Baca Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu (WN) Arc 3 - Chapter 71 Bahasa Indonesia

[Translate] Re:Zero Arc 3 - Chapter 71 : Gadis Di Dalam Perpustakaan Terlarang.


Menurut sumber Englishnya ini adalah prelude (pengantar) untuk Arc 4 - Chapter 3. Katanya di Chapter 71 ini, pertemuan Subaru dengan Beatrice akan memberikan pengaruh besar untuk Chapter 3 nanti.

Sayang sekali chapter ini tidak ada di anime. Chapter ini mengambil latar ketika Betelgeuse sudah tidak sadar dan komplotannya melemah. Subaru mengambil 'kitab' milik Betelgeuse dan menyembunyikannya di dalam jaketnya. kemudian Subaru menuju mansion untuk mengevakuasi Ram, Emilia, dan Beatrice.

Kalau di animenya sih ini mengambil latar pada episode 22. Sepertinya memang ada perbedaan besar antara anime dan novelnya. Dan sebelum entar baca Arc 4 - Chapter 3 disarankan untuk membaca ini dulu, gak baca ya gapapa.. Yasudah langsung baca saja...... :3


Chapter 71 (Prelude to Arc 4 - Chapter 3) : Gadis Di Dalam Perpustakaan Terlarang.

"Wha... Aneh sekali.."

Meskipun Subaru secara sukarela sudah mau mencari Beatrice dan berangkat dengan penuh kesombongan.... Sayangnya itu semua tidak berjalan dengan lancar.

Biasanya, ketika Subaru ingin memanggil Beatrice untuk makan malam, yang perlu dia lakukan hanyalah membuka pintu pertama yang dia lihat dan dia pasti akan menemukan Beatrice serta Perpustakaan Terlarang di baliknya. Pernah satu kali, dia bahkan berhasil menemukan Beatrice hanya dengan membuka pintu ruang makan.

Sihir Beatrice 'Door Crossing' adalah sihir tipe Spatial-Transition Dark- yang levelnya berada jauh di atas pemahaman Subaru.

Gadis kecil dan seorang ahli 'Dark Magic' yang bernama Beatrice ini, menggunakan pintu-pintu yang ada di mansion untuk menyembunyikan secara acak keberadaan pintu masuk menuju Perpustakaan Terlarang. Pada dasarnya, hanya ada satu pilihan yang benar dan seolah-olah ingin mempermainkan seseorang yang mencoba mencarinya, pilihan yang tepat itu terus saja berganti-ganti tanpa peringatan sebelumnya.

Tapi entah bagaimana, Subaru bisa dengan mudah mematahkan sihir ini dengan menggunakan apa yang dia sebut dengan kemampuan 'Door Breaking'. Dan juga sangat tidak jelas kenapa orang yang selalu bisa menemukan pintu itu pada percobaan pertamanya adalah seseorang yang sangat tidak bisa membaca suasana.

"Tiba-tiba tidak mau berfungsi di saat-saat seperti ini, ini benar-benar membuatku frustasi, gezz... Setelah membual di hadapan Emilia dan Ram seperti itu, jika aku masih tidak bisa menemukanmu.... aku tidak berpikir kalau aku bisa berpura-pura bodoh dan lari dari hal ini, jadi kumohon, keluarlah oy...."

Subaru menggumamkan kata-kata tersebut sambil membuka pintu kamar para pelayan satu persatu. Setelah sebelumnya membuka semua pintu yang ada di bangunan utama, sampai saat ini dia sudah menghabiskan banyak sekali waktu. Ini adalah pertama kalinya dia kesulitan mencari Beatrice, dan meskipun dia sudah mencoba untuk tetap tenang, itu masih tidak bisa menghentikan keringat yang mengucur dari dahinya.

"....."

Tidak peduli apapun yang terjadi, di dalam mansion kosong yang setiap pintunya terbuka dan membuat perasaan kecewa lagi dan lagi, semua ini pasti terlihat sangat menyedihkan bagi orang yang melihatnya.

"Sialan!! Aku tidak bisa menemukannya!! Aku sudah kehabisan waktu!! Haruskah aku menyerah dan lari meninggalkan semuanya seperti ini? Hatiku sudah terasa sakit hanya dengan memikirkan cara Emilia-tan menatapku dengan seluruh kepercayaan di matanya, guh... Tapi mungkin aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya perlu bilang pada semuanya kalau Beatrice mengalami sakit perut yang serius dan tidak bisa meninggalkan kamar mandi......"

