Baca Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu (WN) Arc 4 - Chapter 8 Bahasa Indonesia

[Translate] Re:Zero Arc 4 - Chapter 8 : Pertemuan Yang Ditunggu-tunggu


Baca Light Novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 - Chapter 8 Bahasa Indonesia



Chapter 8 : Pertemuan Yang Ditunggu-tunggu.

Meskipun berjalan di jalanan yang tidak mulus, tetap saja hampir tidak ada guncangan di dalam kereta naga. Tidak peduli berapa kalipun Subaru mengalaminya, dia selalu saja menganggap 'Divine Protection' ini begitu luar biasa.

Jika semua ini hanyalah efek dari Divine Protection 'Wind Evasion', dia penasaran bagaimana jika dia mengalami efek dari semua Divine Protection lainnya, apakah dia akan menggunakan kata lain selain 'luar biasa' untuk mendeskripsikannya?

"... atau apalah, tapi ini bukan saatnya untuk lari dari kenyataan, ya kan?"

Subaru menjulurkan kepalanya keluar kearah area kusir di sebelah Otto, dia melihat kearah depan.... dengan 'Sanctuary' di depan mata, dia memfokuskan pandangannya.

Berjalan di jalanan tanah yang sudah tidak ditutupi oleh rumput, kira-kira berjarak 100-an meter, hutan pun terbuka. Beberapa atap kayu kini terlihat dari kejauhan, mereka pastilah rumah-rumah yang mengelilingi Sanctuary. Dari kejauhan mereka terlihat seperti sebuah desa yang tidak terpelihara, dan nampak tidak ada yang begitu mencolok.

Dan jika seseorang harus membuat komentar, mungkin komentarnya akan menjadi seperti ini,

"Ada semacam aura suram mengenai tempat itu...."

Berdiri di pintu masuk menuju Sanctuary adalah sebuah gerbang tua terbuat dari kayu yang hanya menegaskan kesan sepinya, pagar kayu yang mengelilingi desa memberikan kesan seperti sebuah kurungan yang terkunci.

Secara tidak sengaja, Subaru menyuarakan pemikirannya, dan Garfiel yang mendengarnya, langsung memukul lututnya sendiri.

"Tepat sekali! Tempat yang suram, ya? Aku akan mengatakan ini terlebih dahulu, di dalam sana bahkan jauh lebih suram kau tahu? Tidak peduli siapa itu, tidak ada satupun kegiatan di dalam sana, mereka semua hidup, tapi juga sekaligus mati."

"Terdengar sangat mengerikan ketika kau mengatakannya. Tapi semakin aku mendengarnya, tempat itu semakin tidak terdengar seperti Sanctuary. itu hanya....."

Melihat Garfiel mengiyakan komentar ironisnya dengan antusias, Subaru mendesah dan memikirkan kembali kata-katanya. Kepada Subaru dan yang lainnya yang menyebut tempat ini Sanctuary, Garfiel sama sekali tidak menyembunyikan celaannya saat dia berbicara. Kemudian...

"'Kuburan Penyihir Keserakahan'... apa maksudnya itu?"

Pertanyaan yang terlintas di pikiran Subaru nampaknya juga muncul di pikiran Emilia.

Ketika dia menyuarakan pertanyaan ini mata Emilia menjadi sangat tegas, tapi jauh di bawah, dia menarik pelan  keliman baju Subaru dengan ujung jarinya. Fakta bahwa dia mengandalkan Subaru memberikan sedikit kepuasan pada Subaru, namun perasaan Subaru juga terasa begitu rumit ketika dia merasakan asal kecemasannya.

"Sang penyihir.... Pada dasarnya, ketika membicarakan eksistensi yang merujuk pada Penyihir, nama Penyihir Kecemburuan memang sudah diketahui oleh semua orang. Tapi, penyihir lain yang menyandang nama dosa lainnya hampir tidak diketahui, ya kan?"

"Eh, benarkah? Tapi bukankah mereka adalah orang-orang yang sangat terkenal 400 tahun lalu?"

"Emilia-sama tidak sepenuhnya salah. Tapi yah, Subaru juga benar. Penyihir Kecemburuan itu hanya terlalu terkenal, hal itu sudah tidak diragukan lagi. Namun rekam jejak dari para penyihir yang telah dimakan oleh Penyihir Kecemburuan hampir tidak ada yang tertinggal. Meskipun ada beberapa pengecualian."

"Seperti disini.... ya kan?"

Setelah menjawab Subaru, Garifiel menarik rahangnya menanggapi pertanyaan Emilia dan menyeringai. Seolah-olah terpengaruh oleh hal ini, mata Emilia terbelalak, tapi Subaru yang tidak terlalu mengerti masalah seputar Penyihir, hanya bisa mengucapkan "Begitu ya....", seolah-olah mengerti.

Namun ide yang ada di otak Subaru tiba-tiba lenyap. Karena, jika ada banyak penyihir....

