berasal dari sebuah apel, pada dasarnya dia hanyalah seorang gadis kecil. Goochy goochy goo..."

Maou menggoda Alas Ramus dan menusuk-nusuk pipinya. Kemudian Emi menatap tajam ke arah Maou.

"Hey, hentikan itu, dia baru saja tertidur."

Setelah diomeli oleh Emi, Maou kemudian menarik tangannya kembali.

"Duh.. aku benar-benar iri.. Yusa-san."

Chiho menyaksikan mereka bertiga yang bertingkah layaknya sebuah keluarga. Meskipun menurutnya itu memang manis, tapi tetap saja dia merasa cemburu dan menggembungkan pipinya.

"Chiho-dono, Chiho-dono, perasaanmu tergambar sangat jelas dari raut wajahmu."

Suzuno langsung mengatakan hal tersebut, dan membuat Chiho menyadari apa yang dia lakukan.

Setelah menghentikan tingkah konyol Maou terhadap Alas Ramus, Emi menghela nafas panjang.

"Aku tidak bisa membawanya ke rumahku, aku hidup sendiri, dan pekerjaanku membuatku sangat sibuk, jadi aku tidak punya waktu untuk mengurusnya."

"Tapi kastil Raja Iblis lebih tidak memungkinkan lagi untuk mengurusnya. Keuangan kami tidak akan cukup untuk memberinya makan dan lagi, kami hanya sekumpulan 3 pria."

Ashiya juga mengatakan hal yang benar. Bukan hanya karena mereka sudah punya orang tidak berguna yang butuh makan dan tidak membantu apapun, tapi 3 pria tinggal di apartemen 6 tatami tanpa AC. Itu adalah lingkungan terburuk untuk mengurus seorang anak kecil.

"Maafkan aku... Aku juga ingin membantu, tapi aku tidak bisa memikirkan alasan apa yang sekiranya bisa meyakinkan orang tuaku."

Chiho mengatakannya dengan nada bersalah.

"Kau tidak perlu minta maaf, Chiho-dono. Ini adalah masalah Ente Isla."

Suzuno menepuk pundak Chiho untuk membuatnya merasa baikan.

"Aku tidak ingin melihat seorang gadis kecil tanpa keluarga terlantar di antara para orang dewasa, hanya karena dia bisa saja menyebabkan masalah untuk mereka. Di samping itu, aku juga tidak punya pekerjaan jadi aku tidak keberatan untuk mengurusnya. Aku juga punya banyak pengalaman merawat anak-anak."

Meskipun penampilan Suzuno bisa dikatakan seusia dengan Chiho, atau bahkan lebih muda, tapi, berdasarkan posisinya dan masa lalunya sebagai anggota dari kependetaan gereja, dia sebenarnya adalah gadis tertua di grup tersebut.

Semua orang selain Suzuno di grup tersebut tahu kalau bertanya tentang usianya sama saja dengan bunuh diri, tapi dilihat dari usia dan pengalamannya sebagai pendeta, mereka semua berpikiran kalau Suzuno lah yang paling cocok melakukan hal itu.

Terlebih lagi, dia yang selalu memakai Yukata, yang mana sudah seperti seragam di tempat kerja, memakai apron dan bandana di kepalanya, sambil membawa Alas Ramus di punggungnya menggunakan gendongan bayi, pasti terlihat sangat cocok.

Sebagai tanggapan dari usulan Suzuno, Emi, Ashiya, Chiho dan bahkan Urushihara yang tidak pernah punya niat membantu, menunjukan ekspresi lega.

"..."

Satu-satunya orang yang tidak mengendurkan ekspresi wajahnya adalah Maou.

Di situasi di mana semuanya sudah mulai tenang dan terkendali karena rencana yang masuk akal dari seorang gadis pendeta gereja Divine Creed, yang mana telah memutuskan untuk mengurus seorang anak kecil yang entah bagaimana mempunyai keterkaitan dengan pedang suci, Better Half, Maou berulang kali melihat Emi, Alas Ramus dan tangannya sendiri.

