Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 5 - Chapter 2 (Part 3) Bahasa Indonesia

[Translate] Hataraku Maou-Sama Volume 5 - Chapter 2 : Raja Iblis Berbicara Tentang Hubungan Antar Manusia -3



Chapter 2 : Raja Iblis Berbicara Tentang Hubungan Antar Manusia.

Entah berangkat dari Hanamaru Udon ataupun dari stasiun, mereka bisa mencapai Toko Peralatan Rumah Tangga Yodogawa Bridge di Shinjuku-Nishiguchi dalam waktu kurang dari 5 menit. Tempat itu adalah toko elektronik yang cukup besar yang berada tepat di depan terminal Bus jarak jauh Keio.

Di Shinjuku-Higashiguchi, Sakurabaya yang membuka gedung khusus perbelanjaan untuk mempertahankan individualitasnya, telah menghentikan operasinya, dan saat ini, hanya ada dua toko besar, yaitu BIG CAMERA dan LABIT, Amada Denki yang masih bersaing satu sama lain, namun di Nishiguchi, bisa dikatakan kalau tempat itu adalah taman bermain bagi Toko Peralatan Rumah Tangga Yodogawa Bridge.

Meskipun masih ada toko eletronik yang menargetkan produk tertentu, seperti toko kamera di sekitarnya, tapi berdasarkan kekuatan keseluruhan, Toko Peralatan Rumah Tangga Yodogawa Bridge, tidak diragukan lagi adalah penguasa dari Shinjuku-Nishiguchi.

"Inilah toko yang akan melayani Raja Iblis!!"

Maou memandang toko dan mengatakan hal tersebut dengan ceria.

Meskipun membeli mesin cuci dan kulkas, serta menggunakan poinnya untuk membeli bohlam tidak bisa disebut pelayanan penuh, tapi bagaimanapun, kartu Yodogawa Bridge milik Kastil Iblis memang telah mengumpulkan sejumlah poin. Karena kartu ini senilai dengan 6.139 yen di Yodogawa Bridge, maka membeli barang-barang di sini dan menggunakan poinnya untuk menghemat uang adalah sifat alami manusia.

Mempertimbangkan hal ini sebagai kekuatan pemasaran yang bisa diulang-ulang, tidak heran kalau berbagai bisnis akan berupaya sepenuhnya untuk membuat pelanggan mereka mendaftar untuk memiliki kartu poin.

Pada akhirnya, asalkan para pembeli menggunakannya, sebelum seluruh poinnya habis, pemikiran kalau 'masih ada poin' akan membuat mereka ingin terus berbelanja.

"Hey Ashiya, apa ada sesuatu di Kastil Iblis yang bisa mengumpulkan poin?"

"Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu, fokus saja pada belanjaan yang ada di hadapanmu."

Ashiya mengabaikan hal tersebut. Sepertinya dia sedang membuka lebar matanya, dan memeriksa pamflet dari toko-toko lain.

Termasuk juga Peralatan Rumah Tangga Yodogawa Bridge, pamflet dari setiap toko biasanya memiliki slogan 'walau hanya 1 yen, asalkan toko lain lebih murah daripada di sini...." atau sesuatu yang mirip seperti itu.

Begitu Ashiya melihat slogan ini, tanpa mempedulikan cuaca panas atau apapun, dia pasti akan berlari ke Higashiguchi sendirian, mengambil pamflet dari semua toko pesaing dan kembali.

"Mata Ashiya-san benar-benar serius."

Rika, yang baru pertama kali melihat Ashiya seperti ini tersenyum kecut.

"Tapi, itu tidak terlalu berbeda kan? Tidak perlu membandingkannya sampai segitunya...."

"Tidak, kurasa apa yang dilakukan Ashiya-san itu benar."

Maou merasa kalau mereka seharusnya tidak perlu mempermasalahkan beberapa ratus yen, tapi Rika mendukung metode Ashiya secara terang-terangan.

"Karena pihak toko sudah mengatakannya sendiri, maka kita harus memanfaatkan hal ini kan?"

"... Soal itu, meskipun secara teori benar, tapi itu rasanya seolah-olah kita terlalu banyak menawar..."

"Hah?"

Rika melipat tangannya, dan menjelaskan dengan sikap yang serius.

"Membeli itu juga tentang tawar menawar. Pembeli ingin membeli dengan harga yang semurah mungkin, sementara penjual ingin menjual dengan harga setinggi mungkin. Bagi penjual, mereka berkompromi melalui sebuah metode untuk mencapai tingkat harga tertentu, dan untuk pembeli, mereka mencari alasan yang bisa digunakan untuk membujuk penjual menyetujui tingkat harga yang mereka inginkan, beginilah bagaimana bisnis itu bisa terus berjalan. Tidak ada yang lebih penting daripada mengumpulkan informasi."

"Tawar-menawar ya?"

"Dan menurutku, alasan kenapa orang-orang menganggap tawar-menawar sebagai sesuatu yang berlebihan, adalah karena orang Tokyo merasa kalau 'potongan harga' itu hanya semata-mata tentang menurunkan harga."

"Eh? Jadi kau benar-benar dari Kansai?"

"Bukankah aku sudah memberitahu Maou-san sebelumnya? Aku ini lahir di Kobe."

Rika menunjuk dirinya sendiri ketika sedang menjelaskan.

".... Bagaimana biasanya kau menyingkat MgRonald?"

"Berhenti bercanda! Aku sudah ditanyai hal ini berulang kali oleh orang-orang Tokyo."

Meski ini adalah masalah penting bagi Maou, tapi Rika tampaknya tidak menanggapi pertanyaan ini dengan serius.

"Kesimpulannya, hmm bagaimana mengatakannya ya. Mengenai potongan harga, itu sebenarnya adalah sebuah negosiasi agar bisa melihat hubungan dengan jelas."

"Melihat sebuah hubungan dengan jelas?"

"Yeah, contohnya..."

Rika dengan cermat mengamati pembeli lain di bagian televisi.

"Sebelah sana, di sana ada pasangan berusia sekitar 50 tahun dan seorang pegawai, apa kau bisa melihatnya?"

Setelah melihat arah yang ditunjuk Rika, Maou pun mengangguk.

"Pegawai itu terlihat sangat handal. Untuk istilah-istilah yang sulit dipahami oleh orang tua, dia menjelaskannya secara detail dengan istilah orang awam. Maou-san juga bekerja di industri pelayanan, kau seharusnya bisa mengerti kalau tipe-tipe orang seperti itu bisa memberikan kesan yang baik kepada orang lain kan?"

"Yeah, jika mereka tidak memiliki pengetahuan tentang produk secara penuh dan kesediaan untuk melayani, mereka tidak akan bisa mencapai standar tersebut."

"Tapi lihat pegawai itu, menurutmu dia berbicara dengan siapa?"

"Berbicara dengan siapa....?"