"I-itu tidak berarti ada Pemuja Penyihir untuk setiap Penyihir, ya kan? Hanya mengalahkan satu Uskup Agung Pendosa saja sudah cukup susah, ayolah berikan aku waktu beristirahat."

Itu adalah pemikiran yang menakutkan dan tidak bisa dia abaikan.

Mengingat kembali kata-kata Petelgeuse, Subaru menganggap kalau mereka pastilah pemuja dari Penyihir Kecemburuan. 'Dosa Kerakusan' dan 'Dosa Keserakahan' yang harus Subaru kalahkan suatu hari nanti beserta pengikutnya, pasti juga berada dalam kelompok yang sama.

Namun, jika ada sekte pemuja Penyihir lain....

"Itu memang mengerikan, tapi kau tidak perlu khawatir Natsuki-san."

Namun orang yang melenyapkan angin dingin di tulang belakang Subaru, adalah orang yang memegang tali kemudi di depan, Otto. Pada akhirnya, dibandingkan dengan Emilia yang hampir tidak tahu apa-apa mengenai Pemuja Penyihir, dan Garfiel yang tidak bisa dipercaya, Otto lah satu-satunya orang yang benar-benar mempunyai kredibilitas dan bisa memberikan pemahaman hal-hal yang umum. Karena tingkat pengetahuan Otto.... mungkin tepat seperti apa yang diketahui oleh orang kebanyakan.

"Pemuja Penyihir... Meskipun aku tidak suka mengatakannya dengan keras, tapi memang hanya ada Pemuja Penyihir Kecemburuan. Memuja-muja penyihir lain diatas Penyihir Kecemburuan, mungkin hanya orang gila yang akan melakukannya."

"Diatas Penyihir Kecemburuan...?? Apa maksudmu? Apa mereka lebih buruk daripada Penyihir Kecemburuan?"

"Jika mereka mendengar nama penyihir lain selain penyihir yang mereka puja, Pemuja Penyihir pasti akan melakukan hal-hal yang mengerikan. Kau pernah mendengar tentang kota yang dihancurkan di bagian selatan Kekaisaran Volakian, ya kan?"

Ketika Otto tiba-tiba membawa topik baru, Subaru ingat pernah mendengar hal itu sebelumnya. Setelah pertarungan melawan Petelgeuse, Wilhelm pernah menyebutkannya ketika dia menceritakan tentang kengerian Pemuja Penihir. Tepat seperti itu.

"Yang telah menghancurkan sebuah kota di Kekaisaran entah apa namanya seorang diri itu adalah Uskup Agung Dosa Keserakahan, ya kan? Aku dengar bahkan para tentara negara tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya."

"Aku tidak ingat apa yang begitu hebat dari hal itu, tapi alasan kenapa para Pemuja Penyihir melakukan itu semua bahkan lebih mengerikan. Di dalam pengasingan Kekaisaran Volakian, ada sebuah kota dimana perdagangan begitu makmur... Pada waktu itu ada rumor bahwa artefak yang berhubungan dengan Sang Penyihir telah ditemukan disana."

"Berhubungan dengan Sang Penyihir, huh?"

"Apa sebenarnya hal itu, masih belum jelas sampai sekarang. Hanya saja, ada banyak kolektor diluar sana yang ingin memilikinya. Tidak masalah jika itu hanyalah sebuah lelucon dimana seseorang ingin mengoleksi sesuatu yang menjadi milik Penyihir Kecemburuan.... Namun pada akhirnya, seluruh kota hancur karena hal itu."

Mungkin karena dia menginginkan artefak itu, atau mungkin karena ingin menghancurkannya, makanya 'Dosa Keserakahan' membuat pergerakan. Kekaisaran Volakian telah melakukan kesalahan dengan membangunkan Pemuja Penyihir dan mendapatkan balasan yang begitu kejam sebagai akibatnya.

"Setelah itu, bahkan benda-benda yang tidak berhubungan dengan Penyihir Kecemburuan, yang kemungkinan bisa memprovokasi Pemuja Penyihir juga langsung dilarang oleh undang-undang.... tapi meski begitu, hal itu masih tidak bisa menghentikan perputaran benda-benda ini di balik bayangan."

"Sangat jarang mendengar hal-hal seperti itu dari mulutmu. Itu hampir terdengar seolah-olah kau terlibat disana."

".... Kau tidak perlu mengatakannya. Hanya saja dulu, beberapa kerabatku, terjebak di kota itu saat insiden terjadi. Itu sudah lebih dari 15 tahun yang lalu, aku hanyalah anak-anak pada saat itu, jadi itu tidak ada kaitannya denganku."

Setelah itu, menutup mulutnya, Otto menolak untuk melanjutkan topik itu lebih jauh. Melihat sikapnya, Subaru pun berhenti bertanya, dan mengalihkan pandangan serta perhatiannya pada kereta.

Bagaimanapun, Garfiel menunggu Subaru untuk memproses semua yang dia pelajari, dia mengatakan "puas sekarang?" sambil menahan dagunya menggunakan tangannya.