"....... Kurasa kau memang tidak bisa menemukan alasan yang lebih baik, dasar bodoh!"

Ketika Subaru menggaruk-garuk kepalanya dan meratapi situasinya, dia tiba-tiba disambut oleh sebuah jawaban ketus ketika dia membuka sebuah pintu.

Di depan matanya, ruangan yang seharusnya adalah kamar mandi kini malah di tutupi dengan sejenis kertas yang biasanya digunakan untuk membersihkan bokong seseorang.... Intinya tempat itu telah berganti menjadi sebuah perpustakaan yang dipenuhi dengan buku. Perpustakaan Terlarang, sebuah pemandangan yang sudah biasa dilihat oleh Subaru namun tidak pernah dilihatnya untuk waktu yang lama. Penjaganya, seorang gadis yang mengenakan sebuah gaun mewah duduk di hadapannya seperti biasa.

Baca Light Novel Re:Zero Arc 3 translate Bahasa Indonesia


Ketika memasuki ruangan itu, ada sebuah tangga kayu di hadapannya, dan diatasnya terduduk seorang gadis yang membawa sebuah buku tebal di pangkuannya.

"Beako, akhirnya aku bisa menemukanmu di kamar mandi aman dan tentram.... Instingku tidaklah seburuk itu meskipun jika aku tidak mengatakan hal-hal tadi..."

"Ini hanyalah rasa kasihanku terdadapmu saja, karena kau tidak menyerah, kurasa. Dan demi nama baik Betty, akan sangat merepotkan jika kau mulai bercerita kepada semuanya tentang hal yang tidak-tidak."

"Jangan khawatir!! Semua orang itu perlu poop, dan dalam keadaan darurat dengan perut yang sakit, tidak banyak orang yang akan merespon ketika mereka dipanggil. Tapi tidak seharusnya aku mengatakan sesuatu yang tidak peka ketika kau sedang bersusah payah disini, maaf!"

"Apa yang barusan kau katakan tadi adalah sesuatu yang paling tidak peka di dunia ini, kurasa."

Ketika berdiri dari kursinya, Beatrice terlihat sangat jengkel. Melihat kerut di dahinya yang terbentuk dengan begitu liar, Subaru pun mencoba menenangkannya dengan mengatakan 'Salahku, salahku' sambil melambaikan tangannya pelan.

"Mengesampingkan hal itu, sudah lama kita tak bertemu... Aku sudah mengelilingi seluruh mansion untuk mencarimu, ini seperti kau sama sekali tidak membiarkanku masuk!"

".... Itulah bagaimana seharusnya 'Door Crossing' bekerja ketika aku fokus padanya. Jika aku berusaha, bahkan kaupun tidak akan sanggup menemukan pintu masuknya, kurasa."

"Tapi faktanya kau membiarkanku masuk, dan itu sangat sulit dipercayai!! Dasar Tsundere!"

"Jika aku tidak membiarkanmu masuk, kau pasti akan pergi dan menghancurkan nama baikku dengan skandal tadi."

Setelah berteriak dengan marah, Beatrice terlihat malu-malu dengan ekspresi yang aneh di wajahnya. Melihat perubahan sikapnya, sudut bibir Subaru pun terlihat lebih santai ketika dia berjalan menuju tempat dimana Beatrice duduk.

"Bagaimanapun juga, aku senang bisa menemukanmu! Maaf jika ini terlalu tiba-tiba, tapi bisakah kau bersiap-siap untuk pergi? Akan sangat berbahaya jika kau tetap tinggal disini."

"Betty tidak akan pergi!"

"Hah?"

Kata-kata itu langsung menolak usulan Subaru, membuat dia menghentikan langkahnya.

Subaru menatap kearah Beatrice, begitupun Beatrice, dia juga menatap Subaru, lalu kemudian Beatrice pun menghela nafas ketika melihat ekspresi tercengang Subaru.

"Betty tidak akan pergi, itulah yang Betty katakan. Aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan Perpustakaan Terlarang ataupun mansion ini untuk urusan apapun, kurasa. Akan lebih baik jika kau menerima hal itu dan langsung pergi!!"

"Tunggu dulu!! Kau hanya tidak mengerti situasinya sekarang. Kau tidak bisa terus tinggal disini, disini terlalu berbahaya, jadi ayo kita pergi sama-sama. Aku akan menceritakan semuanya padamu!!"