"... Anu.. Maou-san?"

Orang yang pertama kali menyadarinya adalah Chiho.

"Apa... Ada yang salah?"

"Yeah, ada satu hal... Tidak, ada dua hal yang masih belum aku mengerti."

Maou menjawab sambil melihat ke arah Emi, bukan ke arah Chiho.

"Aku mungkin terlalu memikirkannya, tapi...."

Maou menggumam sambil meletakkan tangannya di kening, Chiho memiringkan kepalanya tidak tahu apa yang coba dikatakan oleh Maou. Maou terus menggumam dan menyuarakan pemikirannya tanpa menunggu jawaban dari Chiho.

".... Kenapa dia tidak bilang "mommy adalah Emilia"?"

"Apa?"

Chiho melebarkan matanya karena perkataan Maou yang merubah alur percakapan secara tiba-tiba. Tapi yang lebih penting lagi, tepat pada saat itu, Chiho merasakan sakit yang tak bisa di jelaskan menyerang hatinya.

Dia mencoba untuk mengabaikan rasa sakit tersebut.

Dia sudah tahu kalau Emilia adalah nama asli Emi, dan dia juga mengerti kalau Emi dan Suzuno adalah musuh Maou.

Tapi pemikiran ini terlintas di pikirannya.

"... Apakah aku akan selalu menjadi "Chii-chan"?"

Dia hanyalah gadis SMA biasa yang kebetulan tahu rahasia mereka, ditambah lagi dia tidak punya kekuatan apapun.

Pengungkapan perasaan yang masih belum mendapatkan jawaban, ketika Chiho diculik oleh Sariel, Maou menyatakan kalau dia adalah "bawahan yang harus dia lindungi".

Dia hanya sekedar tahu mereka saja, tapi tidak semuanya, di tempat kerja maupun di luar tempat kerja, Chiho selalu dilindungi oleh Maou.

Bahkan di momen seperti saat ini, pergolakan yang dia alami antara sisi rasionalnya yang sadar untuk menerima siapa dirinya, dan hasratnya yang menginginkan dirinya agar dianggap setara dengan Maou, masih saja terasa menyakitkan baginya.

"Hmm?? Apa kau bilang sesuatu, Chii-chan?"

"Maaf.... Bukan apa-apa."

Chiho merasa malu karena tidak bisa fokus dengan situasi yang mereka alami, dan mundur beberapa langkah dari kerumunan yang mengelilingi Alas Ramus.

Tentu saja Maou tidak menyadari sakit hati yang dialami Chiho, dan setelah ragu-ragu untuk sesaat, dia mengatakan sesuatu yang tidak seorang pun akan menyangkanya.

"Sudah diputuskan. Alas Ramus akan tinggal di kastil Raja Iblis."

XxxxX

"Jadi... Ke mana sebenarnya Urushihara-san pergi?"

Ketika Chiho mengulang pertanyaannya sambil mengingat kekacauan di hari sebelumnya, sebuah suara menjawabnya dari tempat yang tidak terduga.

"Maaan, panas sekali.... Ashiya, apa kita belum akan makan?"

Pintu lemari geser terbuka dengan sebuah suara derakan, Urushihara yang berkeringat keluar dari lemari tersebut.

"Oh.. Kau disini, Chiho Sasaki?"

Baca LN Hataraku Maou-Sama Volume 3 Chapter 2 Translate Indonesia

Chiho kehilangan kata-katanya karena kejadian tak terduga ini.

Setelah melihat lebih dekat, dia melihat lampu, laptop dan kipas angin mini berada di dalam lemari.

Urushihara keluar dari lemari ketika Chiho melihatnya, kemudian dia berjalan menuju kulkas dengan ekspresi acuh tak acuh, mengambil sebotol Barley Tea milik Alas Ramus lalu kembali lagi ke dalam lemari.