"Aku juga tidak tahu detailnya. Tapi kakek dan nenek terus membicarakan tentang bagaimana 'Kuburan Penyihir Keserakahan' itu, seperti membicarakan 'Dengarlah apa yang kau dengar dari Peromeo busuk' itu berkali-kali, hal itu tidak mungkin salah."

"Apa yang kau ketahui hanyalah apa yang diberitahu oleh pria busuk itu? Jadi kau benar-benar tidak tahu detailnya, huh?"

"Satu-satunya hal yang kupedulikan adalah menjadi yang terkuat. Jika kau ingin tahu detailnya, sana pergi cengkram kerah Roswaal dan tanyakan sendiri. Meskipun aku tidak yakin kau bisa melakukannya."

"....?? Apa maksud....?"

"Um, maaf. Tapi sepertinya kita sudah sampai, apa kita akan masuk seperti ini?"

Sebelum dia bisa membalas kata-kata Garfiel, suara Otto sudah terdengar dari tempat kemudi di depan. Berlawanan dengan panggilan Otto, Garfiel menggerutu 'welp' dan dengan gesit melompat keluar kereta.

"Jika kau masuk kedalam tanpa mengatakan apa-apa, mereka pasti akan menganggap kalian penyusup dan menyerang kalian, itu akan menjadi seperti "menertawakan Magmarin yang penuh dengan lubang". Aku akan masuk dan memberitahu mereka terlebih dahulu, kalian tunggu saja disini."

"Ah, kalau begitu kami serahkan padamu. Hey, kalau dipikir-pikir, aku punya firasat kalau kalau kau itu sedang berpatroli di Sanctuary atau semacamnya, mengingat bagaimana kita bertemu satu sama lain pada awalnya."

Disisi lain, melihat bagaimana dia menginggalkan posnya, rasanya itu tidak sesuai dengan gagasan tersebut. Fakta bahwa dia berpatroli sendirian pun juga begitu. Tapi, dengan kekuatan seperti itu, mungkin bergerak sendirian memang lebih efisien.

Menanggapi pertanyaan terakhir Subaru, Garfiel hanya melambaikan tangannya dengan lemah tanpa menjawabnya. Tidak bisa memahaminya, alis Subaru pun mengernyit, dan hampir di saat yang sama, Emilia mengucapkan "Ah!" dengan suara yang agak lebih tinggi.

Menoleh kearah Emilia yang berteriak tanpa sadar, Subaru melihat Emilia sedang menunjuk jarinya kearah depan. Mengikuti arahnya, Subaru langsung memahami keterkejutannya ketika dia melihat apa yang Emilia lihat. Karena yang berdiri disana adalah....

".... Kau sudah kembali, Garfiel. Cukup awal, ya kan?"

"Karena aku sudah tidak perlu lagi mengelilingi hutan. Sangat jarang melihatmu meninggalkan sisi Roswaal. Apa dia akhirnya sudah mati?"

"Jika memang begitu, tempat ini, tanpa memperdulikan apa-apa Ram pasti sudah membakarnya dengan tangannya sendiri. Kau harus berterimakasih pada Roswaal-sama karena hal seperti itu tidak terjadi."

"Itu pemikiran yang luar biasa, aku sama sekali tidak mengerti."

Mengenakan seragam maid yang begitu familiar, rambut berwarna peach milik seorang gadis itu bergoyang ketika dia menghadap kearah Garfiel. Tidak seperti Garfiel yang tersenyum gembira, ekspresi gadis itu terlihat begitu dingin dan tanpa emosi. Membutuhkan waktu lama untuk memastikan hal ini, dan bahu Subaru terjatuh seolah-olah merasa lega.

"Haaa.. Jadi itu si kakak yang sering kudengar. Begitu ya... Tentu saja ini sangat wajar, tapi dia terlihat sangat mirip seperti nona yang tertidur itu."

Melihat dia untuk pertama kalinya, Otto mengeluarkan komentar tersebut. Di mata mereka, gadis itu terlihat seperti replika sempurna dari Rem yang pernah dilihat Otto, hanya saja, di dalamnya, mereka benar-benar orang yang berbeda.

Ini adalah pertemuan yang sudah di tunggu-tunggu dengan maid yang tidak bisa apa-apa di mansion Roswaal, Ram.

"..... Ram!"

Menjulurkan tubuhnya keluar dari kereta naga, Subaru melambai kearah Ram. Matanya sedikit menyipit ketika dia melihat Subaru, memakluminya, dia mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya.

"Aku dengan rendah hati tidak tahu dari mana Barusu muncul, tapi kedatanganmu yang terlambat itu benar-benar mengecewakan. Kau seharusnya tahu lebih awal kalau ada sesuatu yang tidak beres dan... ah tapi itu terlalu berlebihan untuk kemampuan Barusu."

"Jika kau menggunakan frasa seperti 'aku dengan rendah hati tidak tahu', maka teruskan sampai akhir dan jangan mengubahnya tiba-tiba! Dan Roswaal juga, aku tidak bisa mengerti apa yang kalian pikirkan, tapi aku punya sesuatu yang harus kukatakan padanya ketika aku menangkapnya nanti!"