Dari sudut pandang orang luar, terlihat si suami menanyakan berbagai pertanyaan kepada si pegawai, sementara si pegawai, menjawab pertanyaan itu untuk orang yang berbeda dengan sikap yang sudah terlatih.

"Meski yang bertanya adalah si suami, tapi pegawai itu  nampak menjawab ke arah si istri sepanjang waktu."

Suzuno yang melihat ke arah yang sama, menyuarakan pemikirannya.

"Karena pegawai itu tahu kalau pemain kunci yang akan melakukan transaksi adalah si istri."

"Jadi artinya dompet si suami dikuasai oleh si istri?"

Maou menjawabnya dengan sebuah kerutan di dahi, Rika mengangkat bahu, menggelengkan kepalanya dan mengatakan...

"Salah, salah, salah. Inilah kenapa pria benar-benar..... Sesuatu seperti televisi, bukankah itu adalah sesuatu yang digunakan oleh seluruh anggota keluarga?"

"Hah?"

"Maksudnya, mengizinkan orang yang paham untuk memutuskan membeli, atau membeli setelah memperoleh persetujuan dari semua pengguna, perasaan setelah membeli dalam dua situasi ini akan sangat berbeda."

Ashiya yang tidak menoleh sama sekali dari pamflet iklan, menjelaskannya kepada Maou yang mana masih terlihat tidak mengerti.

"Jika mereka mengizinkan si suami untuk mencari tahu tentang produk dan membelinya tanpa persetujuan si istri, maka akan ada perbedaan pemikiran antara si suami dan si istri soal pembelian ini. Kalau mereka membuat si istri yang tidak terlalu paham tentang permesinan menerima tawaran ini, maka mereka akan membeli dengan perasaan yang lebih puas. Dilihat dari situasi saat ini, si suami sepertinya sudah memutuskan untuk membelinya."

"Seperti yang diharapkan dari Ashiya-san, suami rumah tangga memang beda."

"Aku tersanjung."

Ashiya tidak mengangkat kepalanya dan masih menatap ke arah pamflet.

"Jika kau benar-benar ingin membicarakannya, ini ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Suzuki-san soal tawar menawar. Asalkan kau menjelaskannya dengan benar dan mendapatkan persetujuan si istri, kemudian memberikan diskon ataupun cara untuk menambah poin, maka proses jual beli ini akan berjalan lancar. Selain itu, pembeli juga akan mendapatkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan, tidak hanya dengan pelayanan yang baik, tapi juga dengan transaksi yang hebat pula. Jika kau melihat toko semacam ini, kesan apa yang akan dapatkan?"

"Kesan macam apa, itu...."

"Mungkin kau akan memiliki pemikiran 'ayo beli lagi di sini lain kali'. Dan ini tidak ada hubungannya dengan mengumpulkan poin."

Suzuno satu langkah lebih cepat daripada Maou dalam hal memahami apa yang coba dikatakan oleh Ashiya.

"Benar. Dan jika si pegawai masih mengingat pelanggan itu ketika mereka datang kembali, maka itu akan menjadi lebih sempurna."

Rika mengangguk puas, menyetujui jawaban Ashiya dan Suzuno, sementara Maou yang masih tidak mengerti, melihat ke arah pasangan yang disebut-sebut dalam topik ini. Si pegawai terlihat membawa mereka ke kasir, dan sepertinya mereka juga telah selesai menyelesaikan berbagai urusan.

"Pada akhirnya, potongan harga itu berarti 'aku akan menjadi pelanggan tetapmu, jadi berikan aku diskon'. Dan hasilnya berbagai toko merubahnya menjadi sistem kartu poin tersebut. Dengan benda itu, bahkan orang-orang Tokyo introvert pun, bisa bertanya langsung kepada orang lain untuk meminta diskon, iya kan?"

Rika menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arah kartu poin yang dipegang oleh Maou dengan sikap yang begitu menghargai.

"Uuhh..."

"Tentu saja ini tidak berarti pihak toko akan memberikan diskon dengan sembrono. Mereka juga perlu menemukan garis di mana mereka bisa meminimalkan kerugian mereka selagi membuat pembeli berminat untuk datang kembali. Jadi, potongan harga itu sebenarnya adalah sebuah tipe negosiasi. Ibu-ibu dari Osaka itu sangat menakjubkan, kau tahu? Meskipun orang-orang cenderung mengatakan kalau mereka adalah wujud dari kekikiran orang Jepang, asalkan toko bisa mendapatkan kesan baik dari mereka, maka orang-orang itu akan membawa keluarga mereka dan menghabiskan banyak uang di sana. Bagi toko-toko ini, jika ada kesempatan untuk menciptakan penjualan yang lebih besar dengan keuntungan yang kecil, tentu saja mereka akan melakukan perjudian. Karena ada kemungkinan kalau kedua pihak akan merasa puas di waktu yang akan datang, itulah kenapa sangat memungkinkan untuk mendapatkan potongan harga dengan orang lain di Kansai."

Dilihat dari ekspresi Maou dan Suzuno, bagi mereka, kata-kata Rika hampir seperti konsep dari dunia lain.

"Meskipun kedua pihak menganggapnya sebagai bisnis, tapi bisa berbelanja dengan penghitungan yang cermat dan menemukan tempat di mana kompromi sangat memungkinkan di level perasaan manusia, adalah apa yang disebut dengan 'negosiasi potongan harga'. Tapi di kepala orang-orang Tokyo, mereka hanya berpikir tentang menurunkan harga di atas kertas, dan bagi mereka yang tidak ingin menurunkan harga, maka mereka tidak akan pernah menurunkan harganya sama sekali, di mata orang lain, mereka masih akan merasa kalau itu seperti tawar menawar. Jangan hanya puas dengan sudut pandang pembeli saja, karena mereka ingin memberi kita sesuatu yang begitu menyenangkan, maka kita sebaiknya menggunakan 'pembicaraan bisnis' untuk menyerang secara proaktif."

"Su-sudut pandang setiap orang ternyata sedikit berbeda ya..... Tapi, ngomong-ngomong...."

Maou, yang nampak mengingat sesuatu, mengatakan...

"Ketika aku pertama kali membeli mesin cuci dan kulkas, meski aku tidak berkata apa-apa, tapi mereka dengan sendirinya menurunkan harga sampai di bawah ribuan digit. Apa ini juga prinsip yang sama?"

"Itu sepertinya masalah waktu, mungkin? Kapan kau membeli barang-barang itu?"

"Kira-kira awal musim panas...."

"Nah mungkin saja. Pada waktu itu, gelombang pindah rumah pada musim semi sudah terlewati, dan saat itu adalah periode di mana penjualan alat-alat rumah tangga sedang menurun. Waktu itu, kau membeli mesin cuci dan kulkas sekaligus, tentu saja si pegawai akan menunjukan sisi baik mereka kepadamu."

".... Kalau begitu, apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli televisi?"