"Well, anggap saja rumah sendiri."

Kata Urushihara, seperti robot kucing yang tidak berguna sedang menutup lemari.

"... Ashiya-san..."

"Aku tidak melihat apa-apa."

Jawab Ashiya dengan suara lemah.

"Aku tidak ingin dia terlihat di pandanganku lagi. Kemarin malam, Maou-sama dan aku terus mencoba semuanya agar bisa membuat Alas Ramus berhenti menangis, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan berhenti menangis dan terus bertanya.. "Di mana mommy? Di mana mommy..??" Dan Urushihara telah mengabiskan waktunya di dalam lemari sejak tadi malam."

"Urushihara-san seharusnya terserang haus saja dan mati karena dehidrasi."

Chiho berempati kepada Ashiya dari lubuk hatinya yang terdalam.

Ketika Maou bilang akan merawat Alas Ramus, Suzuno yang pertama mengusulkan untuk menjadi pengurusnya, menentang Maou.

Tapi ketika Alas Ramus bangun dan mengatakan ingin bersama daddy-nya, Suzuno langsung menyetujuinya dengan mudah.

"Keinginan anak-anak harus dihargai. Tapi aku akan segera mengambilnya dari tanganmu kalau aku melihat tanda-tanda kau melakukan sesuatu yang bisa merusak kelakuannya kelak." Suzuno memperingatkan.

Dan karena dia mempunyai sihir suci yang lebih besar dibandingkan tiga iblis itu, sekaligus tinggal di sebelah rumahnya, kata-kata Suzuno menjadi sangat menakutkan.

Namun, masalah "Mommy" masih belum selesai. Tidak seperti Suzuno, Emi tidak bertetangga dengan mereka. Alas Ramus terlihat puas ketika dia akan tinggal bersama Maou, yang mana hal tersebut memecahkan satu masalah mereka. Namun, dia dengan gelisah langsung menatap ke arah Emi, yang akan bersiap-siap untuk berbelanja dengan Suzuno seperti yang sudah mereka rencanakan pada awalnya.

"Mommy, apa kau akan meninggalkanku lagi?"

Dia bertanya dengan mata berkaca-kaca, membuat Emi kehilangan kata-katanya.

"...?"

Maou memiringkan kepalanya menanggapi pertanyaan Alas Ramus dan menjawabnya dengan nada bujukan.

"Hey, dengar Alas Ramus, mommy hanya akan pergi keluar sebeeeentar saja?"

"Pergi keluar?"

"Yep, dia akan segera kembali."

"... Benalkah?"

Emi merasa ragu ketika melihat Alas Ramus yang memasang ekspresi sangat berharap, Maou mengisyaratkan "bilang saja iya" ke Emi dari belakang Alas Ramus.

"Benar, aku akan segera kembali."

"Yee, kalau begitu aku akan menjadi anak pintar dan menunggumu."

Alas Ramus mengangguk, percaya sepenuhnya dengan apa yang Emi katakan. Semua orang kecuali Urushihara merasa kalau hatinya seperti ditikam oleh pisau.

Karena kejadian Alas Ramus ini, sudah hampir menjelang malam ketika Emi dan Suzuno pergi, Chiho juga pulang ke rumahnya, jadi dia hanya tahu sampai saat itu, bagaimanapun...

"Apakah Yusa-san tidak kembali?"

"Tidak, dia kembali ke sini dengan Crestia, namun... Di situlah masalahnya dimulai. Alas Ramus berpikir dia akan tidur bersama dengan Emilia."

Kali ini, pintu raja iblis terbuka dan Suzuno masuk dengan membawa tas belanjaan seperti Chiho.

"Hai, Suzuno-san."

"Alsiel, ini bento dan minuman bervitamin yang kau inginkan."

Suzuno dengan kasar menyerahkan tas belanjaan kepada Ashiya yang mengambilnya dengan malas dan berkata....

"Aku tidak akan berterimakasih padamu, berapa harganya?"