"Bahkan tanpa kau jelaskan pun, kurasa aku sudah mengerti inti dari permasalahan ini. Dan juga, berhenti memperlakukanku seperti anak kecil."

Sambil menatap tajam kearah Subaru, Beatrice pun menjangkau salah satu rak buku, dia mengambil sebuah buku yang terlalu besar untuk ukuran tangannya yang mana buku itu terlihat seperti sebuah ensiklopedia bergambar. Dia kembali ke anak tangga sambil memeluk buku itu di dadanya seperti yang selalu dia lakukan, kemudian dia duduk dengan buku yang terbuka di pangkuannya, seakan-akan tidak ada yang berubah, seakan-akan dia memang tidak berniat untuk pergi.

"Oy, ayolah, jangan mengakhiri percakapan seperti itu dan tiba-tiba mengabaikanku."

"Kurasa tidak ada yang perlu Betty sampaikan lagi. Kaulah yang secara sepihak ingin meneruskannya, dan bahkan jika kau memintaku lagi, jawabanku tidak akan berubah. Sama seperti diriku, kurasa kau juga tidak punya banyak waktu lagi."

"Jika kau tahu sebanyak itu, bantulah aku. Aku akan membawamu bersamaku, dan kau akan ikut denganku, okay?"

"Tidak, terima kasih. Ini akan sama saja, tidak peduli siapa yang datang.... Ya benar, tidak peduli siapa yang datang, kurasa aku tidak akan membiarkan mereka melangkahkan satu langkah pun kedalam Perpustakaan Terlarang."

Mata Beatrice tertuju kearah bukunya, jawabannya benar-benar terdengar kukuh dan tegas. Menggaruk-garuk kepalanya menghadapi sifat keras kepala Beatrice, Subaru pun mendesah.

"Dengar, aku tidak datang kesini untuk membuat keributan, ataupun karena makan malam Ram sudah siap. Aku tidak mau mengatakannya, tapi Pemuja Penyihir akan segera datang. Mereka tidak membeda-bedakan siapa yang mereka serang, dan jika aku meninggalkanmu di mansion...."

"Kau seharusnya kenal dengan baik kemampuan Door Crossing milikku. Dan jika ada seseorang yang berani melangkahkan kakinya disini..... aku tidak akan menunjukan sedikitpun belas kasihan pada mereka, kurasa."

"........!"

Untuk sejenak, Subaru bisa merasakan aura berbahaya yang menyelimuti tubuh Beatrice ketika dia mengatakan kata-kata itu. Punggung Subaru terasa begitu menggigil. Sambil mengirup napas tajam, Subaru pun menyadari kalau itu adalah getaran dari gelombang sihir yang terpancar dari seluruh tubuh Beatrice.

Merasakan besarnya aliran Mana itu, bahkan bagi seorang Subaru yang hanya punya sedikit pengalaman dengan sihir, bisa tahu betapa luar biasanya hal itu.

".....!! Meski begitu, aku tetap akan membawamu ikut bersamaku!"

"Itu lagi......"

"Entah kau kuat atau tidak, itu tidak ada hubungannya!! Kau adalah seorang gadis dan kau juga anak-anak, itu saja sudah menjadi alasan yang cukup!! Aku tidak ingin meninggalkanmu disini karena disini berbahaya, apa aku masih perlu alasan lain?"

Setelah ditekan oleh aura Beatrice, Subaru pun menancapkan kakinya di lantai dan berteriak.

Melihat seorang pria yang menentangnya dengan begitu keras, Mata Beatrice pun melebar dengan dipenuhi rasa keheranan. Kemudian, seolah-olah sedang menahan sesuatu yang begitu menyakitkan, dia pun menutup matanya kembali.

Subaru mengerutkan dahinya ketika melihat respon Beatrice, akan tetapi dia terus berusaha menekannya dengan maksud agar Beatrice mau ikut bersamanya. Lalu kemudian...

"Betty tidak bisa ikut denganmu. Kumohon jangan mengatakan hal-hal yang membingungkan lagi."

"Aku tidak salah, kaulah yang salah..... Itu saja yang perlu kusampaikan!"

"Kurasa kau memang benar-benar keras kepala........... Aku benci orang yang keras kepala."