Jawaban macam apa yang Ashiya harapkan dengan menanyakan pertanyaan ini?

"Bisa dikatakan tidak buruk, kurasa? Sebelum beralih sepenuhnya ke era pemakaian televisi digital, mereka seharusnya berharap bisa meningkatkan keuntungan dari penjualan televisi, selain itu....."

Rika tiba-tiba menoleh ke arah Suzuno.

"Hm? Ada apa?"

"Erhm....."

Rika memberi isyarat kepada Ashiya, dan mengatakan hal ini setelah membuat jarak dengan Suzuno.

"Kau harus mendekati Suzuno, okay."

"Ke-kenapa...?"

"Pikirkan baik-baik, berapa dana yang dia miliki?"

"Dia tadi sepertinya bilang 70.000......"

Begitu mengatakan hal tersebut, Ashiya tiba-tiba mengangkat kepalanya.

"Be-benar! Kalau kita berdua pergi menemui pegawai toko bersama...."

"Lakukan yang terbaik!"

Rika yang telah memberikan seluruh petunjuknya, menepuk punggung Ashiya dengan pelan. Ashiya yang sebelumnya mengubur dirinya di dalam pamflet iklan dengan wajah tanpa ekspresi, kini mengubah ekspresinya, menunjukan senyum bahagia dan tanpa sadar memegang tangan Rika.

"Terima kasih, Suzuki-san, senang rasanya kau ikut ke sini!"

"Kya! Eh, ah, eh, eh, ye-yeah, ti-tidak masalah!"

Karena tindakan Ashiya yang tiba-tiba, wajah Rika seketika memerah, dia menatap tangannya yang dipegang oleh Ashiya.

"Aku akan berusaha yang terbaik untuk memeras budget dari 41.239 yen agar bisa membeli HP. Sampai jumpa lagi!"

"Kya, kyah!"

Setelah menunjukan wajah penuh senyum kepada Rika yang mengeluarkan teriakan aneh, Ashiya pun dengan cepat berlari ke samping Suzuno.

"Kamazuki Suzuno! Ayo pergi dan melihat-lihat bersama!"

"Kenapa, kenapa tiba-tiba! Apa yang terjadi? Jangan, jangan tarik aku, lepaskan, dasar menjijikkan!"

"....Ada apa ini?"

Maou memandang ke arah Ashiya yang memegang Suzuno dan berlari ke dalam toko, serta Rika yang mematung di tempatnya dengan wajah yang sepenuhnya memerah.

"Hey, sebenarnya apa yang kau katakan pada Ashiya?"

"......"

"He-hello?"

Maou mencoba melambaikan tangannya di depan Rika, tapi Rika sama sekali tidak bereaksi.

Merasa seolah pernah menemui situasi yang mirip seperti ini entah di mana, setelah Maou memikirkannya sejenak....

"..... Yosh!"

Maou menepukkan tangannya di sebelah telinga Rika.

"Woah!"

Setelah mengeluarkan suara yang benar-benar berbeda dan sama sekali tidak terdengar manis, Rika pun akhirnya mendapatkan kembali akal sehatnya.

"Eh, eh, eh? Aku, aku....."

"He, hello, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Wah! Ap, apa, ternyata Maou-san, sejak kapan kau berdiri di sana?"

"..... Sekitar beberapa detik yang lalu. Boleh aku bertanya sekarang?"

"Ad-ada apa?"

"Kau, apa kau sebenarnya...."

"Ye-yeah?"

Maou menolehkan kepalanya untuk melihat punggung Ashiya yang menemui seorang pegawai toko dan terus menanyakan pertanyaan bersama dengan Suzuno yang berwajah dingin, kemudian dia mengalihkan kembali pandangannya ke arah Rika.

".... memiliki perasaan terhadap Ashiya?"

"Wagh!"

Seketika wajah Rika mengeluarkan uap dan suara seperti sebuah alat pelembab udara, dan jatuh ke tanah.

"He-hello, apa kau baik-baik saja? Aku tidak menyangka kalau kau akan bereaksi seperti ini!"

Maou mencoba memberdirikan Rika dengan panik dan menariknya ke arah bangku terdekat untuk mendudukannya.

**

"Hey, Raja Iblis."

"Ah?"

"Kenapa aku harus duduk di sini bersamamu dan meminum teh?"

"Ada apa, ini tidak seburuk itu."

"Ini membuatku tidak senang."

"Jujur sekali!"

Maou dan Suzuno sedang duduk di sebuah bangku yang ada di sebelah eskalator di Toko Peralatan Rumah Tangga Yodogawa Bridge.

Mereka berdua sedang meminum teh gandum yang ada di dalam botol termos yang sebelumnya sudah mereka dinginkan di dalam kulkas, dan di bawah kaki mereka masing-masing, kini terdapat kotak yang berisi sebuah televisi.

Karena Suzuno dan Ashiya masing-masing membeli satu televisi, pegawai yang melayani mereka pun memberikan diskon yang cukup bagus.

Tanpa mendiskusikannya dengan Maou, Ashiya pun membeli stok produk paling murah di toko, yaitu sebuah televisi LCD tipis seharga 32.800 yen. Meskipun televisi yang Suzuno pilih memiliki ukuran yang sama dengan Ashiya, tapi dia membeli model yang dilengkapi dengan perekam bluray dan fungsi playback.

Si pegawai tidak hanya membantu mereka berdua menghemat ribuan digit, tapi dia juga membantu mereka menambah poin yang pada awalnya tidak dimiliki oleh produk-produk berharga khusus.

Karena pegawai itu salah mengira kalau mereka berdua memiliki hubungan yang dekat seperti keluarga ataupun sepasang kekasih, Suzuno pun terlihat tidak senang dari awal hingga akhir, meskipun pegawai itu harus berusaha keras untuk memenangkan hati Suzuno, dari hasilnya, ini adalah perkembangan yang lumayan bagus.

Budget awal Maou dan yang lainnya adalah 41.239 yen, namun pada akhirnya mereka hanya menghabiskan 30.000 yen termasuk 5% biaya garansi, jadi Ashiya nampaknya berencana menggunakan uang sisanya untuk membeli HP.

Alasan Rika ikut hari ini pada awalnya adalah untuk memenuhi janji yang dia buat dengan Ashiya sebelumnya, tapi dari hasilnya, Kastil Iblis juga berhasil membeli televisi yang murah.

Setidaknya, jika Rika tidak ada, meskipun penghuni Kastil Iblis datang ke pertokoan elektronik bersama dengan Suzuno, pemikiran untuk membeli sesuatu bersama pun tidak akan pernah ada di kepala mereka.

"Hey, aku ingin tanya, apa yang kau pikirkan mengenai kedua orang itu?"

"Kedua orang itu? Apa maksudmu Alsiel dan Rika-dono?"

Maou menggunakan dagunya untuk menunjuk arah yang dimaksudnya, saat ini, Ashiya dan Rika sedang berlari-lari di area penjualan HP.