"Orion-Bento dengan daging babi goreng dengan jahe harganya 500 yen, minuman vitaminnya itu punyaku, tapi aku akan memberimu satu."

"..."

Ashiya mengeluarkan koin 500 yen dan menyerahkannya kepada Suzuno tanpa bilang sepatah kata pun, lalu berdiri dan membuka kemasan bento nya.

"Maaf, Sasaki-san, aku makan siang dulu..."

"Uhh.. Y-ya, silahkan.. Jangan sungkan."

"Apa? Makan siang?"

Kemudian, Urushihara menggeser pintu lemarinya dan mengeluarkan kepalanya setelah mencium bau daging babi goreng dengan jahe. Tapi...

"Diamlah, dasar parasit."

Seorang jenderal iblis tertinggi yang menaklukan benua timur Ente Isla hanya dalam waktu setahun, menjawab Urushihara dengan ekspresi yang dipenuhi dengan kebencian, yang terlihat seolah-olah bisa melukainya secara fisik. Mengejutkannya, Urushihara tidak mengatakan apapun untuk membalas hal tersebut dan masuk kembali ke dalam lemari.

Dan kemudian Ashiya perlahan melanjutkan memakan bento nya tanpa memperhatikan Suzuno ataupun Chiho.

"Memikirkan Ashiya membeli dan memakan sebuah Orion-Bento...."

Chiho memberikan komentarnya mengenai betapa tidak normalnya tingkah Ashiya ini, dan mengusap air mata dari matanya.

"Tangisannya tadi malam benar-benar di luar perkiraan. Bahkan aku yang berada di kamar sebelah terbangun berkali-kali karena tangisannya."

Kalau dilihat lebih dekat, Suzuno ternyata memakai make up. Betapa langkanya pemandangan ini, sama sekali tidak dapat dibantah lagi, karena Suzuno hampir tidak pernah menggunakan make up. Sudut matanya terlihat sayu, dia pasti benar-benar terpengaruh dengan keadaan ini.

"Tangisannya pagi ini juga begitu keras. Dia benar-benar tidak membiarkan Raja Iblis pergi bekerja. Dia pasti berpikir kalau si Raja Iblis tidak akan kembali lagi setelah kemarin Emi pergi meninggalkannya."

"Begitu ya!! Yusa-san juga tidak bisa tinggal di sini terlalu malam."

Sebagai wanita dan juga pahlawan, Emi pastinya tidak bisa tinggal di kastil Raja Iblis, pikir Chiho.

Tapi sebenarnya, Emi pernah menginap sekali di kastil Raja Iblis. Ketidaktahuan terkadang bisa membahagiakan. Tinggal di kamar Suzuno bisa juga menjadi solusi lainnya, tapi sepertinya tidak berguna. Suzuno hanya punya sedikit kosmetik dan karena ini di tengah-tengah musim panas, Emi pasti membutuhkan banyak baju ganti.

Namun, jika Emi tetap bolak balik antara kastil Raja Iblis dan apartemennya di Eifuku Town, pemandian umum di Sasazuka mungkin sudah tutup sebelum dia pergi ke sana. Dia harus bekerja esok paginya dan tidak mungkin dia bekerja tanpa mandi.

"Itu tidak seperti Emi tidak peduli dengan keadaan ini, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawab pekerjaannya."

Kata Suzuno sambil mengeluarkan ponsel dari lengan Yukatanya, membukanya dan menunjukan layarnya ke Chiho.

Nama "Emilia" tertulis di layar tersebut, dan tepat di sampingnya terdapat pesan yang bertuliskan... "Aku tidak akan datang lagi ke sana mulai besok.. Aku benar-benar merasa tidak enak, tapi tolong rawatlah dia."

Chiho membaca pesan tersebut, tapi dia lebih tertarik dengan fakta bahwa Suzuno sudah mempunyai ponsel. Dia melihat bolak balik antara Suzuno dan ponselnya.