Tidak terima diperlakukan seperti itu, Subaru menunjuk gadis yang sikapnya sama sekali tidak berubah tersebut. Melihat reaksi ini dari Subaru, Ram menjatuhkan pundaknya sebelum menoleh kearah Emilia yang berdiri di samping Subaru.

Merasa lega ketika melihat Emilia yang selamat, sama seperti Subaru, wajah Ram pun terlihat menjadi lebih santai. Untuk sekejap saja, di mata Ram, Subaru pikir melihat kesedihan sekilas yang hampir terlihat seperti sebuah mimpi. Namun, seketika itu juga, kesedihan tersebut sudah menghilang.

"Emilia-sama juga, selamat datang. Roswaal-sama sudah menunggu, jadi tolong ikut bersamaku sampai ke bagian dalam bangunan. Garfiel, pergi cari tempat yang pas untuk kereta naga dan kusirnya."

"Apa-apaan perlakuan itu, oy? Tidak bisakah kau meminta bantuan dengan cara yang lebih membangkitkan antusias?"

"Jika kau ingin memakan makanan buatan Ram, maka berusahalah yang terbaik. Tapi jika kau ingin membuang kesempatan berharga ini karena kata-kata sembronomu, maka Ram tidak akan bisa berkata apa-apa lagi."

"Baiklah, baiklah!! Aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya, yah meskipun bagus seperti itu. Oy, kusir sialan. Parkirkan naga tanah dan keretanya di sebelah sana dan ikutlah denganku!"

"Ini sudah saatnya bagi diriku untuk memperkenalkan diri kan? Bisakah kau tidak memanggilku dengan nama yang mengejek seperti itu? Dan juga, bukankah sedikit berbahaya meninggalkan diriku bersama pria ini?"

Ketika Otto menyuarakan keberatannya pada Garfiel yang telah dikalahkan oleh Ram, Subaru yang melihat hal itu, memberinya acungan jempol dengan gigi yang berkilau.

"Aku akan memulihkan tulangmu!"

"Itu sesuatu yang dikatakan dengan niat baik tapi membawa implikasi yang benar-benar salah, ya kan? Serius, jika sesuatu terjadi padaku, aku pasti akan menuntut ganti rugi."

Mengucapkan kata-kata itu, Otto, membiarkan Subaru dan Emilia turun dari kereta naga dan mengikuti Garfiel. Melihat mereka pergi menuju bagian dalam desa, Subaru mengusap hidung Patrasche sebagai tanda perpisahan. Menoleh dengan bunyi gemeratak dari lehernya, Subaru mengucapkan, "Baiklah, sekarang",

"Ada begitu banyak hal yang ingin kubicarakan dan tanyakan padamu, sekarang karena kita sudah ada disini, bisakah kita akhirnya berbicara?"

"... Ram tidak diizinkan untuk menyampaikan apapun padamu. Kau bisa bertanya langsung pada Roswaal-sama ketika kau bertemu dengannya. Meskipun aku tidak tahu seberapa banyak Garf sudah keceplosan."

"Garf.... ah, maksudmu Garfiel. Anak itu benar-benar berbeda dari kesan yang kudapat saat mendengar namanya. Kalau dipikir-pikir, ada sesuatu yang benar-benar menggangguku."

"Apa itu?"

Dengan tajam, Ram mengernyitkan dahinya. Membayangkan kalau itu adalah informasi yang tidak boleh dibocorkan oleh Roswaal, tatapannya menjadi serius, namun, melihat hal ini, Subaru mengucapkan "Nah, itu hanya", sambil melipat tangannya.

"Anak itu, apa dia menyukaimu? Aku punya firasat seperti itu dari caranya berbicara."

"..... Dan disini aku bertanya-tanya apa yang sedang kau katakan."

Tidak mampu menyembunyikan keheranannya, Ram menghela napas. Hanya saja, melihat bagaimana dia menyangkalnya, Subaru pun memperlihatkan seringai di wajahnya.

"Well, aku tidak bilang kalau dia punya selera yang aneh. Kau terlihat manis...... tapi fakta bahwa dia masih menyukaimu setelah bersamamu untuk waktu yang sangat lama, kupikir dia pasti sudah punya keputusan yang serius."

"Dianugerahi dengan kecerdasan dan kecantikan, para pria sudah pasti akan tertarik pada Ram, tidak ada yang bisa Ram lakukan mengenai hal itu. Tapi, Ram sudah mencurahkan semua miliknya kepada seseorang yang dia inginkan, jadi aku tidak punya keinginan untuk hal-hal seperti itu."

Dengan ayunan dari pundaknya, Ram merespon kata-kata sarkas Subaru, dan dalam sekali serang, dia memutus semua harapan Garfiel dengan jawabannya. Kemudian, membelakangi Subaru dan Emilia, dia mengatakan "Ikuti aku!", ketika dia melangkah ke depan.