Dibandingkan dengan Ashiya yang perhatiannya nampak tersedot ke dalam area produk, Rika terlihat sedang menutupi sesuatu, dia berulang kali melihat ke arah Maou, tapi ketika pandangannya bertemu dengan Maou, dia akan langsung memalingkan pandangannya.

Selain itu, wajahnya terlihat sedikit memerah, apakah itu karena udara panas dari luar yang masuk ke dalam toko, ataukah.....

"Rika-dono terlihat sangat menonjol."

"Ah?"

"Ketika mereka berdua berdiri bersama, dandanan Alsiel terlihat terlalu biasa. Meskipun mereka bilang kalau satu hal bagus bisa menutupi tujuh hal buruk, tapi jika dia tidak memperhatikan dandanannya, bukankah itu akan berefek pada kredit sosialnya?"

"Jadi, kredit sosial itu, apakah seserius itu?"

"Tentu saja. Berdiri dengan pria seperti itu akan membuat dandanan cantik Rika-dono terlihat berlebihan."

"Kalau begitu, pernahkah kau berpikir kenapa Suzuki Rika berdandan begitu cantik? Dari yang aku lihat, itu bukanlah pakaian normal yang biasa dipakainya ketika dia pergi keluar."

"Kenapa..... Karena belanja kali ini di rencanakan oleh Alsiel. Meskipun aku tidak tahu bagaimana Alsiel dan Rika-dono saling mengenal, tapi Rika-dono tidak tahu kalau Alsiel itu adalah iblis. Karena seorang pria mengajaknya, maka dia seharusnya paling tidak mempersiapkan sesuatu yang khusus digunakan untuk pergi keluar..."

Ketika Suzuno yang berbicara dengan acuh tak acuh sampai pada bagian ini, dia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah dengan apa yang dia ucapkan dan terdiam.

"Ini tidak ada hubungannya dengan potongan harga yang tadi kita bicarakan, tapi menurut kepribadian seorang wanita, apa menurutmu dia akan melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti itu?"

".... hey, hey, tunggu Raja Iblis, mungkinkah?"

"Jangan lupa kalau kepribadian gadia itu adalah tipe yang tidak akan peduli dengan detail poin-poin tertentu, bahkan dengan diriku yang baru pertama kali ditemuinya, dia akan berbicara secara terang-terangan karena aku adalah teman dari temannya, apa kau pikir gadis seperti itu akan sengaja berdandan hanya karena ajakan Ashiya?"

"Jangan bilang kalau Rika-dono....."

Suzuno membeku seketika, dia bahkan tanpa sengaja menjatuhkan botol termos di tangannya.

Karena 80% botol tersebut berisi es, dan adanya sebuah handuk yang menutupi bagian luarnya agar bisa menyerap uap, bukan hanya tidak menimbulkan suara yang keras, tapi teh gandum di dalamnya juga tidak tumpah.

"Ra-Raja Iblis, jangan bilang kalau maksudmu Rika-dono itu tertarik dengan Alsiel?"

"Aku bertanya kepadanya tadi, dan dia membuat teriakan seperti seekor banteng dan pingsan.......wah!"

Maou baru berbicara setengah jalan ketika Suzuno tidak tahan lagi dan memukul Maou.

"Sakit! Apa yang kau lakukan?"

"Akulah yang ingin tahu apa yang telah kau lakukan! Meski kau itu bodoh, seharusnya masih ada batasnya juga!"

"Hah?"

"Tidak heran Rika-dono terus memperhatikan arah sini dari tadi! Bagaimana kau menanyainya?"

"Ow.....uh, aku hanya bertanya secara normal apakah dia menyukai Ashiya...... wah!"

Kali ini, Maou juga menjatuhkan botol termosnya karena dampak dari pukulan Suzuno.

"Dasar Raja Ibliiiiiis!"

"Suzu-Suzuno, ow, aku sulit bernapas.....! A-ada orang lain yang melihat kita!"

"....Ugh!"

Suzuno yang lupa akan sekitarnya dan mencengkram bagian depan baju Maou, memperoleh kembali akal sehatnya di saat-saat terakhir.

"Hal-hal seperti ini, lebih baik kau tidak mengatakannya secara terang-terangan...."

"Apa yang akan terjadi jika aku mengatakannya dengan terang-terangan?"

Suzuno menarik napas dalam untuk menenangkan diri, dia menghembuskan napasnya setelah duduk di atas bangku dengan berat.

"Well, ini bukan masalah apakah itu mungkin atau tidak....."

Suzuno menatap tajam ke arah Maou yang menggumamkan kata-kata tersebut, melalui sudut matanya.

Dan dengan nada yang ringan dan tajam, dia berbicara dengan volume yang hanya bisa didengar oleh Maou,

Baca Light Novel Hataraku Maou-Sama Volume 5 - Chapter 2 Translate Bahasa Indonesia


"Kasus ini berbeda dengan kasus Chiho-dono, apa kau benar-benar ingin aku dan Emilia memanipulasi ingatan Rika-dono?"

"Hah?"

Karena Maou tidak bisa mengerti maksud di balik kata-kata Suzuno, dia mengeluarkan sebuah suara tidak paham.

Mungkin karena reaksi ini masih berada dalam prediksinya, Suzuno hanya terus menjelaskannya dengan nada yang sama.

"Selain kami, Chiho-dono juga tahu tentang kalian semua. Meski begitu, dia masih menyukai orang sepertimu. Mengenai fakta bahwa kau mungkin akan diserang oleh orang lain, Chiho-dono seharusnya sudah bersiap-siap secara mental dengan caranya sendiri. Akan tetapi, Rika-dono itu berbeda."

"...."

'Setelah diingat-ingat, rasanya itu sangat merepotkan bahkan melebihi bayanganku', pikir Maou, tapi jika dia mengatakannya, mungkin dia akan dibunuh dengan Reinforced Holy Hammer, jadi ia tidak mengatakannya.

"Menyukai Alsiel, hanya akan membuat Rika-dono menghadapi masa depan yang suram. Jika kau tidak ingin dia terlibat seperti Chiho-dono, kau seharusnya juga tidak terlibat dengan dia ke depannya."

"Ya ampun, itu tidak hanya akan membawa masa depan yang suram..... pada dasarnya, soal ketetapan hati Chi-chan, itu sebenarnya lebih mengacu ke sekarat, ya kan? Tapi belum dipastikan kalau semua ini akan jadi seperti itu...."

"Itu...."

Ketika ia hendak membantahnya, Suzuno tiba-tiba teringat percakapannya dengan Emi di malam ketika mereka pulang dari Choshi, serta hal-hal mengenai Alas Ramus, oleh karena itu, dia baru berbicara setelah berpikir sejenak...

"Dari sudut pandang obyektif, kemungkinan hal itu bisa terjadi adalah seperti ukuran kotoran Paramecium."