Beatrice menggumamkan sesuatu dengan suara bisik-bisik. Tidak jelas apa yang dia katakan, Subaru bermaksud ingin menanyakannya, tapi sebelum dia menanyakannya, Beatrice pun berdiri dari bangkunya.

"Aku paham, kurasa kau menang!! Aku akan melakukan apa yang kau minta, mungkin."

"Oh? O-oh, bagus. Baguslah kalau kau mengerti. Kau tahu, saat kau berdiri tadi, aku sudah bersiap-siap untuk diterbangkan keluar dari sini."

"Bagi Betty, meledakkanmu sampai hanya tersisa bayanganmu saja di dunia ini sangatlah mudah.... Tapi aku tidak akan melakukan hal yang sekejam itu."

Sambil mengatakan sesuatu sekejam itu seolah itu bukan apa-apa, Beatrice pun mengembalikan buku yang dia ambil tadi ke dalam raknya. Penasaran dengan pergerakannya, Subaru terlihat menyadari sesuatu dan mengangkat alisnya. Mungkin karena Beatrice sudah setuju untuk pergi dengannya, Subaru pun lengah dan kemudian bertanya..

"Ngomong-ngomong, ada ribuan buku disini, tapi apa kau paham bahasa lain selain sistem Yi Ro Ha ?"

"Aku penasaran kenapa kau tiba-tiba bertanya... Mengenai Yi-Ro-Ha, kupikir mungkin maksudmu adalah alfabet seperti Yi dan kawan-kawannya? Sambil memasang ekspresi seperti itu, kau sudah berhasil memancing kemarahan para ahli bahasa professional."

"Yeah, yeah. Maaf maaf!! Tapi, kembali lagi ke masalah tadi...."

Sambil memberikan senyum gugup kepada Beatrice yang menatap tajam kearahnya, Subaru pun mengeluarkan sebuah buku dari jaketnya. Buku tersebut mempunyai sampul berwarna hitam dan isinya....

"Well, inilah benda itu, tapi semua tulisan yang ada di dalamnya sama sekali tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku penasaran apa kau tahu...."

".... Aku ingin tahu kenapa kau bisa memegang benda itu?"

Tiba-tiba suara keras Beatrice memotong kata-kata Subaru. Matanya kini terbuka lebar, menatap tajam pada 'kitab' yang berada di tangan Subaru.

Subaru terkejut dengan intensitas reaksi Beatrice, ketika dia mengeluarkan buku itu dengan begitu santainya.

"Aku ingin tahu kenapa kau bisa memegang benda itu. Jawab aku!!"

"Meskipun jika ini adalah sampah, tapi aku sudah mengambilnya dari si bodoh Pemuja Penyihir itu. Dia begitu tergila-gila dengan buku ini, jadi kupikir aku bisa menemukan beberapa petunjuk di dalamnya."

"Mengambilnya? Dari Pemuja Penyihir? Kau, dari sekian banyak orang........"

Sambil meletakkan tangan pada dahinya, Beatrice terlihat sedikit goyah, ekspresinya pun seketika berubah. Darahnya seperti terkuras habis dari wajahnya yag sudah pucat. Subaru begitu kebingungan melihat mata Beatrice yang terlihat tidak bisa terfokus.

Beatrice terlihat seolah-olah dia bisa pingsan kapan saja, jadi tanpa pikir panjang, Subaru pun mengulurkan tanganya untuk memeganginya.

"Oy oy oy, apa kau baik-baik saja? Jika kau merasa tidak enak badan, kau tidak perlu memaksakan diri."

"Betty...... Ini sama sekali tidak bagus, jika semuanya menjadi seperti ini. Tapi, menyerahkannya pada dia.... Ini sama sekali tidak terpikirkan, tapi mungkin Roswaal sudah, sampai sekarang.....?"

"Hel - lo?? Maaf menyelamu ketika kau sedang terlihat serius, tapi bisakah - kau - mendengarku?"

"Aku hanya sedang berpikir sekarang, bisakah kau menunggu sebentar?"

Beatrice membungkam Subaru yang khawatir dengan sebuah tatapan tajam dan Subaru pun seketika terdiam. Dia menutup rapat mulutnya ketika dia menyaksikan Beatrice menutup mata dan merubah ekspresinya.

Setelah beberapa saat terlewati, dan Beatrice masih terlihat tidak akan menanggapinya, Subaru pun membuka 'kitab' yang ada di tangannya untuk pertama kalinya. Dia membolak-balikkan halaman buku itu, tapi tetap saja tidak mengerti isinya.