XxxxX


Meskipun dia tidak sedang mencoba membuat bunga cinta menjadi mekar, sikap dingin gadis itu masih saja membuat Subaru merasa seperti datang kesini dengan tangan kosong. Tapi, alasan kenapa Subaru tidak menanyakan apa yang harusnya dia tanyakan, tidak diragukan lagi, karena dia merasa takut.

"Di saat seperti ini, apa aku masih terlalu takut menyebut nama Rem.... meskipun aku ingin melakukannya.... meskipun..."

Dia takut akan kepastian ini.

Setelah mendengar dari Emilia dan Petra kalau mereka tidak bisa mengingat Rem, sekarang, Subaru harus bertanya kepada sang kakak apakah dia juga telah melupakan keberadaan Rem.

Tapi, setelah sampai disini, melihat fakta bahwa dia tidak menanyakan tentang ketidakhadiran Rem, sudah menjadi bukti bahwa tidak ada gunanya untuk bertanya lagi.

"Yah, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikutinya. Kalau begitu, untuk sekarang ayo kita ikut dengan Ram, Emilia-tan...... Ada apa?"

Subaru menoleh kearah Emilia yang terus saja diam hingga saat ini. Sejak turun dari kereta dia sama sekali tidak membuka mulutnya, melainkan hanya melihat kesekelilingnya dengan cemas. Menyadari panggilan Subaru, dia merespon "tidak...", sambil menggelengkan kepalanya lemah.

"Hanya saja, aku sepertinya tidak bisa tenang. Bagaimana mengatakannya ya... ada suatu perasaan aneh... itu bukanlah sesuatu yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata."

"Tidak bisa tenang? Bagi diriku, sebagai penyendiri pemalu yang bahkan enggan meninggalkan rumah, semua ini sudah seperti dunia baru, kau tahu? Kurasa semua orang juga mempunyai perasaan seperti ini... Faktanya, aku sendiri tidak terlalu membencinya."

Melihat sekeliling bersama dengan Emilia, segala sesuatunya terlihat begitu mirip dengan sebuah desa yang tidak terpelihara. Mungkin, dibandingkan dengan desa Arlam, rumah-rumah disini memang terlihat lebih tua dan terlihat rusak, tapi itu semua hanyalah detail yang relatif dan sepele.

Meski begitu, tempat ini bukan tidak memiliki keganjilan. Entah keganjilan apa itu, Subaru sendiri juga tidak yakin.

"Tapi kita tidak punya banyak pilihan meskipun jika kita terus waspada, Emilia-tan. Ram dan Ros-chi keduanya ada di sini, jadi setidaknya kita tidak berada dalam bahaya, mungkin."

"Ini tidak seperti aku terus waspada.... Tidak, aku baik-baik saja sekarang. Tapi serius, jika aku bisa berbicara dengan Puck..."

Batu kristal di dadanya... Sambil menyentuh batu hijau yang ada di bawah lehernya, Emilia dengan cemas memanggil nama roh yang tersegel di dalamnya. Ketidakhadiran roh yang selalu berada di sampingnya pasti membawa kecemasan tanpa akhir.

Melihat dia serapuh ini, Subaru merasa begitu membenci dirinya karena tidak bisa menjadi sosok yang bisa diandalkannya.

"...... Subaru?"

"Ayo.. tidak peduli apapun yang terjadi, serahkan pada perisai nomer 2 mu."

Tanpa berpikir, Subaru menggenggam tangan Emilia yang sedang menyentuh kristal dan memalingkan wajahnya sambil mengucapkan kata-kata tersebut. Dengan menggenggam tangannya seperti ini, bahkan sebelum Emilia bisa berkata tidak, Subaru sudah melangkahkan langkah kakinya. Dan secara alami, Emilia hanya bisa mengikuti di belakang Subaru.

Melakukan hal ini tanpa pertimbangan apapun, Subaru hanya bisa berpikiran kalau rasa malunya ini bisa saja menyebabkan kunang-kunang terbang keluar dari setiap pori-pori di wajahnya. Namun, melebihi pemikiran itu, dia lebih memilih untuk mengikuti perasaannya dan hanya berharap kalau tingkahnya ini dianggap aneh.

".... Ok."

Hanya saja, tidak seperti jantung Subaru yang ingin melompat keluar dari dadanya, Emilia hanya mengangguk pelan dan tidak melepaskan tanganya.


XxxxX


Itu adalah satu-satunya rumah di Sanctuary yang masih mempunyai bentuk yang layak.

Dibangun menggunakan batu, bangunan satu lantai itu kira-kira berukuran seperti sebuah rumah satu keluarga pada umumnya. Ruangannya memiliki susunan yang sederhana, siapapun hampir bisa membayangkan kalau kehidupan yang ada disini pasti adalah kehidupan yang sederhana dan nyaman.