"Jadi kesempatanku bertahan sekecil itu?"

"Tapi dengan Alsiel dan Rika-dono, mereka bahkan tidak punya kemungkinan. Raja Iblis, meskipun kau, Alsiel, dan Lucifer memutuskan untuk menetap di Jepang, itu masih saja mustahil."

"A-apakah seburuk itu? Ugh, meskipun kami tidak berencana melakukan itu dari awal....."

"Berapa lama kalian sudah berubah ke dalam keadaan seperti ini? Siapa yang bisa menjamin kalau kalian semua masih akan mempertahankan wujud yang sama di masa yang akan datang, atau menjadi tua seperti manusia pada umumnya?"

"Hm....."

"Meskipun kau memiliki kekuatan fisik manusia, meski kau memiliki tubuh yang perlu dirawat dengan perawatan medis dari dunia manusia ketika sedang terluka, saat kau berhasil mengumpulkan sihir iblis, pada akhirnya kau masihlah seorang iblis. Oleh karena itu, meskipun kalian semua membuka lembaran baru dan menemukan 'pasangan' manusia, 'pasangan' kalian masih akan menghadapi kemalangan sosial.... selama kalian masih berada di dalam tubuh muda tersebut."

"Kau benar-benar berpikir kalau kami akan bertindak sejauh itu demi manusia, hal ini sebenarnya jauh lebih mengejutkan buatku."

"Di saat begini, kau masih saja mengatakan hal-hal seperti itu."

Suzuno mengangguk dengan acuh tak acuh.

"Jawaban yang tepat tidak bisa didapatkan hanya dengan anggapan semata. Aku berinteraksi langsung dengan kalian di negara ini, kalau aku membuat penilaian menyeluruh terhadap kepribadian kalian semua, kesimpulan ini akan datang dengan sendirinya.... ah!"

Kali ini, Suzuno tiba-tiba menatap Maou, seolah-olah Maou adalah pembunuh ayahnya.

"Meski begitu, ini bukan berarti aku memiliki penilaian positif terhadap kalian! Bagaimanapun, ini adalah pengamatan obyektif."

"A-aku sudah tahu. Te-terlalu dekat, terlalu dekat, aku bilang aku paham."

Menghadapi seorang Penyelidik yang tiba-tiba mencengkram bagian depan kaosnya dan menatap tajam ke arahnya, Maou hanya bisa menunjukan senyum sembrono untuk menenangkan si Penyelidik tersebut.

Suzuno mempertahankan tatapan tegasnya dan melihat ke arah Ashiya dan Rika yang berada di bagian penjualan HP.

"Karena Rika-dono memiliki perasaan terhadap Alsiel, dia pasti akan menghadapi kepahitan dari rusaknya sebuah hubungan, atau akhirnya mengalami perpisahan dengan penghuni dunia lain seperti kita. Apa kau pikir aku dan Emilia akan membiarkannya?"

"....."

Mungkin Suzuno memang telah membayangkannya, setelah Maou menata kembali kerahnya dan mengambil botol termos di lantai, dia balik menatap Suzuno dengan ekspresi suram.

"Kau seharusnya tahu apa yang ingin kukatakan kan? Jika memungkinkan, suruh Alsiel untuk memutus hubungannya dengan Rika-dono mulai hari ini. Dengan begini, rasa sakit yang dirasakan Rika-dono juga akan......"

"Lalu, kenapa kalian semua tidak menghapus ingatan Chi-chan?"

".... menjadi minim..... Apa yang kau katakan?"

"Perbedaan antara Chi-chan dan Suzuki Rika hanyalah apa mereka tahu identitas asli kami atau tidak. Jika kau tidak ingin Chi-chan mengalami kesialan, harusnya tidak masalah jika kalian menghapus ingatannya kan?"

Suzuno sangat terkejut dengan pertanyaan Maou yang mendadak.

"Kriteria apa yang kau gunakan untuk membedakan Chi-chan dan Rika? Tekad Chi-chan patut dihargai sebagai seorang teman, lalu apa tekad Rika tidak pantas untuk dihargai?"

"Bu-bukan seperti itu!! Hanya saja...."

"Hanya apa?"

"....."

Suzuno tidak bisa membalas kata-kata Maou.

"Biar kuajarkan padamu bagaimana mudahnya merubah masa depan tragis Suzuki Rika yang menyukai Ashiya."

Maou mengatakannya dengan santai.

"Itu sederhana. Kita hanya perlu membuat Suzuki Rika tahu kalau kami adalah iblis dari dunia lain dengan cara yang bisa dia percayai. Jika dia begitu beriman, maka dia tidak akan berani mendekati kami, itu juga bagus buatmu dan Emi, jika Suzuki Rika masih menyukai Ashiya bahkan dengan hal ini, itu artinya dia harus berinteraksi dengan kami dengan sejumlah tekad di hatinyai. Paling tidak dia tidak akan merasa sedih dengan cara yang sangat tidak adil."

"Ba-bagaimana mungkin? Jika itu terjadi...."

"Apa yang akan terjadi?"

"Ka-kalau begitu, bukankah Rika-dono akan terseret ke dalam masalah kita juga?"

Nada bicara Suzuno kehilangan ketegasannya.

"Akan sangat bagus jika berbagai macam 'musuh kita' tidak mengetahuinya."

Maou dengan sengaja menggunakan kata 'musuh kita' untuk mengungkapkan hal ini.

"Pada awalnya, Olba itu menyeret Chi-chan yang tidak tahu apa-apa tanpa ragu, kau tahu? Jangan bilang kalau menurutmu Ciriatto atau orang yang mengirim Ciriatto, tidak akan melibatkan orang Jepang yang tidak tahu apa-apa ke dalam masalah ini?"

Maou mengatakannya dengan cara yang halus, tenang, namun percaya diri.

"Semenjak aku dan Emi masuk ke dalam pusat masyarakat manusia di Jepang, yaitu Tokyo, pemikiran untuk tidak ingin melibatkan manusia ke dalam masalah ini sudah tidak berlaku. Jika sesuatu terjadi, apakah yang terbaik itu adalah menyembunyikan identitas asli kita dari orang-orang di sekitar kita, ataukah dalam sudut pandangmu, hubungan kami dengan Suzuki Rika hanya ada di permukaan saja, di mana titik lemah akan muncul ketika identitas kami diketahui?"

"Itu adalah logika yang bertentangan! Hubungan antar manusia tidaklah sesederhana itu!"

"Apa gunanya mengatakan hal itu, kami ini iblis sekaligus manusia di sini. Meskipun logikanya itu akan lebih merepotkan, tapi saat ini kami memiliki hubungan yang baik dengan Chi-chan, iya kan? Apapun alasannya, sejak saat Emi tidak memikirkannya dengan serius dan memperoleh teman, Suzuki Rika itu sudah termasuk dalam kelompok yang terlibat, hanya saja dia tidak pernah menemui bahaya sampai sekarang."