Kemudian, dia tiba-tiba menyadari sesuatu...

"Buku ini, setengah bagian belakangnya kosong...... Tapi, apakah halaman ini ada disini sebelumnya?"

Pada buku itu terdapat tulisan dalam bahasa yang tidak diketahui dan setengah halamannya tampak seperti telah disobek. Kedua fakta itu tidaklah berubah. Hanya saja di halaman terakhirnya nampak seperti ada beberapa kata yang baru saja ditambahkan.

Meski begitu, dia tidak bisa membacanya. Dan mungkin itu hanyalah imajinasinya saja, jadi tidak ada alasan untuk terlalu mengkhawatirkan hal itu.

".... Buku itu, apa yang akan kau lakukan terhadap buku itu?"

Beatrice yang telah diam lumayan lama, tiba-tiba bertanya.

Sambil meletakkan tangannya di bibirnya seolah-olah telah mendapatkan beberapa kesimpulan dalam otaknya, Beatrice pun menanyakan hal tersebut pada Subaru. "Bahkan jika kau bertanya padaku......" Subaru merespon, terpengaruh oleh sikap Beatrice.

"Menafsirkan isinya...... Meskipun aku tidak tertarik dengan pelajaran Pemuja Penyihir ataupun sejenisnya, hanya saja kemungkinan ada beberapa informasi yang berguna disini. Sebaliknya, aku juga tidak ingin terus membawa buku yang begitu dipuja oleh pria itu."

".... Meskipun aku tidak bisa membaca apa yang ada disana, tapi kalau kau memang tidak ingin membawanya, kau bisa mempercayakannya padaku, kurasa."

"Mempercayakan benda ini?"

"Itu adalah buku aneh yang begitu dicintai oleh orang yang aneh pula, kurasa. Jika kau tidak ingin membawa buku itu, aku bisa membawakannya untukmu."

Beatrice mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu kearah Subaru.

Dari gestur nya saja, Subaru bisa tahu kalau buku itu bukanlah buku yang dia inginkan. Dan dari kata-katanya, itu  bukanlah kata-kata yang akan digunakan seseorang ketika mereka berencana menjual buku itu untuk mendapatkan keuntungan.

Itu adalah kata-kata yang diisi dengan niat baik. Dan dari bagaimana Beatrice bersikap, Beatrice pasti tahu kalau buku itu adalah sebuah 'Kitab'. Namun...

"Maaf, tapi aku harus menolak tawaranmu."

Kata Subaru, dan dengan lembut dia pun menepis tangan Beatrice yang terulur kearahnya.

Mendengar kata-kata Subaru, mata Beatrice hanya bisa berkedip heran sebelum wajah manisnya berubah menjadi jahat dan kasar.

"Kenapa? Kau secara naluriah tahu seberapa jahat benda itu kan? Paling tidak, kau menyadari kalau benda itu bukanlah sesuatu baik, kurasa. Maka dari itu, daripada kau membawanya sendiri, Betty......"

"Aku sudah seperti setan nakal yang menolak memberikan sesuatu kepada seseorang yang begitu menginginkannya, bahkan jika aku tidak menggunakanya... Tapi kurasa ini sudah keputusanku, serius ini."

Buku yang disebut 'Kitab' ini, sepertinya mempunyai peranan tinggi bagi para Pemuja Penyihir. Terlebih lagi pemiliknya adalah Betelgeuse, seseorang yang berpangkat tinggi diantara para Pemuja Penyihir. Ingatan betapa berharganya buku ini bagi pria itu masih sangat segar dalam ingatan Subaru. Dan meskipun pria itu sudah tertangkap dan kekuatannya melemah, tetap saja Subaru masih merasa was was.

"Ini adalah sebuah buku yang sangat diinginkan oleh beberapa orang tua yang begitu menyeramkan. Tidak ada alasan bagi seorang pria untuk memberikan benda semacam itu kepada seorang gadis kecil hanya karena itu terlalu menakutkan untuk dibawa."

"......"

"Jika ini berbahaya, maka aku akan membawanya. Lagipula, aku disini untuk membawamu kesebuah tempat yang lebih aman, kau tahu? Menempatkanmu kedalam bahaya?? Ayolah, jangan anggap aku seperti seorang pria berhati dingin."