Dibandingkan dengan mansion Roswaal dan mansion Crusch yang sudah terbiasa menjadi standar kehidupannya, Subaru merasa kalau tempat tersebut agak sempit. Tapi, dalam sekejap, dengan sedikit semangat burjuis, dia bisa dengan mudah terbiasa tinggal di tempat seperti ini.

Ini adalah kesan dari tempat pertemuan mereka.

Kemudian,

"Yaaaaa~~, Emilia-sama dan Subaru-kun. A~~ku merasa ini seperti pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu, ti~~dakkah kau berpikir begitu, hmmm?"

Dengan senyum ceria dan lambaian tangannya, Roswaal menyapa mereka ketika akhirnya mereka bertemu kembali.

Setelah berpisah di ibukota, ini adalah pertama kalinya Subaru bertatap muka langsung dengan Roswaal. Dan karena mereka tidak bertemu satu sama lain di pengulangan sebelumnya, itu mungkin sudah lebih dari sebulan. Mengingat semua kebencian yang terakumulasi selama waktu itu, Subaru ingin sekali memukul wajah Roswaal, tapi,

"Per~~tama-tama, syukurlah melihat kau selamat, Emilia-sama. Ram sudah menceritakan padaku tentang masalah di sekitar man~~sion. Jika sesuatu terjadi padamu, aku pasti sudah kehilangan hasrat untuk terus hi~~dup."

"Jika memang itu yang kau rasakan, kau seharusnya paling tidak membuat persiapan yang lebih baik.... Lebih penting lagi, apa yang terjadi padamu? Apa-apaan semua ini?"

Meskipun Roswaal tampak lega melihat Emilia selamat, Subaru dan Emilia malah dipenuhi dengan perasaan cemas. Semua hal yang ingin mereka katakan, tiba-tiba menghilang begitu saja seperti kabut yang berhamburan ketika melihat Roswaal.

Terbaring diatas kasur.... berbagai luka yang tidak bisa diabaikan memenuhi tubuh Roswaal, darah meresap melalui perban-perban yang membungkusnya membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

Menanggapi pertanyaan Subaru dan tatapan Emilia, Roswaal menggunakan tangan kirinya yang tidak terluka parah untuk menarik penutup mata yang menutupi mata kirinya.

"Aaa~~ yaa~~, a~~pa kau bertanya mengenai hal ini? A~~ku hanyalah seorang manusia, kau tahu. Dilihat dalam kondisi menyedihkan seperti ini bisa-bisa melukai harga diriku, jadi kalau bisa, tolong pahamilah keinginanku untuk se~~dikit beristirahat."

"Itu tidak cukup bagus, ya kan? Apa yang sebenarnya terjadi, Roswaal? Terluka seperti ini.... dan bagaimana bisa kau, dari sekian banyak orang..."

Tidak terganggu oleh gurauan Roswaal, Emilia menjawab sambil mengulurkan jarinya yang bergetar kearah Roswaal, dia terlihat ragu-ragu untuk menyentuh tubuh yang dipenuhi luka tersebut. Melihat Emilia melakukan hal itu, Roswaal tersenyum pahit, dan mengalihkan mata kanannya kearah langit-langit, "Baiklah..." dia berbisik,

"Di~~mana aku harus me~mulainya, hm? Aku rasa kau bisa bilang kalau luka-lukaku ini untuk mempertahankan masalah kehormatan dan mengenai kebenaran, aku tidak punya pi~~lihan lain."

"Berhenti mencoba kabur dengan kalimat berputar-putar seperti itu. Aku bertanya serius padamu Roswaal, jadi kau juga harus menjawabku dengan serius."

".... Ya ampun~~ sepertinya Emilia-sama sedang berada dalam mood yang buruk. Ta~~pi, mengingat ada dimana kita sekarang, mungkin hal itu memang tidak bisa dihindari."

Subaru juga merasa ada yang aneh ketika mendengar nada ingin tahu dan keras milik Emilia, dan di saat yang sama, Roswaal mengatakan hal tersebut. Emilia sedikit mengernyitkan alisnya, tapi, ketika dia menyadari kalau apa yang dikatakan Roswaal itu benar, dia mengginggit bibirnya dengan lemah.

"Kepalaku benar-benar kacau, aku sama sekali tidak bisa tenang. Tempat apa ini? Meskipun tempat ini disebut Sanctuary, kurasa tempat ini sama sekali tidak seperti itu. Kalau begitu tempat ini...."

"'Kuburan Penyihir', itu adalah nama yang lebih mudah diterima, ya kan?"

"....!"

Nada bicara Roswaal seketika menurun ketika dia mengatakan kata-kata tersebut. Kata-kata yang sama dari Garfiel juga dikatakan oleh mulut Roswaal. Kata-kata tersebut tiba-tiba terasa seolah mempunyai makna yang berat dan nyaring.

Dengan cepat, Emilia mengarahkan tatapannya pada Subaru. Melihat emosi rumit di matanya, Subaru mengangguk menyesuaikan ketidaknyamanan Emilia.