"....."

"Meski tidak diketahui apakah hal ini baik atau buruk, tapi memperluas hubungan dengan manusia tidak sama dengan melibatkan mereka ke dalam masalah kita. Aku juga berinteraksi dengan banyak orang karena pekerjaan dan....."

Maou perlahan berdiri, dan mulai melakukan peregangan untuk mengendurkan otot-otot di pinggangnya.

"Hal ini seharusnya tidak diucapkan olehku, tapi bukankah membosankan menjalani hidup sendirian? Tentunya, memiliki seorang rekan akan sangat bagus, benar?"

Suzuno, dalam keadaan tak bisa berkata-kata, menundukan kepalanya, dan dengan tangan di atas pangkuannya, pundaknya terus bergetar tanpa henti.

Dia memang tidak bisa menyangkal logika ini, namun Suzuno tetap merasa frustasi karena tidak bisa menerimanya secara emosional.

Maou melirik ke arah Suzuno melalui sudut matanya dan mendesah seolah merasa lebih santai.

"Cara berpikirmu sudah terlalu kuno. Tidak masalah jika kau terkadang menjadi seperti Emi dan bertindak tanpa berpikir."

Melihat jepit rambut milik Suzuno bergetar karena rasa bencinya, Maou pun meletakkan tangannya di atas kepala Suzuno.

"Ja-jangan sentuh aku!"

Suzuno dengan mata agak memerah, menyingkirkan tangan itu dengan paksa.

"Itu, itu karena kau dan Emilia terlalu santai! Bahkan jika akulah satu-satunya orang yang memikirkannya dengan serius, apa ada yang salah mengenai hal itu?"

"Tidak ada yang salah mengenai hal itu. Akan tetapi, jika pemikiran itu membawa ke arah yang negatif dan tidak berguna, maka itu hampir sama saja dengan menyerah untuk berpikir. Karena jalan hidup untuk membuat hubungan dengan orang lain sudah kita pilih, maka tidak peduli betapa sulitnya situasi di depan kita, hidup kita akan lebih bahagia jika kita menjalaninya dengan melihat sisi yang baik. Terutama karena aku adalah seorang raja, agar bisa membawa orang-orang yang mengikutiku ke arah yang benar, aku memiliki tugas untuk membawa jalan kehidupan ini."

".... Raja....."

Suzuno mengulangi apa yang Maou katakan.

"K-kalau begitu.."

"Hm?"

"Jika arah yang kita pikir benar, ternyata salah saat kita terus menjalaninya, lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Bukankah sudah jelas?"

Meski Suzuno bertanya dengan niat jahat karena terpancing oleh penggunaan kata-kata Maou, tapi Maou tetap menjawabnya dengan sikap yang sederhana dan ceria.

"Tak masalah selama aku mengizinkan orang yang percaya bisa membimbing semuanya ke tempat yang lebih baik untuk menggantikanku, dan sekali berdiri di depan semua orang."

"Ne, ne, Ashiya-san."

"Ya?"

"Apa Maou-san dan Suzuno itu memiliki hubungan yang sangat baik?"

"Eh?"

Ashiya melihat ke arah yang ditunjuk Rika, dan menemukan Maou dan Suzuno yang sedang membuat keributan di sebelah tangga. Meski mereka tidak terlihat sedang bermain-main, tapi mereka juga tidak seperti mendebatkan sesuatu yang remeh.

"Sebenarnya mereka itu saling bermusuhan satu sama lain."

"Bermusuhan satu sama lain... maksudnya?"

"Tapi....."

Ashiya, dengan ekspresi gelisah di wajahnya, mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang digambarkan oleh ekspresinya.

"...akhir-akhir ini, mereka sudah tidak seperti itu."

".... rasanya, seperti sedikit rumit, begitu?"

"Benar. Itu agak rumit."

Usai melembutkan ekspresinya, Ashiya menatap mata Rika.

Hanya dengan itu saja, sudah cukup untuk membuat detak jantung Rika menjadi lebih cepat beberapa kali lipat.

"Mungkin suatu hari, kami perlu menjelaskannya juga kepada Suzuki-san."

Di bawah tatapan yang hanya bisa dideskripsikan sebagai ketulusan.....

"Yeah...."

Rika hanya bisa mengangguk.

Ashiya memang memiliki sisi yang tidak bisa dimasuki oleh Rika. Sejak pertama kali mereka bertemu, Rika sudah merasakan hal ini. Hubungan antara dia dan Maou juga memiliki atmosfer yang sepertinya tidak bisa dipahami hanya sebagai atasan dan bawahan, biarpun Emi melihat mereka berdua dengan rasa permusuhan yang lebih dari yang seharusnya, tapi Rika juga tahu kalau Emi tidak benar-benar membenci mereka.

Sebenarnya, tidak memiliki pengetahuan sosial mengenai televisi seperti tadi, meski mereka sudah berpengalaman menjalankan sebuah perusahaan, rasanya juga terlalu aneh.

Rika memang menerima penjelasan Ashiya ketika mereka pertama kali bertemu, tapi mungkin 'Maou Group' yang sebelumnya Ashiya bicarakan, adalah sebuah kebohongan untuk menutupi masa lalu mereka yang begitu besar.

Dia baru bertemu dengan Ashiya tiga kali, dan itu hanya sebatas mengenal satu sama lain. Jika Rika ditanyai, mereka sebenarnya memang sudah dihitung sebagai teman, tapi mereka belumlah sedekat itu, jadi dia tidak bisa mengumpulkan informasi tentang masa lalu mereka.

Selain itu, kapanpun dan di manapun, Ashiya terus menggunakan honorifik ketika menyebutkan namanya seolah-olah Rika itu orang luar.

Sampai saat ini, dengan pria-pria seumuran yang Rika kenal, dia hanya butuh satu hari untuk memperkecil jarak di antara mereka dan menjadi familiar. Namun dengan dinding antara dia dan Ashiya, jangankan kata hancur, bahkan tidak ada sedikitpun retakan pada dinding itu.

Aku ingin menghancurkan dinding itu.

Aku ingin lebih mengenal Ashiya di balik dinding ini.

Keinginan ini secara alami tumbuh di hati Rika.

Maou dan Suzuno memang terlihat saling tidak menyukai, tapi di mata orang lain, interaksi di antara mereka berdua sangatlah terbuka dan jujur.

Meski sedikit aneh kalau menyebut hubungan semacam itu ideal, tapi Rika ingin lebih mengetahui apa yang Ashiya pikirkan dan hidup macam apa yang dia jalani.

Rika tiba-tiba menyadari sesuatu.

Tangan yang ia gunakan untuk membawa Sanma rebus, Saba, dan Iwashi, saat ini sedang menguatkan genggamannya.

"Ashiya-san."

-Aku......