Sambil sedikit tersenyum, Subaru menaruh buku itu kembali kedalam bajunya, menyembunyikannya dari penglihatan Beatrice. Dia sama sekali tidak tahu apa yang ada dipikiran Beatrice ketika dia melihat buku itu.

Dia berkedip sekali, bibirnya terbuka seolah-olah ingin berbicara.

".........."

Tapi karena dia tidak sanggup mengatakan apa-apa, dia pun menutup mulutnya kembali dan mengalihkan pandangannya.

Ada sesuatu yang tidak biasa dari responnya, tapi ekspresi Beatrice mencegah Subaru untuk menanyakannya. Malahan dia menggertakkan lehernya dan mencoba mengganti topik.

"Ah, well, itu bukan masalah besar. Sekarang, karena kau sudah memutuskan untuk pergi maka aku akan menyerahkan persiapannya padamu. Jangan bawa sesuatu yang terlalu besar, tapi dua atau tiga buku yang sangat penting sepertinya tidak akan jadi masalah. Mungkin dua atau tiga setel baju juga tidak apa-apa."

"..... Perpustakaan ini akan mengikutiku kemanapun aku pergi. Yang lebih penting lagi, apa kau sudah meyakinkan kedua orang itu?"

"Aku seperti baru saja mendengar sesuatu yang benar-benar bagus!! Yeah, aku sudah meyakinkan mereka. Hanya kaulah yang tersisa. Kita semua akan mengungsi ke 'Sanctuary', tempat dimana Roswaal berada."

"Roswaal, kurasa..... Subaru, apa yang terjadi dengan si adik maid yang ikut denganmu?"

Tiba-tiba, Beatrice mengubah topik pembicaraannya kearah Rem.

Mendengar Beatrice tiba-tiba bertanya tentang Rem, Subaru pun kaget dan mengangkat alisnya dengan sedikit keheranan. Menyadari kalau ini bukanlah respon yang tepat, Subaru pun mencoba membuat ekspresinya lebih santai dan mengatakan..

"Jika kau bertanya tentang Rem, saat ini mungkin dia sedang mengurusi beberapa hal di ibukota. Kami menangkap sejenis ikan raksasa dalam perjalanan kami kesini. Itu sangatlah besar, makanya dia harus pergi untuk menyiapkan pesta besar. Ketika semua ini selesai, kita semua akan pergi kesana dan bersenang-bersenang."

"Kau tahu, kau terlihat sangat senang ketika kau membicarakan tentang dia... Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

"Erhm."

Ketika mendengar nama Rem, Subaru menjadi sedikit bertingkah berlebihan. Dia tidak bisa menyangkal kalau cara bicaranya terdengar lebih cepat dari biasanya. Kata-kata Beatrice sangatlah tepat dan membuat Subaru mengalihkan pandangannya sambil bersiul dengan acuh tak acuh.

"Tidak, tidak ada yang terjadi, serius."

"Terbawa arus dengan begitu mudahnya, itu malah akan sangat aneh kalau tidak terjadi apa-apa, kurasa. Betty tidak akan berkata apa-apa lagi, jadi lakukanlah apa yang kau suka."

"A-aku tidak mencoba menyembunyikan sesuatu kau tahu? Hanya saja, butuh banyak keberanian untuk mengadapi Emilia-tan dan kakaknya mengenai hal ini... Jadi kurasa ini seperti taktik mundur sementara."

Sambil mengucapkan kata-kata itu, Subaru pun menekankan kedua jari telunjuknya bersamaan. Kemudian dia merasa malu dan menoleh kembali kearah Beatrice dengan kepala yang menunduk.

Begitulah kenyataannya dan memang benar, Subaru membutuhkan banyak keberanian untuk membahas hal ini. Emilia pasti tidak ingin mendengarnya tiba-tiba berkata "Aku ingin memilikimu dan Rem!!". Ini sudah seperti memasukkan air ke dalam telinga. Meski begitu, pada akhirnya hanya inilah rencana yang dia miliki.

"Adalah sesuatu yang bagus mempunyai tujuan untuk dicapai, cara motivasi dan usaha itu datang juga akan lebih mudah. Aku tidak membenci kerja keras, kau tahu? Hanya saja, aku tidak benar-benar punya rencana untuk masa depan hingga sampai saat ini...."