"Suzuno-san, kau membeli ponsel?"

"Hm? Oh ya, aku membelinya kemarin. Aku meminta tolong pada Emilia dan mengajariku banyak hal."

"Yey, ayo bertukar nomor. Itu ponsel merk Docodemo kan?"

Ponsel Suzuno bukanlah merk ponsel yang terkenal, tapi hanya model ponsel flip yang biasa.

"B-bertukar?? Aku tidak yakin bagaimana prosesnya bekerja. Tapi aku yakin ada fitur sensor inframerah di ponsel ini."

Suzuno mencari-cari fitur tersebut di ponselnya. Dia melihat ke seluruh ponselnya dengan kerut di wajahnya. Namun, akhirnya dia menyerah dan menyerahkan ponselnya ke Chiho dengan wajah seperti telah dikalahkan oleh sesuatu.

"... Maaf Chiho-dono, aku tidak bisa menemukannya, jadi aku akan senang menerima bantuanmu."

"Tentu, tapi apa tidak masalah aku melihat-lihat ponselmu?"

"Tidak masalah, aku baru saja membelinya, dan yang telah kulakukan hanyalah menyimpan nomor Emilia."

Chiho tidak bermaksud untuk menganggap dirinya sebagai orang yang berpengalaman dengan gadget, tapi jika hanya ponsel, dia cukup percaya diri bisa menemukannya hanya dengan sedikit mengotak-atiknya, meskipun itu sedikit berbeda dengan ponselnya.

Namun, ketika Chiho membukanya, ada hal yang aneh dengan ponsel tersebut.

Chiho juga punya ponsel merk Docodemo, tapi nomor yang tertulis di ponsel Suzuno begitu besar.

Ditambah lagi tombol besar untuk angka 1, 2, 3, terletak di barisan paling atas dari keypadnya. Dia tidak pernah melihat yang seperti itu di ponselnya, ponsel keluarganya ataupun ponsel temannya.

Dan di atas semua itu terdapat tombol "bantuan" terletak di pojok kiri bawah dari keypadnya.

"Suzuno-san, apa ini.... apakah ini ponsel Docodemo tipe "Super-Easy Phone" ?"

Menanggapi pertanyaan Chiho, Suzuno memasang ekspresi terkejut dan mengangguk.

"Mengejutkan sekali Chiho-dono!! Kau bisa tahu modelnya hanya dengan melihatnya saja."

"We-Well, Tentu."

"Aku tidak terlalu tertarik dengan model-model yang lainnya, dan aku tidak membutuhkan fungsi lain selain untuk komunikasi. Terlebih lagi, aku tidak terlalu percaya diri dalam menggunakan ponsel, jadi aku meminta ponsel yang paling mudah untuk dioperasikan, dan inilah yang diberikan kepadaku."

Suzuno menjelaskannya dengan percaya diri, dan Chiho berhenti untuk terlalu memikirkannya.

Iklan di TV selalu mengatakan "Super-Easy Phone" ditargetkan kepada para orang tua yang tidak ahli dalam menggunakan teknologi. Namun tidak ada yang melarang generasi muda untuk menggunakannya.

Tak berapa lama, Chiho menemukan fitur infrared di ponsel Suzuno dan kemudian bertukar kontak dengan mencocokkan sensor di ponselnya dan ponsel Suzuno.

"Ini.. sudah selesai, aku sudah menyimpan nomerku di ponsel mu Suzuno-san."

"Aku sangat berterima kasih padamu, pengetahuanku mengenai telepon hanya sampai pada telepon putar hitam, jadi meskipun aku sudah mencoba membaca buku manualnya, aku sama sekali tidak bisa memahaminya."

Suzuno mengatakannya dengan suara yang terdengar malu-malu, dan mengambil kembali ponselnya.

Dan tepat pada saat itu......

---End Of Part 1---





Translated by : Me [Zhi End]




Previous
Next Post »
0 Komentar