"Apa kau hanya ingin mengumpulkan informasi saja untuk hari ini? Sejak awal, kau tidak harus memutuskan untuk membeli HP hari ini juga, kan?"

"Yeah, memang benar sih...."

-menyukai.....

"Kau tidak perlu memilih Docodemo hanya karena diriku, dan ada masalah budget juga, akan lebih baik jika kau memikirkannya dengan benar setelah membicarakannya dengan Maou-san. Dan setelah itu, jika kau masih belum memiliki pilihan......"

-pria aneh ini.

"Asalkan kau memberitahuku, aku masih bisa kok pergi membeli sesuatu bersamamu."

Rika menyarankan hal ini dengan 90% ketulusan dan 10% perhitungan.

Karena Ashiya menjadi begitu senang ketika TV yang dia beli ternyata harganya lebih murah dari yang dia bayangkan, dia pun kehilangan pembawaanya yang tenang.

Menurut Ashiya, dia tidak pernah mengecek 'plan' apa yang HP Maou gunakan, Rika pikir, kalau dia bisa menyesuaikan kontrak Maou dan membuat mereka berdua menggunakan 'plan' pembayaran  bersama, mereka mungkin akan mendapatkan fungsi yang mereka inginkan dengan harga yang lebih murah. Dan memang mereka tidak memiliki informasi yang cukup dalam aspek ini.

Sementara untuk 10% perhitungan sisanya, jika dia mengajukan hal ini, mungkin Rika bisa membuat kesempatan lainnya untuk bertemu dengan Ashiya, ini adalah tindakan yang murni disengaja.

Hal ini sama saja saat dia menelepon Emi kemarin, karena alasan yang tak diketahui, dia akan menjadi sangat gugup jika nama Ashiya disebut. Dia juga tidak pernah menyangka kalau memberitahu orang lain mengenai masalah ini akan begitu sulit, waktu itu, Rika memang masih belum bisa memahami perasaaannya sendiri, tapi saat dia mulai menyadarinya, jawabannya ternyata begitu mudah untuk dipahami.

"..... Lain kali, boleh aku merepotkanmu lagi?"

Begitu dipastikan akan ada 'lain kali', Rika sudah merasa begitu bahagia.

"Serahkan padaku! Dengan gelar yang kuakui sendiri sebagai kartu truf dari pusat layanan telepon, agar pelanggan bisa memilih HP yang paling cocok dengan dirinya, izinkan aku untuk memberimu saran!"

"Aku akan menantikannya."

Meskipun Rika belum mengenal Ashiya dengan begitu baik, tapi dia masih merasa sebahagia ini hanya karena senyuman orang itu.

Ah, serius ini, ini sama sekali tidak cocok dengan gayaku.

"Kalau begitu, aku akan menyimpan dulu informasi yang kudapat hari ini. Setelah ini, tergantung situasi pekerjaan Maou, aku akan menghubungimu lagi dalam waktu dekat ini."

"Yeah, aku juga memiliki pekerjaan, kita akan membicarakan dan memutuskan waktunya nanti. Kalau begitu, kita akan berpisah setelah kedua orang yang membuat keributan di sana itu mulai menjadi tenang....."

Sebelum Rika bisa menyelesaikan kalimatnya.......

"Kyaaaaaaaaaaa!"

Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar dari tangga, membuat Ashiya, Rika, Maou, dan Suzuno seketika membeku di tempat.

Pembeli di dalam toko juga menunjukan ekspresi kebingungan, melihat ke sekitar mereka untuk menemukan asal suara teriakan tersebut.

"Hey, apa yang terjadi?"

"A-aku akan pergi melihatnya."

Di sana, seorang pegawai yang terlihat seperti pegawai senior berlari menaiki tangga setelah mengatakan hal tersebut.

Setelah Maou yang berdiri di bawah tangga melihat pegawai itu pergi, dia nampak menyadari sesuatu dan menoleh ke arah Ashiya karena hal ini.

Dan Ashiya, sepertinya juga menyadari hal yang sama dengan Maou.

"Suzuki-san, maukah kau menunggu di sini sebentar?"

"Eh?"

"Hey, Suzuno, kau seharusnya menyadarinya juga kan?"

Maou bertanya kepada Suzuno dengan ekspresi suram, sementara Suzuno mengangguk dengan ekspresi tidak senang di wajahnya.

"...... Aku serahkan Suzuki Rika padamu, Ashiya dan aku akan memeriksa situasinya."

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban Suzuno, Maou pun langsung berlari menaiki tangga, dan Ashiya mengikutinya dari belakang.

"Eh? Hey, Ashiya-san, Maou-san, bukanlah lebih baik tidak pergi ke sana?"

Rika yang merasakan atmosfer kecemasan ini, mengatakan hal tersebut seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri. Suzuno, menyaksikan Maou dan Ashiya menghilang di puncak tangga, dia segera bergerak ke samping Rika, dan mulai meningkatkan kewaspadaanya.

Lantai kedua adalah lantai di mana Ashiya dan Suzuno membeli televisi.

Meski belum ada sesuatu yang aneh terjadi, karena alasan yang tak diketahui, sebelum dan sesudah teriakan itu terdengar, sebuah aura menyesakkan bisa dirasakan dari tangga.

".... Rika-san, kupikir lebih baik kita menunggu di luar toko. Aku punya firasat buruk mengenai hal ini."

"Eh, ah, yeah, tapi Ashiya-san dan......"

"Mereka akan baik-baik saja. Mereka mungkin terlihat seperti itu, tapi mereka berdua telah melewati begitu banyak cobaan dan kesulitan."

"A-apa maksudnya itu.... ah, tunggu, tunggu sebentar Suzuno, kau melupakan televisinya!"

Rika berhasil mengingatkan Suzuno untuk membawa kedua televisi tersebut, mereka pun berlari ke luar toko di bawah arahan Suzuno.

Di luar toko, terlihat Shinjuku yang biasanya, sepertinya teriakan itu hanya terjadi di dalam area toko, pejalan kaki yang ada di jalanan pun juga tidak berubah banyak.

Di sisi lain, Maou dan Ashiya langsung menemui situasi yang aneh ketika mereka mencapai lantai di atas tangga.

Berbagai macam televisi yang dipamerkan di dalam toko yang baru saja mereka kagumi....

Semua layar mereka kini telah hancur.

Panel LCD hancur berserakan di atas lantai, para pembeli dan pegawai yang kebingungan, hanya bisa menganga melihat kejadian ini.

"Apa, apa yang terjadi?"

Pegawai yang berlari dari lantai pertama untuk memeriksa situasi, langsung memanggil pegawai lain untuk mencari tahu situasinya.

Dan pegawai muda yang menjawabnya, kebetulan adalah orang yang melayani Ashiya dan Suzuno.

"Erhm, itu, uh, lay-layar...... yang digunakan untuk pajangan tiba-tiba memancarkan cahaya putih...."