Kata-katanya semakin melambungkannya lebih tinggi dan menyebabkan dirinya terbawa oleh emosinya. Akan tetapi, Subaru tiba-tiba berhenti dikarenakan sebuah sensasi yang tidak terduga.

Dia merasakan sebuah kehangatan di punggungnya, diikuti oleh tangan yang memeluk pinggangnya dan memeganginya dengan erat. Tangan-tangan itu sangat kecil, sebuah tangan yang kurus, seketika Subaru pun tahu milik siapa tangan itu.

Beatrice.

"Oh, ternyata hanya Beako. Kau mengejutkanku. Ayolah jangan tiba-tiba mengejutkanku seperti itu."

"Reaksi itu benar-benar membuatku jengkel, kurasa.... Tapi, itu sudah cukup!"

"Huh?"

Ketika Subaru memiringkan kepalanya karena kata-kata Beatrice yang tak terduga, sebuah cahaya yang begitu terang seketika membutakannya.

Sebelum Subaru sadari, sebuah pintu terbuka dengan sendirinya.

"Selamat tinggal....."

"Huh, ap...?"

Tangan yang sedari tadi memeganginya kini melepasnya, membuat Subaru terdorong oleh tekanan yang begitu besar dari belakang. Karena tidak sanggup menahannya, Subaru pun mulai jatuh kedepan dan melucur menuju pintu.

Kali ini, seolah-olah tersedot kedalamnya, Subaru pun melayang menuju pintu....

"Beatrice....."

"Betty.... Tidak bisa ikut denganmu."

Sambil memutar tubuhnya, Subaru melihat kembali kedalam ruangan tersebut tepat sebelum tersapu melewati pintu. Sosok gadis itu terlihat dalam penglihatan Subaru, dengan tetesan air mata yang muncul di matanya.

"......."

Tanpa sanggup mengatakan apa-apa, pandangan Subaru kini berputar-putar. Dia terperangkap dalam sebuah dimensi yang berbeda. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya di sebuah jalan yang tidak seharusnya ada. Jalan menuju Perpustakaan Terlarang pun perlahan mulai memudar.

Lalu, tubuh Subaru terlampar dari Perpustakaan Terlarang dan menghilang di suatu tempat yang jauh.

"......bu."

Sambil menyaksikan hal tersebut, Beatrice menutup pintu yang tadi terbuka.

Sebuah suara terdengar, kemudian diikuti oleh keheningan yang sekali lagi menghinggapi Perpustakaan Terlarang.

"....... Ibu."

Dengan suara pelan seperti ingin menangis, Beatrice memanggil nama itu. Tetesan besar air mata menghilang dari matanya, namun ekspresinya masih ada di sana.

"Berapa lama lagi.... Betty harus....."

Ketika tangisannya hampir pecah, Beatrice berjalan kembali menuju anak tangga dan menumpukan seluruh berat badannya di atas benda itu. Dia mengulurkan tangannya ke belakang tangga...... Dari sebuah rak yang biasanya berada di belakangnya, dia mengambil sebuah buku dan memeluknya dengan erat.

"Ibu... Ibu.... Ibu...."

Seperti seorang anak kecil yang tersesat, Beatrice memeluk erat buku tersebut di dadanya. Tangisan pelan Beatrice kembali terdengar di seluruh Perpustakaan Terlarang.

Buku yang ada di dalam dekapannya, sebuah buku bersampul hitam pekat, tidak pernah merespon sekalipun.


---End Of Chapter 71---

Setelahnya Subaru mati, dan semua ini pun hilang, hanya dia yang mengingat semuanya.


Baca Semua Chapter -> Index Re:Zero Arc 3


Translated by : Me..
Previous
Next Post »
8 Komentar
avatar

Maaaaaaaantaaaaaaaaaaaaf.............



Lanjutkan terus min.......

Balas
avatar

Nanti malem, kalo nggak besok.. :3

Balas
avatar

Jangan2 bety ini juga seorang pemdeta pendosa???

Balas
avatar

Mungkin, tp siapa yang tau.. 😏

Balas
avatar

Kenapa subarunya mati?
Apakah dibunuh beatrice? Kenapa?

Balas
avatar

Dia mati dibunuh Julius, setelah dirasuki oleh Petelgeuse..

Balas
avatar

Wh, klo subaru y' mati, apa dia bakal cba flashback lg k perpus terlarang buat yakinin beatrice lg..? Apa timeskip..?

Balas