"Tunggu, ayo kita urutkan apa yang ingin kita tanyakan terlebih dahulu. Jika kita terus seperti ini, percakapan ini hanya akan berakhir dan kita tidak mendapatkan satupun kesimpulan darinya."

"Ohhh~~ yaaa?? Dalam waktu yang singkat saat kita tidak ber~~temu, kau sudah menjadi cukup handal dalam menangani masalah, benar kan? Subaru-kun, a~~pa yang bisa menyebabkan perubahan ini didalam piki~~ranmu?"

"Jika kita membahasnya, itu akan butuh waktu yang sangat lama, jadi aku akan meninggalkan bualanku setelah kita mendengar semua yang ingin kami ketahui. Ah, benar, ada satu hal......"

Menatap senyum menghina Roswaal, Subaru mengangkat jarinya.

"Kami membentuk aliansi dengan Crusch-san, tapi kau pasti sudah mendengarnya dari Ram... kau pasti senang karena telah meninggalkanku, ya kan?"

"...... Sangat senang. Lagipula, aku benar dengan mengajakmu kesana."

Melihat Roswaal menyantaikan sudut bibirnya dengan puas, Subaru pun mendesah dan menutup matanya. Subaru sudah mengantisipasi hal ini, tapi faktanya, tindakannya benar-benar tepat seperti apa yang Roswaal rencanakan. Meskipun dia sudah berusaha untuk terbiasa, tetap saja rasanya masih tidak lucu ketika mendengar kepastiannya.

Bagaimanapun, Subaru menyusun pemikiran berikutnya,

"Pertama, tentang masalah penduduk desa Arlam. Karena Ram selamat, mereka pasti juga baik-baik saja dan dievakuasi dengan selamat, ya kan?"

"Kau bisa te~nang. Mungkin keadaanku tidak memberikan banyak kredibilitas, tapi, aku ma~~sih tahu tanggung jawabku sebagai pemimpin. Hal-hal seperti membahayakan hidupku untuk melindungi para bawahanku, aku masih memiliki keputusan tersebut. Aku sudah memastikan kalau semua orang terlindung di katedral desa."

"Katedral... Ah, kita bisa kembali kesana nanti, masalah selanjutnya adalah..."

Subaru merasa lega setelah mengkonfirmasi keselamatan para penduduk desa. Karena Subaru hanya membuat keputusan untuk mengevakuasi mereka sekaligus membantu persiapannya, entah pada akhirnya mereka selamat atau tidak, itu adalah masalah yang tersisa dari pengulangan sebelumnya..... Tidak peduli apa yang terjadi, bagian tersebut tidak akan bisa diulang kembali.

Mengendurkan bahunya, Subaru memberi sebuah tatapan kearah Emilia. Menerima hal itu, Emilia mencondongkan kepalanya dan menarik dagu mungilnya.

"Selanjutnya, katakan padaku tentang tempat ini. Kau menyebutnya Sanctuary, tapi Garfiel menyebutnya 'Kuburan Penyihir Keserakahan'. Jadi mana yang benar?"

"Keduanya benar, Emilia-sama. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir Penyihir Keserakahan, Echidna. Dan untukku pribadi, ini adalah tempat yang seharusnya disebut Sanctuary."

".....Penyihir...."

"Echidna....."

Mendengar jawaban Roswaal, tenggorokan Subaru dan Emilia tersendat secara bersamaaan.

Roswaal mengucapkannya dengan pelan, semua tingkah laku badut yang selalu dia gunakan sampai sekarang, kini telah menghilang dari suaranya. Karena hal ini, untuk pertama kalinya, kata-kata Roswaal membawa sebuah kesan kejujuran.

Menarik napas dalam-dalam, Emilia mengedipkan matanya beberapa kali dan melanjutkannya sekali lagi,

"Penyihir Keserakahan..... dia adalah penyihir lain yang dibunuh oleh Penyihir Kecemburuan, ya kan?"

"E~n, benar. Tidak peduli dimanapun kau mencarinya dalam buku sejarah di dunia saat ini, namanya sudah tidak tersisa lagi. Terkecuali dalam ingatan orang-orang yang mengenalnya..."

"Tunggu tunggu tunggu, apa yang barusan kau katakan terdengar tidak masuk akal."

Subaru memotong kata-kata serius Roswaal dengan lambaian tangannya. Roswaal menyipitkan satu matanya dan menatap Subaru yang sedikit demi sedikit kalah dari tekanan auranya.

"Jika ingatanku tidak salah, Penyihir Keserakahan..... telah dikalahkan oleh Penyihir Kecemburuan 400 tahun lalu. Tempat ini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya dari 400 tahun yang lalu mungkin masih bisa dimengerti.... tapi saat kau bilang kalau kau mengenalnya secara pribadi, itu...."

"A~~ku mengetahui hal ini sendiri, tapi a~~ku takut aku tidak bisa mengatakannya. Hal ini diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi keluarga Mathers.... hal ini hanya diperuntukan kepada pewaris Roswaal."