"Kau bilang semua layar itu memancarkan cahaya di saat yang sama?"

"Karena cahaya itu begitu silau seperti flash kamera, akupun langsung menoleh, lalu....."

Pegawai lain yang berlari mendekat, juga mengatakan hal yang sama seperti si pegawai pertama.

"Ketika aku memulihkan kembali pandanganku, aku mendapati semua layar LCD ini sudah hancur."

"Ba-bagaimana hal semacam ini bisa terjadi? Be-benar, pertama-tama, ayo kita ungsikan semua pelanggan keluar! Dan juga, cepat cari seseorang untuk menghubungi pemadam kebakaran dan polisi....."

Pegawai yang mencoba menyelidiki masalah ini tadi, tidak bisa menangani situasinya dengan tenang karena keseriusan masalahnya, tapi dilihat dari bagaimana dia langsung memikirkan keselamatan pelanggan dan kemampuannya untuk memimpin yang lain, dia pastinya adalah supervisor yang handal.

Maou dan Ashiya yang baru menaiki tangga, langsung diminta untuk turun oleh pegawai di dekat mereka.

Setelah berbalik dan melihat ke arah bagian penjualan televisi, Maou pun menuruni tangga dan berjalan keluar toko dengan ekspresi tegang di wajahnya.

"Hey, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ashiya-san, apa kau baik-baik saja?"

Suzuno menekan Maou seolah-olah Maou lah alasan di balik insiden ini, sementara Rika hanya khawatir dengan keselamatan Ashiya.

Maou merasa sedikit berkecil hati, tapi dia masih terlihat ceria dan memberikan instruksi pada Ashiya.

"Hey, Ashiya, untuk amannya, kau sebaiknya mengantar Suzuki Rika pulang."

"Eh?"

"Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melaksanakannya."

Rika menjadi begitu terkejut karena perintah Maou yang tiba-tiba, namun Ashiya menerima perintah itu dengan sikap yang begitu terang-terangan.

"Suzu, Suzuki-san, biar kuantar kau pulang. Aku ingat kau tinggal di Takadanobaba......"

"Ah, eh, uh, erhm, tunggu, tunggu sebentar, kemajuan ini terlalu pesat, aku belum siap secara mental, dan aku masih harus merapikan kamarku, erhm!"

Usai menyaksikan Ashiya memegang Rika dan berjalan menuju stasiun, sekaligus Rika yang pergi sambil terus merasa panik karena alasan yang tak diketahui, Maou pun menggerakkan dagunya untuk memberi isyarat kepada Suzuno.

"Kita akan membicarakannya dalam perjalanan pulang. Pokoknya, setelah bertemu dengan Urushihara, suruh Emi untuk datang juga. Ah, Chi-chan juga perlu dihubungi. Kita harus memberitahunya kalau di luar saat ini begitu berbahaya, dia juga harus kita larang agar tidak datang ke apartemen."

"Izinkan aku memastikan sesuatu denganmu terlebih dahulu!"

Nada bicara Suzuno menjadi lebih tegas dibandingkan sebelumnya.

"Itu tadi sihir iblis kan? Apa itu ada hubungannya dengan kelompok Barbariccia?"

"Aku tidak tahu. Tapi biar kujelaskan hal ini dulu padamu. Meski mengatakannya sekarang tidak akan terlalu berguna, tapi itu benar-benar bukan ulah kami."

Aura menyesakkan dari tangga itu tidak diragukan lagi adalah sihir iblis.

Tentu saja, Maou dan Ashiya tidak melakukan apa-apa, Maou juga tidak tahu bagaimana sihir iblis bisa ada hubungannya dengan penghancuran televisi massal.

Tapi satu hal yang pasti, itu bukanlah kejadian biasa.

"Aku sudah tahu meski kau tidak mengatakannya!"

Suzuno memepercepat langkahnya dengan ekspresi dingin di wajahnya.

Karena mereka berjalan sambil membawa televisi, kucuran keringat pun mulai muncul di dahi mereka masing-masing.

"Kau baru saja mendebatku untuk hal yang tidak berguna. Meski kau tidak mengatakannya, aku juga tahu kalau kau bukanlah dalang di balik ini. Dan masa iya, kau yang seorang 'Raja' akan menjadi sangat takut di tempat yang aneh semacam ini."

"Karena aku terlalu sering makan bersama orang yang mengawasi hidupku akhir-akhir ini, aku menjadi agak paranoid."

Maou membalas sarkas tersebut dengan senyum enteng.

"..... Terserah apa katamu. Pokoknya, ayo kita cepat pulang."

Suzuno yang tidak memiliki minat untuk mengurusi hal ini, memalingkan wajahnya dan mendahului Maou dengan langkah yang lebih cepat.

Mereka buru-buru pulang dengan seluruh kekuatan mereka, dua orang yang menyapa mereka saat sampai di Villa Rosa Sasazuka adalah Emi, yang ekspresinya bahkan lebih berat dibandingkan dengan mereka, dan Urushihara, yang menunjukan ekspresi tegang.

"Bell, Raja Iblis ini selalu bersamamu sepanjang waktu, kan?"

"Yeah, yeah.... Alsiel berpisah dengan kami beberapa saat yang lalu...."

Setelah mendengar jawaban Suzuno, Emi memperlihatkan ekspresi sedikit lega. Tapi segera setelahnya, dia langsung menatap tajam ke arah Maou dengan ekspresi dingin.

"Di mana Alsiel? Cepat suruh dia kembali!"

"A-ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

Keadaan mental Emi sangat tidak normal, bahkan Maou pun menyadari kalau tingkah laku Emi agak aneh.

Mata Emi terlihat dipenuhi kegelisahan yang tidak pernah terlihat sebelumnya.

Emi adalah musuh Maou, matanya selalu terbakar dengan tekad yang kuat.

Tapi saat ini, Emi terlihat kehilangan tekadnya, tatapannya terasa seolah-olah dia telah dipojokkan.

Entah itu, Maou, Urushihara ataupun Suzuno, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Emi menunjukan ekspresi seperti ini.

"Aku yang menduga kalau kaulah penyebabnya, dan aku yang merasa lega karena kau bukan penyebabnya, saat ini sedang bertentangan di dalam hatiku. Biar kupastikan kembali, Raja Iblis dan Alsiel terus bersama Bell sepanjang waktu ini, dan kemarin, setelah kembali dari agensi apartemen, kau tidak pergi keluar sama sekali, kan?"

Maou dan Suzuno mengangguk di saat yang bersamaan.

Setelah Emi memastikan hal ini, dengan ekspresi yang begitu sedih, dia mengungkap sebuah fakta yang begitu mengejutkan....

"Chiho pingsan karena terkontaminasi sihir yang kuat. Menurut ibu Chiho, semenjak kemarin malam, kondisinya sudah sedikit aneh."

---End of Chapter 2---





Translator : Me..
Previous
Next Post »
0 Komentar