"Diturunkan secara lisan.... Kalau begitu, pemimpin dari keluarga Mathers terdahulu adalah orang yang terhubung dengan Penyihir Keserakahan?"

"..... Echidna."

"Eh?"

Tiba-tiba, mendengar nama itu dibawa-bawa, mata Emilia pun terbelalak. Roswaal mengalihkan pandangannya kearah Emilia, dan seolah-olah mengkonfirmasinya, dia berbisik pelan, "Echidna",

"To~long, panggil dia dengan namanya ketika menyebutnya. Gelar seperti 'Penyihir Keserakahan', tidak peduli bagaimanapun kau mengucapkannya, hal itu membawa kesan jahat, iya kan? Dan itu juga terlalu panjang..."

".... Begitu ya. Jadi, Echidna menemui ajalnya di desa ini dan desa ini dikelola oleh keluarga Mathers dari generasi ke generasi.... Apa itu benar?"

"E~n, benar. Tapi mengelola itu seperti menyiratkan ada banyak tangan yang terlibat daripada kenyataannya. Pengaruh Echidna begitu kental disini, dan tanpa langkah yang tepat, mustahil untuk menginjakan kaki disini. Fakta bahwa kalian bisa masuk kesini.... pasti berkat Frederica, iya kan?"

Menerima sebuah anggukan sebagai balasannya, mata Roswaal menunjukan sebuah kepahaman. Melihat hal ini, Subaru kembali mengarahkan topiknya.

"Aku mengerti kalau tempat ini adalah kuburan Echidna dan ada di bawah kepengurusanmu. Tapi apa yang tidak kupahami adalah tujuannya, dan kenapa para penduduk desa belum juga kembali?"

"Aku sudah mengatakan hal-hal yang aneh, ta~~pi, kau terlihat bisa menerima mereka dengan begitu mudah. Fakta bahwa tempat ini adalah Kuburan Penyihir, a~~ku sebenarnya sangat ingin merahasiakannya."

"Mungkin saja jika itu adalah Penyihir Kecemburuan, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh penyihir bernama Echidna ini. Hanya dari kata 'Penyihir' saja, sudah memberi kesan seperti seorang penjahat. Tapi itu sama saja dengan 'Half-Elf', dan siapa yang menyangka kalau Emilia-tan bisa semanis ini hanya dari kata itu?"

"..... Ja-jangan mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya seperti itu. Serangan kejutan itu juga ada batasnya, kau tahu!"

Mendengar kata-kata yang dengan santainya disisipkan pada akhir kalimat serius tersebut, Emilia yang wajahnya kini memerah, menyentak pinggang Subaru dengan pelan. Subaru tersenyum kecut menanggapi reaksi Emilia yang benar-benar manis, tapi kemudian, dia melihat Roswaal melalui sudut matanya sedang menunjukan tawa yang agak mengganggu, "Oho~",

"Dalam waktu si~~ngkat yang kalian habiskan secara terpisah, kalian sudah berkembang menjadi sedikit lebih dekat, iya kan? Setelah pergi meninggalkan perkelahian itu di Ibukota, aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi, tapi nampaknya sekarang bahkan lebih baik dibandingkan sebe~~lumnya."

"Itu adalah cinta yang kuterima di akhir perjalananku yang panjang dan sulit, kau tahu! Ada segunung hal yang bisa kuocehkan, tapi kita tinggalkan saja masalah ini setelah kau selesai menjawab semua pertanyaan kami. Jadi, apa tujuan dari tempat ini, dan kenapa kau belum kembali?"

"Sepertinya kau sudah bukan anak yang naif lagi, dan kau juga menjadi sedikit bisa diandalkan. Jadi~~ alasan kenapa penduduk desa dan aku belum juga kembali..... sederhananya, karena kami tidak bisa kembali meskipun kami mengi~nginkannya."

"Tidak bisa kembali meskipun kau menginginkannya?"

Tidak bisa memahami jawaban Roswaal, Subaru mengernyitkan dahinya.

Roswaal mengangguk, dia tersenyum menanggapi tanda tanya besar di wajah Subaru, dan mengatakan,

"Karena saat ini, kita semua, termasuk seluruh penduduk desa ini, telah menjadi tahanan di sini. Da~~n, semenjak kalian masuk ke sini, nampaknya kalian berdua juga berada di situasi ya~ng sama."

---End of Chapter 8---



Baca Semua Chapter -> Index Re:Zero Arc 4


Translator : Me..
Previous
Next Post »
7 Komentar
avatar

Ditunggu min, ARC 4 Chapter 9 -nya :v


Ada 40an org kawan ane menanti :v

Balas
avatar

arigatou mind
lanjut

ok ane share da ni

Balas
avatar

Walah.. sabar dulu, nyelesain Hatamaou dulu bru ini yak :v

Balas
avatar

min.. nih LN-nya boleh dishare difacebook?? tentunya dengan menyertakan alamat blog mimin :D

Balas
avatar

Share dgn redirect ke blog ini aja gan.. xD

Balas